UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Aku Menginginkanmu.


__ADS_3

WARNING 21+ ya, Yang di bawah umur menjauh. tolong lewati episode ini


Dimas berusaha menahan hasratnya, tapi sentuhan Aiko mengalahkan Akal sehatnya.


Aiko dan Dimas kini sama-sama tak mengenakan pakaian di bagian atas tubuhnya.


Aiko menindih tubuh Dimas yang kini sudah dalam posisi terlentang di atas sofa. Ia terus bertindak liar dengan tubuh Dimas. Dimas membiarkan perbuatan Aiko, Tapi Dimas juga tak membalasnya. Bahkan kini Aiko mencoba melucuti celana panjang yang melekat di tubuh bawah Dimas.


Aiko mulai melepaskan gesper, lalu perlahan membuka kaitan dan resliting celana itu. Aiko membelai bagian yang menonjol dalam celana Dimas.


"Ah.... Hen ti kan..., Ah... ja-ngan."


Dimas terus memohon pada Aiko untuk menghentikan tindakannya. Walaupun tubuhnya bereaksi berbeda. Dia benar-benar menikmatinya. Bahkan Aiko kini sudah berhasil melepaskan celana panjang milik Dimas. Meninggalkan segitiga bermuda yang menutupi bagian tubuhnya yang mulai mengeras.


Aiko turun dari tubuh Dimas, Ia ingin melepaskan hotpants yang melekat pada tubuh bagian bawahnya. Kesempatan ini digunakan Dimas untuk mengumpulkan kewarasannya.


Dimas meraih Gelas jus jeruk bekas yang ia minum tadi, Ia melemparkan gelas itu ke lantai. Berharap seseorang di luar sana mendengarnya.


Aiko cukup terkejut dengan perbuatan Dimas. Ia yang telah memelorotkan hotpants nya sampai ke mata kaki kembali menaikkannya kembali. Dan dengan segera meraih baju yang tergeletak di lantai lalu mengenakannya. Bahkan sangking terburu-burunya ia tak mengenakan bra. tak lama terdengar suara langkah kaki mendekati ruangan itu.


Erick yang berada di luar bergegas masuk begitu mendengar suara pecahan gelas. Erick memasuki ruangan itu di ikuti dua orang bodyguard di belakangnya.


"Ada apa Tuan" Ucap Erick terkejut melihat kondisi Tuannya.


"Tidak ada apa-apa!!! buat apa kalian kemari, pergi sana!!!" usir Aiko.


"Kau apakan bos kami" teriak Erick lalu mendekati Dimas.


"Singkirkan wanita sialan itu" ucap Dimas lirih begitu Erick mendekatinya.


"Kalian berdua keluarkan wanita ini kalau perlu ikat saja dia, kalau tidak mau menurut," perintah Erick kepada dua bodyguard itu.


"Lepaskan!!! Singkirkan kedua tangan kalian yang menjijikan itu dari tubuhku" Aiko memberontak tapi kedua bodyguard itu tetap menyeret Aiko keluar.


"Aku akan membunuh kalian semua, karena perlakuan kalian hari ini. Aaaa... brengsek!!!" Aiko terus berteriak-teriak seperti orang gila. Bahkan kedua bodyguard itu terpaksa mengikat tangan Aiko lalu mengencangkan sabuk pengaman di kursi dan melakban mulutnya yang terus berteriak memaki-maki.


Sementara Dimas yang berada di Kamar itu, meminta bantuan Erick memapahnya ke kamar mandi. Erick menaruh tubuh Dimas ke dalam bathtub dan menyiramnya dengan air dingin. Setelah beberapa menit terdengar peringatan pesawat sebentar lagi sampai tujuan dan pilot mengurangi ketinggian secara berkala.


"Tuan, sebentar lagi pesawat landing kita harus segera kembali ke kursi penumpang."


Erick membantu Dimas mengeringkan tubuhnya, lalu setelah selesai mengenakan pakaiannya. Ia kembali ke kursi penumpang.


