
Tiara dan Lia saat ini masih berada di kamar hotel. Tadinya ia ingin keluar bersama Lia untuk berjalan-jalan. Tapi begitu Dimas menghubunginya dan memberitahu Tiara bahwa orang tuanya akan datang untuk melihat Kakak iparnya maka mereka pun tidak jadi untuk keluar.
Terdengar suara ketukan dari luar, Tiara segera membukakan pintu. Ia menatap wajah tegang kedua orang tuanya.
Setelah masuk ke dalam Tiara mempersilahkan orang tuanya untuk duduk di sofa. Lia yang tidak mengetahui siapa yang datang pun hanya tersenyum ramah dan berusaha untuk menyapa.
"Silahkan duduk Om, Tante" Lia ikut mempersilahkan, sementara Tiara tersenyum.
"Terimakasih" ucap mereka.
"Tiara dimana Kakak iparmu?" tanya mama dan papa bersamaan. mereka terlihat tidak sabar untuk melihat seperti apa menantu mereka.
Tiara berdiri di sebelah Lia, ia lalu memegang kedua pundak Lia.
"Ini Lia, istri dari kakak, Ma, Pa" jawab Tiara.
"Apa?" ucap mereka terkejut bersamaan.
"Berapa umurmu Nak" tanya Mama setelah keterkejutannya reda.
"17 tahun kurang 5 bulan Tante."
"Jangan panggil Tante, panggil Mama saja. Astaga Farih benar-benar Pa, bisa-bisanya ia menikahi seorang bocah. Kamu masih sekolah?" tanya mama lagi
"Kelas 3 SMK Tante" jawab Lia sedikit canggung, ia tidak menyangka jika kedua orang yang ada di hadapannya adalah mertuanya.
"Kamu masih begitu muda, kalau Tante boleh tahu mengapa kamu mau menikah dengan bujang tua itu?" Papa menggelengkan kepalanya mendengar istrinya mengatakan anak mereka bujang tua.
"Sebenarnya..." Lia pun menceritakan dari awal pertemuan mereka hingga mereka menikah. Mama merupakan pribadi yang sensitif, ia memeluk menantunya itu.
"Jangan pernah berpikir kalau kau sendirian di dunia ini, Kami semua adalah keluargamu sekarang" ucap Mama.
"Terimakasih Ma, karena mau menerima Lia."
"Lalu bagaimana ini Ma?" tanya Papa.
"Bagaimana apanya?" tanya mama bingung.
"Putra kita ma, apa Papa sudah bisa melepaskannya?"
"Mama dan Papa menahan Kak Farih?" tanya Tiara terkejut.
"Habisnya Kakakmu itu benar-benar menyebalkan. Bisa-bisanya menikah tanpa memberitahu kita. Lihat mama akan beri pelajaran padanya."
"Kalian semua harus bekerjasama dengan mama untuk memberi pelajaran kakakmu itu."
"Tapi Ma..." ucap Lia dan Tiara bersamaan.
"Tidak ada tapi-tapian, ayo ikut mama."
************
Tiara dan Papa saat ini sudah kembali ke rumah, tanpa Lia dan juga Mama.
"Yang lama banget sih" ucap Dimas menghampiri Tiara begitu melihat kedatangan istrinya.
"Papa nemuin Kakakmu dulu di belakang. Kalau kalian ingin bemesraan pergi ke kamar kalian sana" ujar Papa ketika melihat Dimas bergelayut manja pada istrinya, dalam hati ia menertawakan tingkah kekanak-kanakan menantunya itu.
"Terimakasih Pa, ayo Yang" menarik Tiara masuk menuju ke kamar mereka. Sementara Papa terbengong menatap mereka, ia tidak menyangka jika menantunya tanpa sungkan melaksanakan perintahnya.
"Mas apa-apaan sih. Malu sama Papa."
__ADS_1
"Biarin aja, dari tadi keluargamu tega memisahkan kita. Sekarang kamu milik Mas, jadi hanya mas yang boleh menguasaimu. Kita olahraga dulu ya Yang" menggendong Tiara ke tempat tidur.
"Mas, mau ngapain Tiara belum mandi lho"
"Mau bikin anak, tadi Papa udah request Yang. Kan kasihan kalau nggak diturutin entar aku kena SP lagi, kan gawat kalau sampai di pecat jadi mantunya Yang."
"Alasan" ucap Tiara.
"Dah on nih Yang, boleh Ya" Tiara menganggukkan kepalanya di sambut dengan senyum mesum Dimas, akhirnya Tiara melakukan semua yang diinginkan suaminya. Mencoba berbagai gaya dan saling memuaskan satu sama lainnya.
Sementara itu saat ini Papa sudah membuka pintu kamar Farih.
"Mau kemana kamu?" tanya Papa begitu melihat anaknya terburu-buru ingin pergi.
"Mau nemui istriku Pa" jawab Farih.
"Percuma, istrimu di sembunyikan Mamamu."
"Kok gitu sih Pa, terus gimana nasib aku pa?"
"Gimana apanya. Kondisimu juga baik-baik saja tanpa kekurangan satu apapun, lalu apa yang kau khawatirkan."
"Tapi istriku Pa, Bagaimana dengannya?"
"Istrimu baik-baik saja, Mama tidak mungkin memakannya."
"Lalu dimana istriku sekarang Pa?"
"Entahlah, Mamamu hanya berpesan, jika kau mau bertemu lagi dengan istrimu maka kamu harus menuruti permintaannya."
Farih pergi ke ruang tengah untuk mengambil handphone miliknya melewati kamar Tiara. Ia mendengar suara ******* yang mengganggu pendengarannya.
