UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Fitnah.


__ADS_3

Kegaduhan yang mereka buat mampu mengundang beberapa murid dan para guru untuk keluar. Mereka segera melakukan pertolongan dengan membawa Nara langsung menuju ke sebuah rumah sakit.


Dewi ikut masuk kedalam mobil ambulans itu, tangisnya pecah. Dengan suara bergetar dan pipi berlinangan air mata ia terus memohon untuk keselamatan Nara.


Nara memang sudah mendapatkan pertolongan pertama di ambulans, tapi gadis malang itu belum juga tersadarkan.


Pihak sekolah segera menghubungi ambulans dan juga Mike sebagai Wali dari Nara. Terdengar suara handphone milik Mike berbunyi. Ia segera meminggirkan kendaraannya, kebetulan Mike baru saja ingin berangkat menuju perusahaannya.


"Hallo selamat pagi" ucap Mike mengangkat panggilan teleponnya.


"Selamat Pagi, maaf apa benar ini dengan Pak Mike wali dari Nara" ucap seseorang dari seberang telpon.


"Benar, maaf ada apa ya Pak?" tanya Mike sedikit terkejut. Tumben sekali seseorang menelponnya dengan membawa-bawa nama Nara.


"Begini Pak, kami dari pihak sekolah ingin mengabarkan saudari Nara mengalami kecelakaan. Saat ini sedang di bawa mobil ambulans ke rumah sakit terdekat."


"A-apa...." Mike terkejut bahkan handphone miliknya terjatuh. Ia abaikan itu semua, ia langsung tancap gas menuju rumah sakit.


Mobil ambulans menuju ke rumah sakit milik Kakek, kebetulan letak rumah sakit dan sekolah itu tak begitu jauh. Mengingat sekolah dan rumah sakit itu berada di bawah naungan perusahaan yang sama.


Sampai di rumah sakit Dewi menemui Ayahnya Dimas yang merupakan kepala rumah sakit. Dengan berlari ia menuju ke ruangan Presdir. Tidak memperdulikan tatapan orang-orang yang melihatnya dengan heran.


Kondisi Dewi saat ini sangat kacau, bajunya bersimbah darah dan matanya memerah hingga bengkak karena semenjak di mobil ambulans ia terus menangis.


"Maaf dek dilarang masuk ke wilayah ini" tak memperdulikan larangan pegawai, Dewi memasuki area petinggi rumah sakit. Terpaksa mereka harus memanggil satpam untuk mengejar Dewi. Andai saja handphone Dewi ada bersamanya dan tidak tertinggal di tas sekolah yang masih ada diruangan kelas, pasti ceritanya tidak akan begini.


"Siapa kamu?" ja...." belum sempat sekretaris Papa Teo menyelesaikan pembicaraannya, Dewi sudah berhasil memasuki kantor Presdir.


"Papa Teo..., tolong Nara Pa, tolong..." tangis Dewi pecah menghampiri Papa Teo. Dewi, Nara maupun Mike memang memanggil ayah Dimas dengan sebutan Papa sesuai dengan permintaan Teo. Papa Teoo menghampirinya dan Dewi langsung memeluknya.


"Maaf Pak, dia...." ucapan sekretaris terhenti ketika melihat kode tangan bosnya yang terangkat. Tak lama ada dua orang satpam yang juga menyusul keruangan itu. Sekretaris dan satpam itu terkejut dan sedikit bengong karena mendengar gadis itu memanggil Dokter Teo, Papa. Setahu mereka Dokter Teo hanya memiliki satu orang anak yaitu Dimas.


"Kalian keluarlah, gadis ini keluargaku" ucap Papa Teo.


"Pa tolong Nara, Pa..."


"Ia pasti Papa tolong, tapi ada apa ini? siapa yang terluka?" tanyanya lagi. Ia melepaskan pelukan Dewi, dan memeriksa kondisi tubuh Dewi dengan hanya melihatnya saja. Sebagai seorang dokter ia tahu pasti terjadi sesuatu yang gawat, mengingat banyaknya darah di baju dan rok Dewi.


"Hiks hiks hiks..., Ayo Pa selamatkan Nara Pa..." Dewi menarik tangan Papa Teo menuju UGD sambil menjelaskan apa yang terjadi. Begitu mengetahui yang sebenarnya segera Papa Teo berlari menuju UGD.

__ADS_1


"Bagaimana kondisinya" tanya Papa Teo pada dokter jaga.


"Ia banyak kehilangan darah Dokter dan ia mengalami luka di kepala bagian belakang, menurut kondisinya saat ini kita harus lakukan operasi segera. Kami perlu tanda tangan walinya."


"Saya walinya, tolong lakukan apapun untuk keselamatannya" Mike menerobos masuk setelah sebelumnya ia berlari dari parkiran.


"Papa bagaimana keadaannya? Ia bisa diselamatkan kan Pa?" tanya Mike khawatir.


"Papa pasti akan berusaha yang terbaik untuk menyelamatkannya" ucap Papa Teo.


"Tolong isi dan tanda tangani formulir ini" ucap seorang suster memberikan selembar kertas pada Mike.


"Siapkan ruang operasi, saya yang akan mengoperasinya sendiri" selama menjadi pimpinan papa Teo tidak pernah menangani pasien sekalipun. Ini adalah yang pertama kalinya sejak ia menjabat sebagai pimpinan.


Mike mendatangi Dewi yang menangis sembari duduk bersender di kursi panjang depan UGD.


"Wi, Dewi..." Mike memanggil-manggil namanya, tapi Dewi seperti orang linglung. Jujur saja ia syok dan juga merasa capek menghadapi situasi kali ini.


