
Menjelang pagi hari Nara sudah di sibukkan dengan persiapannya. Ia juga ikut membantu pelayan mengeluarkan koper miliknya dan Mike.
Barang bawaan Mike lumayan banyak kali ini mengingat ia memutuskan untuk menetap di kota yang sama dengan Dimas.
Sementara itu Dewi masih saja merengek dan bergelayut manja dengan Mike, Ia merayu Mike agar mau membawanya serta atau paling tidak ia bisa segera ikut menyusulnya di akhir bulan ini.
"Ayolah Kak, menunggu seratus hari itu terlalu lama, boleh ya Dewi kesana akhir bulan ini" ucap Dewi manja dengan tubuh terus menempel pada Mike.
"Aku akan pertimbangkan jika kamu berkelakuan baik dan dapat meningkatkan nilai pelajaranmu" ucap Mike, sebelumnya ia mendapatkan laporan Dewi yang suka terlibat perkelahian di sekolah karena masalah sepele.
Mike melirik pada Nara, gadis itu terlihat acuh padanya dan sibuk membantu pelayan menyiapkan keberangkatannya.
Nara terlihat cantik dengan penampilannya yang sederhana, ia memilih menggunakan Hem pendek di padukan dengan celana jens tiga perempat, sepatu kets dan tas selempang.
Kenapa dia terlihat makin imut saja. Dan apa dia masih marah? kenapa dia masih tidak mau bicara padaku? gumam Mike menghela nafasnya menetap Nara dengan kesibukannya.
Dewi yang melihat kemana tatapan Mike, menambah kebenciannya pada Nara.
"Sudah Non biar saya saja yang mengangkat koper ini" ucap pelayan pria, mengingat koper yang akan dibawa Nara terlihat berat dibandingkan yang lainnya.
Nara membiarkan pelayan itu mengangkat dan memasukkannya ke bagasi mobil, sementara ia memilih berdiri tak jauh dari mobil. Ia hanya perlu menunggu.
"Kak Mike!!" panggil Dewi dengan suara keras karena Mike terus saja memperhatikan Nara.
"Jaga dirimu baik-baik, Kakak harus sesegera berangkat. Ingat jangan lupa belajar dan jangan mbuat masalah disekolah kalau tidak, kau tidak Kakak ijinkan menyusul kami nanti"
Dewi memanyunkan bibirnya, bukan jawaban ini yang ia inginkan. Dewi mengambil sebuah bingkisan yang awalnya ingin ia berikan pada Mike di malam ia melihat Mike mencium Nara.
"Ini hadiah dari Dewi buat Kakak, di pakai ya" ucap Dewi menyerahkan sebuah bingkisan.
" Terimakasih hadiahnya. Jaga dirimu baik-baik kalau kau membutuhkan sesuatu kau bisa minta dengan Paman Tito" ucap Mike sekali lagi, ia menyerahkan keamanan Dewi pada orang kepercayaannya.
Sementara itu Nara yang sudah menunggu di luar, masih acuh tak acuh dengan drama Dewi di pagi hari.
"Nara apa kau tak ingin berpamitan denganku" Dewi menghampiri Nara dengan merentangkan kedua tangannya.
"Ingat jaga jarak dari Kak Mike, jangan sok deket atau coba-coba merayu Kak Mike, dia milikku" ucap Dewi berbisik di telinga Nara sembari memeluk Nara dengan erat.
Nara hanya diam saja tak menanggapi ucapan Dewi, ia hanya malas berdebat dan membuat keributan yang menurutnya tak penting.
__ADS_1
Mike tersenyum melihat Dewi sepertinya sudah bisa menerima Nara.
"Ayo, kita berangkat" ajak Mike, dengan di bantu pelayan Mike naik ke dalam mobil.
**************
Kehebohan terjadi di apartemen Dimas, ia yang tak mengijinkan pelayan datang ke apartemennya terpaksa melakukan semuanya sendiri.
Tiara yang masih bergelung dengan selimut terpaksa bangun dan segera mencuci mukanya. Dentingan suara penggorengan begitu terdengar jelas di telinganya, dengan segera ia menuju ke dapur.
"Astaghfirullah Mas ku, kenapa dapur jadi berantakan begini" ucap Tiara histeris melihat dapurnya berantakan. panci penggorengan, wadah plastik, sendok, tempat bumbu semua berceceran di atas meja.
"Maaf Yang tadinya aku ingin membuatkanmu sarapan tapi malah jadi kacau seperti ini" ucap Dimas menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia lalu mematikan kompornya yang tadi ia gunakan untuk menggoreng.
"Biarkan saja aku akan memanggil pelayan untuk membersihkannya nanti, sebaiknya kau sarapan dulu" Dimas menghalangi Tiara yang ingin merapikan dapur.
"Sekarang kau duduklah di ruang makan, biar mas siapkan sarapannya sekarang" ucap Dimas mendorong lembut Tiara untuk segera duduk.
Tiara menatap hasil buatan Dimas dengan pandangan tak selera, dua buah telor gosong, Nasi goreng yang warnanya merah darah karena terlalu banyak saos, sosis dan juga bakso goreng dengan potongan yang tak rapi tapi diantara semua sepertinya sosis dan bakso goreng ini yang paling normal hasilnya.