"Tahanlah Tuan, pesawat kita sudah landing dan sebentar lagi sampai. Saya akan segera meminta bantuan dokter begitu sampai bandara."

__ADS_1


"Ti-tidak Rick bawa aku ke tempat Tiara saja. Ce-cepat Rick aku sudah tidak tahan."


"Berani-beraninya Nona Aiko memberi anda obat perangsang. Jangan khawatir Tuan kami akan memberi hukuman pada Nona Aiko karena berani menyentuh Tuan."


Sesampainya di bandara Dimas di jemput oleh anak buahnya. Erick menyuruh mereka ngebut langsung ke apartemen Dimas. Setelah ia menelpon Tiara memastikan Tiara berada di apartemen.


Wajah Dimas memerah dan mengeluarkan banyak keringat karena merasa gerah, ia bahkan mulai menggesek-gesekkan miliknya yang terasa gatal. Dimas mencoba melepas bajunya, tapi di tahan oleh Erick. Menyebabkan dua kancing bajunya terlepas.


Bahkan Dimas sempat bergelut dengan Erick karena Dimas yang hampir kehilangan akal sehatnya. Tubuhnya sebentar-sebentar menggeliat menahan gairahnya. Erick bahkan hampir di buat gila karena kelakuan Dimas. penampilan mereka berdua terlihat acak-acakan saat ini.


Sesampainya di apartemen, Erick memapah Dimas. Sambil membawa tas kecil, Erick tidak tau apa isinya itu. Tapi Dimas ngotot agar Erick membawa tas itu juga. Dengan penampilan yang terlihat berantakan mereka memasuki lift. Untung saja mereka sampai pada saat menjelang tengah malam, jadi apartemen itu sudah mulai sepi. Kalau tidak Dimas dan Erick akan menjadi tontonan saat ini.


Sesampainya di depan pintu apartemen, Erick memencet bel apartemen. Muncullah Andini dan Tiara yang menatap bengong penampilan Dimas dan Erick yang berantakan.


"Kau urus kekasihmu ini, aku hampir gila di buatnya."


Dengan cepat Erick mendorong Dimas ke Tiara. Tiara memeluk tubuh Dimas yang terhempas ke arahnya. Erick berjalan mendekati sofa, ia menaruh tas kecilnya disana.


"Kau ikut aku" ucap Erick menarik tangan Andini, keluar.


"Hai siapa kau, dan apa yang kau lakukan padaku" Andini berteriak dan memukul-mukul tangan Erick yang membawanya keluar apartemen itu.


"Diamlah kau, Tuan Dimas memerlukan bantuan Nona Tiara."


"Seseorang memasukkan obat perangsang ke minumannya. Sekarang dia butuh pelepasan. Apa kau ingin menonton kegiatan panas mereka berdua."


"Terus bagaimana nasibku, kunci apartemen dan dompetku ada di dalam. Aku tidur dimana malam ini" protes Andini.


"Ayo ke apartemenku" Erick kembali menarik tangan Andini.


"Tidak-tidak bisa" Andini ingin berbalik arah menuju apartemen kembali.


"Apa yang ingin kau lakukan" Erick menarik tangan Andini.


"Tentu saja mencegahnya, apa kau tidak punya otak. Mereka belum menikah, kasihan Tiara. Kau bisa memanggil Dokter untuk bos mesummu itu."


Erick yang kehabisan kata-kata akhirnya meraih tubuh Andini dan memanggulnya seperti karung beras. Ia tidak mau menghadapi kemurkaan bosnya karena perbuatan Andini.


"Hai lepaskan aku" teriak Andini sambil memukul-mukul Erick.


*********


Sementara Dimas yang berada di pelukan Tiara melancarkan aksinya. Ia yang tadi kelihatan lemah tiba-tiba kembali bertenaga.

__ADS_1


"Tiara tolong aku..." Dimas merengkuh Tiara dalam pelukannya. Ia menciumi tengkuk leher Tiara. Tangannya menelusup masuk meraih bagian favoritnya.


