
Michael menyerahkan koper itu kepada Dimas dan memintanya untuk membukanya.
"Apa ini?" tanya Dimas penasaran.
"Itu hadiah dari Mama untukmu, bukalah."
Dimas membuka koper itu perlahan, entahlah ia merasa dadanya sedikit sesak. Ada rasa rindu dan juga takut yang menyelimuti perasaannya kali ini.
"Pena digital" Dimas menatap ke arah Michael, dengan penuh tanya. Tidak hanya satu tapi banyak sekali Alat rekam dalam bentuk pena digital, setiap Pena terdapat angka yang di tempelkan.
"Itu kebiasaan Mama, setiap hari ulangtahun Kakak, ia selalu merekam suaranya disitu berharap suatu saat Kakak bisa mendengar isi hatinya."
Dimas mencoba menghidupkan pena dengan tempelan angka terkecil yaitu angka 8.
"Hallo sayangnya Mama, apa kabar? Sudah 2 bulan lebih kita nggak ketemu, mama kangen banget. Maaf Mama tidak di sampingmu di ulang tahunmu yang ke 8 tahun. Tetap jadi anak yang kuat ya sayang. Mama baru saja melahirkan adikmu, usianya baru satu bulan sekarang. Tetap sehat ya sayang, maafkan Mama ya, kalau sikap Mama selama ini mengecewakanmu. Bye sayangnya Mama mudah-mudahan dalam waktu dekat ini kita bisa ketemu ya, mmuaaachhhh" Mama Tina mengakhiri rekamannya dengan sebuah ciuman.
Dimas tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca, Michael terus memperhatikan reaksi dari Kakaknya itu. Dimas kembali mengambil pena dengan angka 10, dan memencet tombol hingga terdengar kembali suara wanita yang ia rindukan.
"Hallo sayangnya Mama, Happy birthday. Mama kangen banget sama kamu sayang. Tadi Mama ke rumah ingin menemuimu, tapi Kakek mengusir Mama. Mama menyesal telah mengkhianati kepercayaan Papamu dan juga Kakekmu. Tapi Mama tidak menyerah, dan akhirnya walaupun harus sembunyi-sembunyi Mama bisa melihatmu di sekolah. Anak tampan mama berjalan bergandengan dengan teman wanitanya. Akhirnya Mama bisa melihat senyumanmu sayang. Terimakasih karena senyumanmu telah mengobati rasa rindu Mama sayang. Tetaplah tersenyum karena senyumanmu adalah kebahagiaan terbesar untukku."
Dimas kembali tersenyum, pasti wanita yang dimaksud mamanya adalah Manda, wanita yang dulu selalu ada disaat ia begitu terpuruk karena perpisahan orang tuanya. Wanita yang menemaninya lebih dari 14 tahun, menemaninya dalam suka maupun duka.
Inilah alasan Dimas tidak tega untuk melenyapkan wanita itu. Walau bagaimanapun ia berhutang banyak pada Manda. Tanpa Manda disisinya dulu, entah akan seperti apa kehidupannya. Wanita itu hadir disaat ia benar-benar membutuhkan dukungan seseorang. Wanita itulah yang meraih tangannya terlebih dahulu, menyemangatinya dan menemaninya meraih mimpinya.
Walaupun saat ini posisi Manda sudah tergantikan bukan berarti Dimas melupakan kebaikan yang pernah Manda berikan. Dimas memilih bersabar dengan waktu untuk membuktikan anak siapa yang ada dalam kandungan Manda.
Ketika Dimas mencoba mengambil pulpen digital lainnya, ia melihat sebuah USB disana.
__ADS_1
"Apa isi USB ini?" tanyanya pada Michael.
"Itu rekaman video Mama untukmu Kak, tapi sebelum Kakak melihat isi USB itu bisakah Kakak berjanji satu hal padaku?"
"Apa?"
"Jangan pernah bersedih atau menyalahkan siapapun karena perpisahan kalian. Mama paling menyukai senyumanmu, jadi tetaplah kuat dan tersenyum untuk Mama." Michael menyentuh jari tangan kakaknya, Dimas menggenggam tangan Michael dengan tangannya yang satunya lagi.
"Jangan khawatir, walau kecewa aku juga tidak akan menyalahkan siapapun. Aku menerima ini semua sebagai takdirku, dan aku akan memberikan senyuman terbaik untuk Mama. Tapi kau juga harus berjanji padaku untuk membawaku menemui Mama. Aku juga sangat merindukan pelukan dan senyumannya, kau tahu sudah 23 tahun aku tidak bertemu dengannya. Tapi wajah dan senyumannya masih tersimpan baik di kepalaku" ujar Dimas tampak senang, membayangkan akan bisa bertemu lagi dengan wanita yang telah membuatnya hadir di dunia ini.
Dimas tersenyum mengingat kenangannya akan Ibunya. Ia menancapkan USB itu pada telivisi besar yang ada dihadapannya.
Pertama kali yang ia lihat adalah rekaman-rekaman dirinya yang diambil diam-diam oleh Ibunya dari ia kecil hingga dewasa. Ternyata diam-diam Ibunya selalu mengamati dirinya.