"Makan nasi goreng, sosis dan bakso gorengnya aja ya Yang, maaf telornya gosong." Dimas menjauhkan piring yang berisi telor gosong. Ia mengambil piring mengisinya dengan nasi goreng, sosis dan Bakso goreng buatannya.
"Mas ingat waktu kamu ngidam, kamu pingin nasi goreng buatan Mas, waktu itu lahap banget makannya. Jadi Mas membuatnya lagi untukmu" ucap Dimas bersemangat.
"Tapi kenapa Nasi gorengnya warnanya merah banget mas" tanya Tiara.
"Itu tadi saosnya nggak mau keluar Yang, jadi Mas lepas aja tutupnya. Eh malah jadi kebanyakan ngasihnya" jawab Dimas sembari tertawa kecil.
"Mas, sudah ngerasain nasi gorengnya belum?" tanya Tiara lagi di jawab dengan gelengan oleh Dimas.
"Aku ingin kamu jadi orang pertama yang merasakan masakanku" jawab Dimas.
"Aaa..." Dimas menyendok nasi goreng dan akan menyuapkannya pada Tiara. Dengan ragu Tiara menerima suapan Dimas. Tak ingin mengecewakan suaminya Tiara dengan susah payah mengunyah dan menelan nasi goreng itu.
"Enak Yang," tanya Dimas dengan tatapan berbinar.
"Enak, coba Mas rasain" ucap Tiara, ganti menyuapi Dimas. Ia sebenarnya menghargai jerih payah Dimas yang sudah membuatkannya sarapan. Tapi ia juga khawatir jika ia sampai sakit perut yang berakibat buruk pada janinnya nanti.
"Huweeekkk!" Dimas memuntahkan makanannya.
__ADS_1
"Astaga Sayang makanan apa ini, jangan dimakan" Dimas menjauhkan piringnya dari Tiara. Ia bangun dari duduknya lalu menggandeng Tiara untuk menjauhi meja makan.
"Maafkan Daddy ya sayang, hampir saja kau keracunan" ucap Dimas mengelus perut Tiara. Pergerakan aktif bayi di dalam perut Tiara membawa perasaan bahagia tersendiri untuk Dimas.
Saat ini Dimas mengajak Tiara untuk duduk di sofa. Ia memilih memesan makanan untuk mereka berdua di bandingkan harus melanjutkan memakan makanan yang ia buat.
"Nanti sore kita periksa kandunganmu, Mas sudah meminta Leon untuk mendaftarkan ke dokter spesialis kandungan" ujar Dimas.
"Oh ya Mas, mampir ke konter HP ya. HP ku hilang entah kemana karena kejadian itu. Tiara lama nggak menghubungi Mama dan juga yang lainnya. Tiara kangen sama mereka" ucap Tiara diangguki Dimas.
"Astaga aku lupa!" ucap Dimas tiba-tiba sembari menepok jidatnya.
"Itu si Duda nyuruh kamu telpon dia." ucap Dimas lagi.
"Duda? maksud Mas, Kak Reno?" tanya Tiara lagi.
"Iya dia kebelet kawin, tapi Mona nggak mau nikah kalau kamu nggak hadir di acara akad nikahnya. Kasihan tuh duda kebelet kawin" ejek Dimas lagi sembari tertawa kecil
"Kamu ini Mas, temen kesusahan malah diketawain" protes Tiara.
"Ya sudah, mana handphonemu Mas. Tiara mau telpon Kak Reno dulu" ucap Tiara sambil menengadahkan tangannya.
Dimas menyodorkan handphone miliknya pada Tiara, Tiara yang ingin menjauh di tahan oleh Dimas dengan memegangi lengannya.
"Telpon disini saja" ucap Dimas menyuruh Tiara untuk kembali duduk.
"Tapi mas janji ya, jangan ganggu Tiara telpon atau motong pembicaraan Tiara sama Kak Reno" ujar Tiara ragu.
Tiara paling tau betul watak suaminya yang pecemburu, sering sekali suaminya itu tiba-tiba merebut telponnya ketika ia masih asyik bicara dengan Reno.
"Iya-iya Mas janji nggak ganggu, tapi nggak boleh video call dan speaker nya juga di aktifkan mas nggak mau duda itu sampai ngerayu kamu" ujar Dimas mulai cemburu.
"Ya Allah Mas, Kak Reno udah mau nikah sama Mona, ya nggak mungkin lah dia masih tertarik sama Tiara" ucap Tiara tak habis pikir dengan pikiran suaminya.
"Ya, bisa aja kan, selingkuh itu terjadi di awali dari pertemanan, jadi kenyamanan terus keblabasan" ucap Dimas menasehati.
"Iya-iya terserah mas aja deh, yang penting jangan potong pembicaraan Tiara" Tiara menggelengkan kepalanya melihat kelakuan suaminya. Tiara memencet nomor Reno, sementara Dimas semakin menempel padanya. Ia memeluk Tiara dari samping, menyandarkan kepalanya di pundak Tiara. Sesekali ia mengecup pipi dan ceruk leher Tiara.
TBC.
__ADS_1