UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Permintaan Rendra


__ADS_3

Hari ini adalah hari kedatangan Nita kembali ke negaranya. Farih menjemput wanita itu di bandara.


"Kakak....," Nita langsung memeluk Farih begitu melihat keberadaan Farih. Farih terlihat canggung, tapi tetap saja ia membiarkannya toh mereka juga saudara pikirnya.


"Mengapa kau cepat kembali, apa tidak ada yang menarik disana."


"Aku bosan Kak, Papa selalu melarang ku berbuat ini itu. Aku seperti seorang pertapa saja disana."


"Itu semua demi kebaikanmu, selama ini kau terlalu bebas dalam bergaul. Ingat jaga pergaulanmu, jangan mempermalukan keluarga kita."


"Jangan khawatir Kak, aku bisa jaga diri kok. Kak laper"


"Ya udah kita cari restoran terdekat."


Farih mengendarai mobilnya, ia berhenti di restoran mewah. Nita memesan beberapa makanan dan minuman untuk mereka berdua.


Selesai dengan makanannya, mereka kembali melanjutkan perjalanan.


"Lho Kak ini kemana, jalan ke rumah bukan ke arah ini kan.


"Kamu akan tinggal di apartemen Kakak, sampai orang tua kita kembali."


"Tapi Kak..."


"Tidak ada tawar-menawar, Papa mempercayakanmu padaku."


"Kenapa seperti itu, Kakak saja belum menikah boleh tinggal sendiri. Kenapa aku nggak boleh?"


"Umur kamu itu baru 18 tahun. Kakak dulu tinggal sendiri itu umur 22 tahun. Lagipula Kamu itu perempuan, jadi beda. Udah jangan ngeyel, kalau nggak terima kakak kirim lagi kamu tempat Papa, mau?"


Tak lama mobil mereka sampai di gedung bertingkat. Farih memarkirkan kendaraannya di basemen. Dengan menggunakan fasilitas lift akhirnya mereka sampai di depan pintu apartemen milik Farih.


Farih memasukkan kode apartemennya.


"Ingat baik-baik, tangal ulang tahunmu adalah kode apartemen Kakak."


"Iya."


Ulang tahun apanya, itu bukan tanggal ulang tahunku. Sial kalau aku tinggal disini, aku tidak bisa bertindak semauku.


Mereka masuk ke dalam Apartemennya, Farih menunjukkan satu persatu ruangannya.


"Kamarmu ada di ujung, yang di depan itu kamar kakak. Disini nggak ada pembantu, jadi kamu harus mengerjakan semua sendiri. Kalau kamu lapar ada banyak bahan makanan di kulkas. Kamu bisa memasak menu kesukaanmu sendiri."


"Tapi Kak, aku nggak bisa masak."


"Mulai sekarang, kamu harus terbiasa memasak. Nanti Kakak ajarkan beberapa menu yang gampang untukmu."


"Sebaiknya kita mencari asisten rumah tangga saja Kak, aku tidak suka memasak. Nanti tanganku kasar, belum lagi kuku rusak. Nggak, aku nggak mau."


"Tidak ada alasan, mulai sekarang kamu harus belajar mandiri. Sudah Kakak mau mandi dulu.


Oh ya besok kakak mau ngajak kamu ke rumah sakit. Ngunjungi temen Kakak, jadi jangan kemana-mana besok. Tetap dirumah, agar kakak bisa mengajakmu sewaktu-waktu."


"Tapi Kak, aku mau keluar sama tem..."


"Pergi sama Kakak, atau kakak sita semua kartu kreditmu" Farih berlalu masuk ke dalam kamar, meninggalkan Nita yang menahan kesal.


Siaaallll!!!! belum juga sehari tinggal disini sudah seperti ini. Lihat saja akan aku bikin jebol kartu kredit keluargamu, batin Nita.


************


Di rumah sakit, Dimas tidak lagi berkutat dengan berkas pekerjaannya.


Ia saat ini sedang menyuapi Tiara bubur dengan telaten.

__ADS_1


"Aaa..., buka lebar mulutnya."


