
"Si-siapa kalian?" tanya bocah kecil itu menatap heran sekelilingnya.
"Rendra apa maksudmu sayang, apa kau tak mengenal kami keluargamu" tanya Oma.
"Ma-maaf aku tidak tau a-apa maksud kalian. Ka-kalian siapa dan i-ini dimana" tanya Rendra bingung.
Mona, Reno, Tiara dan Mama Rina saling pandang bingung. Mona langsung memanggil suster jaga, meminta dokter untuk memeriksa kondisi Rendra.
"Rendra ini Daddy sayang, apa kamu ingat. Dan ini Oma, Kak Tiara dan Kak Mona" Reno menunjuk satu persatu orang yang berada di dalam ruangan. Tapi Rendra tetap saja memandang mereka dengan bingung.
"Kamu ingat namamu sayang" Tanya Tiara.
Rendra menatap Tiara dalam, ia lalu menggelengkan kepalanya.
Tiara menghela nafasnya kasar. Tak lama Dokter memasuki ruangan itu. Reno menceritakan kondisi Rendra yang melupakan keluarga bahkan namanya sendiri. Dokter memeriksa keadaan Rendra.
"Maaf Tuan kami belum menemukan ada yang salah dengan ini semua. Karena menurut saya hasil operasi cukup bagus. Mungkin hilang ingatan pasien terjadi akibat benturan yang keras hingga menimbulkan trauma pada otaknya hingga menyebabkan ia kehilangan memorinya. Dan untuk mengetahui ini bersifat sementara atau permanen. Kami akan melakukan pemeriksaan dan Rontgen kembali. Mudah-mudahan tidak ada yang serius. Dokter kemudian meninggalkan ruangan itu.
Tiara, Reno, Oma dan Mona menceritakan banyak hal pada Rendra mereka ingin Rendra menemukan ingatannya kembali. Tapi tiba-tiba Rendra kembali merasakan sakit yang luar biasa pada kepalanya.
Mereka kembali memanggil dokter untuk memeriksa Rendra, Dokter menyarankan mereka untuk tak membuat otak Rendra lelah dengan berusaha mengingatkannya tentang masa lalunya. Karena itu bisa memicu ketegangan pada syaraf otaknya. untuk sekarang ini dokter melarang Rendra berpikir terlalu keras. Tugas Keluarga mereka saat ini adalah Membuat Otak Rendra merasa rileks.
***************
Tak terasa beberapa hari sudah berlalu. Dan besok adalah ulang tahun Tiara. Tiara saat ini masih terus merawat Rendra. Ia bahkan tak pernah pulang ke apartemen Dimas. Tapi sesekali Andini menghampirinya, membawakan baju ganti untuknya.
KesehatanRendra sudah berangsur membaik. Walaupun ia masih belum mengingat apapun. Sesekali Rendra masih mengeluh sakit kepala mungkin efek dari jatuh dan operasinya. Dan karena operasi di kepalanya kemarin membuat rambut Rendra di cukur habis. Hal itu membuat orang yang melihatnya semakin gemas saja.
Saat ini di ruangan itu hanya ada Tiara, Mona dan Rendra. Sementara Reno harus menghadiri rapat penting setelah beberapa hari absen. Sementara Mama Rina menjemput suaminya di bandara. Karena selama ini Ayah Reno mengurus usahanya yang ada di Singapura. Satu bulan sekali ia mengunjungi cucunya.
"Kak, Rambut Rendra kapan tumbuhnya" protes Rendra, sambil menatap kepala botaknya menggunakan cermin kecil milik Tiara.
"Nanti juga tumbuh sayang, jangan khawatir." ucap Tiara.
"Apa Rendra bosan, kalau bosan kita jalan-jalan ke taman mau."
"Nggak, nanti Kepala Rendra di pegang-pegang orang lagi. Belum lagi pipi Rendra yang di cium-cium, Rendra nggak suka."
Tadi pagi mereka mengajak Rendra ke taman belakang rumah sakit menggunakan kursi roda. Tiba-tiba ada seorang ibu hamil yang ngidam ingin menyentuh kepala botak Rendra.