"Kenapa isinya gambarku semua dimana rekaman video yang berisi gambar Mama" protes Dimas pada Michael.
Dimas diam mematung menatap gambar layar yang ada di hadapannya. Itu adalah gambar Ibunya yang tergeletak tak berdaya diatas ranjang Pasien. Ia melihat Ibunya ditemani oleh Michael dan seorang pria yang seumuran Ayahnya. Terlihat jelas pancaran kesedihan dari wajah kedua pria itu.
Ia melihat jelas ibunya yang memaksa untuk membuka selang oksigen yang ada di mulutnya. Tubuh wanita itu banyak terdapat goresan luka dan beberapa lilitan perban yang menutupi luka yang ada di tubuhnya.
"Dimas..." satu kalimat yang keluar dari bibirnya dan membuat nafasnya kembali tersengal. Terlihat Michael yang kembali memakaikan selang oksigen pada Ibunya, awalnya ditolak oleh Ibunya tapi karena bujukan Michael akhirnya Ibunya membiarkan Michael memasang kembali selang oksigen untuknya.
Michael mengambil selembar kertas dan pulpen untuk Ibunya, ia paham jika Ibunya ingin menyampaikan pesan untuk putra kesayangannya. Dan Roy lah yang merekam momen kebersamaan mereka.
Dengan linangan air mata dan tangan yang bergetar wanita itu menorehkan huruf demi huruf. Dimas melihat jelas Ibunya itu terlihat kesulitan tapi ia tidak menyerah, ia terus menggoreskan tinta pada kertas putih itu.
Dimas tidak bisa berkata apa-apa lidahnya seakan kelu, bahkan tubuhnya kaku mematung. Hanya air matanya yang mewakili perasaannya saat ini. Michael yang kembali mengingat kenangan itu juga ikut meneteskan air matanya. Ia menggenggam tangan Kakaknya seolah ingin menguatkannya.
__ADS_1
Dimas terus menatap video di depannya tanpa berkedip sedikitpun, ia merasakan firasat buruk. Ia merasa sesak, ingin sekali memeluk tubuh wanita di video itu yang masih terlihat berjuang keras menuliskan sesuatu. Wanita itu terlihat kesulitan dan berkali-kali menjatuhkan pulpennya tapi pria paruh baya disampingnya terus membantunya.
Ibunya kemudian tersenyum berusaha mengangkat kertas itu tapi terlihat kesulitan. Michael yang mengetahui maksud ibunya membantu wanita itu untuk menunjukkan hasil tulisannya.
...MAMA SAYANG DIMAS....
...MAAF......
Dimas membaca tulisan itu dengan senyuman dan tangisannya. Tulisan yang dengan susah payah di tuliskan oleh Ibunya. Terlihat jika ibunya belum menyelesaikan tulisannya tapi paling tidak Dimas mengerti maksud dari tulisan itu.
Dimas menangis dalam diam melihat Ibunya tersenyum menatap kamera. Menampilkan senyuman terbaik yang selama ini ia rindukan. Ia membalas senyuman wanita itu dengan senyuman terbaiknya walaupun air matanya terus membanjiri pipinya.
Terlihat tangan wanita itu terkulai lemas mengejutkan Michael dan pria paruh baya disebelahnya. Michael memencet tombol meminta bantuan dokter untuk melihat kondisi Ibunya. Dimas mematung melihat semua itu, Ia merasakan sesak dan sakit seolah ribuan belati menusuk jantungnya.
Dimas tidak bisa melihat Ibunya lagi karena tertutupi oleh tubuh dokter dan perawat yang berusaha menyelamatkan nyawa wanita itu. Terlihat dokter melakukan berbagai upaya penyelamatan. Hingga akhirnya satu persatu dari mereka mundur, dan terlihatlah ibunya yang tersenyum dengan kedua matanya yang telah tertutup.
Tampak Michael dan pria paruh baya menghampiri raga yang telah terbujur kaku dan tak bersuara. Tangisan dan panggilan nama wanita itu terdengar jelas ditelinga Dimas.
Dimas tak kuasa lagi menahan suaranya. tangisan pria itu pecah, Dimas berteriak keras memanggil-manggil nama Ibunya dalam tangisannya. Ia meraung keras memanggil ibunya dan meminta maaf pada Ibunya.
"Mama..., maafin Dimas ma maaf. Maafin Dimas Ma, maaf...." Pria itu meraba layar besar yang menampilkan wajah Ibunya. Dengan tubuh dan tangan bergemetar ia membelai wajah Ibunya yang ada di layar itu.
Hal terbesar yang Dimas sesali adalah Jangankan membahagiakan Ibunya, bahkan ia belum pernah sekalipun memeluk dan mencium ibunya semenjak perpisahan mereka selama 23 tahun. Ia menyesal tidak berjuang keras untuk menemukan keberadaan Ibunya. Ia menyesal tidak mendampingi wanita yang melahirkannya di saat-saat terakhirnya.
Michael mendekati Kakaknya dan memeluk tubuh pria itu yang terlihat begitu syok dengan kepergian Ibunya. Tidak ada kata-kata yang keluar dari bibir Michael. Hanya pelukan dan usapan lembut pada punggung Kakaknya yang bergetar menahan tangisannya.
TBC.
__ADS_1