"Masku a-apa yang kau lakukan. Ja-jangan seperti ini." Tiara memberontak.


"A-aku sudah nggak kuat Tiara, seseorang menjebakku" Dimas membawa Tiara yang masih dalam pelukannya. Ia menidurkan Tiara di ruang TV dekat dari situ. Ruang yang biasa Andini dan Tiara tiduri sebelumnya.


"A-apa maksudmu Mas, tolong lepas jangan seperti ini" Tiara menangis di bawah Kungkungan Dimas yang terus beraksi.


"Sayang tolong seseorang memberiku obat perangsang." Dimas melucuti baju Tiara kasar, Tiara berusaha memberontak tapi tenaganya kalah dari Dimas.


"Jangan seperti ini Masku, tolong..., A-ayo telpon Dokter." Isak Tiara memukul-mukul Dimas yang berada di atasnya, menciumi seluruh tubuhnya. meremas dua bukit kembar miliknya.


"Aku menginginkanmu sayang, tolong" Tiara lelah, ia menangis. Walaupun tidak rela ia akhirnya membiarkan Dimas melakukan apapun pada tubuhnya. Ia juga kasihan melihat Dimas dalam pengaruh obat itu.


"Dimas, benar-benar kesetanan karena pengaruh obat itu, ia melakukannya berkali-kali terkadang kasar kadang lembut. Bahkan Tiara terbuai saat Dimas melakukannya dengan lembut. Tiara benar-benar kelelahan kali ini."


"Terimakasih sayang, tidurlah" Dimas mencium pucuk kepala Tiara, menyelimuti tubuh mereka berdua lalu merekuhnya dalam pelukannya. Tak lama terdengar dengkuran halus dari Tiara. Bahkan Dimas bisa merasakan hembusan nafas Tiara di dadanya saat ini, Karena posisi tidur Tiara yang membenamkan wajahnya di dada bidang Dimas.


Dimas melepaskan pelukannya, ia membuka selimutnya dan melihat bercak merah pada alas tidur mereka. Ia mengecup kening Tiara.


"Terimakasih sayang, dan maaf karena memaksamu. Akan aku pastikan wanita itu menerima hukumannya." Dimas mengangkat tubuh Tiara ala bridal style. Ia memindahkan tubuh Tiara ke dalam kamar mereka.


Dimas merasakan kepemilikannya kembali mengeras. Akhirnya masuk ke kamar mandi.


"Sial berapa banyak wanita sialan itu memberiku obat" Dimas kembali bermain solo di kamar mandi.


Dimas keluar dari kamar mandi dengan handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya. Ia lalu keluar kamarnya, menuju ke sofa. Ia mengambil tas kecil yang ditaruh Erick disana.


Setelah itu ia kembali ke kamarnya mengeluarkan isi tas itu. Dan tersenyum menatap benda itu. Dimas duduk di atas kasur menatap Tiara.


"Mudah-mudahan kamu suka sayang, Maaf karena memberi pengalaman buruk di hari ulang tahunmu. Aku pasti akan menebus semua pengorbananmu hari ini sayang" ucap Dimas lirih, mengecup kening Tiara. Ia lalu menaruh kotak itu di samping bantalnya. Kembali tidur di samping Tiara dan merengkuh Tiara ke pelukannya.


Hari sudah menjelang pagi Tiara menggeliatkan tubuhnya. Ia merasakan remuk pada tubuhnya dan sedikit nyeri pada bagian intim tubuhnya.


Tiara mengerjapkan matanya, merasakan seseorang yang membelai wajahnya. Tiara membuka matanya sempurna dan melihat Dimas tersenyum padanya. Ia yang akhirnya mengingat kejadian panas semalam yang ikut menikmatinya, menjadi malu dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Buka tanganmu sayang, aku masih ingin menatap wajahmu."


Tiara menggelengkan kepalanya.


"Sayang..., Happy Birthday and will you marry me?"


TBC.

__ADS_1


__ADS_2