UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Kedatangan Dewi.


__ADS_3

Pagi hari setelah sarapan akhirnya Tiara dan Dimas kembali ke rumah Kakek dengan diantar oleh supir Reno. Sementara Itu mobil Dimas di bawa oleh Mike, ia ingin mengajak Nara ke suatu tempat.


Mobil melaju ke sebuah kompleks perumahan mewah, Nara memandang sekitarnya dan bertanya-tanya dalam hati kenapa Mike membawanya ke are perumahan.


"Keluarlah" ucap Mike membukakan pintu mobil untuk Nara. Saat ini mereka berada di sebuah rumah bergaya minimalis dengan cat pagar bewarna hitam.


Nara memasuki rumah yang di dominasi warna hitam putih itu, tak banyak barang yang ada di dalamnya.


"Rumah siapa ini kak?" tanya Nara ketika Mike membawanya masuk.


"Rumah kita" jawab Mike singkat menyisakan tanda tanya pada diri Nara.


"Maksudnya?" tanya Nara lagi terlihat bingung, jujur saja ia memang benar-benar tidak mengerti.


"Rumah kita, aku, kamu dan Dewi. Kita akan tinggal disini mulai Minggu depan" ucap Mike, membuat Nara menghentikan langkah kakinya.


"Kita!" hah hampir saja Nara terbuai dengan kalimat itu karena berpikir kata kita adalah untuk Dirinya dan Mike saja. Ternyata masih ada orang ke tiga yaitu Dewi. Wanita yang selalu membuatnya merasa bersalah.


"Kau suka?" tanya Mike sembari mbuka salah satu kamar.


"Iya" jawab Nara singkat, ia tidak tahu harus menjawab apa. Jika ia bilang tidak suka bukankah ia termasuk orang yang tak bersyukur."


"Baguslah, kau bisa memilih kamarmu sendiri dan mendekornya sesuai seleramu. Dan untuk beberapa perabotan yang kurang kita akan membelinya setelah ini.


"Catatlah, apa kiranya yang harus kita beli dan yang kau butuhkan" Mike menyerahkan dua lembar kertas kosong dan juga pulpen pada Nara.


"Apa tidak sebaiknya menunggu Dewi saja Kak, untuk mbeli perabotan. Soalnya Nara nggak tau barang apa yang kira-kira Dewi butuhkan. Dan juga Bagaimana nanti jika pilihan Nara tidak sesuai dengan selera Dewi" ucap Nara, segala hal yang berkaitan dengan Dewi selalu membuatnya berhati-hati agar tak melakukan kesalahan.


"Tidak apa-apa, kita beli saja perabotannya dulu. Untuk keperluan kamar Dewi, Kita belikan tempat tidur dan lemarinya saja, untuk yang lain biar nanti terserah Dewi ingin mendekor kamarnya seperti apa" jelas Mike, di angguki Nara.


Akhirnya setelah mencatat perabotan apa yang dirasa kurang, Nara dan Mike datang ke pusat pembelian furniture terbesar di kota mereka. Nara terlihat antusias memilih perabotan yang ingin dibeli. Ia juga tak segan menawar berbeda dengan Mike yang mengiyakan saja harganya membuat Nara gemes.


"Kak kalau beli itu ditawar" ujar Nara terlihat kesal.

__ADS_1


"Sini biar Nara aja yang nawar kakak diam aja di belakang Nara" ucap Nara lagi. Ia maju kedepan menghadapi penjual sementara Mike di biarkan berdiri di belakangnya.


"Siapa yang mengajarimu tawar-menawar?" ucap Mike terkagum dengan cara Nara melakukan tawar-menawar.


"Tentu saja Kak Tiara" ucap Nara bangga.


"Ternyata ada gunanya juga kamu bergaul sama Tiara. Aku pikir yang kamu bisa cuma manjat pohon mangga doang" Mike mengejek Nara. Ia mengingatkan bagaimana Nara memanjat pohon mangga di halaman belakang rumah Kakek untuk membuat rujak bersama Tiara.


"Memanjat pohon juga salah satu keahlianku Kak" sahut Nara.


Setelah selesai memesan perabotan dan melakukan transaksi pembayaran, akhirnya Mike keluar dari ruko itu.


Mobil yang Mike kendarai melaju menuju kesalah satu rumah makan terdekat. Kali ini bukan restoran Jepang yang ia singgahi. Ia memilih sebuah rumah makan dengan menu asli Indonesia. Lidah Nara sudah terbiasa dengan menu Indonesia dan untungnya ia menyukainya.


**************


Di rumah kedatangan Dimas di sambut hangat oleh Papa Teo. Sebenarnya Ia sudah tak sabar ingin melihat cucu pertamanya sejak lama.


