
Pagi hari telah tiba saatnya Tiara dan Dimas berpamitan pada Reno dan juga Rendra.
"Kak, aku akan merindukanmu" Rendra memeluk Tiara.
"Kakak juga, jaga dirimu baik-baik ya. Sesekali kamu harus datang mengunjungi Kakak."
"Baiklah, Rendra akan mengunjungi Kakak nanti."
"Ren kami pamit dulu ya, terimakasih tumpangannya. Dan kau bocah kecil jangan membuat ulah yang akan menyusahkan istriku saat kau berkunjung nanti."
"Tenang om, Rendra nggak akan nyusahin Kak Tiara. Paling Rendra cuma bikin susah om aja nanti disana."
"Dasar kau ini, Kemarilah tidakkah kau ingin memelukku" Dimas tiba-tiba menarik Rendra kedalam pelukannya, Rendra tidak menolak ataupun menyambut pelukan Dimas. Ia hanya diam mematung tak menyangka Dimas yang selalu bicara ketus padanya kini memeluknya. Tiara dan Reno tersenyum menatap mereka.
"Tuan Reno, Tiara pamit dulu ya" Reno yang mencoba mendekat untuk berpelukan dengan Tiara pun dihalangi oleh Dimas."
"Eiit bukan muhrim" cegah Dimas, kemudian ia bersalaman dan berpelukan sekilas dengan Reno.
"Kau ini, masih saja cemburu. Tiara saat ini sudah seperti adikku sendiri jadi jangan khawatir.
"Duda sepertimu harus selalu diwaspadai. Cepat cari istri sana."
"Cih" Decih Reno di abaikan Dimas.
"Bye bye Rendra, bye Tuan Reno."
Dimas dan Tiara menuju ke mobil jemputan yang akan mengantar mereka ke bandara. Awalnya Rendra dan Reno ingin mengantar Tiara ke bandara tapi Tiara dan Dimas menolak.
Saat ini Dimas dan Tiara sudah berada di dalam pesawat pribadi milik keluarga Dimas.
"Kalau mengantuk tidurlah di kamar" pesawat pribadi Dimas juga dilengkapi dengan kamar mewah.
"Tidak aku ingin duduk disini saja."
Kalau sampai aku masuk ke kamar itu kau pasti akan menyerangku, batin Tiara.
Dimas semenjak kemarin malam ingin melakukannya dengan Tiara tapi lagi-lagi kehadiran Rendra menggagalkan upayanya. Rendra semalam tidur di kamar mereka karena besok Tiara sudah kembali ke negaranya.
"Tidurlah kesana, tidak akan nyaman bagimu tidur dalam posisi duduk disini."
"Tidak Tiara ingin disini saja, Pemandangannya terlihat indah dari sini" ujar Tiara membuat alasan.
"Terserah kau saja" ucap Dimas kesal.
__ADS_1
Dasar tidak peka, batin Dimas lalu ikut memejamkan matanya.
Sesampainya di negaranya Dimas dan Tiara disambut oleh orang-orang dari Kakek Adi.
"Apa yang kau lakukan disini" tanya Dimas pada salah satu orang kepercayaan Kakek.
"Menjemput Anda Tuan, ini adalah perintah Kakek anda."
"Pergilah katakan pada Kakek, nanti malam kami akan berkunjung ke sana."
"Maaf tidak bisa Tuan, Kakek anda meminta Anda untuk tinggal dengannya sampai rapat pemilihan pimpinan perusahaan di gelar. Selain itu Kakek juga kesepian jadi menginginkan Tiara untuk menemaninya."
"Cih, pria tua itu. Selalu pandai dalam beralasan. Punya rencana apalagi dia" gumam Dimas lirih.
"Ya sudah Mas kita ikuti saja keinginan Kakek, lagipula hanya beberapa hari saja," ucap Tiara.
Akhirnya Dimas tidak lagi berdebat, ia mengikuti apa kata istrinya.
Mobil jemputan pun melaju dengan kecepatan sedang menuju ke rumah Kakek. Sementara Dimas disibukkan dengan lamunannya. Tidak biasanya Kakeknya bersikap seperti ini. Pasti akan ada hal besar yang direncanakan oleh pria tua itu.
"Selamat Datang Tiara. Bagaimana perjalananmu" Kakek menyambut kedatangan Tiara. Ia mendekat pada Tiara lalu memeluknya. Tiara menyambut pelukan Kakek dengan canggung. Selama ini ia tidak pernah dekat dengan orang tua itu, bahkan ini adalah pertemuan Tiara yang kedua dengan Kakek setelah ia menikah dengan Dimas.
"Baik Kek, terimakasih" ucap Tiara dengan sedikit air canggung.
