
Mike sudah dipindahkan ke ruang perawatan, Ia ditaruh satu ruangan dengan Nara. Semua Dimas lakukan agar mempermudah Dimas untuk mengawasi keduanya.
Nara mendapatkan perawatan karena ada luka di beberapa bagian tubuhnya akibat siksaan ayahnya. Ia juga mengalami tekanan secara psikologis hingga dokter menyarankan Nara untuk menjalankan konseling demi kesehatan mentalnya.
Baik Michael maupun Nara belum juga sadarkan diri, padahal sudah lebih dari 6 jam sejak mereka di pindahkan ke dalam ruangan ini. Dimas memilih membasuh tubuhnya di kamar mandi rumah sakit. Ia juga meminta anak buahnya untuk mengirim makanan untuknya kerumah sakit.
Satu hari sudah berlalu sejak tak sadarnya Mike, Ia mengerjakan matanya saat merasakan udara hangat menerpa wajahnya. Ya sinar matahari pagi menyapa lembut wajahnya. Ia membuka matanya perlahan, satu tangannya ia angkat untuk menutupi wajahnya.
"Akhirnya kau bangun juga" ucap Dimas, ia kemudian menarik sedikit tirai untuk menghalangi cahaya sinar matahari pagi yang masuk melalui sela-sela jendela.
"Bagaimana dengan Roy Kak?" tanya Mike begitu terbangun.
"Jangan khawatir proses penguburannya berjalan dengan lancar. Cepatlah sembuh, kita akan mengunjunginya nanti" ucap Dimas.
"Semua karena kecerobohanku hingga aku kehilangan dia. Maafkan aku Roy" Mike terlihat sedih.
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, semua sudah menjadi takdirnya. Jangan sia-siakan pengorbanannya, setidaknya kau harus terus berjuang untuk hidup lebih baik lagi" ucap Dimas mencoba menguatkan Mike.
Mike sampai saat ini belum menyadari keberadaan Nara yang satu ruangan dengannya.
"Lalu gadis itu bagaimana?" tanya Mike sedikit ragu.
"Gadis itu, siapa maksudmu?" Dimas mempermainkan Mike.
"Kak, kau mengerti maksudku bukan!"
"Ya, kau terlihat perduli padanya."
"Tapi ia penyebab Roy tiada Kak."
"Jangan salahkan dia, dia tak mengerti apapun."
"Tapi dia bersalah karena ia mengkhianati kita."
"Aku tidak yakin, kalau memang ia ngin berkhianat dan membunuhmu kenapa harus jauh-jauh di bawa sampai ke pabrik tua itu. Ia bisa membunuhmu langsung di apartemenmu. Jangan terlalu cepat menyimpulkan sesuatu."
"Entahlah, aku hanya berharap tidak berurusan dan berjumpa dengan gadis itu lagi" ucap Mike.
"Sepertinya keinginanmu tak akan terkabul, lihatlah!" Dimas menyibak kain korden pembatas di tengah-tengah dan terlihatlah Nara yang masih belum sadarkan diri di atas tempat tidur.
"Kenapa dia?" tanya Mike terlihat khawatir.
"Katanya tak ingin berurusan dengannya, lalu kenapa sekarang terlihat khawatir."
__ADS_1
"Jangan berpikir berlebihan Kak, aku juga akan menanyakan hal yang sama jika terjadi sesuatu dengan anak buahku."
"Iya-iya aku percaya!" ucap Dimas
"Lalu apa dia baik-baik saja?" tanya Mike lagi.
"Ia pingsan diatas kuburan ayahnya. Kelihatannya ia mengalami shock berat ia sudah pingsan satu hari tapi sampai saat ini ia masih belum sadarkan diri" jelas Dimas.
"Apa kata dokter?" tanya Mike lagi.
"Secara fisik ia memang baik-baik saja tapi secara psikologis kondisi Mentalnya tak baik. Ia sepertinya belum bisa menerima apa yang terjadi padanya. Dokter mengatakan ia mengalami tekanan mental yang cukup membuatnya depresi berat. Ia membutuhkan dukungan dan juga kasih sayang orang di sekitarnya. Sekarang masalahnya ialah ia tak memiliki siapa-siapa selain kita. Jadi tolonglah bersikap baik padanya, jangan ungkit dulu kejadian yang baru kalian alami."
"Entahlah Kak, melihat wajahnya mengingatkanku akan kejadian itu. Tidak bisakah kita membayar orang saja agar merawatnya, aku tak ingin berurusan lagi dengannya" pinta Mike.
"Akan aku pikirkan nanti, setidaknya kita harus lihat bagaimana kondisi Mentalnya setelah ia sadar nanti."
***************
Kabar calon bayi Tiara yang berjenis kelamin perempuan sedikit menenangkan Alex, setidaknya Tiara tidak akan menjadi incaran pembunuhan karena bayi perempuan tidak bisa meneruskan tahta. Jadi mereka yang merasa tersaingi tak akan mencelakai Tiara untuk sementara ini.
Alex meminta David untuk terus mencari bukti-bukti pengkhianatan saudara tirinya. Ia juga meminta David untuk terus memantau pergerakan Dimas dalam menjatuhkan Katsuro, orang di balik layar yang selama ini mendukung perekonomian saudara tirinya.
