UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Melacak Keberadaan Tiara


__ADS_3

Kakek mendekat kearah pasien untuk meyakinkan penglihatannya. Ia kemudian memencet tombol memanggil seorang Dokter untuk memeriksa kondisi Michael lebih jauh.


"Terimakasih Tiara, kamu pembawa keberuntungan buat keluarga Kakek" Kakek memeluk Tiara, Tiara terdiam bengong tidak mengerti maksud dari ucapan Kakek.


"Kau tahu 9 bulan dia koma, tapi begitu kau disini, dia langsung tersadar."


Terlihat dua orang dokter memasuki ruangan itu bersama seorang perawat. Dokter melakukan pemeriksaan terhadap pasien. Terlihat kelopak mata pasien yang mengerjap perlahan seolah berat untuk membuka mata.


"Ma...," terdengar suara lemah dari bibir pasien itu. Dokter terlihat tersenyum cerah melihat perkembangan pasien yang baru saja dibawa ke tempat ini.


"Selamat datang kembali Tuan" sapa Dokter itu begitu pasien sudah membuka matanya dengan jelas.


"Emmmm" terdengar kembali suara erangan lemah darinya."


Terlihat Roy yang memasuki ruangan itu dengan tergesa-gesa. Ia baru saja kembali setelah sebelumnya ia memilih mengelilingi bangunan yang akan menjadi tempat tinggalnya dan bosnya berikutnya.


"Tuan anda sadar, terimakasih Ya Allah" pria itu melakukan sujud syukur untuk kesembuhan bosnya.


Dokter menghampiri Kakek dan memberitahu tindakan apa yang di perlukan selanjutnya.


"Karena pasien koma sudah lumayan lama, jadi untuk pemulihan kami akan melakukan fisioterapi. Dan juga melakukan beberapa pemeriksaan lainnya." Pasien menjelaskan pada Kakek tahap lanjutan dari penangan pasien.


Setelah Kakek menyerahkan penanganan pasien selanjutnya pada Dokter ahli, ia mengajak Tiara ke sebuah ruangan yang cukup luas dan mewah. Letak ruangan itu masih satu lantai dengan ruangan Michael dan tak terlalu jauh.


"Kau tinggallah diruangan ini, Kakek akan mengirimkan satu pelayan wanita yang khusus akan melayanimu. Jaga kesehatanmu dan jangan terlalu banyak pikiran. Kakek tidak mau terjadi apa-apa dengan calon cicit Kakek."


"Tiara akan jaga diri baik-baik Kakek jangan khawatir. Tapi Kakek Tiara saat ini tidak ingin bertemu dengan Mas Dimas, jadi Tiara mohon tolong jangan biarkan Mas Dimas memasuki gedung ini."


"Jangan khawatir, Kakek akan mengirim beberapa bodyguard untuk menjaga gedung ini agar tidak semua orang bisa masuk seenaknya."


************

__ADS_1


Sementara itu di sebuah markas tersembunyi yang letaknya sangat jauh dari perkotaan tampak seorang wanita hamil yang sedang di kunci dalam sebuah kamar. Berteriak-teriak memanggil Dimas dan juga sesekali memakinya karena kesal.


Ruangan yang di tempati wanita hamil itu, saat ini sudah seperti kapal pecah karena perbuatan wanita itu yang tak segan-segan membanting semua barang ke tembok.


Dimas memerintahkan anak buahnya untuk mengurung Manda dan terus memantaunya melalui CCTV. Dimas melarang anak buahnya menyiksa Manda secara fisik karena kehamilan Manda.


Dimas saat ini terus fokus mencari keberadaan Tiara, bahkan semua pekerjaannya ia abaikan begitu saja. Untung ada Adrian dan juga Mona yang membantu masalah perusahaan. Sementara Erick dan Dimas fokus mencari keberadaan Tiara.


Seminggu sudah keberadaan Tiara masih juga belum diketahui. Dimas terlihat makin kurus dan tak terurus. Yang ada dipikirannya saat ini hanyalah bagaimana kondisi istrinya dan juga anaknya. Ia tidak pernah pulang ke rumah, hidupnya berkeliaran di setiap jalan mencari jejak keberadaan Tiara.


Dimas mengirimkan mata-mata untuk menyelidiki rumah mertuanya, tapi belum juga menemukan keberadaan Tiara. Akhirnya ia memutuskan untuk jujur pada mertuanya tentang kaburnya Tiara darinya.


Dimas yang saat ini datang ke rumah mertuanya mendapatkan amukan besar dari Ayah dan Ibu Tiara karena dianggap tidak becus menjaga istrinya. Apalagi setelah mertuanya mengetahui jika anaknya dalam kondisi sedang hamil. Maka remuk sudah tubuh Dimas karena mendapatkan pukulan bertubi-tubi dari Ibu mertuanya yang kesal padanya.


