
Dimas dan Tiara sudah kembali beraktivitas seperti biasa. Tiara kembali bekerja di bantu dengan Andre, Ia bahkan tak jarang mengunjungi proyek bertiga bersama Mona.
Walaupun Dimas terkadang sedikit kesal karena Tiara lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Andre, tapi tak pernah ia perlihatkan karena Ia tau mereka dekat karena masalah pekerjaan.
Tiara dan Mona saat ini berada di bandara setelah sebelumnya, ia di hubungi oleh Rendra tentang kembalinya mereka ke negaranya. Rendra juga meminta untuk di jemput oleh Tiara dan Mona.
Tiara dan Mona sudah sekitar 15 menit berada di terminal kedatangan. Dan tak lama muncullah Reno yang mendorong sebuah troli, dengan barang-barangnya yang ia taruh diatas troli, bahkan Rendra juga ikut duduk di atasnya dengan tumpukan barang.
"Kakak" berlari mendekati Mona dan Tiara dengan riangnya.
"Apa kabar Mon?" tanya Reno mendekati Mona.
"Baik" jawab Mona terlihat kikuk.
"Duh, saya nggak ditanya nih" ejek Tiara.
"Kamu ini" Rendra mengacak rambut Tiara, dan Tiara menjauhkan kepalanya dari jangkauan Reno.
"Mon, kamu temani Bang Reno ke mobil dulu ya taruh barang-barang. Saya sama Rendra mau beli es krim dulu." Tiara memanggil Reno dengan Abang atas permintaan Reno waktu ia di Singapura, walaupun begitu Tiara tetap saja jarang memanggilnya dengan nama itu.
"Barengan aja Ra, nggak apa kok" ujar Reno tak enak karena melihat ekspresi wajah Mona yang terlihat tak nyaman.
"Kami duluan Ya" berlari sambil menggandeng Rendra seta mengabaikan ucapan Reno.
Tiara dan Rendra melakukan tos, mereka memiliki misi untuk membuat Mona dan Reno dekat. Rendra menginginkan Mona yang menjadi Ibu sambungnya. Selain Mona baik hati, Reno juga menyukainya.
"Kamu nggak papa kan Mon jalan berdua denganku. Tenang aja aku nggak gigit kok" ucap Reno yang menyadari ketidak nyamanan Mona.
"Enggak kok Pak, Mona hanya sedikit canggung saja."
"Buat dirimu senyaman mungkin denganku, dan jangan memanggilku Pak. Aku jadi merasa sangat tua."
"Lalu saya harus Panggil apa?" tanya Mona bingung.
"Mas, Kak, atau Abang seperti Tiara memanggilku juga boleh" ujar Reno.
"Abang?" tanya Mona lagi.
__ADS_1
"Iya, Abang! apa ada masalah?" tanya Reno.
"Tidak" jawab Mona menggelengkan kepalanya. Mobil yang akan mereka naiki sudah datang dan berhenti tepat disampingnya. Supir itupun turun dan mendekati mereka.
"Mari Tuan, Nona" supir mempersilahkan mereka masuk setelah semua barang dimasukkan ke bagasi mobil.
"Kita tunggu Tiara dan Reno dulu pak" ujar Mona.
"Tidak perlu Non, mereka sudah di jemput Den Dimas. Non Tiara berpesan untuk mengantarkan Non dan Tuan kemanapun tuan dan Nona inginkan."
Sepertinya Tiara dan Rendra memberikan kesempatan padaku untuk berdua Mona, batin Reno
"Antar langsung ke rumah Pak Reno saja, Pak." jawab Mona.
"Tidak, bawa kami ke restoran terdekat" ucap Reno melirik ke arah Mona.
"Saya lapar, lagipula ini sudah lewat jam makan siang. Kau tak keberatan kan untuk menemaniku makan bukan?" tanya Reno pada Mona. Mona menyetujui permintaan Reno.
Mobilpun melaju ke arah restauran terdekat. Reno yang turun dari mobil pun di dekati oleh Pak supir.
"Maaf tuan, Den Dimas menyuruh saya kembali ke kantor dan meminta saya untuk memberikan kunci ini ke Tuan. Silahkan gunakan mobilnya ke tempat yang Tuan inginkan, begitu pesan Den Dimas."
