
Manda menegang seketika melihat kehadiran Dimas.
"Bukan apa-apa kok Dim. Ayo kita pergi memeriksakan kandunganku. Bukankah kau sudah tak sabar ingin mengetahui perkembangan anakmu" Bujuk Manda mencoba pergi dari hadapan Anton.
"Tunggu!!!" teriak Anton tiba-tiba menghentikan langkah kaki Dimas.
"Ada apa lagi?" tanya Dimas merasa aneh. Pasalnya selama ini Anton tidak pernah perduli dengan kehidupan pribadi Dimas. Ia lebih tertarik dengan ambisinya menguasai perusahaan.
"Aku ikut dengan kalian" ucapnya membuat Dimas terkejut.
"Untuk apa ikut denganku. Aku ingin memeriksa kehamilan Manda bukan untuk rapat perusahaan" ejek Dimas.
"Kau tau bukan selama ini aku selalu menginginkan seorang anak. Siapa tau dengan dekat wanita hamil akan membuatku menjadi seorang ayah" ujar Anton asal bicara.
"Kalau kau menginginkan keturunan menikahlah, bukannya ngintilin wanita hamil," ucap Dimas merasa aneh.
"Kali ini saja, kumohon" pinta Anton. Akhirnya Dimas mengijinkan Anton mengikutinya.
Diruang periksa Dokter tampak keheranan melihat dua orang pria yang masuk menemani wanita hamil. Tapi berhubung kedua orang ini adalah keturunan dari keluarga Adi Nugraha jadi dokter tidak berani terlalu banyak bertanya.
"Ini adalah janinnya. Janinnya Pria ya Pak dan tampak sehat. Posisi dan berat bayi pun sudah bagus. Dijaga terus Bu ya pola makan sehatnya, jangan stress dan terlalu banyak pikiran."
Dimas mendengarkan semua penjelasan dokter dengan tenang sementara Anton tampak takjub melihat gambar bayi di monitor. Walaupun ia tak menanyakan apapun pada Dokter tapi keinginan dan harapannya akan bayi itu adalah miliknya sangat besar.
Dengan alasan untuk pengecekan kesehatan bayi di kandungan agar lebih akurat dokter mengambil sampel air ketuban untuk pemeriksaan DNA.
Dokter juga meresepkan berbagai vitamin untuk Ibu hamil dan kesehatan janinnya.
Selesai dengan pemeriksaan Manda diminta Dimas menunggu di ruang tunggu. Ada Bibik yang tadinya menemani Manda menunggunya disana dengan dua gelas minuman yang ia beli atas perintah Manda tadi.
"Kau tunggu sini dulu, aku ingin menebus resep terlebih dahulu" ucap Dimas meninggalkan Manda bersama Bibik dan juga Anton.
"Aku pergi dulu, kau jaga kesehatanmu. Besar harapanku jika ini adalah milikku" ucap Anton berbisik di telinga Manda lalu mengedipkan sebelah matanya. Sementara Manda terlihat tidak nyaman, ada rasa takut jika semua yang telah ia sembunyikan dengan rapat akan terbongkar.
Anton ternyata tidak pergi meninggalkan rumah sakit. Tapi ia menunggu Dimas menebus obat. Ada hal penting yang harus ia bicarakan dengan Dimas.
__ADS_1
"Aku ingin bicara denganmu sebentar" ucap Anton tiba-tiba berdiri di belakang Dimas.
"Kalau kau ada masalah pekerjaan, nanti saja di kantor kita bicarakan."
"Ini bukan masalah pekerjaan, tapi ada hal pribadi yang ingin aku sampaikan kepadamu" ujar Anton terlihat serius.
"Ada apa?"
"Apa kau yakin anak dalam kandungan Manda adalah anakmu?"
"Apa maksudmu bertanya seperti itu?"
"Aku hanya merasa jika anak dalam kandungan Manda sepertinya adalah anakku."
"Aku juga berharap seperti itu. Ia menjebakku hingga aku tak sengaja tidur dengannya tapi entahlah aku merasa tidak melakukannya, tapi aku terbangun dalam kondisi polos bersamanya di kamar hotel."
"Tunggu sebentar, apa kejadiannya pada saat ulang tahun Mitra perusahaan kita dan apa hotel yang kau maksud adalah hotel X."
"Ya, kau tau darimana?" tanya Dimas.
"Kalau benar kejadiannya, pada saat itu kau jangan khawatir itu bukan anakmu karena kau tidak melakukan apa-apa saat itu. Kau tidur nyenyak sekali sampai kau tak tau apa yang terjadi di kamar itu.
Manda membawa Dimas ke dalam kamar hotel, Anton yang kebetulan ada meeting penting di hotel itu tidak sengaja melihat Manda dari kejauhan membopong tubuh Dimas masuk kedalam kamar hotel.
