
Dimas segera turun dari tempat tidurnya dan menuju keluar. Farih yang mendengar teriakan Dimas sebelumnya ikut terbangun dan keluar kamarnya.
Ia cukup terkejut mendapati Dimas yang ingin keluar rumah, pasalnya jam saat ini menunjukkan pukul 02.00 malam.
"Dimas mau Kana kau malam-malam begini?" tanya Farih menahan pintu yang ingin di buka oleh Dimas.
"Aku ingin mencari Tiara."
"Jangan gila D, kau lihat ini jam berapa?"
"Aku tidak gila, kau yang gila bagaimana kau bisa tidur tenang sementara Tiara diluar sana. Aku bahkan tidak tau kondisinya seperti apa. Apakah penculik itu memperlakukannya dengan baik atau malah menyiksanya. Kau tidak tahu bagaimana perasaanku saat ini. Istriku hilang dan dia dalam kondisi hamil. Apa yang harus aku lakukan sekarang, katakan apa yang harus aku lakukan?!!!!" teriak Dimas kesal.
Farih terdiam sesaat, ia tahu kalau Dimas sangat mencintai adiknya, tapi Dimas juga perlu menjaga kondisi tubuhnya. Apalagi Dimas terlihat pucat saat ini.
"Dim, aku juga menyayangi Adikku dan khawatir dengan kondisinya. Tapi kau juga perlu menjaga kesehatanmu. Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu, apa yang harus aku katakan pada Tiara. Tenanglah Dim, kita akan mencarinya nanti. Ini masih malam, kau istirahatlah lagi tubuhmu juga perlu istirahat. Kita akan mencari Tiara besok pagi."
"Tapi Farih, aku tidak bisa tidur aku khawatir padanya. Tolong aku Farih, bawa dia padaku. Aku tidak bisa hidup tanpanya. Tolong bawa dia padaku" Pinta Dimas dengan suara parau. Ia tak bisa lagi membendung air matanya. Ia sangat merindukan istri kecilnya itu.
"Tenanglah Dim, kita pasti akan menemukan keberadaannya. Aku sudah menyebar anak buah kita di kota ini. Dan polisi juga menjaga setiap perbatasan yang ada. Orang itu tidak akan mungkin bisa keluar dari kota ini. Apalagi kota ini adalah kota kecil."
Dimas awalnya menolak permintaan Farih untuk kembali istirahat, tapi Farih tak menyerah dan terus memberi pengertian pada Dimas. Hingga akhirnya Dimas mengikuti saran Farih dan kembali tidur dalam kamarnya.
**************
Tak terasa hari menjelang Pagi. Dimas dan Farih mengumpulkan setiap informasi yang mereka dapatkan dari anak buahnya.
"Kami sudah menelusuri tiap kota yang ada disini Tuan, tapi kami bahkan tak menemukan jejak keberadaan Nona Tiara. Apa mungkin Non Tiara sudah di bawa keluar dari kota ini."
"Tidak itu tidak mungkin, karena pada saat penjahat itu kabur dari pengawasan, pihak kepolisian langsung menerjunkan anggotanya untuk menjaga setiap perbatasan kota ini." ujar Farih.
"Perasaanku juga mengatakan ia masih di kota ini" ucap Dimas.
__ADS_1
"Sayang, dimana kamu sebenarnya saat ini?" gumam Dimas sambil meraup wajahnya, ia merasa frustasi selama beberapa hari mencari Tiara tanpa hasil. Seolah jalan yang mereka telusuri selama ini adalah jalan buntu.
"Coba kemarikan peta wilayah kota ini." pinta Dimas. salah satu anak buahnya lalu mengambil sebuah gulungan kertas dan menjerengnya di atas meja.
Dimas memperhatikan peta wilayah kota itu dan menandai setiap wilayah yang sudah mereka telusuri.
"Semua kota sudah kita telusuri, tapi lihat wilayah ini!! Apa kalian sudah memeriksa wilayah ini?" tanya Dimas.
"Wilayah itu adalah sebuah hutan terlarang Tuan. Ketika kami ingin mencoba masuk wilayah itu seorang kepala desa dan juga warga yang kebetulan ada disekitar situ melarang keras kami memasuki kawasan hutan itu karena hutan itu terkenal angker dan berbahaya Tuan."
"Hutan itu terkenal angker dan juga memakan banyak korban. Setiap mereka yang memasuki wilayah itu selalu tidak pernah kembali. Sekalipun kembali itu adalah mayat-mayat mereka dalam kondisi mengenaskan."
