
Nara memegang dadanya dan merasakan debaran jantungnya, Ia merutuki dirinya.
Astaga Nara, apa yang kau lakukan kenapa kau tidak menolaknya, batin Nara merasa malu. Ia menutupi wajahnya dengan bantal dan berguling-guling tak karuan di atas tempat tidurnya.
Apa yang harus aku lakukan besok, haruskah aku sembunyikan wajahku ini.
"Aaaakhhhhh bodoh..., bodoh" gumam Nara masih merutuki dirinya sendiri.
Sementara itu Mike yang berada di dalam kamar sama halnya dengan Nara, ia sedikit syok bagaimana bisa ia memiliki keberanian itu, ternyata dekat dengan Nara tidak baik untuk jantungnya. Belum lagi kelakuannya yang tidak bisa mengendalikan diri jika menatap bibir Nara.
Oh Tuhan apa yang kau lakukan Mike, bukankah kau harusnya menjaganya bukannya berlaku seperti itu, batin Mike merasa serba salah.
Akhirnya setelah lama dan lelah saling memikirkan satu sama lain, mereka tertidur nyenyak.
Tok tok tok
"Tuan Mike...."
Tok tok tok
"Non Nara..."
Pelayan mengetuk pintu kamar Mike dan Nara bergantian. Letak kamar mereka yang berdampingan memudahkan pelayan melakukannya.
"Ya Bi..." Ucap Mike dan Nara bersamaan sembari membuka pintu kamar. Kondisi Mike tak jauh beda dengan Nara, terdapat lingkaran hitam pada kelopak mata mereka karena mereka tidur terlalu malam.
"Astaga Non, Tuan apa yang terjadi pada kalian berdua" tanya pelayan wanita paruh baya itu heran. Lingkaran hitam di sekitar mata ditambah lagi muka bantalnya karena mereka belum cuci muka, membuat mereka terlihat seperti Zombie.
"Ada apa bi!" lagi-lagi mereka berbicara bersamaan.
"Non sama Tuan ngomongnya dari tadi kompakan ya. Itu Tuan meminta Non dan Tuan untuk sarapan" ucap pelayan itu.
Nara dan Mike menengok ke jam dinding masing-masing mereka terlonjaknkaget ternyata waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.
"Astaga..." Nara dan Mike yang terkejut langsung masuk kamar mandi masing-masing untuk membersihkan tubuh. Tadinya mereka pikir masih sekitar jam tujuh pagi, tapi siapa sangka ternyata sudah jam sembilan bahkan lewat lima belas menit.
Selesai mandi Mike lebih dulu turun dibandingkan Nara. Ia bertemu dengan Kakek diruang keluarga.
"Jam berapa kalian pulang tadi malam?" tanya Kakek sembari menutup koran yang ia baca sebelumnya.
"Jam 11 lewat Kek, Kami pulang dari rumah sakit jam 10 tapi aku mengajak Nara untuk makan dulu di luar" jelas Mike. Penampilan Mike kini tampak lebih segar dibandingkan bangun tidur tadi.
__ADS_1
"Kakek besok ada acara keluar kota, Kakek ingin mengunjungi lokasi kerja Ayahnya Dimas. Entah apa yang menyebabkannya tidak pulang-pulang padahal ia sudah berjanji untuk kembali sebelum cucunya lahir. Bahkan handphone miliknya sudah dua hari ini tidak bisa dihubungi" jelas Kakek Dimas sembari memijat keningnya.
Ia bahkan tidak mengatakan hal ini pada Dimas, Kakek hanya bilang jika ayah Dimas masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan hingga belum bisa pulang.
"Bagaimana kalau saya saja yang kesana Kek, Kakek sudah umur sebaiknya dirumah saja bersenang-senang dengan cicit Kakek" jelas Mike.
"Lalu bagaimana dengan perusahaanmu?" tanya Kakek.
"Ada asistenku yang akan mengatasi masalah perusahaan Kek" ucap Mike, Ya Mike mengambil orang kepercayaannya sebagai Asistennya setelah kematian Roy.
"Kalau begitu ajaklah Nara bersamamu, Kakek khawatir jika tidak akan ada yang mengurusmu nanti disana. Apalagi itu adalah sebuah desa terpencil. Tapi tolong kamu rahasiakan tentang apa yang terjadi pada Dimas." pinta Kakek.
" Tentu Kek" jawab Mike.
"Kakek akan mencari tahu dulu kondisi terkini disana, baru kau bisa kesana. Kakek tidak ingin kau dan Nara sampai celaka karena kecerobohan kita dalam mencari berita" ujar Kakek.
"Biar Nanti Kakek urus dulu masalah keberangkatan kalian dan Kakek juga akan bicara dengan Nara tentang ini semua, sekarang sebaiknya kau pergi sarapan dulu."
Baru saja Kakek menyuruh Mike untuk pergi makan, tiba-tiba terlihat Nara turun dari tangga, Kakek menatapnya tersenyum.
"Selamat Pagi Kek" sapa Nara, ia melirik sedikit pada Mike ada kecanggungan diantara mereka berdua.
"Pagi Nara, Ku belum sarapan kan?" tanya Kakek, Nara menggelengkan kepalanya.