Hotel yang ditempati Manda kebetulan Anton memiliki beberapa persen saham disana. Dengan alasan ingin memergoki pacarnya yang berselingkuh, Anton berhasil mendapatkan kartu aset masuk ke kamar itu.
Manda yang segera melancarkan aksinya, segera melepas seluruh baju Dimas dan juga baju miliknya. Manda menoleh ke arah pintu ketika terdengar langkah Kaki menuju ke ruangannya.
"Kau, Mengapa kau bisa masuk kesini?" tanya Manda terkejut.
Anton terpaku menatap tubuh putih mulus di hadapannya. Ia berjalan terus mendekati Manda. Manda yang tersadar dengan tatapan Anton segera menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Layani aku, jika kau tidak ingin rencanamu ini terekspos keluar. Aku bisa saja berteriak saat ini dan mengatakan pada seluruh penghuni hotel ada seorang wanita disini yang ingin memperkosa seorang pria" Ancam Anton mendekat pada Manda.
Manda yang saat itu ketakutan tidak tahu harus berbuat apa, akhirnya menyerahkan dirinya pada Anton. Mereka melakukannya di sebelah Dimas yang tertidur nyenyak karena pengaruh obat tidur.
__ADS_1
Flashback off
"Syukurlah jika anak itu adalah anakmu. Hari ini aku melakukan tes DNA berikan sampelmu pada Dokter Alex biar ia bisa memeriksa siapa Ayah dari bayinya. Wanita licik itu selalu menjebakku. Wanita sialan aku akan buat perhitungan dengannya" kesal Dimas.
"Tunggu, aku mengatakan kebenaran ini semua padamu bukan untuk melihatmu balas dendam. Dalam kandungannya ada anakku, aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan mereka berdua."
"Wanita itu selalu saja mempermainkanku. Aku memperlakukannya dengan baik hanya karena anak dalam kandungannya tidak lebih. Kau nikahilah dia jika itu memang anakmu dan pastikan ia tidak mengganggu rumah tanggaku lagi. Atau aku tidak segan-segan mengakhiri hidupnya kalau sampai ia melakukannya lagi."
"Terimakasih, kau jangan khawatir aku akan pastikan menjaganya agar tidak mengganggu rumah tanggamu. Tapi kita akhiri masalah ini sampai disini. Kau tahu bukan aku sudah lama menginginkan seorang Anak, aku tidak ingin terjadi sesuatu dengannya.
"Ini resepnya aku sudah menebusnya tolong kau berikan padanya, aku tidak ingin terlibat dengan wanita licik itu lagi. Jaga dia baik-baik karena mulai saat ini ia adalah tanggung jawabmu. Katakan padanya jangan coba-coba mendekatiku atau mencari masalah denganku. Kalau tidak aku tidak aku tidak tau hal buruk apa yang akan aku lakukan padanya nanti."
Dimas meninggalkan tempat itu dengan perasaan kesal dan juga lega. Ia kesal karena begitu mudahnya Manda memperdaya dirinya dengan kehamilannya. Tapi setidaknya ia lega karena ada kemungkinan anak dalam kandungan Manda adalah anak Anton sepupunya.
Dimas segera menuju ke apartemennya. Ia berjanji pada Tiara sebelumnya bahwa ia akan segera kembali menemui Tiara.
"Tiara..., Tiara!!! Sayang kamu dimana?" teriak Dimas mengelilingi apartemennya. Tapi tidak ada jejak keberadaan Tiara.
Dimas menatap selembar kertas diatas meja.
Maaf Mas, Tiara pergi nggak pamit. Tiara nyusul Kak Farih di kampung istrinya. Tiara pingin menenangkan diri Mas. Jangan susul Tiara kalau masalah Mas dengan Manda belum selesai.
"Hah..., gini nih punya istri hobinya ngungsi tiap kali ada masalah" gumam Dimas lesu menatap secarik kertas yang ada di atas meja rias istrinya.
Dimas mengambil handphone miliknya dan segera menghubungi asistennya, untuk menyiapkan pesawat menyusul kepergian istrinya.
Sementara itu Manda yang di bawa paksa oleh Anton mencoba meronta-ronta. Ia tak terima Dimas meninggalkannya begitu saja.
Anton menggendong wanita hamil itu menuju mobilnya, tak memperdulikan pukulan yang terus ia terima akibat ulah Manda.
"Jika kau tak mau diam, jangan salahkan aku melemparmu ke tengah jalan sana" ancam Anton membuat Manda terdiam.
"Baiklah aku akan ikut denganmu, tapi kau harus menjanjikan satu hal denganku" ucap Manda mencoba bernegosiasi.
"Apa itu?"
__ADS_1
"Bantu aku balas dendam, bantu aku menghancurkan Dimas dan Tiara."
TBC.