Dimas tidak mengatakan jika kaburnya Tiara karena adanya wanita lain, Dimas hanya mengatakan ada kesalahpahaman antara ia dan istrinya. Ia takut jika ia mengatakan kebenaran maka sudah pasti ia akan di eliminasi sebagai menantu.


"Sebaiknya cepat kau cari istrimu. Berdoalah anak buahku tidak lebih dahulu menemukannya daripada dirimu. Sebab jika aku atau anak buahku menemukan Tiara terlebih dahulu maka aku akan pastikan membawanya jauh darimu" ancam Papa Aziz kesal.


Dimas yang mendapatkan ancaman dari mertuanya menjadi ketar-ketir. Apalagi ia tau sendri mertuanya mengerahkan banyak orang untuk menemukan keberadaan Tiara. Dimas tidak lagi membuang waktu, ia segera pergi dari situ dan melesat ke tempat dimana biasanya Tiara menghabiskan waktunya.


"Saya menemukan keberadaan Nyonya Tuan."


"Kirimkan Alamatnya!" tanpa basa-basi ia meminta anak buahnya mengirimkan lokasinya.


Dimas membawa beberapa anak buahnya dan segera meluncur menuju ke tempat dimana istrinya di perkirakan berada. Ia menatap bangunan mewah yang ada di depannya dan segera menuju ke gerbang.


Niat Dimas dan anak buahnya untuk ijin memasuki gerbang itu di tolak. Kakek sudah mengirimkan foto Dimas kepada seluruh anak buahnya yang berjaga disana. Ia melarang pria yang ada di foto itu untuk memasuki bangunan mewah tempat dimana Tiara berada.


Dimas yang tidak mendapatkan ijin masuk melakukan keributan di luar. Sehingga perkelahian pun tak terelakkan lagi. Salah satu pemimpin keamanan bangunan itu mendekati Dimas dan berusaha untuk menenangkannya.


"kau!!" Dimas terkejut mengetahui pimpinan bodyguard itu adalah salah satu anak buah Kakeknya.

__ADS_1


"Maaf Tuan kami hanya menjalankan perintah, jika Tuan ingin memasuki tempat ini sebaiknya anda meminta ijin beliau. Karena tanpa ijin beliau, kami tidak akan membiarkan siapapun melewati gerbang ini."


Dimas mulai paham sekarang, kenapa ia kesulitan menemukan jejak Tiara. Ternyata Kakeknya ikut andil dalam hilangnya Tiara.


Dimas mengambil handphone dari tasnya yang ia letakkan di mobil. Ia menghubungi handphone Kakeknya berkali-kali tapi tak ada respon dari Kakeknya. Akhirnya ia meminta anak buahnya kembali ke markas. Karena ia sendiri yang akan datang menemui Kakek.


Sampai dirumah Kakeknya Dimas langsung menanyakan keberadaan Kakek pada maid yang berdiri tak jauh darinya.


"Dimana Kakek?"


"Ada di lantai 2 tuan. Di ruang kerja beliau."


Dengan tergesa-gesa menaiki anak tangga dan menuju ke ruangan itu, tanpa mengetuk pintu atau mengucapkan salam, ia langsung membuka pintu ruangan dengan Kasar.


"Kakek..., kembalikan istriku" ujar Dimas dengan nada sedikit tinggi.


"Aku tidak menculik istrimu, lalu kenapa aku harus mengembalikannya padamu."


"Kakek, tidak usah berpura-pura lagi. Aku tahu Kakek yang menyembunyikan Tiara. Aku dari tempat itu tadi, tapi mereka sama sekali tidak mengijinkanku masuk menemui istriku."


"Itu permintaan istrimu, Kakek tidak bisa berbuat apa-apa. Selesaikan permasalahanmu itu dulu dengan wanita gila itu baru aku akan berusaha membujuk istrimu untuk menemuimu."


"Tapi aku ingin bertemu dengannya sekarang Kek! Aku hampir gila karena lama tidak melihatnya!"


"Aku tidak bisa memaksa istrimu untuk menemuimu saat ini. Kondisi emosinya tiba-tiba memburuk setiap Kakek membahas tentangmu, kau tidak ingin terjadi apa-apa dengan calon anakmu bukan? Menyerahlah dulu untuk bertemu dengannya, ia butuh waktu dan juga kondisinya maupun kandungannya baik saat ini."


"Setidaknya, biarkan aku melihatnya walaupun dari kejauhan."


Kemarilah, Kakek menyuruh Dimas mendekat menuju ke meja kerjanya. Ia membuka laptopnya yang terhubung langsung dengan CCTV bangunan tempat Tiara berada.


Dimas melotot tak percaya melihat istrinya yang sedang bercanda dengan pria tampan. Terlihat pria itu melakukan terapi jalan dengan bantuan Tiara. Sesekali pria itu menceritakan hal lucu yang membuat Tiara tertawa.

__ADS_1


"Siapa pria itu Kek, kenapa kau biarkan ia dekat-dekat dengan istriku?"


TBC


__ADS_2