UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Pencekalan


__ADS_3

Dua hari dilalui Dimas dengan sabar, ia kembali menemui orang yang berjanji membuatkan paspor khusus untuknya.


"Bagaimana Pak? Apa saya sudah bisa mengambil Paspor saya?" tanya Dimas bersemangat, akhirnya ia bisa menemui Tiara.


"Maaf Tuan, apa anda mempunyai masalah dengan negara Z?" tanya orang itu.


"Tidak, saya bahkan belum pernah kesana sekalipun. Ada apa?" tanya Dimas heran.


"Saya tidak bisa mengurus paspor anda Tuan karena nama anda masuk daftar Pencekalan (Pencegahan dan penangkalan ) untuk memasuki Negara tersebut." jelas petugas itu lagi.


"Bagaimana bisa, saya tidak pernah melakukan tindakan kriminal atau hal yang merugikan negara Z, apa anda tidak salah Pak" ujar Dimas bingung.


"Saya tidak berbohong Tuan anda lihat ini, nama anda masuk kedalam Black list, salah satu orang yang tidak boleh memasuki Negara Z."


"Apa ada cara lain, untuk memasuki negara Z Tuan, saya ada keperluan mendesak yang mengharuskan saya untuk masuk negara itu."


"Ada Tuan, tapi...." petugas itu terlihat ragu.


"Tolong saya Pak, akan ada imbalan yang besar jika anda membantu saya."


"Ada Tuan, tapi sangat beresiko" ucap petugas itu setengah berbisik.


"Bisa kita cari tempat untuk membicarakan ini Tuan, ini bukan tempat yang tepat untuk berbicara" ucap petugas itu berbisik. Dimas mengikuti petugas itu hingga keluar gedung. Dirasa tempat yang mereka datangi sudah aman akhirnya petugas itu berbicara.


"Sepertinya, Hanya cara ilegal satu-satunya pilihan untuk anda memasuki wilayah itu, Tuan. Anda bisa menaiki kapal barang dan berbaur dengan pedagang dan memalsukan identitas anda. Pemeriksaan penumpang di jalur laut tidak seketat bandara. Tapi ada resiko yang harus anda tanggung jika anda sudah berhasil memasuki negara Z"


"apa itu?" tanya Dimas


"Jika anda sampai tertangkap, anda bisa di pidana setidaknya 6 bulan penjara dan kemudian di deportasi ke negara asal."

__ADS_1


"Tidak masalah, aku akan berhati-hati agar tidak tertangkap. Bisa kau atur perjalananku?"


"Bisa Tuan, saya juga akan membuatkan anda identitas palsu, hanya saja kapal yang membawa anda akan berangkat besok pagi. Kira-kira anda ingin tiket untuk berapa orang Tuan" tanya petugas itu.


"Tiga orang saja, dan satu identitas palsu. Semakin cepat berangkat semakin baik" ucap Dimas.


"Baik Tuan, tapi bayarannya lumayan mahal Tuan. Ya, Tuan tahu sendiri memalsukan identitas resikonya sangat besar."


"Kerjakan segera tugasmu, aku akan bayar dua kali lipat" ucap Dimas.


"Satu lagi Tuan informasi yang saya dapatkan dari sahabat saya yang menjaga wilayah perbatasan di negara Z. Foto anda sudah tersebar diantara petugas penjaga gerbang masuk perbatasan. Jadi sebaiknya anda menyamar saja Tuan jika tidak ingin tertangkap."


"Baiklah, buatkan aku identitas palsu sebagai wanita saja. Dan jangan lupa cantumkan profesiku sebagai pengusaha. Aku ingin lihat siapa sebenarnya yang berani mencegahku masuk. Benarkah Musang yang telah aku bantu berubah menjadi ular yang ingin mematukku" Ucap Dimas. Petugas yang tak begitu mengerti keseluruhan ucapan Dimas tak ambil peduli, Ia.menerima segepok uang dari Dimas dengan riang.


"Jika sudah selesai antar ke hotel With tempatku menginap." ucap Dimas meninggalkan pergi pria itu.


****************


Sementara itu kondisi kocar-kacir nya keuangan Saudara tiri nya sangat dinikmati oleh Alex. Ia menyusun strategi untuk pengambil Alihan saham begitu saudara tirinya itu nanti melepaskan saham. Menguasai salah satu perusahaan terbesar di bawah naungan Kerajaan adalah impiannya. Ia bisa menambah kekuatan dan dukungan untuk menggantikan Ayahnya.