Tiara saat ini sedang berada di taman di samping tempat tinggalnya. Ia duduk di pinggiran kolam ikan yang airnya tak begitu dalam. Ia memasukkan kedua kakinya ke dalam kolam dan menggerak-gerakkannya hingga timbul riak-riak kecil di sekitarnya. Sesekali ia juga mengusap lembut perutnya ketika ia merasakan pergerakan bayinya.
"Nyonya diluar udaranya sangat dingin, sebaiknya anda masuk kedalam" seorang pelayan menghampiri Tiara.
"Tidak Bi, saya masih ingin bermain disini."
"Tapi Nyonya, kaki anda bisa membeku. Suhu air kolam itu juga pasti sangat dingin, anda bisa masuk angin nanti" bujuk pelayan wanita itu.
"Jangan khawatir Bi, sebentar lagi juga aku akan masuk ke dalam. Oh ya Bi, bisa ambilkan makanan ikan, aku ingin memberikannya pada mereka." pinta Tiara sembari memperhatikan ikan yang berkeliaran di sekitar kakinya.
"Tunggu sebentar Nyonya" pelayan itu menuju ke sebuah Gazebo, dan ada sebuah meja kecil disana yang diatasnya terdapat beberapa kaleng makanan ikan.
"Apa yang kau lakukan ?" terdengar suara David mengejutkan Tiara.
"Bermain dengan ikan" jawab Tiara asal, ia menoleh sesaat pada David lalu mengabaikannya.
"Masuklah, udara dingin tidak baik untuk kesehatan bayimu" perintah David.
"Tidak, aku masih ingin disini" tolak Tiara.
"Kau masuk sekarang ke dalam atau aku yang akan menggendongmu masuk" ancam David, ia terlihat kesal tiap kali Tiara melawan perintahnya.
__ADS_1
"Iya-iya aku masuk" Kesal Tiara bangun dari duduknya dan menghentakkan kakinya ke tanah.
"Dasar bawel" umpat Tiara berlalu pergi dan segera masuk ke dalam.
Sementara itu David berjalan mengamati taman sebentar, lalu ia menuju ke ruang kerja Alex, ia ingin menginformasikan sesuatu yang penting.
"Apa ada kabar terbaru?" tanya Alex ketika melihat David memasuki ruangannya.
David menatap Tiara yang ternyata juga ada di ruangan Alex. Tiara ingin memanfaatkan waktu luangnya dengan membaca buku yang ada di ruangan Alex.
"Kau pergilah ke kamarmu sebentar, ada yang ingin aku bahas dengan David" Alex menoleh ke sofa dimana Tiara sedang membaca bukunya.
"Tapi aku belum selesai membacanya " tolak Tiara.
"Kau boleh bawa buku itu ke kamarmu" ucap Alex.
"Kenapa aku tidak boleh mendengar pembicaraan kalian? Apa kalian ingin membahas tentang Su..."
"Naura!!" Alex mengeraskan panggilan untuk Tiara. Alex sudah pernah mengatakan tidak ingin membahas apapun tentang Dimas dengan Tiara. Tapi ia berjanji akan mengembalikan Tiara pada Dimas jika sudah tiba saatnya.
Tiara bangun duduknya dan keluar dari situ dan seperti biasanya ia mengumpat sebelum berlalu.
"Menyebalkan!" Tiara keluar dan menutup pintu itu dengan keras. Membuat Alex dan David menghela nafasnya. Sifat Tiara semakin berubah keras semenjak kehamilannya, membuat Alex harus bersabar menghadapi ibu hamil satu itu.
"Apa kau tadi sudah membuatnya kesal?" tanya Alex pada David.
"Ia mengadu padamu?" tanya David.
"Ya, begitulah. Setiap hari ada saja yang ia komplain atau yang membuatnya kesal."
"Sepertinya ia kesal pada kita karena merindukan suaminya. Dan sudah saatnya kita mengembalikan pada suaminya. Karena Dimas sudah menyelesaikan misinya."
"Benarkah?" tanya Alex tak percaya.
"Ya, Katsuro sudah mati. Itu artinya tidak ada lagi penyokong dananya termasuk pemasokan senjata yang mereka terima otomatis berhenti. Ini saatnya bagi kita memanfaatkan situasi ini untuk memecah belah mereka."
"Aku berpikir dia akan memakan waktu lama untuk menyingkirkan Katsuro, ternyata ia hanya membutuhkan waktu satu bulan saja. Baiklah saatnya kita untuk menghancurkan kakak tiriku itu. Terus pantau gerak-geriknya dan hancurkan mereka secara perlahan bahkan tanpa mereka sadari mereka telah kehilangan semua."
"Jangan khawatir, aku telah memasukkan orang kita ketempat mereka. Lalu bagaimana dengan Dimas, ia belum tahu kita membawa Tiara ke negara ini. Kemungkinan seminggu lagi ia akan datang ke villa kita dulu untuk menjemput Tiara."
"Jangan beritahu keberadaan kita, aku ingin tahu sehebat apa dia untuk menemukan keberadaan istrinya. Kalau perlu samarkan kondisi Tiara, katakan saja Tiara meninggal pada saat penyerangan yang mengakibatkan hancurnya Villa itu. Dan Tiara meninggal terkubur reruntuhan puing."
"Tapi Bos..."
__ADS_1