
Villa yang cukup luas dan besar terdiri atas 3 lantai, Anton dan Dewi lebih memilih lantai 2. Mereka memilih berada satu lantai karena Angga yang selalu mencari-cari Dewi. Mike, Nara, Dimas dan Tiara memilih lantai 3.
Setelah lelah menempuh perjalanan mereka memilih istirahat sebentar dan ada juga yang memilih untuk mandi karena badan yang terasa lengket. Dewi menghampiri Tiara untuk mengambil Angga dari Tiara. Dengan di bantu oleh pelayan Dewi memandikan Angga.
Anton memasuki ruangan yang merupakan, ruangan putranya Angga. Dewi di bantu pelayan hendak memakaikan baju untuk Angga.
"Kau bisa pergi, biar aku yang membantunya" Anton menyuruh pelayan untuk meninggalkan mereka.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri" ucap Dewi ketika Anton ingin membantunya memakaikan baju untuk putranya.
"Baiklah" Anton memilih duduk di pinggiran tempat tidur.
"Berapa usiamu?" tanya Anton pada Dewi.
"Lima bulan lagi 18 tahun. Kenapa?" tanya Dewi lagi.
"Tidak, kau sudah cocok menjadi seorang Ibu"
"Apa aku terlihat tua!" Dewi memelototkan matanya.
"Tidak kau terlihat masih muda dan cantik. Hanya saja sifat keibuan mu yang membuatmu pantas menjadi seorang ibu.
"Oh ya, kau tahu baru kau satu-satunya yang mengatakan aku memiliki sifat keibuan. Aku terkenal galak dan suka menang sendiri. Bahkan disekolah, tidak ada yang mau dekat denganku karena aku galak" ucap Dewi jujur.
"Bukankah Nara teman satu sekolahmu?" tanya Anton. Sembari memperhatikan Dewi yang dengan sabarnya mengurus Angga putranya.
"Ya, kami memang satu sekolah, bahkan satu kelas." jawab Dewi.
"Dia gadis yang manis dan cantik, dan aku rasa dia cocok jadi sahabat baik untukmu" ucap Anton.
__ADS_1
Dewi yang selesai merapikan rambut Angga, memandang Anton dengan tajam.
"Apa maksudmu, kau menyukainya?" tanya Dewi penuh selidik, Ia menatap Anton dengan tatapan kesal.
"Tidak, aku tidak menyukainya, ia juga tidak mungkin menyukaiku, Aku cukup tahu diri, dan jangan tatap aku seperti itu" Anton merasa serba salah ketika Dewi menatapnya intens.
"Baguslah, jangan coba-coba untuk menyukainya" Dewi mengancam Anton.
"Kenapa seperti itu?" tanya Anton penasaran.
"Ya karena Kak Mike menyukainya, maksudku mereka saling menyukai. Kau tak boleh jadi orang ketiga, hanya aku yang boleh" ucap Dewi lagi. Ia menciumi wajah Angga, bau tubuh Angga yang wangi sabun baby dan minyak telon paling Dewi sukai.
"Apa maksudmu hanya kau yang boleh, Kau menyukai Mike?" tanya Anton terkejut.
"Mau tau saja, bukan urusanmu" jawab Dewi ketus.
"Ya ampun, kalau kau galak begini siapa yang mau denganmu" ujar Anton sembari mendekat. Ia ingin mengambil putranya dari tangan Dewi.
"Sekalipun tidak ada yang mau denganku, aku juga tidak akan menikah denganmu" jawab Dewi cuek, ia menyerahkan Angga pada Anton.
"Jodoh itu rahasia Tuhan, tidak ada satupun yang tahu. Siapa tahu kamu jodoku" ucap Anton asal membuat Dewi makin menampakkan kesalnya pada Anton.
"Tidak akan!" sahut Dewi membuang wajahnya melihat ke arah lain. Ya sampai dengan saat ini Dewi memang belum memiliki perasaan apapun pada Anton.
"Cobalah jadi wanita yang anggun dan ramah, pasti akan banyak pria yang mendekatimu. Apalagi kau memiliki wajah diatas rata-rata yang cukup cantik" saran Anton pada Dewi.
"Kenapa aku harus berubah, kalau seseorang menyukaiku ia harus mau terima aku apa adanya. Percuma berubah dengan tampilan bagus diluar tapi kenyataannya busuk didalam. Kalau busuk, ya busuk saja kenapa harus ditutup-tutupi."