Selama ini orang lingkungan kerajaan selalu memandangnya sebelah mata dan membandingkan kehebatannya dengan saudara tirinya. Saudara tirinya yang memiliki ambisi besar dan juga tak kenal belas kasihan itu berhasil menguasai perusahaan keluarga kerajaan. Membuat posisi Alex sebagai putra mahkota sewaktu-waktu terancam.


"Bagaimana, Apa sudah ada kabar kapan ia melepaskan saham miliknya?"


"Belum pangeran, Saudara anda Osvaldo terlalu berhati-hati, sepertinya ia tahu kita mengincar sahamnya. Jasi ia tidak ingin jika kita sampai mendapatkan saham itu. Ia sedang berusaha mencari dukungan dari luar, ia ingin pembeli sahamnya adalah orang yang mendukungnya."


"Saudaraku itu memang sangat pintar dan licik. Tapi aku tidak ingin melepaskan negaraku pada orang kejam sepertinya. Bayar orang lain yang memiliki latar belakang pengusaha untuk membeli saham itu. Cari orang yang tidak pernah berhubungan dengan perusahaan kita, aku tidak ingin Kakakku itu curiga."


"Baik Tuan" ucap David lalu pergi dari ruangan Alex. Ia bergegas pergi dari sana untuk meneliti daftar pengusaha yang ada di negaranya yang bisa ia percaya.

__ADS_1


Sementara Alex dan David disibukkan dengan urusannya. Tiara lagi-lagi merasa bosan. Ia merasa hidup di sangkar emas, Walaupun semua kebutuhannya di cukupi dan dilayani dengan baik tapi Alex tak pernah sekalipun mengijinkannya keluar belum lagi identitasnya yang sengaja dirubah Alex membuat Tiara cukup bertanya-tanya tapi Alex selalu mengatakan jika semua ini demi keamanan Tiara.


Tak tahan dengan ras bosan yang menghinggapi pikirannya akhirnya ia memutuskan menemui Alex.


"Aku ingin jalan-jalan!!" ucap Tiara dengan suara keras, setelah ia berasil menerobos masuk ruang kerja Alex. Pelayan yang kebetulan berada disana mengantarkan camilan buat Alex cukup terkejut dengan keberanian Tiara yang sama sekali tidak ada tata krama di depan seorang calon penerus kerajaan.


"Kamu keluarlah" perintah Alex pada pelayan yang sedang menunduk saat ini. Alex juga memperhatikan wajah terkejut pelayan itu.


"Baik pangeran" ucapnya langsung keluar dari ruangan itu setelah memberi hormat pada Alex dan juga Tiara.


"Naura!! Tolong jaga sikapmu jika ada orang lain bersama kita. Jangan kau samakan seperti kita berada di Villa. Kau mengerti Naura!!" Bentaak Alex terlihat kesal, ia membiasakan dirinya memanggil Tiara dengan sebutan Naura.


"Kau membentakku!! hiks hiks hiks aku ingin suamiku hiks hiks..., Pulangkan aku kerumah suam..." tangis Tiara semakin keras Alex berlari mendekat dan segera menutup mulut Tiara. Ia tidak ingin suara tangisan Tiara terdengar orang lain, walaupun ruang kerjanya ada alat kedap suara tapi ia tidak ingin jika tiba-tiba ada tamu tak di undang masuk ke dalam ruangannya tiba-tiba.


"Iya-iya maafkan aku, aku salah membentakmu. Sekarang diamlah. Aku akan melepaskan tanganku dari bibirmu. Tapi janji jangan teriak" ujar Alex diangguki Tiara.


"Katakan apa maumu!" ucap Alex setelah melepaskan Tiara.


"Kamu jahat membentakku!" ucap Tiara tak terima. Ya, ini hamil ini semakin sensitif saja setiap hari.


"Aku bosan ingin jalan-jalan. Aku juga merindukannya, kapan kau pertemukan aku dengannya?" tanya Tiara sembari menghapus sisa lelehan air matanya.


"Baiklah, besok sore aku akan mengajakmu jalan-jalan. Hari ini tugasku masih banyak. Tapi tolong jaga sopan santunmu di depan orang lain. Saat ini posisimu adalah seorang putri, jadi bertingkah laku lah layaknya Putri. Jangan mempermalukan ku."


"Iya-iya aku akan menurutimu, tapi kapan kau akan mempertemukan ku dengannnya."


"Segera, kau jangan khawatir" ucap Alex menenangkan Tiara. Sekalipun sesungguhnya ia tidak tahu kapan ia akan mengembalikan Tiara ke sisi suaminya.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2