UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Ancaman Osvaldo.


__ADS_3

Tiara terlihat takut dengan tatapan Alex, tidak seperti biasanya tatapan itu seolah ingin menerkamnya. Tiara menarik nafasnya dan menghembuskannya perlahan.


"A-aku tadi ingin mengetuk pintu tapi kau sudah membukanya duluan. Kau membuatku terkejut pangeran" ucap Tiara masih terlihat takut.


"Kenapa wajahmu pucat, apa kau sakit?" tanya Alex terlihat khawatir. Ia mengulirkan tangannya ingin menyentuh kening Tiara.


"Ti-tidak aku hanya sedikit terkejut saja tadi" ucap Tiara sembari menjauhkan kepalanya, menghindar dari sentuhan Alex.


"David kau pergilah dulu, nanti kita bahas lagi masalah ini. Jangan lupa permintaanku untuk segera kau laksanakan" perintah Alex.


"Baik Pangeran" David keluar dari tempat itu sambil melirik Tiara. Tatapan tajam David seolah merontokkan persendian tulangnya.


Astaga, ada apa dengan tatapannya itu. Ia seperti serigala yang ingin mengoyak tubuhku, batin Tiara.


"Ada perlu apa kau mencariku?" ucap Alex setelah David menghilang. Ia lalu mengajak Tiara masuk ke ruang kerjanya.


"Ti-tidak aku hanya bosan saja dan ingin mengajakmu jalan-jalan" Tiara memberi alasan setelah berfikir dengan cepat.


"Aku tidak bisa, perusahaan sedang kacau sekarang. Kalau kau ingin keluar bawa pengawalmu bersamamu" ucap Alex.


"Tidak, pengawalku yang kau pilihkan itu, selalu memasang wajah datar dan dingin. aku benar-benar tidak nyaman dengan tatapannya itu" keluh Tiara.


"Lalu bagaimana? apakah kau masih ingin jalan-jalan keluar?" tanya Alex lagi sembari menaruh berkasnya dan menatap Tiara.


"Aku sudah berubah pikiran sekarang. Aku ingin bersantai dirumah saja" ucap Tiara.


"Terserah kau saja" ujar Alex kembali fokus dengan berkasnya. Tiara lalu memperhatikan Alex yang sedang membaca berkas di atas meja kerjanya, ia terlihat serius jika sedang bekerja.


"Memangnya perusahaanmu sedang ada masalah apa?" tanya Tiara tiba-tiba ingin tahu.


"Bukan urusan anak kecil, sebaiknya kau kembali dan istirahat ke kamarmu jika tak ada urusan lagi denganku" perintah Alex.

__ADS_1


"Dasar pelit, bilang aja kalau nggak mau kasih tau" Tiara mengomel lirih dan terdengar oleh Alex.


"Naura...!!" teriak Alex memperingati Tiara.


"Iya-iya aku pergi" dengan kesal Tiara pergi. Ia keluar dari tempat itu dan menuju ke kamarnya. Dari ruang kerja Alex ke kamar Tiara cukup jauh. Ia harus melewati taman dan juga beberapa ruangan yang lainnya."


Tiara yang berjalan sambil mengomel tak memperhatikan jalan. Ia tak sengaja menabrak saudara tiri Alex, Pangeran Osvaldo.


"Aduuh" Tiara mengusap jidatnya yang menghantam dada bidang Osvaldo. Dada itu terasa keras seperti tembok saat ia tak sengaja menabraknya. Maklum saja Osvaldo sangat gemar fitness demi menjaga postur tubuhnya.


"Siapa sih sakit banget!!" Tiara menengadahkan kepalanya menatap tubuh jangkung di depannya. Tinggi Tiara hanya sebatas dada pria di hadapannya. Tiara mengernyitkan keningnya menatap pria jangkung yang juga sedang menatapnya kesal.


"Apa kau tak punya mata, hingga badanku yang sebesar ini juga masih kau tabrak" ucap Osvaldo terlihat marah, ia memang memiliki postur tubuh tinggi besar seperti Atlet olah raga.


"Apa kau juga tak melihatku! mengapa kau juga menabrakku!" ucap Tiara makin kesal. Belum juga kesalnya hilang sudah ditambah lagi dengan masalah menabrak orang di depannya.


"Oh siapa kau malah berani menjawabku" ucap Osvaldo. Pillip sang asisten kemudian mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga sang Pangeran Osvaldo.


"Oh rupanya adik iparku tersayang" belum juga Tiara selesai berkata-kata tiba-tiba Osvaldo memotong pembicaraannya. Rupanya Pillip sang asisten sudah mengetahui identitas Tiara sebagai istri Alex.


"Siapa yang adik iparmu dan kau siapa?" tanya Tiara terlihat bingung. Pada saat pengenalan keluarga istana, Osvaldo memang tak menghadirinya jadi Tiara tak mengenalinya.


