
Key merogoh kantongnya. Mengambil handphone yang telah lama ia abaikan. Sekalipun ia selalu membawa handphone miliknya tapi kenyataannya handphone itu tak pernah ia hidupkan.
"Sial, sejak kapan handphone ini jadi rusak begini. Bagaimana caraku menghubunginya?"
Key ingin kembali masuk ke dalam ruang perawatan. Tapi langkahnya terhenti karena melihat Juragan ikan yang tergesa-gesa menuju ke arahnya.
"Nak, Bagaimana keadaan Kupit?"
"Kondisinya kritis Pak. Saya ingin menghubungi putri pak Kupit tapi Hp saya sepertinya rusak. Bisa bapak menghubungi putrinya Pak Kupit?"
"Oh bisa Nak kebetulan Bapak juga memiliki nomornya."
"Tolong katakan pada Putri Pak Kupit untuk segera kemari. Dan sebaiknya jangan katakan kalau kondisi Ayahnya kritis. Katakan saja kalau Ayahnya merindukannya dan sedang membutuhkan kehadirannya. Takutnya nanti ia panik di jalan, mengetahui kondisi Ayahnya."
"Ia nak, kalau begitu Bapak permisi telpon dulu."
Juragan ikan langsung menghubungi anak gadis Pak Kupit. Sementara Key ia berniat mengurus administrasi perawatan Pak Kupit dan juga beberapa nelayan yang babak belur olehnya.
**********
Tiara duduk di kursi taman dengan menggoyang-goyangkan kakinya dan merebahkan kepalanya di meja taman. Saat ini ia merasa jenuh karena terus berada di rumah beberapa hari ini.
"Ah, kenapa aku tidak mengunjungi Bi Ana saja" Tiara tiba-tiba bangkit dari duduknya. Ia bergegas berlari menuju kamarnya. Ia tidak ingin membuang waktu lagi.
Aku akan mampir menemui Mas Dimas, Sebelum menjenguk Bi Ana, Batin Tiara.
"Baiklah Tiara kau harus dandan yang cantik agar tidak mempermalukan suamimu" gumam Tiara lirih.
"Semangattttt..." Tiara membersihkan wajahnya dan memberikan polesan make up tipis. Ia terlihat cantik dengan make up natural.
"Mau kemana Non?" tanya pelayan yang tidak sengaja berpapasan dengannya.
"Saya mau mengunjungi teman, suaminya sakit Bik."
"Sebaiknya Non Tiara telpon Tuan Muda dulu Non. Takutnya nanti Tua marah kalau Non tidak ijin terlebih dahulu" ujar pelayan itu mengingatkan.
"Tidak perlu Bik. Sebelum menjenguk temanku, Tiara akan mampir ke kantor mas Dimas sekalian bawain makan siang buat mas Dimas."
__ADS_1
"Kalau begitu biar saya telpon Tuan non dan bilang kalau Non mau datang kesana."
"Nggak usah Bi, ini tuh biar jadi kejutan buat Mas Dimas."
"Tapi Non..."
"Udah Bibi tenang aja Mas Dimas nggak bakalan marah. Nanti Tiara yang jelasin sama Mas Dimas. Sekarang Bibi bisa kan tolong Tiara siapkan makan siang buat mas Dimas. Tiara mau ambil tas Tiara yang tertinggal di kamar.
"Oke Non, Bibi siapkan sekarang juga."
Bibi Kemudian berlalu pergi menuju ke dapur, sementara Tiara kembali ke kamar untuk mengambil tas miliknya.
**********
Di rumah Nyonya Anggi, Papa Teo mengikuti Nyonya Anggi menuju ruang kerja. Ia menahan rasa penasarannya, menatap heran ruangan yang di penuhi dengan foto anak sahabatnya.
Mengapa banyak foto anak gadis Aziz di ruangan ini, ada apa sebenarnya. Apa Anggi mengenal baik keluarga Aziz, batin Papa Teo.
"Oh ya Foto anak gadis di ruang tengah itu kalau boleh tau, Siapa dia?" tanya Papa Teo setelah duduk di sofa ruang kerja Anggi.
"Putriku, ada apa?" tanya Anggi heran.
"Tentu saja Putri kandungku. Apa kau pikir aku kurang kerjaan dengan memajang foto orang lain" jawab Anggi kesal.
"Dimana dia sekarang? Apa boleh aku bertemu dengannya?" Teo penasaran sekaligus heran dengan jawaban Anggi. Ia jadi ingin melihat secara langsung seperti apa putri Anggi itu. Ia benar-benar penasaran saat ini.
