UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Jalan-jalan.


__ADS_3

Sore ini Tiara sudah pulang ke rumah bersama Dimas, Mike dan Nara lah yang menjemput mereka. Kecemasan meliputi Dimas tentang keberadaan Ayahnya. Segera ia menemui Kakeknya begitu sampai dirumah.


"Kenapa Kakek rahasiakan tentang kondisi Papa padaku?"


"Aku hanya tidak ingin membuatmu cemas apalagi kejadian itu terjadi saat istrimu mendekati persalinannya" jelas Kakek.


"Apa Kakek sudah mendapatkan kabar terkini tentang Papa?" tanya Dimas terlihat khawatir.


"Belum, lokasi bencana lumayan luas dan tersebar di beberapa titik, Tidak ada akses yang bisa menuju kesana kecuali helikopter. Kakek sudah mengirim orang kesana. Tadinya hari ini Kakek ingin menuju kesana tapi Mike melarang Kakek, dia yang ingin menggantikan Kakek kesana besok dengan Nara. Tapi mengingat bahayanya lokasi karena masih terjadi longsor susulan, jadi Kakek belum berani mengirimnya kesana, terutama Nara."


"Biar aku dan Mike berangkat kesana besok pagi. Nara biar dirumah menemani Tiara" ucap Dimas.


"Tapi bagaimana dengan Tiara, dia baru saja melahirkan. Apa tidak apa kalau kau meninggalkannya?" tanya Kakek.


"Dia tidak sendiri, ada Kakek, Nara dan banyak pelayan. Aku juga akan mencarikan seorang baby sister yang akan membantu Tiara merawat Aqilla nanti' jelas Dimas. Ia sudah mempertimbangkan semuanya sebelum mengambil keputusan dan dia yakin Tiara pasti mengerti.


"Baiklah terserah kau saja, tapi kau harus meminta ijin pada istrimu sebelumnya. Kakek tidak ingin Tiara kecewa dan menyalahkan Kakek karena kepergianmu."


"Kakek jangan khawatir, Tiara bukan orang sseperti itu. Ia bahkan lebih mengerti diriku di bandingkan diriku sendiri" ucap Dimas.


Dimas kembali ke kamarnya, ia bisa mendengar suara Tiara dan Nara yang sedang bercanda dengan Aqilla di sebelah kamarnya. Ia memilih membersihkan diri terlebih dahulu sebelum ia menemui Tiara dan juga putrinya.


"Dari tadi aku dengar kalian senang sekali bercanda dengan putriku" ucap Dimas memasuki kamar Aqilla melalui pintu penghubung kamarnya."


"Dia terlihat imut dan menggemaskan Kak Dim, lihat ia bahkan tersenyum sekarang" ucap Nara memperhatikan Aqilla yang tersenyum dan mengggerak-gerakan tubuh mungilnya.


"Putriku memang yang terbaik ucap Dimas" ia mendekat dan mencium kening putrinya.


"Sayang, Mas ada hal penting yang mengharuskan Mas keluar kota besok. Kau tidak apa-apa kan di rumah sama Nara dan Kakek. Aku juga akan mencarikan seorang baby sister yang akan membantumu merawat Nara" ujar Dimas berdiri di samping Tiara dan memeluk pinggangnya.


"Tidak apa-apa Mas, kalau memang penting mas pergi aja. Dan nggak perlu cari baby sister, Tiara pingin ngerawat anak Tiara sendiri. Lagipula ada Nara, Kakek dan pelayan yang akan membantu Tiara" ucap Tiara.


Tiara takut jika nanti sampai salah memilih baby sister malah akan mencelakai anaknya. Maklum saja Tiara baru menjadi Ibu Muda dan ia tidak ingin kehilangan momen perkembangan putrinya.


"Baiklah, aku ikuti keinginanmu. Nara aku titip istri dan anakku padamu mulai besok" ucap Dimas beralih pada Nara.

__ADS_1


"Siap bos laksanakan" Nara memberi hormat pada Dimas.


"Kau ini diajak serius malah bercanda" cibir Dimas.


"Nara serius lho Kak, bukan bercanda ini" ucap Nara membela diri.


"Iya-iya, bicara denganmu aku tak pernah bisa menang dari dulu" Dimas merasa senang sifat Nara yang periang sudah kembali. Ia berharap semua keluarga besarnya terus sehat dan bahagia termasuk Nara yang sudah menjadi bagian keluarga mereka.


Tok tok tok


tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, Nara, Dimas dan Tiara menoleh bersamaan menatap pelayan yang berada di depan pintu.


"Ada apa?" tanya Dimas.


"Maaf Tuan mengganggu, itu guru Les Non Nara sudah menunggu di bawah" ucap pelayan itu sopan.


"Suruh tunggu sebentar Bi, saya akan segera turun" sahut Nara.


Akhirnya pelayan itu pamit undur diri di susul oleh Nara. Sepeninggal Nara akhirnya Tiara kembali bersuara.


"Maaf Mas, kalau Tiara boleh tahu Mas keluar kota untuk urusan pekerjaan atau ada masalah lain?" tanya Tiara ragu. Entahlah, ia memiliki perasaan tidak enak akhir-akhir ini.


