UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Mencari Dewi.


__ADS_3

Di pagi hari Dimas yang merasa tidak tenang akan keberadaan Dewi segera meluncur ke rumah Mike. Ia bahkan melupakan sarapannya karena ingin memastikan kondisi Dewi aman.


Di sambut oleh asisten rumah tangga Dimas menanyakan keberadaan Dewi.


"Bibik Dewi nya ada?" tanya Dimas.


"Maaf Tuan, Non Dewi belum ada pulang ke rumah dari kemarin" jawab wanita paruh baya itu.


"Kapan terakhir Dewi ada di rumah ini Bik?" tanya Dimas lagi.


"Kemarin pagi sebelum berangkat sekolah Tuan."


"Apa Non Dewi ada menghubungi ke rumah dan bilang mau kemana gitu Bi?" tanya Dimas cemas. Firasatnya sedari kemarin merasakan ada yang janggal.


"Tidak ada Tuan, biasanya sih non Dewi kalau mau kemana ijin sama Tuan Mike" sahut wanita paruh baya itu lagi.


"Terimakasih ya Bik, saya pamit dulu" Dimas memutuskan pergi dari situ dan menuju ke rumah sakit. Ia berharap mudah-mudahan Dewi berada disana saat ini.


Lalu lintas di pagi hari terlihat padat merayap di banding siang hari, karena banyaknya anak sekolah dan para pekerja yang menggunakan fasilitas jalan.


Tin tin!!


Dimas memencet klakson mobilnya ketika sebuah sepeda motor berjalan terlalu lambat di depannya.


"Sial, kalau begini terus kapan sampainya" keluh Dimas memukul setir mobilnya.


Perjalanan yang harusnya Dimas tempuh selama 35 menit menunju rumah sakit menjadi lebih lama yaitu 50 menit karena macet.


Dimas berlari menuju koridor rumah sakit, tujuannya kali ini adalah untuk dapat segera menemui Mike.


"Mike..., Mike" panggil Dimas menggoyangkan bahu Mike. Mike tertidur di sebuah kursi panjang di depan ruang ICU. Padahal Dimas sudah meminta pihak rumah sakit untuk menyiapkan kamar buat Mike, tapi Mike menolaknya.


"Ya ada apa?" Mike terbangun dengan sedikit terkejut. Ia bangun dari tidurnya dalam posisi duduk. Akhir-akhir ini memang Mike kekurangan tidur maupun istirahat.


"Dewi tidak pulang kerumah dari kemarin. Aku sudah mengeceknya ke rumahmu" ucap Dimas terlihat khawatir.

__ADS_1


"Biarkan saja! Nanti juga pulang sendiri" ucap Mike acuh, ia kembali memejamkan kepalanya.


"Kau ini, kemana rasa pedulimu terhadapnya dulu. Apa kau lupa kalau Kakaknya menitipkan tanggung jawabnya padamu!!" kesal Dimas.


"Aku masih ngantuk Kak, biarkan aku tidur sebentar. Aku akan mencari tahu nanti, lagipula dia juga sudah dewasa jadi Kakak tidak perlu khawatir" Mike kembali meluruskan tubuhnya.


Mike merasa sangat lelah, ia bahkan baru memejamkan matanya kurang dari 30 menit, ketika Dimas datang membangunkannya. Ia sebelumnya begadang terus memantau kondisi Nara.


"Awas saja kalau Dewi sampai kenapa-napa, Kakek pasti akan menghukummu" ucap Dimas. Ia akhirnya memilih pergi dan memasuki ruangan Nara.


Dimas menatap miris wajah gadis mungil di depannya yang terbalut perban di beberapa bagian.


"Cepatlah sadar Nara, atau kau akan kehilangan Dewi. Mike saat ini menyalahkan Dewi atas musibah yang kau alami, ia bahkan tidak perduli Dewi berada dimana sekarang" ujar Dimas berharap Nara segera sembuh.


"Aku permisi dulu Ya Nara. Cepat sembuh dan tetap semangat" ujar Dimas berpamitan. Ia keluar dari kamar ICU dan menghubungi anak buahnya.


"Bagaimana kelanjutan penyelidikanmu?" tanya Dimas.


"Dengan adanya bukti rekaman CCTV yang telah di pulihkanKami sudah menemukan titik terang Tuan. Mengenai siapa pelaku dan biang keributan kami sudah mengetahuinya dengan jelas" ucap anak buah Dimas.


"Bagus, kirimkan Video itu padaku sekarang!!" perintah Dimas.


"Mike!!! Lihat ini" Lagi-lagi Dimas mengejutkannya.


Apalagi sih Kak? protes Mike kembali terbangun.