"Dia sekolah di luar negri. Sebenarnya tujuanmu kemari ini apa? Mau melamar putriku atau menuntutku karena masalah Tiara. Semakin lama kau ini semakin menyebalkan saja."
"Sebenarnya satu Minggu yang lalu aku bertemu dengan gadis yang sama persis dengan putrimu. Tidak mungkinkan jika dia keluarga yang berbeda memiliki putri dengan wajah yang sama?" Tanya Teo penuh selidik.
Astaga Aku lupa jika putriku saat ini berada di rumah orang lain dan sedang menyamar batin Nyonya Anggi.
"A-apa maksudmu? Kau jangan memfitnahku"
Wajah Nyonya Anggi yang tadinya galak tiba-tiba terlihat pucat dan tiba-tiba khawatir. Itu semua tidak lepas dari pengamatan Teo, dan itu membuatnya yakin jika ada yang di sembunyikan Anggi darinya.
"Aku tidak memfitnahmu, aku hanya memberitahumu. Kenapa kau jadi panik begitu? Apa ada yang kau sembunyikan dariku."
__ADS_1
"Tidak ada, kau jangan mengada-ada Ya."
"Sebaiknya kau jujur saja, ada apa sebenarnya. Sebelum aku mencari tau sendiri kebenarannya. Dan aku pastikan jika kau berbohong padaku. Aku tidak segan-segan memasukkanmu ke jeruji besi."
"Kau-kau beraninya mengancamku?" Nyonya Anggi terlihat gugup. Ia benar-benar tidak bisa menyembunyikan kegugupannya jika itu menyangkut keselamatan putrinya."
"Anggi aku adalah sahabatmu. Aku tidak mungkin menyakitimu. Tapi jika kau tidak mau berubah dan terus menyakiti orang lain maka aku tidak punya pilihan lain selain memasukkan ke jeruji besi agar kau mau bertobat."
"Kenapa kamu baru perduli padaku sekarang. Mengapa kamu tidak mengatakan itu dari dulu. Dimana kamu saat Bagas memperkosaku? Dimana kamu saat keluargaku mengusirku? Dimana kamu disaat semua orang menghina dan mencaciku, saat tau aku hamil tanpa seorang suami? Dimana kau!!! Mengapa baru perduli padaku sekarang. Dan Kenapa aku tidak boleh menyakiti orang lain, sedangkan aku berkali-kali disakiti."
Anggi berteriak pada Teo, meluapkan amarah dan rasa sakit yang ia pendam saat ini. Air matanya mengalir deras di pipi.
"Maafkan aku Anggi, karena meninggalkanmu disaat terberatmu. Aku benar-benar tidak mengetahui situasimu saat itu. Aku berpikir keputusanku saat itu adalah yang terbaik untuk kita. Maaf, maafkan aku" Teo mencoba mendekat tapi Anggi mendorong tubuh Teo menjauh.
"Anggi kumohon sudahi semua ini, kau tidak akan mungkin bisa bahagia jika kau terus menyakiti orang lain. Dan putrimu itu katakan padaku, ada hubungan apa sebenarnya dengan sahabatku Aziz. Jika kau jujur dan mau berterus terang padaku. Aku janji akan membantumu meluruskan semuanya."
"Kau bohong, kau sama saja dengan mereka. Kau pasti sedang mencari kesempatan bukan, agar bisa menjatuhkan ku."
"Demi Tuhan Anggi, jika kau mau berterus terang dan berubah. Aku tidak akan membiarkan satu orang pun menyakitimu maupun putrimu. Pikirkanlah Anggi bagaimana masa depan putrimu nanti jika kau melibatkannya dalam kejahatan."
Papa Teo menebak jika anak gadis yang dirumah Aziz itu adalah putri Anggi. Mengingat foto dan perkataan Anggi barusan. Apalagi Teo juga dulu mengetahui perihal hilangnya anaknya Aziz dan menyebabkan Nyonya Aziz depresi berat.
Tok tok tok...
"Nyonya...., Nyonya" terdengar suara anak buah Anggi mengetuk pintu dengan tergesa-gesa.
"Masuk" ujar Anggi, ia lalu menghapus air matanya.
"Gawat, Nyonya. Tuan Ba..." anak buah Anggi menghentikan ucapannya begitu tersadar di ruangan itu ada orang lain selain bosnya.
"Ada apa?"
Anak buah Anggi melirik ragu-ragu ke arah Teo. Ia sepertinya tidak ingin Teo mengetahui berita yang akan ia sampaikan pada bosnya.
"Katakan saja, ia sahabatku dan bisa di percaya."
"Tu-tuan Bagas menyewa seorang pembunuh bayaran. Untuk menculik seseorang."
__ADS_1
"Apa?"
TBC.