
Jadi ini, anak dari pria yang telah membunuh Kakakku? batin Dewi dalam hati.
Sebelumnya Dewi sudah mendengar kronologi kematian Kakaknya. Tapi ia tak pernah menyangka jika anak pembunuh itu kini berada tepat di depannya.
"A-apa yang kau katakan? Kak, apa benar dia adalah anak dari pembunuh Kakakku!" tanya Dewi sedikit tak percaya.
"Dewi, ini bukan kesalahannya. Jangan hukum anaknya karena kesalahan orangtuanya."
"Apa maksud Kakak, tadinya aku berpikir kakak membawanya kemari karena ingin aku menghukumnya. Tapi ternyata...."
"Dewi Kakak capek ingin beristirahat, kita bicarakan ini lagi nanti" ucap Mike memutus pembicaraan Dewi.
Dewi yang tak terima menatap tajam Nara, ia berdiri kemudian berjalan mendekat ke arah Nara dan menarik rambutnya.
"Keluar kamu dari sini, dasar anak pembunuh!!" Dewi yang kalap menarik rambut Nara menuju keluar rumah.
"Antooonnnn!" Mike memanggil anak buahnya untuk memisahkan Dewi dan Nara.
"Ampuuun, Nara minta ampuunn" tangis Nara pecah. Ia tak melawan, hanya menahan rambutnya yang ditarik oleh Dewi.
Anton menahan tubuh Dewi dari belakang dan seorang satpam melepaskan tangan Dewi dari rambut Nara.
"Dewi hentikan!!" teriak Mike ketika Dewi ingin mencoba menyerang Nara kembali.
Dewi terdiam, ia mengatur nafasnya yang memburu akibat kemarahannya. Bahkan mata dan wajahnya ikut memerah karena menahan marah. Butiran bening mengalir dari ujung matanya, ia mengusapnya kasar.
"Temui aku jika kau sudah bisa mengontrol kemarahanmu" ucap Mike membawa Nara masuk kedalam rumah. Sementara Dewi masih mematung di luar rumah.
Mike menempatkan Nara tepat disebelah kamarnya. Mereka memilih tinggal dilantai satu mengingat kondisi Mike yang masih menggunakan kursi roda.
"Jika kau butuh sesuatu kau bisa mencariku, kamar kita bersebelahan" ucap Mike menunjuk kamarnya, Nara menganggukkan kepalanya.
"Istirahatlah" perintah Mike, ia mengawasi Nara sampai Nara masuk dan menutup pintu kamarnya.
Mike menghela nafasnya setelah kepergian Nara. Ia tahu pasti ini sulit bagi Dewi kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa. Mike juga tak menyangka jika Nara berani bersuara mengakui kejahatan Ayahnya.
__ADS_1
Sepertinya aku harus menguatkan mentalku, hari-hari dirumah ini pasti tidak akan Damai dengan adanya permusuhan Nara dan Dewi, batin Mike berargumen
Mike berencana hanya seminggu berada di negara ini. Ia harus segera kembali ke Indonesia, ia juga ingin memindahkan perusahaannya ke Indonesia atas saran Kakek Dimas yang juga menganggapnya seperti cucu sendiri.
Mike masuk kedalam kamarnya, kamar yang ia tempati saat ini adalah bekas kamar almarhum Ibunya. Kamar itu selalu kosong sepeninggal Ibunya, tapi pelayan selalu membersihkannya setiap hari.
Mike menatap foto pernikahan Ayah dan Ibunya. Ayah Mike sudah meninggal dunia semenjak ia kecil, sejak kematian ayahnya, ibunya yang membesarkannya dengan susah payah. Mike adalah saksi perjuangan hidup ibunya.
Mike meraih foto ibunya dan membawanya ke dalam pelukannya.
Ibu, aku sangat merindukanmu, ucapnya membelai foto sang ibu.
*****************
Dimas saat ini sudah masuk ke lingkungan perusahaan, Aldo memperkenalkannya ke beberapa kepala divisi dan petinggi perusahaan.
Perusahaan ini memiliki gedung bertingkat yang sangat luas. Sebagai perusahaan terbesar di negaranya, bisa di pastikan jumlah karyawannya yang mencapai ratusan.