"Udah Masku, aku kenyang."


"Ini baru tiga suap sayang. Ayo buka mulutnya."


"Udah" Tiara menolak suapan Dimas.


"Ayo buka mulutnya, tiga suap lagi."


"Nggak mau, Masku udah."


"Aaa, atau mau aku suapin dengan cara lain."


"Ma-maksudnya"


"Pakai ini, mau" Dimas menunjuk bibirnya.


"Nggak, aaa..." Tiara membuka kembali mulutnya, menerima suapan Dimas.


"Pelan-pelan, aja nelennya nanti keselek." Dimas mengusap sisa bubur yang menempel di bibir Tiara.


"Katanya kenyang, Eh nggak taunya habis juga."


Dimas terkekeh melihat Bubur di mangkok habis tak tersisa, Ia lalu mengambilkan minum untuk Tiara.


Tok tok tok...


Terdengar suara ketukan pintu dari luar.


"Masuk" Ucap Dimas.


Tak lama terlihat pria tampan memasuki ruangan dengan sebuket bunga mawar.


Dimas yang melihat kedatangan pria itu, tiba-tiba saja senyumannya menghilang dari wajahnya. Yang terlihat kini adalah rasa kesal.


"Tiara, bagaimana kondisimu sekarang? " Reno berjalan memutar mendekati Tiara. Ia mengabaikan pertanyaan Dimas."


"Hai, siapa yang memperbolehkanmu mendekat padanya, jaga jarak." Protes Dimas, ia lalu berdiri di depan Tiara. Menutupi penglihatan Reno yang sedang mengajak Tiara berbicara.


"Semakin baik Tuan. Masku, jangan berdiri disitu. Aku mau ngobrol dengan Tuan Reno dan aku tidak bisa melihatnya."


"Lihat aku aja yang, jangan suka lihat-lihat Duda entar timbilan."


"Mas, jangan kekanak-kanakan deh, sini mas duduk sebelah sini aja." Tiara menepuk kasur di sampingnya.


"Biarin aja Ra, kalau dia nggak mau duduk disitu. Aku aja yang duduk sana." Reno bersiap untuk Duduk di samping Tiara. Tapi Dimas menariknya menjauh. Ia juga menarik kursi yang ada di sebelahnya dan memundurkan kursi itu sejauh lima langkah kaki. Lalu menyuruh Reno untuk duduk disana


"Kau duduk di sana saja jangan deket-deket."


"Astaga Masku kamu ini."


"Nggak apa Ra, maklumin aja lama ngejomblo, sekali punya pacar jadi gitu deh kelakuannya." ejek Reno.


"Biarin daripada lo, Duda nggak laku."


"Saya bukan nggak laku ya, yang ngantri juga banyak. Cuma belum Nemu yang cocok aja."


"Cih, alasan. Jangan dekat-dekat dia yang, dia banyak modus nya." Dimas duduk di sebelah Tiara, ia mengecup bibir Tiara sekilas. Lalu melirik Reno dengan senyum mengejek.


"iiih Mas malu di lihat Tuan Reno, jangan bertingkah yang aneh-aneh deh."


"Nggak apa yang, kamu kan calon istriku." Dimas merangkul pinggang Tiara.


"Dasar manja, baru juga calon bangganya setengah mati. Yang udah nikah aja bisa pisah, apalagi cuma yang pacaran doang."

__ADS_1


"Apa maksud Lo?"


"Nggak ada maksud apa-apa cuma ngasih tau doang. Siapa tau Tiara berubah pikiran, dan memilih pria lain, Ya kan Ra." Reno sengaja membuat kesal Dimas.


Dimas melotot menatap Tiara tajam.


Mati aku. Ya ampun Tuan Reno, jangan bangunin macan tidur dong, batin Tiara tersenyum kecut. Ia meneguk Saliva nya.


"Biasa aja lagi Dim lihat Tiaranya, entar Tiara takut terus lari ke aku. Aku kan jadi susah nolaknya."