"Apa dia sudah kamu kasih ASI tadi Tiara?" tanya Papa Teo. Di dalam gendongan Papa Teo, Aqilla selalu menggerakkan kepalanya ke dada Papa Teo seolah sedang mencari sumber kehidupannya.


"Sudah Pa, tapi kelihatannya masih kurang ya" Tiara menatap Aqilla yang di gendong Papa Teo masih saja seperti mencari sesuatu.


"Ya sudah kasih ASI aja dulu, nanti kalau sudah kenyang cucu Opa main sama Opa Lagi ya" Papa Teo mengembalikan Aqilla pada Tiara.


"Susui dia di kamar saja" perintah Dimas di ikuti oleh Tiara. Ia menuju ke kamar mereka di susul dengan Dimas di belakangnya.


***********


Hari yang ditunggu-tunggu oleh Dewi akhirnya tiba juga. Tepat setelah 100 hari peringatan kematian kakaknya akhirnya ia bisa menyusul Mike.


Dewi saat ini sedang berada di bandara, ia dengan penuh percaya diri menuju ke sebuah pesawat menuju ke kelas bisnis. Ia duduk dengan Anggun dan wajahnya terlihat sangat cerah. Terlihat kebahagiaan memancar jelas di wajahnya.


Mulai saat ini, Kak Mike adalah milikku, tak akan aku biarkan Nara merebut yang sudah menjadi Milikku, batin Dewi sambil tersenyum.

__ADS_1


Setelah menempuh beberapa jam perjalanan akhirnya pesawat yang ditumpangi Dewi tiba juga. Sesuai dengan harapannya, Mike sendiri yang datang menjemputnya. Ya Nara tidak ingin ikut menjemput Dewi, ia khawatir kehadirannya menghancurkan Mood Dewi.


"Kakak aku merindukanmu" ucap Dewi manja sembari berjalan menuju Mike dan memeluknya.


Mike membalas pelukan Dewi dan menepuk bahu Dewi pelan.


"Bagaimana perjalananmu?" tanya Mike melepaskan pelukannya.


"Sangat menyenangkan, Kakak tau kan kalau aku sudah menantikan datangnya hari ini" jawab Dewi. Sambil bergelayut manja pada tangan Mike mereka keluar dari ruang kedatangan.


"Kakak tadinya ingin mengajakmu tinggal langsung di rumah kita, tapi Kakek melarangku untuk pindah. Ia memintaku untuk tinggal dengannya dulu selama satu Minggu. Kau tidak masalah kan tinggal di rumah Kakek terlebih dahulu?" tanya Mike menoleh pada Dewi yang masih saja bersikap manja.


"Kakak masih memiliki Kakek? Wah Dewi pikir Kak Mike sama seperti Dewi tidak memiliki siapapun" ucap Dewi.


"Dia adalah Kakek dari saudara Kak Mike yang terpisah dengan Kak Mike dulu. Kau pasti sudah mendengar ceritanya dari Kak Roy bukan" ujar Mike, membawa barang-barang Dewi ke dalam bagasi mobilnya.


"Ya, Dewi nggak nyangka aja akhirnya Kakak bisa menemukan keluarga Kakak. Selamat ya Kak, andai saja Kak Roy masih ada pasti Dewi juga masih memiliki saudara" Mata Dewi memerah menatap Mike.


"Kamu masih memilikiku, anggap saja aku adalah Kakakmu Roy. Aku juga sudah berjanji pada Roy untuk menjagamu jadi Kakak nggak akan mungkin meninggalkanmu sendiri" ucap Mike mengacak rambut Dewi pelan.


Mobil yang dikendarai Mike melaju memecah keramaian Ibu kota. Sampai di depan rumah Kakek, Dewi terpesona menatap bangunan super megah di depannya. Sudah dapat di pastikan jika Kekayaan Kakek tidak dapat di bandingkan dengan Mike.


"Nara kau mau kemana?" tanya Mike ketika berpapasan dengan Nara dan Dimas di depan rumah.


"Kak Tiara minta di beliin es Dawet sama jajanan pasar. Ini Nara sama Kak Dimas mau beli keluar" ucap Nara menjawab pertanyaan Mike.


Suara Nara mengalihkan tatapan kagum pada gedung di depannya. Ia menoleh ke arah Nara, pandangannya beralih kesosok yang berjalan di sebelah Nara. Kini ia terkagum dengan sosok Dewasa Dimas yang terlihat tampan dan berkarisma, bahkan Dimas terlihat lebih berwibawa pada Mike.


Sial, kenapa anak pembunuh itu selalu lebih beruntung dariku, batin Dewi.


Ia kesal melihat Nara jalan berdampingan dengan pria Dewasa yang lebih tampan dan berkarisma dari Mike, ia berpikir jika Pria itu adalah pacar baru Nara.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2