
Kondisi kamar yang tadinya berantakan sudah terlihat rapi. Dimas menuju kamar mandi, membersihkan dirinya. Ia tidak ingin Tiara sampai mencium aroma wanita lain ditubuhnya.
Selesai mandi, Dimas tak sengaja melewati kaca. Ia terkejut menatap beberapa bagian tubuhnya yang berwarna merah.
"Wanita sialan" geram Dimas.
Erick segera menuju keluar dari apartemen itu setelah kedatangan Tiara.
"Dimana dia?" tanya Tiara saat berpapasan dengan Erick.
"Ada di kamar Bu, kelihatannya Bos kelelahan dan butuh istirahat, Saya permisi dulu Bu"
Setelah mendapatkan jawaban dari Erick, Tiara langsung menemui Dimas.
"Sayang, kenapa kau tidak langsung pulang kerumah. Apa kau sakit?" Tanya Tiara begitu mendapati Dimas berbaring di atas tempat tidurnya. Tiara kemudian mendudukkan tubuhnya di pinggiran tempat tidur.
"Kau panggil apa aku tadi?" tanya Dimas.
"Panggil apa? Tiara lupa" ucap Tiara dengan rona pipi yang memerah.
"Panggil aku dengan sebutan seperti itu lagi" pinta Dimas.
"Emang tadi manggil apa? Tiara lupa" ucap Tiara ketus.
"Sayang, please" ucap Dimas manja.
"Nggak mau, mas udah bikin Tiara kesal" Tiara memalingkan wajahnya.
"A-apa yang kulakukan sayang" ucap Dimas gugup. Ia takut jika Tiara sampai mengetahui apa yang terjadi sebelumnya.
"Kenapa nggak langsung pulang ke rumah dan handphone nya kenapa nggak bisa di hubungi. Mas nggak lagi macem-macem kan."
Nggak sayang, kebetulan hotel tempat Mas meeting dekat dari sini, jadi Mas mutuskan untuk pulang kesini. Eh, nggak taunya Mas ketiduran. Ini aja mas baru bangun pas Erick datang. Handphone Mas juga mati kehabisan daya, maaf ya sayang.
"Alasan" kesal Tiara.
"Sini sayang tidur sebelah mas" Dimas menarik tubuh Tiara hingga terjatuh ke dalam pelukannya. Ia mendekap tubuh Tiara erat.
"Mas Tiara sesak, lepasin dulu mas. Tiara mau ganti baju dulu."
"Aaw sakit Mas" Dimas gemas melihat baju Tiara dengan model punggung terbuka. Ia menggigit punggung belakang Tiara yang terbuka itu dengan gemas.
"Siapa yang memperbolehkanmu mengenakan pakaian seperti ini" protes Dimas.
"Memangnya kenapa?"
"Kau ingin memamerkan tubuhmu pada siapa, hemm?" Dimas mencubit pipi chubby Tiara. Tiara memukul tangan Dimas hingga Dimas melepaskannya. Tiara mencoba untuk menjauh dari Dimas.
"Mau kemana kau" Dimas kembali membawa Tiara ke dalam pelukannya.
"Mas Tiara, mau ganti baju dulu."
"Ayo, Mas bantu"
__ADS_1
"Nggak Tiara bisa sendiri."
"Diam biar mas bukakan"
Dimas membuka baju Tiara, hingga terlihat dalaman yang dikenakan Tiara.
"Sial" gumam Dimas menahan nafsunya. jika tak mengingat di tubuhnya ada banyak bekas kiss mark, Dimas pasti akan memakan Tiara saat ini juga.
"Pakai sendiri bajumu" Dimas melempar baju ganti ke arah Tiara. Dengan kesal ia kembali ke tempat tidurnya.
"Yee, dari tadi juga Tiara mau ganti baju sendiri" ucap Tiara heran, melihat kekesalan Dimas.
Dimas tidak menanggapi Tiara. Ia memejamkan matanya dan menyelimuti tubuhnya.
*************
Sementara itu saat ini terjadi kekacauan di kamar hotel tempat Manda berada. Manda yang terus memberontak karena tak terima anak buah Dimas yang maksa untuk membawanya.
"Lepaskan aku, kurang ajar kalian. Aku akan melaporkan kelakuan kalian pada Dimas."
"Tolong Nona bekerjasamalah dengan kami. Karena ini adalah perintah Tuan Dimas.
Manda yang tak terima terus berteriak dan memberontak. Akhirnya demi tidak memancing banyak orang karena adanya keributan merekapun terpaksa membius Manda.
"Bagaimana tugas kalian, apa sudah beres" tanya Erick yang baru saja memasuki kamar hotel tempat Manda berada.