"Kau lihat hasil rekaman CCTV ini" Dimas menyodorkan handphone miliknya pada Mike. Dengan malas Mike menerimanya.


Wajah Mike Tiba-tiba pucat pasi mengetahui Dewi tak bersalah sama sekali. Ia menatap lama gambar di handphone Dimas.


"Kau mau kemana?" tanya Dimas tiba-tiba menghentikan langkah Mike.


"Menemui Dewi Kak, aku ingin meminta maaf padanya" ujar Mike dengan tersenyum kecut.


"Dewi tidak pulang kerumah semalam. Lalu bagaimana caramu menemukannya dan meminta maaf padanya" ucap Dimas. Seketika Mike terdiam dan mengingat bagaimana sebelumnya ia tidak mempercayai Dewi dan bagaimana ia tidak mempercayai perkataan Dewi.

__ADS_1


Kemana gadis itu, apa ia marah padaku, batin Mike.


"Tolong Carikan aku suster terbaik untuk menjaga Nara sementara Kak, aku akan mencaritahu keberadaan Dewi" pinta Mike di setujui Dimas.


"Kita cari Dewi bersama, aku juga ingin memberi pelajaran pada mereka yang sudah berani mencelakai calon adik iparku" ucap Dimas akhirnya.


Mike dan Dimas segera meluncur mencari keberadaan Dewi. Mereka mulai pencariannya dari sekolah Dewi dan Nara, sekalian memperjelas permasalahan yang ada.


************


Matahari sudah mulai meninggi dan sinar terangnya mengusik tidur Anton. Ia mengerjapkan matanya dan merentangkan kedua tangannya. Samar-samar pandangannya mengarah pada sebuah jam yang menempel didinding.


"Astaga, sudah hampir jam sebelas" ucap Anton terkejut ketika melihat jam sudah menunjukkan pukul 10.45


Dengan bergegas Anton turun dari kasurnya menuju kamar mandi. Ia heran kenapa tidak ada satupun asisten rumah tangga.


Setelah siap dengan baju kantornya Anton keluar kamar, hari ini ia ada meeting kira-kira satu jam lagi. Karena meeting kali ini tidak bisa diwakilkan jadi terpaksa Anton harus menghadirinya.


Begitu keluar kamar Anton terkejut menatap para pelayan yang ia beri tanggung jawab untuk merawat Angga kemarin setelah pengasuh sebelumnya ia pecat. Para pelayan itu berdiri di luar pintu berjejer sbari mengintip kedalam.


"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Anton sedikit kesal. Bukannya mbantu mengurus putranya Angga, para pelayan itu malah berbisik-bisik di depan pintu sembari mengintip ke dalam kamar Angga.


"Tu-tuan..." ucap mereka bersamaan. Kehadiran Anton yang tiba-tiba menegurnya membuatnya cukup terkejut.


"I-itu Tuan, Non Dewi tidak mengijinkan kami masuk dan mengurus den Angga. Ia bahkan mengusir kami keluar tuan" jawab salah satu dari mereka dengan wajah was-was. Mereka takut jika nasibnya akan berakhir sama seperti sang pengasuh yang harus pulang kampung karena di pecat.


"Baiklah, aku ingin melihat putraku sekarang. Bisakah kalian bergeser sedikit agar tak menghalangi jalanku! Dan kalian sebaiknya turun saja dulu kebawah, bantu pekerjaan pelayan yang lainnya" perintah Anton. Tentunya ia akan merasa risih jika kedua pelayan itu memperhatikan kedekatannya dengan Dewi.


"Dewi!" panggil Anton.


"Hem" jawabnya sembari menengadahkan kepalanya menatap Anton. Saat ini Dewi dan Angga sedang bermain di atas tempat tidur. Dewi menyebar mainan yang dimiliki Angga diatas tempat tidur. Ia tidak perduli jika itu terlihat sangat berantakan ya g terpenting adalah Angga menyukainya.


"Apa kau ingin jalan-jalan keluar?" Anton mendekat pada Dewi. Ia mencoba memberi solusi, agar Dewi mau berinteraksi dengan yang lain. Sebab semenjak kedatangannya ia tidak mau berbicara atau berinteraksi dengan orang lain selain Anton dan Angga.


Dewi menggelengkan kepalanya dan kembali fokus pada Angga. Sepertinya dunianya saat ini hanya berpusat pada Angga saja. Bahkan Dewi akan mengamuk jika Angga dijauhkan darinya.

__ADS_1


Anton memilih duduk disebelah Dewi. Ia memperhatikan interaksi kedua orang yang ada di dekatnya saat ini. Angga terlihat senang, sesekali ia tersenyum dan tertawa ketika Dewi mengajaknya bermain, sayangnya Dewi mengabaikan keberadaan Anton.


TBC


__ADS_2