
Brakk...., terdengar suara tendangan pada sebuah pintu apartemen. Dua orang wanita dengan wajah pucat pasi terduduk jatuh di lantai.
"Tu-tuan" ucap dua wanita itu bersamaan dengan suara bergetar, bulir keringat menetes di wajah mereka.
"Dimana kalian sembunyikan Angga" teriak Dimas sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling apartemen itu.
Erick bergerak cepat memeriksa setiap ruang apartemen dibantu anak buah Dimas, sementara Dimas masih berdiri di hadapan kedua babysitter yang masih tidak mau bersuara.
"Aaaaaahh...., a-ampun Tuan" Dimas yg tak sabar dengan kedua wanita itu menarik rambut mereka dan menyeretnya.
"Dimana kau sembunyikan keponakanku" Dimas berteriak dengan wajah marah, tak memperdulikan kedua wanita itu yg memohon ampun sembari menangis.
Terlihat Erick mendekat pada Dimas setelah memeriksa semua ruangan sembari menggelengkan kepalanya kearah Dimas.
"Jika kalian tak bicara juga, aku tak akan segan menembak mati kalian" Dimas yg kehilangan kesabaran melepaskan tangannya dari kedua rambut wanita itu dan mengambil pistol miliknya yang ia sembunyikan dibalik bajunya.
"Katakan" Dimas berteriak dengan wajah marah sembari menodongkan senjatanya kepada kedua wanita itu.
"Sebaiknya kalian bicara, jika tidak ingin kepala kalian berdua tertembak timah panas" ucap Erick sembari memelototi kedua wanita yg semakin terlihat pucat pasi, menatap Dimas yang menodongkan senjatanya ke arah mereka.
"A-ampuni kamu tuan...., Ka-kami hanya orang suruhan" ucap salah satu dari wanita itu dengan suara terbata-bata.
"No-na Manda yang memerintahkan kami, ma-maaf tuan ka-kami tidak punya pilihan. Ka-kami membutuhkan uang untuk biaya operasi Adik kami."
"Dimana Angga dan Manda sekarang?" tanya Erick lagi.
"Ka-kami tidak tahu dimana mereka Tuan, No-na Manda langsung pergi membawa Angga begitu kami menyerahkannya ," jawab wanita itu.
"Apa kalian bilang? katakan sekali lagi" Anton yang baru datang tiba-tiba mendekati mereka dengan wajah merah padam.
__ADS_1
"Ampuni kami Tuan, ampuni kami.... kami hanya orang suruhan Nona Manda" kedua wanita itu berteriak ketekutan sembari bersujud memohon maaf.
"Dimana Manda menyembunyikan anakku" teriak Anton menahan marah, ingin sekali meremukkan kedua wanita yang ada dihadapannya saat ini.
"Kami tidak berbohong Tuan, kami sungguh tidak tahu" ucap wanita itu masih pada posisi bersujud, mereka tak kuasa menghadapi wajah-wajah pria yang menatapnya dengan marah.
"Bawa kedua wanita ini ke kantor polisi," perintah Dimas pada Erick.
"Sebaiknya kita segera mengecek arah bandara, terminal, pelabuhan dan perbatasan lainnya" perintah Dimas sembari menarik Anton yang ingin memukuli kedua wanita itu, Ia terlihat tak bisa lagi menahan amarahnya.
"Tahan emosimu!! tidak ada gunanya menghajar mereka, sebaiknya kita segera mencari Angga sebelum Manda membawanya lebih jauh lagi" Dimas menarik keluar Anton, Memerintah anak buahnya untuk berpencar mencari keberadaan Manda.
Bandara, terminal, pelabuhan dan daerah perbatasan lainnya telah ditelisuri Dimas, Anton dan anak buah mereka, tapi keberadaan Manda masih juga belum diketahui.
Sementara Erick setelah menyerahkan kedua wanita itu ia mengecek CCTV jalan bersama orang kepolisian, tapi tetap saja belum membuahkan hasil. Mereka kesuliatan karena tidak mengetahui kendaraan yang digunakan Manda, apalagi tempat terakhir kali Manda bertemu dengan kedua babysitter itu tidak ada CCTV sama sekali di daerah tersebut.
Setelah tak menemukan hasil akhirnya Dimas dan Anton mencari informasi Manda melalui orang terdekat Manda yang mereka ketahui.
"Bagaimana ini?" Anton tak berani mengangkat telpon dari Dewi. Istrinya itu pasti akan menanyakan perihal anaknya, ia tidak tahu bagaimana harus menjawabnya.
