
"Aku akan membawa Tiara bersamaku menemui orang tua wanita yang akan dinikahi Dimas. Biarkan Tiara istirahat disini, besok pagi-pagi sekali aku akan mengajaknya berangkat" Ujar Papa Teo, ayah Dimas.
"Baiklah Paman semua terserah Tiara. Jika ia ingin mengikuti Paman saya akan mendukungnya."
"Sebaiknya kau pergi ke rumah Sakit Mount Nugraha Hospital. Ayahmu dua hari yang lalu jantungnya kumat, Ia dirawat disana saat ini."
"Kenapa tidak ada yang mengabariku jika Ayah sakit" protes Reno.
"Dia takut kamu mengkhawatirkannya. Sebenarnya sakit Ayahmu di karenakan perusahaannya yang ada disini sedang mengalami krisis. Kemungkinan beban pikiran dan juga pekerjaan yang membuat Ayahmu drop. Padahal aku sudah mengatakan padanya untuk meminta bantuanmu. Tapi ia menolaknya, bahkan ia juga tidak mau menerima bantuan dariku. Kau tau bukan bagaimana keras kepalanya Ayahmu."
"Baiklah Paman, saya titip mereka dulu disini. Saya ingin segera ke rumah sakit menengok Ayah."
"Pergilah, jangan khawatir disini banyak kamar kosong. Biar mereka istirahat dulu.
***********
Hari sudah menjelang pagi. Saat ini Tiara, Papa Teo dan Andini sudah berada dalam pesawat. Reno tidak ikut kembali karena harus mengurus perusahaan Ayahnya. Dan Mona mengasuh Rendra disana.
Sebelum pesawat take off Papa Teo menghubungi seseorang. Mengabarkan kebarangkatannya. Turun dari pesawat Papa Teo kembali menghubungi seseorang.
Tiara dan Andini hanya menatap Papa Teo datar. Melihat sejak awal keberangkatan, hingga saat ini Papa Teo selalu di sibukkan dengan handphone miliknya.
"Kita mau kemana Om Teo" Tanya Tiara
"Jangan panggil Om. Kau harus terbiasa memanggilku Papa mulai sekarang, sama seperti Dimas. Tunggu sebentar lagi akan ada orang yang menjemput kita."
Tak lama muncullah seorang pria paruh baya mendekati mereka.
"Dokter Teo" Panggil Tuan Aziz.
"Om seorang Dokter?"
"Panggil Papa, Tiara."
"Ups..., maaf Pa kelupaan."
__ADS_1
"Paman Teo memang seorang Dokter Tiara" Ucap Andini. Dan Tiara hanya menganggukkan kepalanya pertanda mengerti.
"Dokter Teo, Apa kabar lama tak jumpa" sapa Tuan Aziz
"Baik, Jangan panggil Dokter lagi. Saya sudah berhenti menjadi Dokter. Hanya sesekali saja menjadi Dokter relawan, jika ada yang membutuhkan." Lihat dirimu semakin tampan dan hebat di dunia bisnis."
"Semua ini tidak akan mungkin terjadi tanpa bantuanmu 12 tahun yang lalu, terimakasih sahabatku. Wah siapa gadis cantik ini apa putrimu."
"Dia calon menantuku, Namanya Tiara dan sahabatnya Andini."
"Hallo om, saya Tiara" Tiara mencium punggung tangan Tuan Aziz. Tuan Aziz sempat terpaku, ada perasaan hangat di hatinya."
"Andini om" Andini juga mencium punggung tangan Tuan Aziz.
"Calon menantumu sangat Cantik, sahabatnya juga. Ayo kau harus ikut aku sekarang juga. Hari ini adalah pernikahan putiku."
"Ayo, ada hal penting juga yang ingin kubahas denganmu."
Mereka berempat pun memasuki Mobil Tuan Aziz. Papa Teo dan Tuan Aziz duduk di belakang, sementara Tiara memilih duduk di depan bersama Andini. Andini yang menyetir mobil milik Tuan Aziz, sedangkan supir Tuan Aziz pulang menggunakan taksi.
"Sebelumnya, aku minta maaf, jika yang aku katakan ini nanti akan menyakiti perasaanmu. Tapi aku tidak bisa melihat anakku mengorbankan dirinya karena keegoisan seseorang" Ucap Tuan Aziz membuka pembicaraan.
"Apa maksudmu Teo."
"Sebenarnya orang yang akan menikah dengan putrimu adalah putraku."
"Benarkah, wah bukankah ini hal yang bagus. Lalu apa yang harus kau khawatirkan lagi."
