
Dimalam hari Dewi terpaksa tidur dengan Angga, mengingat Angga tidak ingin jauh darinya. Ditengah malam Anton mendengar suara tangisan putranya, ia segera menuju ke kamar Angga.
"Ada apa?" tanya Angga melihat Dewi yang sedang menggendong putranya.
"Susunya habis, bisa tolong kau buatkan?" pinta Dewi pada Anton.
"Tentu, dia putraku dan sudah jadi tanggung jawabku. Maaf aku merepotkanmu" ucap Anton pada Dewi.
"Tidak masalah, aku menyukai bayi ini" ucap Dewi mencium Angga.
Anton menuju meja yang ada dikamar itu. Dewi sudah menyiapkan susu, air panas dan juga beberapa botol susu yang sudah di seterilkan. Dengan begitu ia tak perlu repot-repot pergi ke dapur kalau Angga ingin meminum susu.
Tolong buatkan penuh dan jangan terlalu panas, ia sepertinya kehausan" ucap Dewi pada Anton.
"Ia lebih cocok jadi putramu dibandingkan aku. Ia bahkan lebih memilihmu daripada bersamaku" Ucap Anton sembari mengaduk susu yang ia buat. Ia kemudian meneteskan pada tangannya untuk mengetahui suhu panas susu yang ia buat.
"Dia ini adik kecilku" ucap Dewi sembari menghibur bayi montok itu dengan mimik wajah lucunya.
Huufft, Anton menghembuskan nafasnya.
"Ini hangat-hangat kuku, kau bisa langsung meminumkannya" ucap Anton, ia lalu memilih menidurkan tubuhnya di sofa panjang kamar itu.
"Kembalilah ke kamar om sendiri, buat apa om tidur disitu" protes Dewi melihat Anton menidurkan tubuhnya di sofa. Dewi memberikan susu pada Angga dan langsung disambut oleh bayi montok itu. Ia menyusu dengan penuh semangat.
"Aku akan membantumu merawat Angga, dia itu putraku. Tidak sepantasnya aku merepotkanmu dan tidur dengan nyenyak sementara kau sendiri kerepotan mengurus putraku.
"Aku bisa mengatasinya, om tidurlah dikamar om sendiri" ucap Dewi terlihat tidak senang.
"Aku akan tetap ada disini, kecuali kau sudah sah jadi ibu Angga baru kau bisa mengaturku" ucap Anton tersenyum, sembari menaik turunkan alisnya menatap Dewi yang juga menatap kesal ke arahnya. Entah sejak kapan ia mulai menyukai menggoda gadis galak yang ada di hadapannya. Omelan Dewi danjuga kegalakkan Dewi merupakan hiburan tersendiri untuknya.
"Siapa yang mau jadi istri om? Terserah om mau tidur dimana aku tidak peduli" ucap Dewi kesal.
"Benarkah aku boleh tidur dimana saja? Berarti aku boleh dong tidur di atas tempat tidur bersamamu" ucap Anton kembali menggoda Dewi.
__ADS_1
"Om mau mati ya!" ucap Dewi kasar.
"Ya ampun, bagaimana bisa Angga menyukai wanita kasar sepertimu" ejek Anton sembari melipat tangannya kebelakang menjadikan bantalan kepalanya.
"Karena dia kesayanganku" jawab Dewi, ia mencium lagi pipi Angga yang menggembung karena sedang menyusu.
"Lalu kapan aku menjadi kesayanganmu" ucap Anton lagi. Tak bosan-bosannya ia selalu menggoda Dewi.
"Mimpi" sahut Dewi kesal.
Anton tertawa keras mendengar jawaban Dewi.
"Om kalau berisik pindah ke kamar om sana!" protes Dewi lagi mendengar suara Anton.
"Baiklah-baiklah aku takkan menggodamu lagi" ucap Anton menghentikan tawanya.
Semalaman Dewi dan Anton bergantian untuk membuatkan susu untuk Angga, mereka terlihat seperti layaknya orangtua untuk Angga.
Anton diam-diam tersenyum menatap Dewi yang tertidur di sebelah putranya.
Minggu depan adalah sidang akhir, atau merupakan sidang putusan tentang hubungan Anton dan Manda. Dan sepertinya kehadiran Dewi mampu mengusir Manda dari pikirannya.
**********
Di pagi hari Mike mengajak Nara untuk senam pagi. Sementara Dimas dan Tiara belum terbangun, mereka kelelehan setelah mengurus putrinya dan juga karena kemesuman Dimas yang tidak membiarkan Tiara tidur nyenyak semalaman.
Begitu juga Nara dan Anton, ia juga belum bangun karena begadang. Ternyata mengurus bayi di tempat baru juga membutuhkan penyesuaian, mereka menjadi agak sedikit rewel karena mungkin mereka sudah nyaman dengan tempat tidur mereka sebelumnya.