"Pada saat kami berada disana kebetulan warga yang menjaga hutan itu menemukan mayat tak dikenal dalam posisi tergantung diatas pohon dengan akar pohon yang melilit tubuhnya. Kondisi korban benar-benar sangat mengerikan Tuan" jelas anak buah Dimas.
"Bagaimana menurutmu Dim" tanya Farih.
"Aku akan mencoba untuk memasuki kawasan hutan ini, hutan ini terlihat mencurigakan" ujar Dimas sambil menandai kawasan hutan itu dengan pulpen yang ia pegang saat ini.
"Aku akan memasuki wilayah itu sendiri, kalian coba alihkan perhatian mereka nanti. Lagipula kita tidak tahu isi hutan itu sebenarnya, jadi biar aku sendiri yang akan melakukannya." ujar Dimas pasti.
"Tidak Dim, aku tidak setuju. Hutan itu terlalu berbahaya. Kalau kau ingin masuk kesana biar aku menemanimu" tolak Farih.
"Tidak, kau diperlukan disini, bagaimana jika ada kabar terbaru tentang Tiara. Siapa yang akan memimpin orang-orang ini untuk terus mencari keberadaan Tiara."
"Tapi Dim...,"
"Percayalah padaku Farih, aku akan menjaga diri baik-baik. Aku belum rela mati jika aku belum bisa menemuinya dan mengetahui ia baik-baik saja."
"Aku percaya padamu, jangan kecewakan kami Dim." Farih menepuk pelan pundak Dimas. Mereka berusaha menguatkan satu sama lainnya.
"Terimakasih Farih."
__ADS_1
"Aku ini Kakak iparmu, kau bahkan belum pernah sekalipun memanggilku Kakak" keluh Farih.
"Kau ini, panggilan begitu saja kau ributkan, bukankah kita seumuran. Baiklah aku janji akan memanggilmu Kakak setelah kita menemukan Tiara."
"Baguslah dan aku harap itu secepatnya."
Akhirnya Farih dan Dimas menyusun strategi untuk mengelabui Kepala desa dan warga yang menjaga hutan itu. Dimas juga menyiapkan tas ransel, berbagai senjata tajam dan juga makanan sebagai bekal ia memasuki kawasan itu.
Untung Dimas sebelumnya pernah mempunyai pengalaman hidup di hutan selama satu bulan. Saat ia mendaki gunung bersama teman kuliahnya dulu. Jadi sedikit tidaknya ia tahu bagaimana cara bertahan hidup di dalam hutan.
Dimas banyak mengetahui tumbuhan beracun dan tumbuhan yang bisa dikonsumsi. Pengetahuannya untuk bertahan hidup dihutan dengan menggunakan sumber daya yang ada di hutan patut untuk diacungi jempol.
Jika kalian berpikir bagaimana bisa anak buah Tedi keluar masuk hutan itu tanpa diketahui oleh warga. Itu dikarenakan mereka memiliki akses rahasia yang tidak di ketahui oleh warga. Mereka menamakannya jalan tikus. Akses jalan yang tersembunyi karena tertutupi semak belukar yang cukup tinggi.
Anak buah Dimas, melewati warga yang menjaga kawasan hutan itu. Mereka sengaja ingin mengalihkan perhatian warga yang berada di pos jaga.
"Hai kalian berhenti!!!" teriak warga bersamaan ketika melihat rombongan orang mencoba memasuki kawasan hutan terlarang mereka.
Anak buah Dimas yang tak mau berhenti dan jalan terus, memaksa semua warga penjaga yang berada di pos itu mengejar mereka dan menghentikannya.
"Hai berhenti kalian!!! Apa kalian tuli?" teriak mereka sambil mengejar anak buah Dimas yang mencoba masuk.
Akhirnya perkelahian diantara mereka pun tak terelakkan lagi. Karena masing-masing dari mereka tidak ada yang mau mendengarkan.
Anak buah Dimas sengaja memancing kemarahan warga agar mereka bisa mengalihkan perhatian dan Dimas bisa memasuki kawasan itu diam-diam.
Selagi mereka bertengkar hebat, Dimas dengan tas ransel di punggungnya berhasil memasuki kawasan hutan itu diam-diam. Ia bernafas lega setelah berhasil memasuki wilayah itu.
"Tunggu aku sayang, aku akan menjemputmu pulang" gumam Dimas bersemangat, ia melangkah kakinya dengan penuh tekad.
TBC.
__ADS_1