Reno dan Mona memesan menu kesukaan mereka. Selagi menunggu pesanan di antarkan Reno memulai pembicaraan.
"Mon, untuk masalah yang di singapura kemarin saya minta maaf ya." ujar Erick.
"Bapak nggak salah kok, mungkin ucapan Bapak benar saya memang kegatelan sama tetengga" ujar Mona dengan nada kesal.
"Nggak Mon, kamu nggak seperti itu. Maaf saya hanya cemburu jadi saya asal bicara."
"Cemburu?" maksud bapak?"
"Saya nggak tahu mulai kapan, tapi semenjak tinggal di Singapura saya menyadari mulai tertarik denganmu."
"Bapak jangan asal bicara deh, mana mungkin bapak bisa tertarik sama pembantu seperti saya."
"Saya tau ksmu bukan pembantu, lagi pula saya nggak bisa memilih orang seperti apa yang saya sukai, hatiku sudah terlanjur memilihmu Mon. Kamu maukan memaafkanku dan memberikanku kesempatan?" tanya Reno.
__ADS_1
"Tapi saya nggak suka sama Bapak" jawab Mona acuh. Ia memang sudah memaafkan Reno, tapi ia tidak bisa melupakan saat Reno menghinanya.
"Kamu bukannya tidah menyukaiku tapi belum menyukaiku. Beri aku kesempatan 5 bulan bersamamu, jika aku tidak bisa membuatmu jatuh cinta, aku bersedia mundur' ujar Reno.
"Tidak, saya tidak mau" tolak Mona.
"Kenapa? Kau takut jatuh cita padaku, ya" tebak Reno.
"Tidak, siapa bilang?'
"Baiklah kalau kau tidak takut, itu artinya kau mau memberikan kesempatan untukku dong."
"Baiklah 3 bulan, tidak lebih" jawab Mona.
"Tiga bulan ya, oke siapa takut. Tapi bagaimana dengan permintaan maafku?"
"Mona maafkan, tapi jika bapak berkata seperti itu lagi, Mona nggak mau kenal bapak lagi "
"Kok Panggilnya daritadi Bapak terus sih Mon, ganti dong sama panggilan yang enak di dengar" pinta Reno.
"Panggil apa?" Mona terlihat bingung.
"Sayang juga boleh, saya nggak keberatan lho Mon."
"Iya bapak nggak keberatan, tapi saya keberatan" ujar Mona disambut tawa oleh Reno.
Menu pesanan mereka akhirnya datang juga, mereka memakan dengan lahapnya. Sesekali Reno menatap Mona tersenyum. Sedangkan Mona mengabaikan tatapan Reno.
Sementara itu di sebuah pabrik kelapa sawit, Terlihat Amanda di pekerjakan disana. Tadinya ia berfikir Dimas akan memperkerjakannya di kantor dengan jabatan yang tinggi tapi kenyataannya disana ia di pekerjakan sebagai buruh kasar di bawah pengawasan dua orang anak buah suruhan Dimas.
Amanda bekerja sambil memaki-maki Dimas dan Tiara. Ia terpaksa bersedia melakukan pekerjaan kasar, karena kalau ia tidak mau melakukannya maka anak buah Dimas tidak akan memberikannya makan.
Mereka bahkan pernah mengurung Manda selama dua hari tanpa makan dan hanya memberikannya minum karena Manda tidak mau bekerja dan membuat keonaran.
Semenjak hari itu Amanda terpaksa menuruti perintah mereka dan mengerjakan pekerjaan kasar. Ia terlihat lebih penurut sekarang, tapi di otak kecilnya itu ia tidak pernah berhenti berpikir untuk bisa kabur dari tempat itu.
Ia bertekad untuk kabur dan memberikan pelajaran yang besar untuk Tiara dan juga Dimas yang begitu tega membuangnya ke pedalaman wilayah Sumatera.
__ADS_1
Awas kalian, jika aku bisa bebas dari tempat ini, maka habislah kebahagiaan kalian berdua. Tunggu kedatanganku dan rasakan pembalasan dariku, batin Manda.
TBC.