UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Perjanjian.


__ADS_3

"Kenapa? kau mengenal wanita ini" Daniel memperlihatkan video dimana Tiara dibawa ke markas pertama kali. Saat itu Tiara dalam kondisi terikat dan mata tertutup.


"Apa mau kalian sebenarnya?" tanya Dimas.


Daniel mendekat ke sel Dimas dan memerintahkan anak buahnya untuk membuka pintu sel tersebut.


"Bantu Kami membereskan masalah kami, setelah itu kami janji akan membebaskanmu dan juga istrimu. Oh ya tidak hanya istrimu tapi juga calon anak kalian!" pancing Daniel, membuat Dimas semakin marah.


"Kalau kalian berani menyakitinya, aku pastikan kalian hancur bersamaku" ancam Dimas dan berusaha untuk memukul Daniel, tapi dua pemuda yang sejak tadi bersama Daniel menahan tubuh Dimas.


"Lepaskan dia" perintah Daniel pada anak buahnya yang menahan pergerakan tubuh Dimas.


"Tenang saja, kondisi istrimu baik saat ini. Kami bahkan memenuhi asupan gizi untuk kehamilannya. Lihatlah ini" Daniel memperlihatkan juga aktifitas Tiara di kamarnya melalui kamera CCTV.


Terlihat Tiara sedang meminum susu hamil, bahkan di ruangannya itu juga terdapat buah-buahan dan juga roti.


"Aku akan pertimbangkan untuk membantu kalian asal kalian pertemukan aku dengan istriku."


"Tidak ada penawaran Tuan, kau hanya bisa menyetujui usulan kami bukan untuk mempertimbangkannya. Maka aku akan mempertemukanmu dengan istrimu. Atau kau bisa menolak dan bersiaplah membusuk dipenjara ini. Dan aku tidak bisa lagi menjamin keselamatan istri dan juga anak kalian" ancam Daniel.


Dimas mengepalkan tangannya erat. Ia tidak tahu bantuan seperti apa yang diinginkan pria dihadapannya. Tapi ia juga tidak mungkin mengorbankan keselamatan istri dan anaknya yang bahkan belum melihat indahnya dunia.


"Aku setuju membantu kalian, tapi sebelumnya tolong bawa aku menemui istriku."


"Tidak, kau tanda tangani perjanjian ini dulu. Baru aku akan menemukanmu dengan istrimu" Daniel menyerahkan map kuning yang berisi surat perjanjian pada Dimas.


"Kalian sungguh licik" Dimas membaca surat perjanjian itu.


"Hanya untuk berjaga-jaga, agar kau tak mengkhianati kami. Bukankah ini seimbang dengan harga nyawa istri dan anakmu?"


"Aku tidak tahu apa tujuan kalian sebenarnya, tapi kalau kalian berani menyentuh istriku. Aku akan menghancurkan kalian."


"Tenang saja istrimu aman selama anda setia pada perjanjian kita" ujar Daniel penuh percaya diri.


"Sudah, temukan aku dengan istriku sekarang! Tapi sebelum itu ijinkan aku mandi dan berganti pakaian. Aku tidak ingin istriku khawatir melihat kondisiku seperti ini."


Dimas menyerahkan berkas yang sudah ia tanda tangani. Ia juga memperhatikan tubuhnya yang kotor dan ada juga bekas cakaran hewan buas di punggung dan lengannya.


"Tentu saja Tuan, kita adalah tim kerja saat ini. Anda bebas berkeliling kemana saja yang ada diruangan ini. Tapi untuk menemui istri anda secara bebas, kau harus tunjukkan keseriusanmu membantu kami. Antarkan dia!" perintah Daniel pada anak buahnya, setelah ia berbicara panjang lebar dengan Dimas.

__ADS_1


Dimas mengikuti pemuda yang diperintah untuk mengantarkannya ke ruangan Tiara.


Ruangan Tiara di jaga oleh dua orang pengawal.


"Biarkan dia masuk, ini perintah Tuan Daniel."


"Tuan ingat waktu anda hanya satu jam saja, sesuai dengan perintah Tuan Daniel" ujar pemuda itu lagi mengingatkan. Dimas mengangguki kepalanya setelah itu ia memasuki ruangan itu. sedangkan pemuda yang mengantar Dimas pergi dari situ.


"Sayang" sapa Dimas ketika melihat istrinya yang sedang membaca majalah sembari bersandar pada kepala ranjang.


"Masku!!" seru Tiara terlihat senang. Bergegas menghampiri suaminya dan memeluknya erat.


"Syukurlah kau baik-baik saja" Dimas memperhatikan kondisi tubuh Tiara.


"Mas kok ada disini?" tanya Tiara.