"Sebenarnya Putraku menyetujui menikah dengan putrimu karena terpaksa. Farih sudah menolong nyawa Tiara dengan mendonorkan darahnya yang langka. Tapi Farih meminta Dimas menikahi Adiknya sebagai imbalan balas jasa. Padahal Farih sudah mengetahui jika Dimas dan Tiara saling mencintai dan akan segera menikah."
"Aku tidak menyangka putraku bisa melakukan hal tak bermoral seperti itu. Maafkan aku Teo, karena Farih telah menyusahkan kalian. Saya berjanji akan menyelesaikan permasalahan ini."
"Terimakasih banyak. Aku pikir aku akan kesulitan untuk meyakinkanmu. Ternyata kau begitu berbesar hati. Aku berhutang budi padamu kali ini."
"Apa yang kau katakan Teo, kau hanya mempermalukan diriku saja dengan mengatakan itu. Bahkan hutang budiku lebih besar darimu. 12 tahun yang lalu, Kau tidak hanya berhasil menolong istriku tapi juga perusahaanku."
__ADS_1
Tak terasa sampailah mereka di kediaman Tuan Aziz. Papa Teo menatap sedih ruangan yang sudah penuh dengan dekor. Bahkan tamu dari pihak keluarga sudah mulai berdatangan.
Tuan Aziz mengajak Tiara dan Papa Teo ke lantai atas, tepatnya ke kamar Anita. Ia sebelumnya bertanya pada pelayan dimana keberadaan istri dan anaknya. Setelah mengetahui keberadaan mereka ia bergegas menemui mereka. Tapi sebelum itu ia menyuruh pelayan untuk membawa Andini ke kamar tamu di lantai bawah.
Mereka bertiga menaiki anak tangga. Sesampainya di depan kamar Tiara, tanpa mengetuk pintu Tuan Aziz masuk ke dalam kamar Anita. mengejutkan mereka yang berada di dalam.
"Papa..., Dokter Teo. Ada apa ini Pa?" tanya mama Ica penasaran. Sedangkan Anita yang melihat keberadaan Tiara cukup terkejut. Ia takut jika Tiara berkata macam-macam kepada Tuan Aziz. Apalagi saat ini wajah Tuan Aziz terlihat begitu serius.
"Ada hal penting yang ingin kami bicarakan Ma, bisa minta mbak-mbak penata rias ini keluar dulu. Dan tolong panggil Farih dan Bayu kesini sekalian."
"Anita sudah selesai di make up Pa, dan sekarang waktunya berganti baju. Biarkan Anita berganti baju dulu. Dan sebaiknya kita bicara di ruangan yang lain saja Pa."
"Iya Pa, Mama benar. Biarkan Anita bersiap. Dua jam lagi acara akan dimulai."
"Tidak, Kita bicara sekarang disini. Mama panggil Farih dan Bayu kemari."
Melihat suaminya yang begitu kekeh dengan kemauannya. Akhirnya Mama Ica menuruti kemauan suaminya.
Mama Ica mengajak penata rias itu keluar ruangan. Ia lalu membawa Tuan Bayu dan Farih ke ruangan Anita.
Farih cukup terkejut melihat keberadaan Tiara di ruangan itu. Ia memiliki firasat buruk kali ini. Apalagi melihat tatapan benci Ayahnya padanya.
Tuan Aziz memerintahkan Bayu asisten kepercayaannya untuk mengosongkan lantai dua. Dan meminta Bayu untuk berjaga di depan ruangan. Tuan Aziz hanya berpikir, jangan sampai ada orang lain yang mendengar keributan mereka.
Setelah semua orang yang di inginkannya berada di kamar Anita. Tuan Aziz mengunci pintunya.
Plaakk... Plaakk... Plaakk
Tuan Aziz membuka ikat pinggangnya, Dan tiba-tiba memukul punggung Farih sebanyak tiga kali. Farih cukup terkejut dengan perbuatan Papa nya, tapi ia menyadari kesalahannya. Jadi ia tidak menghindar sama sekali. Ia hanya mengepalkan tangannya erat dan menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit akibat sambetan ikan pinggang yang berkali-kali menyentuh punggungnya.
"Hentikan Pa, apa yang kau lakukan" teriak Mama Ica menangis, berusaha menghentikan suaminya.
Semua orang yang berada disana cukup terkejut. Terutama Anita, ia cukup syok melihat Tuan Aziz yang biasanya murah senyum dan penuh kehangatan tiba-tiba berubah menjadi sosok yang berbeda. Sosok yang mengerikan menurut Anita. Bahkan sangking syok nya tubuh Anita bergetar dan merosot ke lantai.
Apa ini mengapa Papa Aziz menjadi menakutkan seperti ini. Bagaimana jika ia mengetahui aku bukan putri kandungnya. Apakah ia akan menebas kepalaku, batin Anita memegangi lehernya.
__ADS_1
TBC.