UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Permainan Narendra.


__ADS_3

Di sebuah rumah mewah tampak gadis cantik dengan mata yang masih mengantuk menuruni anak tangga. Ia berniat menuju ke dapur untuk mengambil minuman, membasahi tenggorokannya yang terasa kering.


Brukkk praang..., Nita menabrak salah satu asisten rumah tangga yang sedang menyiapkan makan siang. Sehingga sebagian kuah sup tumpah di badan Nita, dan mangkuk yang terlepas jatuh pecah berantakan. Sementsra sang penabrak terjatuh dengan posisi duduk dan salah satu tangannya terkena pecahan mangkuk kaca.


"Brengsek, apa matamu buta hah!!!" maki Nita pada wanita tua sang asisten rumah tangga.


"Ma-maaf Nona, saya tidak melihat kedatangan anda tadi" ucap wanita tua itu bergetar sambil memegang telapak tangannya yang terluka.


"Maaf-maaf, dasar pembantu rendahan makannya kalau udah tua tuh sadar diri, noh tinggal di panti jompo sono. ngapain juga masih kerja disini." hardik Nita dengan suara keras.


"Nita...!! Jaga ucapanmu nak" teriak mama Ica istri dari tuan Azis atau Ibunda Farih. Mama Nita pun bergegas menghampiri wanita tua yg terjatuh itu dan membantunya berdiri. sementara Nita yang melihat kedatangan mama Ica memutar bola matanya jengah.


"Sekarang minta maaf sama Bik Mirah"


"Tidak perlu Nyonya, ini memang kesalahan saya karena tidak hati-hati."


"Tidak bisa Bik, walau bagaimanapun Nita harus belajar menghargai yang lebih tua."


Nita terlihat cuek, ia sama sekali tidak perduli dengan ucapan mamanya. Ia kemudian melangkahkan kakinya berlalu menaiki anak tangga.


"Nita!!!" panggil Mama Ica tapi sama sekali tak dipedulikan oleh Nita.


"Ada apa sih Ma, kok siang-siang udah rame gini" tanya Tuan Azis.


"Itu Pah anakmu, kenapa kok bisa kelakuannya seperti itu. Bangun kesiangan terus nabrak Bik Mirah sampai jatuh terluka gini, masih juga dimaki-maki." kesal Mama Ica.


"Mama harus banyak sabar ya ma, mama tau sendiri bukan gimana perjalanan kita sampai bisa menemukan dia. Jadi Papa harap mama tahan dulu menghadapi kelakuan Nita. Insyaallah pelan-pelan Papa akan berusaha merubah perilakunya. Mama juga bantu Papa ya" ucap Tuan Azis lembut meminta pengertian istrinya.


Sebenarnya Mama Ica adalah orang yang paling bahagia ketika suaminya mengabarkan kalau putrinya yang hilang bertahun-tahun yang lalu telah ditemukan. Tapi entah mengapa begitu mengetahui tabiat putrinya itu, ia menjadi sangat kecewa.


Kelakuan Nita selalu membuat Mama Ica mengelus dada. Pulang larut malam bahkan terkadang dalam keadaan mabuk, berpakaian seksi kurang bahan dan shopping menghamburkan uang bersama dengan Susi. Bahkan Farih pernah terpaksa menyeret adiknya ini pulang karena tidak sengaja melihat Nita memasuki club malam.


Farih yang penasaran dengan apa yang dilakukan Nita disana pun mengikuti diam-diam. Dan betapa terkejutnya Farih mengetahui Adiknya minum-minuman keras dan bergelanjut manja duduk di pangkuan seorang pria.


"Entah apa yang telah diajarkan Susi padanya Pa, sebaiknya kalau papa ingin merubah anak kita. Kita harus jauhkan Nita dari Susi Pa" ucap Mama Ica.


"Bagaimana caranya Ma, Papa takut nantinya malah anak kita pergi mengikuti Susi Ma. Mama tau sendiri kan bagaimana dekatnya anak kita dengannya."

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita belikan rumah saja Pa untuk Susi, dan kita juga akan memberikan uang bulanan untuk keperluannya, yang penting anak kita bisa pisah darinya Pa."


"Baiklah nanti Papa akan coba bicara dengan Susi."


********


Jam menunjukkan pukul 15.00 Dimas yang telah selesai dengan aktifitas dunia perkantoran melajukan kendaraannya menuju apartemen.


Sementara Tiara saat ini masih disibukkan dengan tingkah lucu Narendra. Mereka saat ini berada di kamar Narendra. Bocah kecil itu telah merubah kamarnya seperti kapal pecah.