"Mas mencarimu ke seluruh kota ini tapi tidak menemukanmu. Akhirnya Mas mencoba memasuki hutan ini, eh ternyata firasat mas benar kau ada disini. Mereka tidak melukaimu kan sayang?" tanya Dimas


"Tidak, tapi aku merindukanmu Mas. Anakmu juga merindukanmu" Tiara memeluk Dimas erat.


"Aaawww sayang, sakit" ujar Dimas ketika Tiara mengeratkan pelukannya.


"Mas terluka. Coba buka bajunya, Tiara mau lihat" memaksa Dimas untuk membuka jaket dan kaos yang menutupi tubuh atasnya.


"Mas jangan coba-coba bohong ya sama Tiara. Mas mau Tiara jauhin lagi!" ancam Tiara.


"Iya sayang, ini Mas buka. Sabar kenapa sih." Dimas membuka jaket dan kaos yang ia kenakan.


"Luka kecil kok Yang, kamu nggak usah khawatir. Suamimu kan kuat" canda Dimas.


Tiara menatap punggung dan lengan Dimas yang terluka. Ia tidak berkomentar apapun, tapi matanya tidak bisa berbohong. Matanya terlihat merah dan berkaca-kaca.


"Mas tunggu di kasur, Tiara minta obat dulu" perintah Tiara. Dimas yang ingin menolak mendapatkan pelototan Tiara.


"Pak bisa tolong bawakan kotak P3K kemari" perintah Tiara. Tanpa banyak bertanya pengawal itu langsung melaksanakan perintah Tiara. Karena Bos besar mereka sudah berpesan untuk melayani apapun permintaan Tiara.


"Ini Nona" memberikan kotak P3K pada Tiara.


Tiara menerimanya dan menuju pada Dimas. Meminta Dimas untuk tidur tertelungkup dan mengobati luka Dimas.

__ADS_1


Dimas menolehkan kepalanya ke belakang, memperhatikan wajah istrinya yang memerah menahan tangis. Dimas bisa melihat mata istrinya yang berkaca-kaca.


"Jangan khawatir sayang, nggak sakit kok. Suami kamu kan kuat" hibur Dimas.


"Aww sakit sayang!!" teriak Dimas tiba-tiba, karena kesal Tiara menekan lukanya pada saat mengoleskan obat.


"Katanya nggak sakit! katanya kuat! Masih mau bohong apa lagi!" kesal Tiara meneteskan air matanya.


Dimas bangun dari tidurnya dan memeluk istrinya yang menangis.


"Maaf sayang, aku cuma nggak mau kamu khawatir. Udah jangan nangis terus kasihan dedek bayinya" rayu Dimas melepas pelukannya lalu mengelus perut Tiara.


"Mas, tolong jangan seperti ini. Jaga diri Mas baik-baik Tiara nggak mau kalau sampai mas terluka lagi."


"Iya maaf sayang, mas janji akan lebih hati-hati lagi."


"Mas luka gini pasti gara-gara nyari Tiara sampai sini ya! maaf ya, masku. Tiara nyusahin Mas lagi."


"Udah jangan dibahas lagi yang terpenting, kamu dan anak kita baik-baik aja. Mas akan lakukan apapun agar kalian aman dan bahagia."


"Mas, apa mereka menyakitimu dan apa mereka mau melepaskan kita."


"Jangan khawatir kau aman disini, jangan dipikirkan lagi. Biar Mas yang selesaikan masalah dengan mereka. Mereka janji nggak akan nyakitin kamu ataupun Mas. Jadi jangan dipikirkan, hiduplah seperti biasanya. Mereka hanya membutuhkan bantuan Mas. Setelah semua masalah selesai mereka janji akan melepaskan kita."


"Mas nggak bisa lama-lama disini, mas harus kembali dan menemui pimpinan mereka."


"Nggak, mas nggak boleh pergi" tolak Tiara.


"Sayang, tolong mengertilah. Semakin cepat mas membantu menyelesaikan masalah mereka. Maka akan semakin cepat mereka melepaskan kita."


"Tapi Tiara masih kangen, mas besok aja ya temui mereka. Tiara sama Dede masih mau sama Mas" mengelus perutnya sayang.


"Sayang..." rayu Dimas.


"Nggak, Tiara nggak mau denger." Menjauh dari Dimas dan menuju pintu keluar dimana dua pengawal stand by disana.


"Bilang sama Bosmu, suamiku akan tinggal disini sampai besok pagi. Jadi kalau ada urusan, dibicarakan besok saja. Jangan pernah ganggu atau mengetuk pintu kamarku. Kalian mengerti! hardik Tiara, lalu menutup pintu kamarnya dan menguncinya dari dalam.


"Astaga yang tawanan siapa? yang Bos siapa?" ujar pengawal itu bingung. Ia lalu segera menemui Daniel yang berada di ruang tembak. Melaporkan perkataan Tiara.

__ADS_1


"Gadis kecil itu sudah mulai berani rupanya" tersenyum smirk dan melangkah keluar ruangan.


TBC


__ADS_2