Dimas mengamati setiap pekerja. Pekerja di perusahaan di tuntut untuk disiplin dan bertanggung jawab terhadap pekerjaannya mengingat gaji mereka yang juga tidak main-main.
"Tidak, aku hanya suka melihat semangat bekerja mereka saja" ucap Dimas. Ia ingin fokus untuk membebaskan Tiara, ia tidak ingin terlibat dalam hal lainnya.
Puas berkeliling Dimas memilih untuk menyudahi dan kembali ke penginapan. Dimas tidak bisa membeli sebuah rumah maupun apartemen di negara ini. Karena selaku pihak asing atau non warganegara dilarang memiliki aset berupa tanah dan bangunan di negara itu.
Sampai di rumah Dimas di sambut dengan anak buahnya yang membawa kabar baik untuknya.
"Asisten Raja menyetujui pertemuan anda Tuan, tapi mereka ingin melakukan pertemuan di luar istana" ucap anak buahnya. Anak buahnya menggunakan identitas Dimas sebagai Ana sang pemilik saham terbesar ke dua di perusahaan. Hal itu ia lakukan agar Raja mau bertemu dengan Dimas, karena tak sembarang orang bisa membuat janji dengan Raja petinggi negara.
Dimas menatap dirinya di cermin, masih dengan dandanan wanita dan alat perubah suara yang akan mendukung perubahannya dari pria sejati menjadi seorang wanita anggun.
Dengan gaya anggun Dimas menapaki hotel tempat pertemuannya dengan Raja. Ia melewati beberapa pemeriksaan dan pengawalan yang cukup ketat.
"Maaf Nona, hanya anda yang di ijinkan masuk. Pengawal anda harus menunggu diluar" ucap sang pengawal kerajaan.
"Baiklah, kalian tunggu di luar saja" ucap Dimas kepada anak buahnya.
__ADS_1
Dimas masuk dengan langkah kaki mantap, tak ada keraguan ataupun rasa gugup di hatinya. Ia bersiap berperang demi mendapatkan Tiara kembali.
"Senang berjumpa dengan anda yang mulia" ucap Dimas memberi penghormatan kepada Raja.
"Senang juga mengenalmu Nona..."
"Ana" ucap Dimas.
"Nona yang pemberani dan juga cantik. Anda benar-benar menarik" ucap Raja itu kagum melihat Dimas tak ada rasa takut maupun ragu dari ekspresi wajahnya. Ia melihat kobaran semangat dari tatapan Dimas.
"Bisa saya bicara empat mata denah anda?" tanya Dimas melihat raja yang saat ini masih di dampingi pengawalnya.
"Apakah masalah ini sangat penting?" tanya Raja sebelum mempersilahkan pengawalnya keluar.
"Sangat, saya hanya tidak ingin kabar yang saya bawa ini menyebar keluar dan merusak reputasi kerajaan anda" ucap Dimas terlihat serius, tak ada kebohongan Dimata Dimaa saat raja menatapnya.
"Kalian berdua keluarlah!" perintah raja.
"Tapi yang mulia...." ucap mereka ragu.
"Tidak akan terjadi apa-apa jangan khawatir." ucap sang Raja menenangkan pengawalnya.
"Baiklah yang mulia, kami menunggu di depan pintu. Yang mulia bisa memanggil kami jika membutuhkan sesuatu" ucap sang pengawal.
"Sekarang anda bisa mengatakannya" ucap sang raja ketika anak buahnya sudah menutup pintu.
"Saya menginginkan menantu anda, tidak tepatnya bukan menantu anda tapi istri saya" ucap Dimas tanpa basa-basi.
"Istri? Apa maksudmu Nona?" Raja sedikit butuh penjelasan dengan kata-kata Dimas sebab yang ia tahu yang ada di depannya adalah seorang wanita.
Dimas melepas wig nya dan juga alat perubah suara.
"Putra Mahkota negara ini membawa istriku tanpa seijinku, bahkan ia dengan beraninya mengakuinya sebagai istrinya. Aku menginginkan istriku kembali atau akan kuhancurkan perekonomian negaramu?" ucap Dimas dengan nada lantang dan cukup berani.
Raja cukup terkejut dengan pernyataan Dimas, tadinya ia berpikir jika orang yang menemuinya akan berbicara masalah bisnis. Tapi ternyata pria di depannya ini dengan sangat berani menantangnya.
__ADS_1
TBC