Dewi memang memiliki sifat yang blak-blakan dan apa adanya. Hanya dengan Mike dan untuk Mike ia baru bisa bersifat lembut dan menutupi kejelekannya. Tapi semenjak Mike mengakui jika ia menyukai Nara, Dewi tak lagi bersifat lembut padanya. Ia bertingkah yang sebaliknya dan membuat Mike kesal.
__ADS_1
Dewi dan Anton yang membawa Angga dalam gendongannya melangkah keluar dari kamar dan menuruni anak tangga bersama. Tiara, Dimas, Mike dan Nara yang sudah berada di lantai bawah memperhatikan mereka.
"Aku ingin mendekatkan Dewi dengan Anton, bagaimana menurutmu" ucap Dimas berbisik pada Mike.
"Jadi kau mengajak kami liburan juga termasuk dalam rencanamu mendekatkan mereka?" tanya Mike sedikit terkejut, ia tak menjawab pertanyaan Dimas.
"Kau setuju kan aku mendekatkan Dewi dengannya. Dengan begitu Dewi tidak akan mengganggu hubunganmu dengan Nara" ucap Dimas lagi. Mike sering curhat pada Dimas mengenai dilemanya menghadapi Dewi dan Nara.
"Aku memang ingin Dewi tidak berharap lebih padaku, tapi bukan berarti menjodohkannya dengan pria tua seperti itu" Mike tidak terima dengan rencana Dimas. Walau bagaimanapun Dewi sudah seperti adiknya ia ingin Dewi mendapatkan pria yang lebih baik darinya.
"Kau ini sembarangan mengatakannya tua, Tidakkah kau lihat gen keluarga kita semua tampan-tampan" ucap Dimas tak terima, sebab usia Dimas dan Anton hanya selisih sekitar kurang lebih dua tahun saja.
"Usia Anton juga baru sekitar 31 atau 32 tahun kalau tidak salah. berarti mereka hanya berjarak kurang lebih empat belas tahun. Itu adalah hal wajar Bahkan yang berjarak 20 tahun saja ada. Dan aku jamin ia pria yang mapan dan sayang keluarga. Dengan keuangannya itu ia mampu mengatasi keborosan adikmu itu" jelas Dimas lagi. Dimas banyak mengetahui kepribadian Dewi dari Mike.
"Apa kau yakin pria itu juga bisa mengatasi kegalakan Dewi dan bisa menaklukkan sifat berontaknya" ucap Mike lagi. Ia tidak ingin sampai Dewi salah pilih, apalagi Mike tahu dari kakek tentang Anton yang sudah bercerai sebanyak dua kali.
"Kalau tidak dicoba mana tahu, aku yakin Dewi itu sebenarnya memiliki sifat yang baik. Buktinya Angga saja nempel padanya. Anak kecil itu lebih peka dari orang dewasa ia tahu mana yang baik dan pura-pura baik" jelas Dimas lagi membuat Mike menganggukkan kepalanya.
"Kalian berdua bicara apa sih, serius amat?" tanya Anton membuat Saya dan Mike terkejut. Sangking asyiknya mereka bicara sampai ia melupakan keberadaan orang lain di dekatnya.
"Bicara bisnis" jawab Dimas singkat.
Tiara yang samar-samar mendengar pembicaraan mereka menggelengkan kepalanya. Sementara Nara ia lebih senang bermain dengan Aqilla. Nara yang merupakan anak tunggal selalu ingin memiliki seorang adik sejak dulu. Keberadaan Aqilla membuatnya senang dan bisa merasakan menjadi seorang kakak sekaligus memiliki adik.
Akhirnya mereka semua menuju meja makan bersama. Keberadaan dua bocah menambah ramai suasana di ruang makan. Sekalipun Aqilla belum bisa makan apapun, Tiara tetap mengajaknya berkumpul di meja makan dan mendudukkannya di tempat duduk bayi.
Dewi mendulang Angga dengan bubur bayi yang di buatkan oleh pelayan. Sementara Anton diam-diam melirik Dewi yang fokus pada anaknya dan mengabaikan nasi di piringnya.
Sepertinya, akan sulit menaklukkannya, batin Anton mengingat sifat Dewi yang keras kepala.
__ADS_1
TBC.