"Perkenalkan aku Pangeran Osvaldo, kakak iparmu" Pangeran Osvaldo tersenyum sambil mengambil tangan Tiara dan menjabatnya.


"Naura" ucap Tiara terlihat canggung, ia kemudian menarik tangannya dari genggaman Osvaldo.


"Kakak Ipar mau Kemana? Apa perlu saya temani?" ucap Osvaldo, ia ingin mengetahui seperti apa istri dari adiknya itu.


"Tidak perlu, pergilah ketujuanmu semula" ucap Tiara terlihat cuek. Jika orang lain melihatnya pasti akan menilai Tiara sebagai wanita sombong. Bagaimana mungkin ia berani berbicara tidak sopan dengan Pangeran Osvaldo yang biasanya bersikap dingin dan kejam. Untung saja Tiara berstatus sebagai adik iparnya jadi ia bisa mentolerirnya.


"Baiklah adik ipar hati-hati di jalan dan jaga kandunganmu baik-baik" ucap Osvaldo menatap kandungan Tiara dengan tatapan yang tak bisa Tiara artikan.

__ADS_1


Tiara menatap Pangeran Osvaldo lalu beralih memegang perutnya, Dengan mencibirkan bibirnya ia pergi dari tempat itu. Mood Tiara yang kurang baik hari ini mempengaruhi sikapnya yang kurang sopan. Maklum ibu hamil itu gampang sekali terbawa suasana.


"Wanita aneh, bagaimana bisa adikku yang bodoh itu tertarik padanya" ucap Osvaldo tak habis mengerti. Buatnya secantik apapun wanita itu harus patuh dan hormat pada seorang pria. Ia lebih menyukai wanita yang patuh dan bisa ia perintah sesuka hati.


Pangeran Osvaldo masuk ke ruang kerja Pangeran Alex, tanpa mengetuk pintu.


"Ada apa lagi, apa kau masih ingin mengeluh lagi" ucap Alex masih fokus membaca berkas. Ia berpikir jika Tiara yang memasuki ruangannya.


"Ternyata, istri kecilmu itu hobi mengeluh! Tidak heran kalau badanmu terlihat kurus" ucap pangeran Osvaldo mengejek.


"Dia hanya Ibu hamil yang sedang sensitif akhir-akhir ini" ucap Alex menjelaskan.


"Ya aku tau sesensitif apa dia, ia bahkan berani berkata dengan tidak sopan padaku" ucap Osvaldo.


"Maafkan dia Kak, ia belum terbiasa dengan tata Krama istana" ucap Alex.


"Kakak ada perlu apa kemari, tumben sekali!" tanya Alex berbasa-basi, karena Kakak tirinya itu biasanya hanya datang jika ada perlu saja.


"Kau kenal dengannya" Osvaldo menyodorkan gambar foto pria yang lehernya telah terlepas dari badannya.


"Tidak!" Alex menyembunyikan keterkejutannya. Itu adalah pria yang ia bayar untuk menyebarkan kebobrokan perusahaan.


"Baguslah, kau tidak mengenal penghianat ini. Karena aku sedang mencari pimpinannya sekarang dan aku tak akan segan-segan menghilangkan kepala orang yang berani berkhianat padaku" Osvaldo menatap Alex tak suka. Ada nada ancaman pada setiap kalimatnya.


"Sayangnya aku tak mengenalnya, kalau tidak aku pasti akan membantumu untuk menangkap pimpinannya" Alex terlihat tenang dengan tatapan dingin, bahkan Osvaldo tidak bisa melihat perubahan emosi yang tertahan di setiap tatapan Alex.


"Kalau begitu aku pergi dulu adikku, hati-hati dengan langkahmu. Karena kau bisa saja terjatuh jika kau terus melihat keatas" Pangeran Osvaldo pamit pergi setelah puas mengancam Alex secara halus.


"Oh ya satu lagi, jaga baik-baik istrimu itu. Ia terlihat menggemaskan sekalipun sedang berbadan dua" Osvaldo tertawa mengejek meninggalkan ruangan itu. Menambah perasaan kesal dan jengkel Alex makin bertumpuk.


Sial, ia pasti sengaja berkata seperti itu untuk menakut-nakutiku. Andai saja aku punya bukti kalau dia adalah tokoh utama di balik kejahatan yang membuatku terdampar di negara orang, aku pastikan Ayahanda akan mencoretmu dari daftar keluarga. Alex menggeram kesal. Ia dan Kakak tirinya itu selalu tampil rukun di depan publik seolah-olah tidak terjadi sesuatu. Tapi di belakang mereka tak berhenti saling sikut dan menjatuhkan.

__ADS_1


TBC


__ADS_2