__ADS_1
Tiara dan Mona yang tak tega menolak permintaan Ibu hamil itupun terpaksa menyetujuinya dengan seizin Rendra. Mereka meminta Ibu hamil itu untuk menyentuh perlahan karena cidera kepala Rendra.
Ibu hamil itupun menyentuh kepala Rendra pelan, ia mengelus bagian kepala yang tak ada perbannya. Tidak hanya sampai disitu saja, ternyata ibu itu yang gemas dengan penampilan Rendra. Tiba-tiba menghujani wajah Rendra dengan ciuman.
Perbuatan Ibu itu sukses membuat Rendra protes dan memberengut kesal. Bahkan Mona sampai menjauhkan Ibu itu dari Rendra. Dan dengan cepat Tiara membawa kabur Rendra dengan kursi rodanya, menjauhkan dari Ibu hamil itu.
Tiara dan Mona yang mengingat kejadian itupun tertawa, sedangkan Rendra masih dengan wajah kesalnya. Ia mengusap-usap pipinya, dan bergidik ngeri membayangkan kejadian tadi pagi yang menimpanya.
**********
Sementara itu di Osaka Jepang, Dimas saat ini berada di salah satu etalase perhiasan.
Ia ingin membeli kalung emas bertahtakan berlian untuk hadiah ulangtahun Tiara. Ini adalah pertama kalinya ia memilih perhiasan sendiri, biasanya ia selalu menyuruh Aryo ketika ingin memberikan hadiah perhiasan untuk kekasihnya.
Tapi saat ini Aryo tidak ada bersamanya, hanya Eric orang terdekatnya di Jepang saat ini. Sekalipun banyak anak buah atau bodyguard di sisinya, tapi ia tak pernah melibatkan mereka dalam hal yang terlalu pribadi. Bahkan ia tidak ingin mempercayakan hal ini pada Eric. Ia tak ingin usahanya gagal lagi karena kecerobohan seorang Erick.
"Tolong keluarkan kalung berlian edisi terbatas."
Pegawai toko itupun mengeluarkan berbagai kalung edisi terbatas. Pilihan Dimas jatuh pada kalung emas putih dengan liontin berbentuk love bertahtakan berlian warna putih jernih berbentuk love.
Dimas mengambi kalung itu dan mengamatinya.
"Wah ini untukku ya" Tiba-tiba Aiko muncul di samping Dimas dan merebut kalung itu dari Dimas.
"Ini bukan untukmu" Dimas mengambil kembali kalung itu dari tangan Aiko.
"Dasar pelit, buat siapa sih?"tanya Aiko penasaran.
"Tolong bungkus ya, dan ini untuk pembayarannya" Dimas mengabaikan Aiko. Ia lalu mengeluarkan kartu kredit tanpa batas untuk alat pembayarannya.
Aiko memberengut kesal. Sekalipun Dimas selalu mengabaikan keberadaan wanita itu, tapi Aiko tetap saja menempel pada Dimas. Ia seperti parasit buat Dimas yang susah sekali untuk disingkirkan. Sejak pertunangan itu Aiko tidak pernah absen mengunjungi Dimas. Bahkan ia bisa-bisa muncul tiba-tiba di hadapan Dimas seperti saat ini. Ia sudah seperti seorang Stalker.
Selesai dengan urusannya Dimas langsung melangkah keluar, Ia mengabaikan Aiko yang terus mengoceh padanya. Tapi ia tak pernah melarang Aiko berada disisinya. Sesuai perjanjiannya dengan Kakeknya. Ia akan membiarkan Aiko disisinya selama 3 bulan.
Dimas masuk ke dalam mobilnya di ikuti oleh Aiko yang duduk di sebelahnya. Dimas mengambil handphone miliknya, ia lalu menelpon Erick.
"Rick, tolong siapkan jet, 3 jam lagi Kita akan segera berangkat, besok ulang tahun Tiara. Aku ingin malam ini juga sudah sampai apartemen."
"Baik, Tuan" jawab Erick dari sebrang sana.