"Wi..., apa yang sebenarnya terjadi Wi, tolong ceritakan semuanya padaku" pinta Mike menepuk bahu Dewi pelan, ia duduk disebelah Dewi. Dewi tersentak dan menatap Mike dengan air mata berlinang.


"Nara...."


Dewi belum sempat menjawab pertanyaan Mike, tiba-tiba seorang guru dan juga ketiga gadis yang bertengkar sebelumnya dengan Dewi menghampiri Mike, terlihat wajah ketiga gadis itu pucat pasi.


"Apa yang kalian ucapkan tadi ke bapak tolong kalian jelaskan ke Pak Mike" pinta guru itu kepada ketiga siswi yang saat ini berdiri di belakangnya.


Salah seorang dari mereka maju mendekati Mike, ia melirik Dewi yang terkejut dengan kedatangan mereka bertiga.


"Kamu!!! teriak Dewi terkejut melihat pelaku pendorong Nara ada di hadapannya.


"Dewi yang mendorong Nara hingga terjatuh dari tangga, Pak. Kami semua saksinya" ucap wanita itu dengan cepat sebelum Dewi mengatakan kebenarannya. Ia menunjukkan jarinya ke arah Dewi.


"Dewii!! Bagaimana mungkin?" ucap Mike terkejut.


"Dia bo...."


"Apa salah Nara padamu? Apa pernah ia mengganggu atau menyakitimu sekali saja. Kenapa kamu lakukan ini? kenapa wi? Kalau kau memang marah karena sikapku semalam, kenapa tidak aku saja yang kau dorong dari tangga? kenapa?" Mike langsung emosi bertanya pada Dewi.


Sementara Dewi yang ingin mencoba menjelaskan selalu terpotong karena kemarahan Mike dengan cercaan pertanyaannya. Hingga akhirnya ia tak kuat dan menangis, bibirnya seolah terkunci sulit untuk berbicara.

__ADS_1


"Hiks hiks Bu-bu kan, bu-kan aku. Ta-tapi dia!!" ucapnya dengan senggukan. Dewi berjalan kearah ketiga wanita itu dan ingin menarik rambut salah satu dari mereka tapi Mike dan Pak Guru menghalanginya.


Akhirnya Mike menyuruh guru dan ketiga siswi itu untuk pergi daripada mereka menjadi tontonan pengunjung rumah sakit.


"Kak..., to-long dengar-kan aku, bu-kan aku Kak!!" Dewi mencoba membela diri. Ingin sekali ia mencakar ketiga wanita itu seandainya Mike dan Pak Guru tak ada disana.


"Diam Wi, diam!!!" teriak Mike, kepalanya terasa berputar. Belum lagi hatinya yang tak tenang dan merasa cemas menunggu hasil operasi Nara.


Dewi yang terkejut terduduk di kursi tunggu dan kembali menangis.


Terlihat Dimas berlari kecil dari kejauhan menghampiri Mike dan Dewi. Ayahnya menelponnya dan mengabarinya sebelum masuk ke ruang operasi.


"Kalau kau hanya bisa menangis disini sebaiknya kamu pergi saja!!" teriak Mike membelakangi Dewi, ia seolah enggan melihat keberadaan Dewi. Mike menyandarkan tubuhnya di tembok sembari memijat keningnya.


"Mike, hentikan sikapmu itu!!" Dimas cukup terkejut melihat Mike berteriak kearah Dewi, hal ini belum pernah Dimas lihat sebelumnya.


"Kau pulanglah kerumah Kakek, disana ada Tiara yang menunggumu. Mandi dan istirahatlah sesampainya dirumah, biar masalah Nara dan Mike saya yang akan mengurusnya" ucap Dimas lembut pada Dewi. Ia bisa melihat jelas wajah lelah dan syok Dewi, belum lagi baju yang ia kenakan banyak terdapat noda darahnya.


"Maaf aku tak bisa mengantarmu, kamu masih bisa naik taksi kan?" Dimas menyodorkan tiga lembar uang merah yang ia ambil dari dalam dompetnya.


Dewi berjalan dengan lunglai, ia bahkan pergi tanpa berpamitan dengan Mike, yang bahkan tidak mau melihat wajahnya.


"Mereka semua tidak percaya padaku, tidak seorang pun yang percaya padaku" gumam Dewi sembari terus berjalan ke depan, bahkan tatapan matanya terlihat kosong.


"Tidak ada orang yang menyayangiku, tidak ada yang menginginkanku, tidak ada" ucapnya pelan sambil menggelengkan kepalanya.


"Tidak!! masih ada satu orang yang menyayangiku. Dia, dia sangat menyayangiku. bahkan hanya dia yang menginginkanku" ucap Dewi, Hingga terlintas wajah Angga di pikirannya.


Dewi segera menghentikan taksi yang lewat di depannya. Ia ingin menemui Angga.


Satpam yang sudah pernah melihat kedatangan Dewi bersama tuannya membiarkan Dewi memasuki gerbangnya.


"Non, Non nggak apa-apa kan?" tanya satpam itu mendekat, ia khawatir melihat penampilan Dewi. Dewi menggelengkan kepalanya dan berjalan menuju pintu utama. Sementara satpam hanya bisa menatapnya bingung.


Tok tok tok,


"Dewi!!!" teriak Anton melihat penampilan Dewi.


"Apa yang terjadi padamu!!" Anton mendekat ingin merangkul Dewi.

__ADS_1


"Hiks hiks.... Angga" ucapnya, Dewi terjatuh pingsan dalam pelukan Anton yang berhasil meraihnya.


TBC.


__ADS_2