UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Jangan Ambil Dia Dariku


__ADS_3

Dimas meraih handphone yang ia taruh pada tas kecil yang ia selempangkan pada lehernya. Sesuai perintah Papa Teo, Dimas ingin menghubungi Tiara.


"Hallo sayang, kau sudah tidur?" tanya Dimas begitu terpampang gambar Tiara sedang rebahan di layar handphone miliknya.


"Baru saja ingin rebahan tadi. Aqilla rewel terus sepertinya ia bisa merasakan terjadi sesuatu dengan Nara. Bagaimana keadaan Nara dan Dewi?" tanya Tiara.


"Nara baik dan bukannya Dewi bersamamu saat ini, kenapa kau tanya padaku?" tanya Dimas bingung.


"Tidak, Dewi tidak bersamaku, ia tidak ada kemari satu harian ini. Apa maksudmu sayang, siapa yang mengatakan Dewi ada disini?" tanya Tiara lagi.


"Tidak ada, sepertinya aku salah bicara. Ya sudah kau tidurlah lagi. Aku akan segera pulang satu jam lagi" ucap Dimas ia tidak ingin Tiara khawatir.


Dimas menutup telponnya dan segera menuju ke tempat Mike. Ia ingin bertanya tentang keberadaan Dewi.


"Mike!! Dewi tidak ada dirumah Kakek. Apa kau tahu dimana dia sekarang?" tanya Dimas terlihat khawatir.


"Gadis manja itu paling pulang ke rumah, kau tak perlu khawatir" ucap Mike terlihat acuh. Saat ini yang ada di kepalanya hanya Nara dan Nara, ia tak perduli lagi dengan yang lainnya. Ia bahkan mengabaikan perasaan miliknya.


"Kau ini, jangan sampai kau menyesal karena menuduhnya sembarangan nanti. Mana nomor telpon Dewi, aku ingin menghubunginya!" ucap Dimas, sembari mengacungkan tangannya meminta handphone Mike.


Mike mencari nomor telpon Dewi di kontak handphone miliknya lalu memberikannya pada Dimas.


"Kenapa tidak diangkat?" gumam Dimas, berkali-kali menelpon namun tidak ada jawaban. Sepertinya mereka belum tahu jika tas Dewi maupun Nara masih tertinggal di dalam kelas, dan handphone Dewi masih ada di dalam tasnya.


"Apa kamu yakin, dia pulang kerumahmu?" tanya Dimas masih khawatir.


"Anak manja itu memangnya bisa kemana lagi, tenang saja ia tidak akan mungkin kabur. Selama ini ia terbiasa hidup mewah, jadi ia tidak mungkin kabur dan mempertaruhkan hidup di jalanan" Mike masih saja yakin dengan pendapatnya. Rupanya peristiwa jatuhnya Nara yang ia pikir kesalahan Dewi membuatnya mengabaikan gadis itu.


"Terserah padamu!! Jika terjadi sesuatu padanya itu tanggung jawabmu sepenuhnya" ucap Dimas. Akhirnya ia memilih untuk mengunjungi Nara sebelum ia pulang ke rumahnya.


******************

__ADS_1


Misi pencarian Dewi di mulai, Anton melihat CCTV di depan kamarnya karena ia tidak menaruh CCTV di dalam kamarnya karena tak ingin kegiatannya dikamar di pantau.


Tiba-tiba seorang pelayan yang bertugas mengelilingi rumah datang dengan tergopoh-gopoh


"Tu-tuan den Angga menghilang" ucap pelayan dengan sedikit takut, disebelahnya terdapat pengasuh yang menjaga Angga tertunduk dan menangis.


"Apa saja yang kau lakukan sampai anakku menghilang!!!" Anton melempar buku yang ada diatas meja kearah pengasuh Angga.


"Hiks hiks hiks..., Maaf Tuan sa-saya tertidur" ucapnya sembari menangis.


"Paman Jack, pecat dia dan beri pesangon. Besok pagi ia harus pergi dari sini. Aku tidak butuh pengasuh yang tidak bisa menjaga putraku" ucap Anton dengan marahnya.


"Tuan, lihat ini!" ucap sang penjaga keamanan memeriksa CCTV, di layar televisi terlihat Nara yang menyelimuti Angga. Ia mengecup Angga dan membawanya keluar. Anton terus fokus menatap kemana perginya Dewi. Ia pergi ke belakang rumah ke sebuah taman sebelah kolam renang, ia duduk di sebuah kursi panjang. Padahal disitu terlihat gelap karena Anton tidak menempatkan lampu disana. Hanya ada satu lampu disudut taman yang letaknya agak jauh dari sana.


"Ayo ikut aku kesana" perintah Anton pada beberapa pelayannya.