"Baik Kek, Ayo Kak sarapan bareng sama Nara" tawar Nara terlihat canggung. Bahkan mereka berdua berjalan dengan memberi jarak.
Nara mengambil piring dan mengisinya dengan menu kesukaan Mike. Tinggal dua bulan lebih bersama Mike membuatnya tahu apa kesukaan Mike, bahkan kebiasaan yang sering Mike lakukan pun sudah mulai Nara pahami.
*********
Sementara itu dirumah sakit, Tiara sedang mendapatkan kunjungan dari Farih beserta Lia istrinya yang saat ini sedang hamil. Juga kedua orang tua Tiara yang baru beberapa hari tiba di tanah air.
"Wah, cantiknya cucu Oma. Siapa namanya Dim" tanya ibu mertua Dimas. Ia menggendong cucunya hati-hati. Lama tidak pernah menggendong bayi membuatnya terlihat kaku.
"Aqilla Faranisa Nugraha, bisa di panggil Aqila" jelas Dimas.
"Nama yang cantik" ucap Oma.
"Kenapa kau tidak menghubungiku saat Tiara mau melahirkan Dim, untung saja Tiara tidak sampai kekurangan darah" protes Farih pada Dimas.
"Maaf, saat itu aku terlalu panik, jadi aku melupakan fakta itu" jelas Dimas meminta maaf.
__ADS_1
"Sudahlah Far, yang penting sekarang Tiara selamat. Cucu Opa juga sehat dan cantik" sahut Papa Tiara.
"Pulang dari rumah sakit kalian kembali ke rumah atau masih tinggal sama Kakek?" tanya Mama Tiara.
"Tinggal sama Kakek dulu Ma, kasihan Kakek sendirian. Apalagi Mike juga mau pindah, ia saat ini sedang merenovasi rumahnya" jelas Dimas.
"Jangan lupa luangkan waktu kalian juga untuk menginap di rumah Mama."
"Tentu, Ma" jawab Dimas.
"Anak kalian anteng banget, dari tadi tidur aja. Mama sampai penasaran sama suara tangisannya" Mama mencium gemas pipi anak Tiara yang masih berada dalam gendongannya.
"Semalam, dia agak rewel Ma. Nangisnya kenceng banget pas haus nyari susu" sahut Tiara.
"Wajahnya mirip Dimas banget anak kamu Tiara, bikin Mama tambah gemes."
"Papa pingin gendong juga dong" Papa Tiara memposisikan dirinya agar istrinya mudah memindahkan cucu nya ke tangannya.
"Duh cantiknya cucu Opa, Kalau besar Aqilla mau jadi apa?" tanya Opa sembari menimang Aqilla. Sementara Farih dan Dimas memilih untuk duduk di sofa yang terdapat di luar kamar ruang inap.
"Aku dengar terjadi bencana banjir dan longsor di tempat Ayahmu praktek. Bagaimana kabar Ayahmu sekarang? Apa dia sudah kembali ke kota ini?" tanya Farih.
Farih yang berprofesi sebagai dokter dan juga terbiasa di kirim sebagai dokter relawan di wilayah terpencil memudahkannya mendapatkan informasi tentang Ayah Dimas.
"Banjir dan longsor apa? Aku bahkan tidak mendapatkan kabar itu sama sekali. Kamu dapat informasi ini darimana? dan kapan itu terjadi?" Dimas cukup terkejut dengan pertanyaan Farih.
Selama ini Kakeknya mengatakan Ayahnya baik-baik saja. Ia bahkan melarang Dimas menghubungi Ayahnya dengan alasan ayahnya yang terlalu sibuk sebagai dokter relawan.
"Sepertinya Kakek merahasiakannya darimu, dan aku dengan bodohnya membocorkan masalah ini."
"Cepat jelaskan saja padaku kapan terjadi bencana disana? Dan apa kau tak mendapatkan kabar bagaimana nasib dokter relawan yang berada disana?" Dimas terlihat khawatir dengan kondisi Ayahnya.
"Kejadian itu sudah sekitar 3 hari yang lalu. Desa itu sudah di guyur hujan seminggu lebih dan puncaknya 3 hari yang lalu terjadi longsor dan banjir besar yang kabarnya menelan hampir setengah desa. Banyak korban jiwa dan rumah hancur karena tertimbun tanah reruntuhan ataupun tersapu banjir.
"Untuk kabar Ayahmu aku belum tahu sama sekali, karena semenjak bencana alam itu terjadi, akses komunikasi dan akses jembatan menuju Desa itu terputus. Jadi menyebabkan desa itu jadi terisolasi. Bahkan untuk mengirim bantuan berupa makanan, hanya bisa dilakukan oleh helikopter ukuran kecil" jelas Farih.
"Aku akan coba cari tahu tentang kabar Ayahmu dari Tim rumah sakit yang mengirimnya kesana, mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu padanya" ucap Farih lagi.
Dimas yang mendengarkan Farih berbicara dari tadi hanya bisa terdiam. Ia cukup syok dengan kabar yang ia dengar dari Farih. Andai saja kondisi Tiara tidak habis melahirkan, ia pasti sudah bergegas menuju ketempat bencana alam.
Ya Allah lindungilah Papaku, batin Dimas.
__ADS_1
TBC.