"Dasar pasangan nggak ada akhlak, sini lagi bingung mikirin istri, eh mereka malah ***-*** di dalam" gumam Farih kesal.
"Aaaahhh Mama ini apa-apaan sih, nerima panggilan telpon aja susah amat" kesal Farih lalu melempar handphone miliknya ke atas sofa.
"Papa!!!" teriak Farih sambil menuju ke kamar Papanya.
"Pa, dimana mama menyembunyikan istriku? tanya Farih.
"Tidak perlu kau pusingkan keberadaan istrimu, dia baik-baik saja. Mereka pasti lagi bersenang-senang saat ini."
"Tapi kenapa Farih menelpon mama, malah di abaikan oleh Mama, bahkan pesan pun tak di balas."
"Kau ini berisik sekali, tunggu dua jam lagi. Mamamu akan pulang saat itu dan pastikan mentalmu kuat menerima permintaan mamamu itu. Kau tau bukan kalau mamamu sudah memiliki keinginan, bahkan Papa juga tak bisa melarangnya."
"Terserah permintaan Mama apa, yang penting jangan memintaku pisah dengan istriku."
"Baguslah kalau kau bisa menuruti permintaan Mamamu. Tadinya Papa pikir kau akan memberontak. Jangan kau rubah lagi perkataanmu nanti ya. Papa mau keluar ada meeting penting. Kau sebaiknya jangan kemana-mana, tunggu saja mamamu dirumah."
Papa Aziz pergi meninggalkan rumah dan memasuki mobilnya. Sebelumnya ia menoleh ke belakang untuk memastikan putranya tidak mengikutinya.
Di dalam kamar Dimas dan Tiara sudah selesai mandi. Dimas membantu Tiara mengeringkan rambutnya.
"Yang, kalau kemana-mana itu harus izin sama suami lho. Nggak boleh main pergi-pergi aja, dosa lho Yang."
"Memangnya kapan, Tiara nggak pamit Mas."
"Tadi pas pergi sama Kakakmu."
"Bukannya Mas Farih sudah bilang sama mas ya,"
__ADS_1
"Beda Yang, harusnya yang ijin itu kamu."
"Mas ini banyak banget alasannya, Bilang aja mas keberatan kalau Tiara tinggalin."
"Nah itu tau Yang. Keluargamu nyebelin Yang main culik istri orang nggak bilang-bilang. Mas mau ikutan juga nggak di bolehin. Besok mas kalau ke rumahmu mau beli borgol."
"Buat apa Mas?"
"Buat kita, biar nggak ada yang bisa misahin kita."
"Ngomong sama Mas makin lama makin ngaco, udah ah Tiara mau cari mas Farih dulu."
"Tunggu Yang, gantian dong keringkan rambut Mas dulu" Protes Dimas sambil mengacungkan hairdryer yang Tadinya ia gunakan untuk mengeringkan rambut Tiara. Tapi Tiara mengabaikannya.
"Ternyata keluarga ini memang memiliki hobi meninggalkan orang." gumam Dimas menggelengkan kepalanya.
Diruang keluarga Tiara menghampiri Kakaknya. Farih yang saat ini sedang duduk di lantai beralaskan karpet tebal, sambil menelungkup kan wajahnya di atas meja.
"Kak, mama sudah pulang belum? Kak..." Tiara menggoyang-goyangkan tubuh Farih karena Farih tak merespon keberadaannya.
"Hemmm."
"Kok, hemm sih."
Tak lama terdengar suara langkah Kaki memasuki ruangan itu, Farih yang tadinya malas-malasan seketika bangun menghampiri orang itu.
"Istri Farih mana ma?"
"Ada, lagi di ajak liburan sama sahabat Mama."
"Kok bisa sih mama, istri Farih dibawa kemana ma?"
"Duduk dulu, mama mau bicara sama kamu."
"Tapi Ma, istri Farih..."
"Duduk!!!"
"Mama bakalan kembalikan istrimu dengan satu syarat."
"Iya Farih kabulin yang penting nggak boleh misahin aku sama istriku. Apalagi nyuruh cerai."
"Oke, bagus kalau gitu jadi Mama nggak perlu repot-repot lagi buat ngeyakinin kamu."
Mama mengambil handphone dari tasnya lalu menghubungi seseorang.
"Halo Jeng, pernikahannya Minggu depan. Farih sudah setuju, tolong siapkan semua perlengkapannya ya Jeng, saya mau pernikahannya yang mewah."
"hemmm"
"Iya jeng, terimakasih." Mama mengakhiri panggilannya.
"Mama ada apa ini, memangnya siapa yang mau nikah? kenapa mama bawa-bawa nama Farih?" tanya Farih heran. Dia sudah mulai was-was dengan apa yang akan terjadi.
"Bukannya kamu tadi bilang setuju apapun persyaratannya. Ini adalah persyaratan dari mama. Mama mau kamu menikah dengan gadis pilihan Mama."
"Tapi Ma, Farih sudah menikah."
"Mama nggak akan nyuruh kamu cerai sesuai permintaan kamu, mama cuma minta kamu nikah lagi. Lagipula pernikahan kamu sama istrimu kalian lakukan secara siri kan karena istrimu belum cukup umur. Mama sudah bicara sama istrimu, dia nggak keberatan kamu nikah lagi. Jadi nggak ada alasan buat nolak, ngerti!" Mama meninggalkan Farih yang kebingungan begitu saja.
'Ma, kok gitu sih, Ma..." teriakan Farih di abaikan oleh Ibunya.
__ADS_1
TBC.