Anton meminta para pelayan meneranginya dengan lampu senter, ada juga yang menggunakan senter handphone untuk menambah pencahayaan.


"Besok tolong kalian beri lampu di beberapa titik di taman dan juga kolam renang" perintah Anton kepada pelayan.


Mereka kini sudah tak jauh dari keberadaan Dewi, posisi Dewi membelakangi mereka hingga ia tak menyadari kedatangan Anton dan pelayan.


"Twinkle twinkle little star...." Dimas mendengar Dewi menyanyikan sebuah lagu untuk putranya yang terlihat tertidur. Ia membungkus Angga dengan selimut tebal dan ia bawa dalam gendongannya.


"Dewi...." panggil Anton.


"Ka-kalian semua disini? Ka-kalian mau apa?" tanya Dewi khawatir" ia bangun dari duduknya dan menjauh dari Anton dan pelayan.


"Dewi ada apa denganmu? ini sudah malam, ayo kita masuk kedalam. Disini banyak nyamuk kasihan Angga" ucap Anton bingung. Ia melihat Dewi mendekap putranya yang tertidur dengan erat dan berusaha menjauh darinya, ia terlihat ketakutan.


"Tidak, kau ingin mengambilnya dariku bukan. To-tolong jangan pisahkan aku darinya. Hanya dia yang menyayangiku" ucapnya menangis, Dewi terus memundurkan langkahnya menjauh.

__ADS_1


"Dewi berhenti!!!" Anton berteriak dan sedikit mengejutkan Dewi. Bukannya apa-apa dua langkah lagi Dewi mungkin akan tercebur ke dalam kolam ikan hias. Kolam itu mungkin tidak dalam, tapi kalau sampai Dewi dan Angga basah kuyup dimalam hari tentunya tidak baik untuk kesehatan mereka.


"Ka-kau membentakku, hiks hiks hiks...,kau bahkan tidak menyukaiku" ucap Dewi kembali menangis.


Sepertinya ada yang tidak beres dengan Dewi, batin Anton. Melihat sikap Dewi yang berbeda, bukankah Dewi biasa galak padanya.


"Tidak, aku tidak membentakmu, aku hanya tidak ingin kau terjatuh. Lihat dibelakangmu" ucap Anton.


Dewi menoleh kebelakang, kesempatan ini di pakai Anton untuk mendekati Dewi. Ia memeluk Dewi yang menggendong Angga dengan erat.


"Ambil Angga dari tangannya, dan bawa masuk kedalam" perintah Anton pada pelayan membuat Dewi histeris. Anton hanya tidak ingin terjadi sesuatu terhadap Angga maupun Dewi.


"Jangan ambil dia dariku!!! jagan....., kembalikan dia...., aku mohon kembalikan" teriak Dewi memukul-mukul dada Anton dengan kerasnya. Dewi bahkan menggigit punggung Anton. Teriakan Dewi membangunkan Angga dan membuat bocah kecil itu menangis keras.


"Tenanglah, aku akan mengembalikan padamu nanti" ucap Anton masih memeluk Dewi.


"Kembalikan dia ..., kembalikan!!!" teriak Dewi masih saja histeris. Ia mengabaikan ucapan Anton dan masih memukul bahkan menendang tubuh Anton sekuat tenaga. Sementara itu Angga yang di gendong oleh pelayan telah menghilang dari pandangannya.


Anton yang merasa Dewi sulit dikendalikan akhirnya memilih membopongnya seperti karung beras. Dan membawanya ke kamarnya.


Anton melempar Dewi ke kasurnya dan segera berlari menuju pintu dan menguncinya. Ia tahu Dewi ingin berusaha kabur darinya.


"Kamu bregs*k, kamu pembohong, kamu tidak pernah mencintaiku, tidak ada satupun, kembalikan Angga padaku!!!" teriak Dewi, ia berdiri di atas kasur dan melempar bantal, guling, selimut, dan apapun yang ia temukan ke arah Anton.


"Dewi, hentikan!!!"teriak Anton. Untung saja ia bisa menghindar ketika Dewi melemparkan sebuah lampu tidur ke arahnya.


"Dewi, jika kau seperti ini maka selamanya aku tidak akan mengijinkanmu untuk bertemu Angga!!!" Ancam Anton akhirnya.


Dewi akhirnya menjatuhkan tubuhnya terduduk di kasur. Ia menunduk dan menangis.


"Tidak ada yang menyayangiku, tidak ada yang menginginkanku, tidak ada...." ucapnya menangis. Anton mendekat padanya dan membawanya ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Siapa bilang tidak ada yang menyayangimu. Angga menyayangimu dan aku juga sangat-sangat menyayangimu" ucap Anton lembut sembari memeluk Dewi. Dewi semakin menangis keras dan membalas pelukan Anton.


TBC


__ADS_2