"Kakak, biarin aja mainannya berantakan nggak usah di bersihin. Rendra mau jadiin Kamar Rendra Toy Island" ucap Rendra dengan suara khas anak kecil.


"Tapi sayang kamarnya ini berantakan banget, gimana nanti kalau Papa Rendra lihat" protes Tiara.


"Kakak nggak usah khawatir, Papa nggak akan marah karena Papa sayang Ama Rendra."


"Iya Papa Rendra sayang sama Rendra, tapi kalau kamar Rendra seperti kapal pecah gini Kakak jadi nggak enak sama Papa Rendra. Nanti kalau Papa Rendra marah sama kakak gimana?" Tiara memanyunkan bibirnya dan menampilkan wajah sedih di depan Rendra.


Cup, Rendra Tiba-tiba mencium pipi Tiara.


"Eh..." Tiara terkejut dengan perlakuan Rendra.


"Ya nggak boleh gitu sayang, nggak semua orang boleh kita cium."


"Tapi Papa juga selalu cium pipi Rendra kalau Rendra lagi marah. Opa, Oma, Tante Nia, Tante Ela, Uncle dokter, uncle Tio mereka juga suka cium-cium Rendra. Kakak juga boleh cium pipi Rendra."


"Duh gemesnya" Tiara mengusap pipi bocah mungil itu dengan kedua tangannya.


"Maksud Kakak itu, aduh gimana ya jelasinnya.


Hanya keluarga dan orang yang kita sayang aja yang boleh kita cium."


"Berarti Kakak nggak sayang dong sama Papa Rendra" Rendra melirihkan suaranya dan memasang wajah sedih dan mata berkaca-kaca.


"Bukan gitu sayang, tapi..." Tiara bingung ingin menjawab apa, apalagi Rendra yang memasang wajah sedih dan mata yang berkaca-kaca.


"Yeee..., bearti Kakak sayang sama Papa teriak Reindra memotong pembicaraan Tiara."

__ADS_1


Aduh kenapa jadi bahas beginian sih, batin Tiara.


"Siapa yang sayang sama Papa Rendra" tiba-tiba Reno masuk ke dalam kamar Rendra.


"Kakak bilang, kakak sayang sama Papa"


"Bu-bukan begitu Tuan" ucap Tiara bingung.


"Benarkah itu Tiara" Reno pura-pura terkejut. Sebenarnya Reno sebelumnya sudah mendengar percakapan antara Tiara dan anaknya. Reno yang sedari tadi ingin menemui anaknya, menghentikan langkah kakinya begitu mendengar pembicaraan mereka berdua.


"Iya Pa, kata kakak hanya keluarga dan orang yang kita sayang aja yang boleh cium kita. Dan Kakak sayang sama Papa, jadi kakak boleh cium Papa."


"Ti-tidak bukan seperti itu Tuan, sepertinya tuan muda salah paham Tuan."


"Kakak kenapa panggil Tuan muda lagi sih, bukannya Kakak tadi udah janji ya manggil nama aja. Rendra nggak suka ya kak"


"Iya maaf" ucap Tiara lemah.


"Tiara bisa tolong bikinkan saya kopi, nanti tolong antar ke ruang kerja saya. Kamu bisa tanya pelayan yang lain dimana letak ruang kerja saya."


"Baik Tuan" Tiara melangkah keluar meninggalkan mereka berdua.


"Rendra apa ada yang mau kamu katakan" tanya Reno.


"Tidak Pa" ucap Rendra cuek meraih salah satu mainannya.


"Raja Drama, tidakkah kamu harus menjelaskan sesuatu pada Papamu ini."


"Rendra..."


"Rendra hanya ingin memiliki seorang Ibu" ucap Reindra lirih lalu ia melemparkan kembali mainan yang tadi di raihnya.


"Terus apa hubungannya dengan menghamburkan semua mainan ini, bukankah sudah dua tahun ini kamu tidak pernah menyentuh mainan ini."


Sudah hampir dua tahun Rendra tidak pernah bermain dengan mainannya. Usia Reindra saat ini kurang lebih 5 tahun. Ia lebih tertarik dengan dunia teknologi programming. Bahkan Reno mendatangkan guru khusus karena ketertarikan anaknya ini.


Rendra merupakan salah satu anak yang jenius, tapi walau bagaimanapun ia masih tetap anak-anak yang terkadang juga membutuhkan hiburan. Permainan yang paling Rendra minati adalah sepak bola dan permainan catur. Selain dua permainan itu ia tidak pernah memainkan mainan yang lain. Jadi Reno ingin mengetahui apa sebenarnya yang direncanakan oleh anaknya ini.

__ADS_1


"Rendra..." Reno menatap tajam pada anaknya.


TBC.


__ADS_2