__ADS_1
Dimas lalu menutup teleponnya. Sementara Aiko yang berada di sisi Dimas memberondongi Dimas dengan banyak pertanyaan.
"Kamu ingin kembali ke negaramu? Apa karena wanita itu? Jadi kau membelikan kalung tadi buat ulang tahun wanita itu? Tidak, kau tidak boleh kembali sekarang. Bukankah kau berjanji satu Minggu setelah pertunangan kita baru kau kembali. Aku masih ada proyek yang harus aku selesaikan dua hari lagi. Kau tidak boleh egois seperti ini. Kau bahkan terus mengabaikanku."
"Dengar Aku tidak perduli dengan pikiranmu dan segala urusanmu, lagipula siapa yang akan mengajakmu."
"Tidak, kau tidak boleh pergi meninggalkanku. Bukankah kau sudah berjanji 3 bulan ini akan membiarkanku dekat denganmu. Aku ikut."
"Terserah" Dimas tidak perduli apa yang akan dilakukan Aiko. Yang terpenting saat ini adalah ia sampai di negaranya sebelum menjelang pagi. Urusan Aiko yang terus menempel padanya akan ia urus belakangan.
Dasar wanita sialan gara-gara kau Dimas mengabaikanku, lihat saja begitu aku sampai sana. Aku akan segera menyingkirkanmu, batin Aiko
Dimas melajukan mobilnya menuju ke tempat Kakeknya. Ia ingin mengambil Handphone miliknya dan juga Erick.
Sesampainya di pintu utama ia memberhentikan mobilnya, Ia langsung masuk ke dalam rumah itu. Melihat ketidakberadaan kakeknya Dimas langsung menuju ke ruang kerja. Dimas ingin masuk ke ruang kerja Kakeknya tapi sejumlah bodyguard Kakeknya menghadangnya.
Sementara Aiko, memilih tetap berada di mobil ia menghubungi anak buahnya untuk membelikan obat perangsang. Ia memiliki rencana licik di otaknya. Ia akan memasukkan bubuk perangsang pada minuman Dimas di pesawat nanti. Ia ingin menjadikan Dimas miliknya, sebelum Dimas menjumpai Tiara.
Tidak masalah baginya untuk melakukan kegiatan panasnya di pesawat. Ini akan jadi pengalaman yang fantastis baginya. Ia akan merekam kegiatan panasnya nanti dan menjadikan itu hadiah ulangtahun terbaik untuk Tiara. Akhirnya Aiko memutuskan janjian di bandara dengan anak buahnya. Ia akan menemui anak buahnya diam-diam nanti.
Sementara itu Dimas yang mencoba memasuki ruang kerja Kakeknya. Sedang cekcok mulut dengan dua orang bodyguard yang dipercaya Kakek menjaga ruangan itu.
"Maaf Tuan, anda dilarang memasuki ruangan ini tanpa seijin Kakek Anda" Dua orang bodyguard menghadang Dimas.
"Kalian pikir siapa kalian berani menghalangiku, apa kalian ingin dipecat!!!"
"Maaf Tuan kami hanya menjalankan perintah."
"Brengsek!!!"
Bugh...Bugh...Bugh...
Dimas menghajar mereka membabi buta, Ia benar-benar kehabisan kesabaran. Sedangkan para bodyguard itu tak berani membalasnya. Salah seorang bodyguard senior yang mendengar keributan langsung datang melerai. Ia lalu membiarkan Dimas memasuki ruang kerja Kakeknya.
Di ruang kerja Kakeknya, Dimas mengacak-acak tempat itu. Ia tak perduli dengan kemarahan Kakeknya. Toh dia sudah menyelesaikan urusannya dengan investor. Ia bahkan membiarkan Aiko, tetap berada di sampingnya. Akhirnya Dimas menemukan Handphone miliknya dan Erick di laci ketiga sebuah lemari buku. Dengan cepat ia mengambil handphone itu, lalu meninggalkan tempat itu.
Dimas masuk ke dalam mobilnya, lalu melajukan ke bandara. Di dalam mobil Aiko senyum-senyum tak jelas memikirkan rencananya.
TBC.
__ADS_1