Huft, huft, huft....., terdengar ******* Nafas kasar Nara menaiki pegunungan yang tak jauh dari villa yang ia tempati.
"Kau lelah" tanya Mike mendengar suara nafas kasar Nara.
"Sedikit, tapi semua ini terbayarkan dengan keindahan disini" Nara menghapus keringat yang menempel di keningnya. Mike ikut membantu menghapus keringat Nara dengan handuk kecil yang menggantung di lehernya.
__ADS_1
"Pemandangannya bagus Ya Kak, udaranya juga sejuk" ucap Nara lagi, ia menghirup udara segar disekitarnya lalu menghembuskannya.
"Apa kau suka tempat ini?" tanya Mike tak menjawab pertanyaan Nara.
"Suka, suka banget malah. Jauh dari kemacetan, polusi dan hiruk-pikuk kendaraan" ucap Nara sembari menikmati pemandangan dan sejuknya udara pegunungan.
"Baiklah kalau kau menyukai daerah ini, aku akan bangunkan satu Villa untukmu. Kita bisa datang kemari setiap akhir pekan atau kapanpun kau mau" ucap Mike. Ia mendudukkan tubuhnya di rerumputan sembari melihat pemandangan dari tempatnya yang tergolong cukup tinggi.
Nara mengikuti Mike, ia mendudukkan tubuhnya di rerumputan di sebelah Mike.
"Apa Dewi masih suka mempersulit dirimu?" tanya Mike, menerawang kedepan.
"Tidak, ia hanya sedikit ketus saja. Tapi walaupun ia ketus dan galak padaku, ia tidak akan membiarkan orang lain mem-bully ku katanya sih hanya dia yang boleh menyiksaku. Ia terkadang sedikit lucu dan konyol karena keras kepalanya itu" jelas Nara terdengar Dewasa.
"Terimakasih, karena sudah mau mentoleransi segala sifatnya. Aku yakin lama kelamaan ia akan mengerti dan merestui hubungan kita" Mike mendekatkan dirinya, ia merangkul pinggang Nara dan merebahkan kepala Nara di bahunya.
"Iya, aku juga yakin itu. Sebenarnya Dewi itu baik hanya sedikit pemberontak. Oh ya ia bilang ingin mengajariku untuk menjadi Nakal dan sedikit berontak, ia juga menyuruhku menghabiskan uang yang ada dikartuku. Sepertinya aku memang harus berguru sedikit darinya" ucap Nara menggoda Mike.
"Jangan coba-coba, kalau kau berani menjadi pemberontak dan nakal sepertinya, aku akan mengurungmu di rumah. Tapi jika kau ingin menghabiskan uang yang aku berikan, itu tidak masalah. Karena sudah tugasku untuk membahagiakanmu dan mencari nafkah" Mike mencium kening Nara.
"Aku ingin menikahimu begitu kau lulus sekolah. Aku bisa khilaf kalau terus bersamamu, bahkan sekarang aku ingin sekali memakanmu" ucap Mike tersenyum mesum.
"Jangan macam-macam" Nara mengepalkan tangan kanannya dan memperlihatkan Mike. Itu adalah ancaman buat Mike jika berani melakukannya maka Nara tidak akan segan-segan memberi bogeman mentah untuk Mike.
"Jangan khawatir aku hanya bercanda" Mike menurunkan tangan Nara dan mengecupnya.
"Oh ya aku juga ingin bilang, Kak Dimas dia lagi berusaha untuk membantu Anton agar Dewi tertarik pada Anton. Apa pendapatmu tentang itu?" Mike meminta pendapat Nara. Ini akan menjadi bahan pertimbangannya apa ia akan merestui Anton yang ingin mendekati Dewi yang sudah ia anggap seperti adiknya sediri.
"Jika dengan Dewi berhubungan dengan Kak Anton bisa membuat Dewi berubah lebih baik lagi dan juga bahagia, Nara rasa nggak ada masalah" ucap Nara.
"Tapi diakan Duda, usianya juga jauh dibanding Dewi. 14 tahun perbandingan usia mereka" ucap Mike, padahal ia sebelumnya sudah mengatakan akan mencoba merestui Anton yang ingin mendekati Dewi, tapi sekarang ia kembali ragu.
"Empat belas tahun bukanlah masalah besar Kak, selama mereka saling mencintai dan bisa bahagia maka umur nggak akan jadi masalah ataupun hambatan. Karena pada dasarnya kebahagiaan mereka yang terpenting di bandingkan dengan mendebatkan masalah umur" Nara mengungkapkan pendapatnya. Mike terdiam merenungi ucapan Nara yang memang terdengar masuk akal.
__ADS_1
"Baiklah aku akan coba merestui duda itu" ucap Mike akhirnya, tapi dari nada suara Mike, Nara tahu masih ada rasa mengganjal dan tak rela.
TBC