"Dia terus memberontak tuan, jadi kami terpaksa membiusnya."
"Pingsan di kamar mandi."
"Astaga cepat keluarkan, kenapa kalian membiusnya dan membiarkannya disitu."
"Kami menunggu perintah anda Tuan."
"Ini uang buat kalian, bawa di ke cabang perusahaan di Sumatra. Dan dua orang diantara kalian nanti ikutlah tinggal disana awasi wanita itu, jangan sampai ia kembali kemari. Bos sudah membayar dua kali lipat untuk mengawasi wanita ini, jadi kalian harus mengerjakannya dengan benar."
"Baik Tuan." mereka segera melaksanakan perintah Erick. Memasukkan Manda ke dalam mobil dan membawanya menjauh.
"Ahh akhirnya Ratu drama itu pergi juga. Terimakasih Tuhan karena mejaku telah kembali. Dan lalat pengganggu itu pun menghilang." gumam Erick lirih.
******************
"Mas bangun, Mas..." Tiara menggoncang-goncang tubuh Dimas.
"Hemmm," gumam Dimas tanpa membuka matanya sedikitpun.
"Mas cepat bangun. Bukannya hari ini Mas sudah janji ya, mau ke rumah orangtuaku."
"Sebentar sayang, Mas masih ngantuk."
"Mas ini ya, tidur dari kemarin sore sampai pagi hari belum puas juga." ucap Tiara heran.
"Hemmm" Dimas kembali bergumam.
__ADS_1
"Ya sudah kalau Mas nggak mau ikutan, Tiara berangkat sendiri aja. Tiara mau nginep di rumah orangtuaku sebulan" kesal Tiara.
"Mas bangun sayang," Dimas mendudukkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Cepetan Mandi Mas, Tiara mau bersiap dulu."
Dengan langkah gontai Dimas menuju ke kamar mandi.
"Tolong siapkan baju ganti untukku Yang" teriak Dimas dari balik pintu.
Selesai mandi Dimas yang hanya menggunakan handuk di bagian bawah tubuhnya menghentikan tangannya yang ingin membuka pintu. Ia menatap pantulan dirinya dikaca. Jejak merah pada tubuhnya yang di berikan Manda, masih tercetak jelas. Padahal ia sudah menggosok tubuhnya keras karena kesal pada tanda yang di tinggalkan Manda."
"Sayang bawakan bajuku kemari" pinta Dimas.
"Tumben, biasanya Mas nggak pernah ganti baju di kamar mandi" tanya Tiara heran.
Dimas mengabaikan pertanyaan Tiara. Ia menyembulkan kepalanya dari balik pintu dan dengan cepat mengambil baju yang ada di tangan Tiara.
"Dasar aneh" uap Tiara menggelengkan kepalanya.
Di rumah orang tuanya ,Tiara dan Dimas di sambut hangat oleh Mama dan Papanya.
"Mama Tiara kangen" ucap Tiara begitu melihat kehadiran orang tuanya.
"Duh kesayangan Mama, akhirnya muncul juga. Mama juga kangen sayang.
"Papa" Tiara beralih memeluk Papa nya.
Dimas juga ikut menghampiri kedua orangtua Tiara. Ia mencium punggung tangan kedua orangtua itu.
"Bagaimana kabarmu Mas, kau pasti repot mengurus Tiara yang manja ini. Belum lagi pekerjaan kantor" tanya Papa Aziz.
"Dimas nggak sesibuk Tiara Pa. Anak Papa ini sudah menggantikan tugasku di kantor."
"Apa maksudmu" Papa Aziz tidak mengetahui jika Tiara saat ini adalah pimpinan perusahaan besar.
"Tiara sekarang adalah Presdir di perusahaan tempat saya bekerja Pa."
"Ah jangan bercanda kamu Nak, Tiara mana mungkin bisa bekerja di sana. Pendidikan terakhirnya juga hanya SMA" ujar Papa Aziz.
"Saya tidak bohong Pa. Istri saya ini di dukung oleh sebagian besar penanam saham. Jadi ia bisa menduduki posisi pimpinan sekarang."
"Jadi gosip yang selama ini aku dengar benar?" tanya Farih yang baru saja menghampiri mereka.
"Mas Farih, Tiara kangen" Tiara yang ingin memeluk Farih pun tak bisa karena Dimas menarik kerah bajunya.
"Apaan sih Masku, lepasin. Tiara mau meluk Mas Farih."
"Nggak boleh, Salim aja" ucap Dimas.
"Dasar suami cemburuan, biar dek kalau suamimu ngelarang meluk Mas, biar mas yang peluk kamu" Farih meluk Tiara sambil.mencibir wajah kesal Dimas.
TBC
__ADS_1