"Eh Duda kalau udah selesai nengok Tiara, mending lo pulang sono. Nggak usah ngayal ketinggian, entar jatuh bonyok Lo."


"Siapa bilang aku kesini cuma mau nengok Tiara doang. Aku juga mau ada sesuatu yang penting, yang mau aku sampaikan ke Tiara."


"Udah sampaikan saja terus pulang sono. nggah usah kebanyakan basa-basi."


" Ra, ada salam dari pria tertampan dan dia mau bicara lewat video call sama kamu, kangen katanya. Bolehkan?" Reno sengaja memanas-manasi Dimas.


"Nggak boleh" Dimas menjawab dengan sewot.


sementara Tiara mengernyitkan keningnya bingung.


"Dia juga nyampaikan terimakasih untuk hadiahnya. Dia bilang suka sama Jam tangan pemberianmu. Tapi dia kangen banget sama kamu Ra, aku telponin yah" Reno mengabaikan ucapan Dimas, Sementara Tiara yang sudah mengerti ucapan Reno mengangguk antusias. Reno mengeluarkan handphone dari kantung celananya. Ia memencet panggilan video dan mengaktifkan speaker.


Pria yang di maksud Reno sebenarnya adalah Rendra. Sebab sebelum Tiara pergi dari Rumah sakit, pada saat Rendra rawat inap. Ia menitipkan jam tangan pada Mona yang sudah ia bungkus dengan kado.


Dimas melotot tak percaya, melihat Tiara begitu antusias mengiyakan permintaan Reno. Ia merebut handphone yang ada di tangan Reno.


"Kalau saya bilang nggak boleh ya nggak boleh" Dimas merebut paksa handphone yang ada di tangan Reno.


"Daddy, Kak Tiara mana" Tiba-tiba terdengar suara Rendra dari telpon Reno.


Dimas menatap Reno dan Tiara bergantian. Ia baru sadar kalau Reno sedang mengerjainya. Reno tersenyum mengejek.


"Siniin Mas telponnya, aku kangen sama Rendra."


Dimas memberikan telponnya Reno kepada Tiara.


"Rendra sayang, sudah sembuh ya sekarang." tanya Tiara antusias.


"Iya Kak, Rendra sekarang sudah sembuh. Sudah bisa jalan juga, tapi kadang masih suka pusing. Kak Tiara cepat sembuh ya."


"Iya, sayang. Doain Kakak ya cepat sembuh."


"Kak, eemm...." ucap Rendra ragu.


"Ya, sayang"


"Kakak, ingatkan janji Kakak pas Rendra sakit."


"Janji?"


"Iya, Rendra denger pas Daddy bawa Rendra ke rumah sakit. Kakak bilang akan ngabulin apapun keinginan Rendra asal Rendra selamat."


Tiara mengingat-ingat peristiwa itu. Di saat ia sedang panik karena kondisi Rendra yang bersimbah darah. Dan tanpa sengaja ia mengatakan akan mengabulkan apapun keinginan Rendra asal selamat. Pada saat itu mereka ada di mobil menuju rumah sakit dan Rendra berada di pangkuan Reno.


"Jadi Rendra mendengarnya" Tanya Tiara ragu, ia merasakan perasaan yang tak nyaman saat ini. Ia juga merasakan hawa dingin dari Dimas. Pria itu menampilkan wajah masam semenjak kedatangan Reno. Ia menekuk wajahnya kesal, sedari tadi melihat interaksi Tiara dan Rendra melalui Telepon yang terlihat begitu akrab.


"Iya, Rendra mendengarnya. Dan Rendra menginginkannya sekarang."


"Rendra mau apa Sayang, tapi nanti tunggu kak Tiara sembuh. Baru deh kak Tiara beliikan apa maunya Rendra." Tiara berpikir Rendra menginginkan sesuatu berupa barang.


"Nggak, Kak Tiara nggak perlu beliin Rendra apapun. Rendra cuma mau Kak Tiara jadi mama Rendra. Rendra mau Kak Tiara nikah sama Daddy."


"A-apa?"

__ADS_1


TBC


__ADS_2