"Kenapa kau matikan?" ucap Dimas ketika melihat Anton tiba-tiba mematikan handphone miliknya. Anton memejamkan matanya dan menarik nafasnya, ia terlihat lelah dan frustasi menghadapi permasalahan ini. Ia bingung dengan motif Manda sebenarnya, kenapa wanita itu kembali menginginkan Angga, bukankah ia sendiri yang awalnya membuang putra mereka.
"Pulanglah, kau kelihatan lelah. Biar aku lanjutkan pencarian ini dengan anak buahku. Mike juga saat ini sedang menuju kemari" ucap Dimas iba melihat wajah Anton yang terlihat layu.
"Tidak! Angga adalah putraku, bagaimana mungkin aku bisa istirahat dengan tenang dirumah sementara putraku.... Aku tidak tahu bagaimana kondisinya saat ini."
"Dewi saat ini juga membutuhkanmu, dia pasti khawatir. Kamu pasti tau kan riwayat kesehatan mental istrimu itu. Sebaiknya kau pulang temani istrimu, Angga pasti baik-baik saja. Walau bagaimanapun Manda adalah Ibunya, ia tidak akan mungkin menyakiti putranya sendiri."
Dimas terus meyakinkan Anton untuk pulang, apalagi saat ini handphone Dimas berdering berkali-kali panggilan dari Dewi. Sama dengan Anton, Dimas tak berani menjawab panggilan itu, ia tidak tahu bagaimana harus menghadapi Dewi. Ia takut jika wanita itu akan kembali terguncang jika mengetahui informasi tentang Angga.
__ADS_1
Setelah berbagi bujukan dari Dimas akhirnya Anton memilih untuk kembali. Ia harus menceritakan ini semua pelan-pelan kepada istrinya, ia tidak mungkin bisa terus-terusan menyembunyikan ini semua. Apalagi saat ini jam hampir menunjukkan pukul sepuluh malam.
***********
Disalah satu kamar rumah besar milik Kakek, terlihat Dewi terbaring di ranjang, ada juga Papa Teo dan Tiara yang sedang menggendong Aqila duduk di tepi ranjang itu. Aqila tampak tertidur nyenyak dalam gendongan Tiara.
"Apa yang terjadi dengannya Om" tanya Anton yang baru saja memasuki kamar itu.
"Dia...."
"Maaf ini karena ia tak sengaja mendengar pembicaraanku dengan Mike" Tiara memotong ucapan Papa Teo, dengan wajah bersalah ia menatap wajah Anton.
"Jadi..., dia sudah tahu apa yang terjadi?" tanya Anton dengan nada pelan, ia takut jika sampai istrinya terbangun. Tiara menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Anton.
"Dewi tadi sempat histeris begitu mengetahui Angga hilang, Om terpaksa menyuntikkan obat penenang," ucap Papa Teo.
"Terimakasih Om" ucap Anton, ia mendekat pada istrinya dan mengecup kening wanita itu. Menyibakkan anak rambut yang menutupi sebagian kening Dewi.
"Kau istirahatlah temani Dewi. Itu ada vitamin diatas meja untukmu, jaga kesehatanmu dan pikiranmu. Untuk masalah Angga, serahkan semua pada Dimas, istrimu juga membutuhkanmu saat ini. Dewi mungkin akan terbangun setelah enam jam lagi, jika ada sesuatu kau bisa mencariku di kamarku" Papa Teo kemudian mengajak Tiara untuk keluar dari kamar itu.
Anton meminum Vitamin sesuai perintah Papa Teo, ia kemudian merebahkan tubuhnya tepat disebelah istrinya. Ia memeluk tubuh mungil istrinya itu. Dewi sudah tak mengenakan pakaian pengantin lagi, Tiara telah mengganti baju Dewi disaat Dewi masih tak sadarkan diri.
"Maafkan aku sayang" Anton mengecup kembali kening istrinya. Ia merasa gagal sebagai seorang suami dan ayah untuk anaknya.
Rasa letih badan dan pikiran membuat Anton tertidur nyenyak, ini mungkin juga efek dari Vitamin yang diberikan oleh Papa Teo.
Terbangun dari tidurnya, Anton terkejut melihat sebelah tempat tidurnya kosong.
Dimana istriku, batin Anton sembari menatap sekeliling kamar. Ia segera turun dari tempat tidur menuju kamar mandi. Tak mendapati keberadaan istrinya, ia berlari keluar kamar sembari meneriakkan nama istrinya.
__ADS_1
"Dewi...."
TBC