"Tidak perlu canggung seperti itu, aku ini juga Kakekmu. Kau harus meluangkan banyak waktumu untuk bercengkrama denganku selama disini." Ujar Kakek, Tiara tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Masuklah dan beristirahat dulu, kalian pasti lelah setelah perjalanan" ujar Kakek. Dimas mengangguki ucapan Kakek lalu mengajak Tiara ke lantai tiga.
Lantai tiga dari bagian rumah Kakek merupakan kawasan pribadi Dimas. Setiap berkunjung ketempat Kakek ia selalu memilih tinggal diruangan itu. Selain terdapat fasilitas olah raga di lantai tiga juga tidak akan ada orang yang akan mengganggunya. Langkah lebarnya menuju kesana diikuti senyuman dan pikiran mesumnya.
"Taruh saja disitu kalian bisa pergi sekarang" perintah Dimas kepada pelayan yang membawa koper mereka.
Tiara menatap ke sekeliling kamar, ini adalah pertama kalinya ia menginjakkan kakinya ke kamar itu. Pandangan Tira terarah pada balkon yang terdapat diluar kamar itu. Ia melangkahkan kakinya menuju kesana.
Dimas mengikuti langkah kaki istrinya dan memeluk istrinya dari belakang.
"Kau suka pemandangannya?"
"Hemm" Angguk Tiara.
Satu tangan Dimas memeluk perut Tiara sedangkan tangan satunya menelusup masuk ke dalam baju. Dimas menciumi ceruk leher Tiara.
"Mas" Tiara menangkap tangan suaminya menghentikan aktivitas nakal tangan suaminya itu."
__ADS_1
"Mas pingin sayang."
"Jangan disini Mas, malu."
"Ayo kita masuk" Dimas menggendong Tiara menuju ketempat tidur. Mengukung istrinya dan melanjutkan aksi yang tertunda.
**************
Tiara saat ini berada di ruangan Kakek. Kakek memanggil Tiara setelah Dimas meninggalkan rumah itu untuk menemui Erick di kantor.
"Apa Rendra sudah mengatakan semua padamu?" tanya Kakek
"Sudah Kek. Tapi apa Kakek yakin rencana ini akan berhasil. Kakek tau kan bagaimana latar belakang pendidikan Tiara," ujar Tiara ragu.
"Selama kamu mau belajar dengan serius maka tidak ada yang tidak mungkin. Yang paling utama adalah Kemauanmu untuk terus belajar dan kau juga harus percaya pada kemampuanmu sendiri. Kau mengerti?"
"Mengerti Kek" Tiara menganggukkan kepalanya
"Baiklah, selama kau berada dirumah kakek, maka Kakek akan mengajarimu beberapa pengetahuan dasar yang harus kau ketahui. Bacalah dulu buku-buku ini setelah dua jam kau temui Kakek."
"Baik Kek," Tiara meninggalkan ruangan kerja Kakek. Ia menuju ruang tengah untuk membaca buku yang diberikan Kakek.
Jangan kecewakan Kakek Tiara, Kakek tau kau pasti mampu, gumam Kakek lirih.
Sementara dilain tempat Dimas saat ini sedang berada di kantornya bersama Erick. Mereka sedang mempersiapkan berkas yang akan mereka bahas pada saat rapat nantinya.
"Posisi Anda dan Tuan Anton sepertinya imbang Tuan. Apa yang akan anda lakukan untuk mempertahankan jabatan anda."
"Karena posisiku imbang dengannya maka aku harus menunjukkan pada mereka nilai seorang Dimas yang sebenarnya."
"Maksud anda Tuan."
"Kau lihat ini" Dimas menyerahkan berkas ke depan Erick.
"Wauw rencana Proyek yang sempurna Tuan," ujar Erick membaca berkas dari Dimas.
"Harga per unit memang kecil, tapi karena jumlah sasarannya besar dan metode pembayarannya yang akan kita terapkan menguntungkan perusahaan, maka perusahaan tidak perlu banyak mengeluarkan dana. Ini akan banyak menghemat anggaran dan tentunya keuntungan yang memuaskan."
"Dan konsumen juga pastinya puas Tuan karena ini di buat sesuai keinginan mereka" sambung Erick
"Kau lengkapi berkas proyek ini, dan ini juga rencana cadangan proyek lainnya. Tolong kamu urus semua ini dan harus selesai sebelum rapat digelar. Kalau perlu malam ini kita lembur" ujar Dimas bersemangat.
Tanpa menunda waktu lagi Erick dengan semangatnya kembali ke ruangannya melaksanakan tugas dari Dimas.
__ADS_1
Sementara itu Tiara sudah bersiap keruangan Kakek, untuk menerima pembelajaran dari Kakek. Ia memantapkan langkahnya dan terus memupuk rasa percaya dirinya. Ia akan buktikan pada semua orang bahwa dia pantas bahkan sangat pantas untuk berada di sisi Dimas.
TBC.