UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Ke Singapura.


__ADS_3

Di Taman belakang rumah yang dipenuhi dengan berbagai jenis bunga aneka warna, Tuan Adi Nugraha yang merupakan Kakek dari Dimas sedang duduk di taman itu menikmati secangkir teh di temani dengan kepala pelayan yang merupakan orang kepercayaannya. Pelayan itu berdiri di sampingnya, sesekali menuangkan teh yang telah kosong di gelas Tuan Adi.


"Apa Anda akan memberikan bukti ini pada cucu anda Tuan."


"Tidak, biarkan si bodoh itu mengetahui sendiri kelicikan wanita di masa lalunya."


"Lalu untuk apa Anda menyuruh anak buah Anda sampai mengikuti wanita itu Tuan."


"Ada apa denganmu, hari ini sepertinya kau semangat sekali bertanya. Aku merasa seperti sedang di interogasi olehmu."


"Maaf Tuan, saya tidak bermaksud."


"Cukup jadi penonton yang baik, kita tidak perlu ikut campur. Kalau Dimas sampai tidak bisa mengatasi wanita licik itu maka dia tidak pantas untuk menjadi pewarisku."


"Bagaimana perkembangan persaingan Dimas dan juga Anton" tanya Kakek.


"Tuan Anton sudah mulai bergerak Tuan. Dapat dipastikan dari 10% saham yang mereka perebutkan 5% nya akan mendukung Tuan Anton. Sedangkan sisa 5% saham lainnya masih misterius kepemilikannya.


"Sepertinya hasilnya akan seri. Seandainya Dimas lebih cerdik sedikit ia pasti akan jadi pemenangnya."


"Anda mengetahui pemilik misterius 5% saham itu Tuan."


"Ya, dan kali ini aku ingin tau. Cucuku itu apakah akan menggunakan istrinya untuk mendapatkan saham itu. Atau akan berjuang sendiri merayu pemilik saham itu."


"Apa Non Tiara mengenal baik pemilik saham itu Tuan."


"Bukan hanya mengenalnya tapi Tiara juga menyukainya. Aku akan menghubungi pemilik saham itu agar sedikit bermain-main dengan Dimas. Ah, kelihatannya ini akan menjadi tontonan yang menarik" Tuan Adi tersenyum smirk dan kembali menyeruput teh miliknya.


"Nona Tiara menyukai orang itu. Siapa dia?" gumam pelayan itu lirih. Ia terlihat berpikir keras dan sangat penasaran. Sementara Kakek yang mendengar gumaman pelayan di sampingnya itu, kembali tersenyum misterius.


****************


Dimas dan Tiara saat ini sudah berada di rumahnya. Mereka duduk berdampingan di sofa kamarnya dengan kesibukan masing-masing.


Tiara terlihat serius dengan sebuah buku novel bergenre romantis di tangannya. Sedangkan Dimas di sibukkan dengan laptopnya. Ia mengecek pekerjaannya sebelum nantinya akan ia serahkan pada Erick karena rencana kepergiannya.


Tiara membaca novel sambil menikmati cemilan kentang goreng buatannya. Sesekali ia juga menyuapi kentang goreng untuk Dimas.


"Sayang" panggil Dimas sambil mengetik sesuatu di laptop miliknya.


"Hemmm" sahut Tiara tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari buku yang ia baca.

__ADS_1


"Besok pagi aku akan berangkat ke Singapura selama 3 hari."


"Hemmm" lagi-lagi Tiara menjawab tanpa mengalihkan pandangannya.


"Sayang..., Apa kau tidak ingin ikut denganku?" Dimas menatap Tiara yang masih asik dengan buku bacaannya.


"Sayang, apa buku ini lebih menarik dariku? Kau bahkan mengabaikan pertanyaanku" Dimas mengambil paksa buku yang di baca oleh Tiara.


"Aaahh Mas balikin buku Tiara" Tiara menatap kesal Dimas.


"Sayang besok Mas akan berangkat ke Singapura selama 3 hari. Apakah kau ingin ikut?"


"Apakah boleh?" tatap Tiara dengan wajah berbinar-binar.


"Tentu saja."


"Tapi bagaimana dengan Ayah, dia pasti kesepian di rumah Mas kalau Tiara ikut sama Masku."


"Jangan khawatir Ayah sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini. Lagipula di rumah banyak pelayan yang melayani Ayah. Sekarang kau persiapkan saja barang-barang yang akan kau bawa ke Singapura. Tidak perlu banyak bawa beberapa yang penting saja. Yang lainnya kita bisa beli disana nanti."


"Oke Bos" jawab Tiara berlalu. Dengan segera ia bangun dari duduknya dan memilah barang apa saja yang akan ia bawa lalu memasukkannya ke dalam koper.