"Memangnya ada apa Mas? Papa baik-baik saja kan?" tanya Tiara terlihat khawatir.


"Desa tempat Papa bertugas mengalami bencana banjir dan tanah longsor. Menyebabkan akses jalan dan komunikasi terputus. Aku ingin pergi kedesa itu untuk mencari keberadaan Papa. Kita doakan saja Papa akan baik-baik saja" Dimas memeluk Tiara dan menyenderkan kepalanya di bahu Tiara.


"Iya Papa pasti baik-baik saja, Tiara yakin itu. Dan Mas juga harus hati-hati dan kembali dengan selamat. Tiara menentukan kabar baik dari Mas" ucap Tiara mbalas pelukan suaminya


********


Menatap ke sekelilingnya, Nara terlihat senang. Gemerlap perkotaan dan meriahnya suasana malam menambah kebahagiaan tersendiri buatnya. Terpancar aura kebahagiaan pada Mike dan Nara. Bahkan mereka berdua selalu mengumbar senyumannya satu sama lain.-----


Mike saat ini, memenuhi janjinya pada Nara, ia mengajak Nara keluar jalan-jalan sekaligus berpamitan karena besok ia harus pergi ke lokasi bencana dengan Dimas.


"Kau suka tempat ini?" tanya Mike berjalan disebelah Nara sambil bergandengan tangan. Mereka terlihat seperti Muda-mudi yang sedang berpacaran. Apalagi malam ini adalah malam Minggu, malam dimana banyak pasangan Muda-mudi melakukan kencan.

__ADS_1


"Suka Kak, kalau boleh tau ini nama tempatnya apa ya Kak?" tanya Nara.


"Pasar malam, kebetulan ada pameran juga disini, jadi makin ramai" jelas Mike tersenyum.


"Boleh Nara membeli jajanan disekitar sini" ucap Nara menatap pedagang yang berjualan berjejer di sepanjang jalan yang ia lewati.


"Boleh, tapi jangan banyak-banyak nanti sakit perut, apalagi kau belum terbiasa dengan jajanan pinggir jalan" ucap Mike tersenyum. Nara menarik tangan Mike yang menggenggam erat telapak tangannya.


Ia menuju ke stand dimana banyak utang mengantri untuk membeli.


"Mau pesan apa dek" tanya pedegang itu ketika giliran Nara."


"Bakso bakar, sosis bakar, telur gulung, Sempol, batagor, tahu Aci, semau deh pak kasih masing-masing 2 ya" ucap Nara membaca Menu berderet yang ada di depan rombong.


"Kamu yakin bisa makan semua itu, tanya Mike terlihat ragu" Bukan apa-apa jumlah jajanan yang di jual ada lebih dari sepuluh macam. Belum lagi sambalnya yang pedas Mike hanya khawatir Nara yang tak pernah makan makanan yang terlalu pedas akan sakit perut nantinya.


"Kelihatannya enak Kak, biar Nara coba ya. Soalnya Nara penasaran." ucap Nara dengan wajah berbinar.


"Ya sudah terserah kamu, tapi kalau nggak suka jangan dipaksakan nanti" ujar Mike memperingati Nara. Nara mengangguk dan memberikan senyumannya pada Mike.


"Pak, sambalnya dipisah saja ya" pinta Mike, ia takut jika Nara kepedasan nantinya.


"Iya Tuan" ucap pedagang itu.


Selesai dengan pesanannya Mike dan Nara memilih duduk di kursi taman tak jauh dari pasar malam itu. Mike membuka jajanannya yang di bungkus kotak, total semua ada 3 kotak.


"Wah kelihatannya lezat, bahkan air liurku hampir menetes melihat ini" ucap Nara blak-blakan. Nara memang tidak pernah menjaga imej di depan Mike, ia selalu tampil apa adanya. Itulah yang membuat Mike tertarik pada Nara.


Nara mengambil bakso bakarnya, gigitan pertama ia makan tanpa menggunakan saos sambal. Tapi untuk gigitan kedua ia menggunakan saos sambal.


"Uwaaaah rasanya waw banget Kak" dengan bersemangat Nara menikmati semua dengan menggunakan saos sambal. Ia tidak memperdulikan buliran keringat di sekitar wajahnya akibat kepedasan. Ia juga Tidak memperdulikan saos yang belepotan di sekitar bibirnya. Mike tersenyum menatap wajah Nara yang memerah karena pengaruh pedasnya makanan yang ia makan.


"Mau Kak" Nara menyodorkan Sempol ayam pada Mike, Mike menggelengkan kepalanya.


Tapi saat Nara menggigit Sempol itu ke dalam mulutnya tiba-tiba Mike mendekat. Ia mencium Nara dan menjilat saos yang ada di sekitar bibir Nara, ia juga merebut Sempol yang baru saja masuk ke dalam mulutnya.

__ADS_1


Nara terbengong dengan tindakan berani Mike, ia bahkan menjatuhkan tusukan Sempol yang masih tersisa separuh. Nara memegangi dadanya yang kembali di buat Mike berdegup kencang.


TBC.


__ADS_2