Ini adalah kedua kalinya Tiara menginjakkan kaki di negara ini. Dimas memilih untuk tinggal di hotel. Walaupun sebenarnya keluarganya memiliki Mansion di negara ini. Tapi dia memilih tinggal di hotel agar bisa puas berduaan dengan istrinya tanpa adanya gangguan.


"Istirahatlah terlebih dahulu sayang. Nanti malam aku akan mengajakmu menemui seseorang yang penting."


"Siapa?" tanya Tiara penasaran.


"Rahasia, kau pasti akan menyukainya. Tapi ingat kau juga memiliki suami yang butuh perhatianmu. Jadi jangan coba-coba mengabaikanku jika bertemu dengan orang itu" Dimas memperingatkan Tiara.


Tiara tidak menjawab pertanyaan Dimas. ia hanya menatap heran suaminya dan berpikir kira-kira siapa orang yang akan ia temui sampai suaminya sekhawatir itu.


"Sayang kapan ada Dede bayi disini" Dimas memeluk Tiara dari belakang lalu mengelus perut rata milik Tiara.


"Entahlah Mas, Tiara juga menantikannya."


"Sepertinya kerja kerasku selama ini kurang. Jadi ayo kita buat adonannya sekarang" Dimas membopong Tiara menuju tempat tidur mengabaikan protes Tiara.


"Masku, siang-siang begini apa yang kau lakukan."


"Membuat adonan sayang. Lagipula aroma tubuhmu ini selalu membangkitkan gairahku."

__ADS_1


Tiara tidak lagi protes ketika suaminya melucuti semua yang melekat pada tubuhnya. Ia menikmati setiap permainan yang di lakukan oleh suaminya.


Malam pun telah tiba kini saatnya Dimas mengajak Tiara menemui seseorang yang ia janjikan. Walaupun sedikit penasaran tapi Tiara tidak banyak bertanya pada suaminya. Karena ia tau jika suaminya mengatakan ini adalah rahasia, maka sekeras apapun ia membujuk suaminya maka tetap saja tidak berhasil.


Tiara sudah selesai mengenakan bajunya dengan wajah cemberutnya. Dan kini saatnya ia merias tipis wajah cantiknya.


"Jangan dandan cantik-cantik sayang. Bagaimana nanti jika ia tertarik padamu?"


"Tiara cuma mau pakai bedak dan lipstik aja kok Mas."


"Udah sayang, gini aja udah cantik kok" Dimas menaruh lipstik yang ingin dikenakan Tiara.


"Ya ampun Mas sebenarnya kita mau ketemu siapa sih. Pakai ini nggak boleh, pakai itu juga nggak boleh. Mas lihat juga nih baju Tiara ini. Ini nggak model banget Mas. Masa sih Tiara yang masih muda Mas suruh pake daster Emak-emak kedodoran gini. Tiara kan malu mas. Lagian dapet darimana lagi Mas daster model gini."


"Cantik kok sayang, cantik banget malah" Dimas mencoba menghibur Tiara yang sedang dalam mode marahnya.


"Mas nggak usah ngibuli Tiara. Penampilan Tiara tuh seperti pembantu yang lagi jalan sama majikannya" Tiara membandingkan penampilannya dengan Dimas yang terlihat keren.


Bagaimana mungkin aku membiarkanmu tampil cantik di depan pria itu. Bagaimana jika ia kembali tertarik padamu, batin Dimas.


"Nggak sayang, siapa yang berani bilang gitu biar Mas kuncir bibirnya nanti."


"Bodo, pokoknya Tiara nggak mau ikut mas keluar kalau Tiara harus pake daster Emak-emak seperti ini. Tiara mau dikamar aja mau nonton Drakor. Minggir.." Tiara melewati Dimas dan menyenggol tubuh Dimas kasar.


"Awww, ya ampun sayang galak banget sih."


Tiara tidak memperdulikan Dimas. Ia naik ke atas tempat tidurnya dan menghidupkan televisi untuk menyetel drama Korea.


"Astaga dia ngambek beneran" gumam Dimas lirih.


Berbagai cara Dimas lakukan untuk merayu Tiara agar mau keluar dengannya. Tapi tetap saja Tiara mengabaikan keberadaan Dimas. Akhirnya Dimas menyerah dan membiarkan Tiara mengenakan baju sesuai keinginannya.


Tiara dan Dimas sudah sampai di depan gerbang rumah mewah. Satpam membukakan pintu dan mempersilahkan mereka dengan sopan.


Dimas memencet bel dan tak lama pintu pun terbuka lebar. Mengetahui siapa pembuka pintu itu membuat Tiara paham mengapa Suaminya cemburu.


Pandangan Tiara teralihkan pada sosok yang berada di belakang pria yang membuka pintu. Ia membuka lebar kedua tangannya dan menghampirinya untuk bisa segera memeluknya.


"Sayangku, aku sangat merindukanmu. Muach, muach, muach..." kecupan di seluruh wajah pria itu Tiara berikan. Sementara Dimas menatap dengan wajah cemberutnya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2