
Biarkan Ia masuk" Ucap pengawal itu kepada Andini. Akhirnya Andini menggeser tubuhnya membiarkan pria itu masuk ke ruangan Tiara.
"Siapa dia?" tanya Andini pada salah satu pengawal.
"Dia...,"
" Sudahlah tidak perlu memberitahukan padanya." Ucapan pengawal itu terhenti karena temannya memotong pembicaraannya.
"Hai apa maksudmu tidak perlu memberitahukan padaku. Kau tau Tuan Dimas mempercayakan Tiara padaku, bagaimana jika terjadi sesuatu padanya. Apa kalian mau bertanggung jawab."
"Hoahh...." Ketiga Pengawal itu menguap mengabaikan Omelan Andini.
"Ayo kita pergi makan." ucap pengawal yang lainnya lagi.
"Hai kalian mau kemana, Bagaimana jika pria di dalam itu menyakiti dan menculiknya. Hai...." Andini berteriak marah-marah tapi tetap saja di abaikan oleh para pengawal itu. Andini menghentakkan kakinya kesal menatap kepergian ketiga pengawal itu.
"Sial, mereka sudah berani bertindak semaunya. Awas saja kalian akan aku adukan pada Tuan Dimas." ucap Andini lirih.
"Apa yang di lakukan orang itu di dalam." Andini menempelkan kupingnya di pintu ruang rawat Tiara yang tertutup."
"Kenapa tidak terdengar apapun sih. Sial aku hanya bisa menunggu orang itu keluar dan menanyakan identitasnya," gumam Andini lirih.
Sementara di dalam ruangan, Pria itu mengamati kondisi Tiara. Ada kerinduan yang mendalam di matanya.
Ia mengulurkan tangannya ingin menyentuh wajah Tiara. Tapi ketika jarak antara tangan dan wajahnya Tiara hanya sisa beberapa inci ia menarik kembali tangannya itu.
Aku harus bisa mengendalikan diriku, Batin pria itu.
"Gadis kecil kau harus sembuh. Aku berjanji akan memberi pelajaran orang yang membuatmu seperti ini."
Mulai saat ini aku berjanji akan menjagamu diam-diam. Sekalipun aku tidak bisa berdampingan denganmu, tapi setidaknya aku akan tetap menjagamu dari kejauhan. Adik kecilku cepatlah bangun. Ada orang yang berjuang untukmu saat ini. Jangan kecewakan dia.
Batin pria itu sedikit miris, karena mulai saat ini ia akan menutup hatinya untuk gadis kecil di depannya. Ia akan menganggap gadis kecil itu sebagai adiknya saja. Karena ia tau siapa yang lebih pantas untuk gadis kecil di depannya.
Cup
Pria itu mencium kening Tiara yang terbalut perban. Setelah itu ia langsung berbalik pergi.
"Aaaaa.... ," Bruuukkk.
Andini terjatuh pada saat Pria itu tiba-tiba membuka pintu. Karena pada saat itu Andini yang masih penasaran mencoba menempelkan telinganya di pintu.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan, dasar wanita aneh," Pria itu kemudian berlalu mengabaikan Andini yang terjatuh. Bahkan ia tidak berniat membantu wanita itu untuk bangun sedikitpun.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu, apa yang kau lakukan disini. Siapa kamu? dan apa hubunganmu dengan temanku." Andini bertanya masih dengan posisi duduk di lantai. Pria itu tidak menjawab pertanyaan Andini. Ia membalikan tubuhnya, menatap Andini heran seolah-olah Andini adalah spesies langka. Ia kemudian pergi begitu saja setelah tersenyum remeh di depan Andini.
"Hai mau kemana kau? Jangan pergi...., jawab dulu pertanyaanku. Dasar pria brengsek!!!!" teriak Andini kesal, merasa di abaikan begitu saja.
Pria itu berjalan keluar Rumah sakit, Sesampainya di mobilnya pria itu mengeluarkan handphone miliknya
"Tolong periksa semua CCTV di tempat kejadian. Dan segera tangkap pelakunya hidup-hidup. Kalian hanya punya waktu 2x24jam. Kalau kalian sampai tidak berhasil menangkap mereka, akan ku ledakkan markas kalian." Ucap pria itu dingin. Ia kemudian memasukkan handphone ke saku celananya lalu menancapkan gas mobilnya.
********
Sementara itu Dimas saat ini sudah berada di rumah Farih. Tuan Bayu membawa Dimas ke ruang kerja Farih.
Tok tok tok
"Masuk."
Dimas memasuki ruang kerja Farih, sementara Pak Bayu berlalu pergi dari tempat itu. Farih yang saat itu masih di sibukkan dengan berkas kerjanya, meninggalkan pekerjaannya di meja kerjanya. Ia berjalan menuju sofa memperkenalkan diri masing-masing lalu duduk saling berhadapan.
"Begini Tuan Fa..."
"Panggil nama saja sepertinya kita seumuran. Saya juga akan memanggilmu dengan nama," ujar Farih.
"Bantuan, Apa ada yang bisa saya bantu?" Farih cukup terkejut dengan ucapan Dimas. Walaupun ia tidak mengenal Dimas secara pribadi. Tapi ia tau dari perkenalan mereka, bahwa Dimas Aditya Nugraha adalah seorang pengusaha muda sekaligus cucu dari pengusaha sukses yang bergerak di banyak bidang.
"Sebenarnya saya ingin anda mendonorkan darah anda untuk calon istri saya. Ia kebetulan memiliki jenis darah yang sama dengan anda. Tolong bantu saya, Ia benar-benar membutuhkan darah anda. Saya akan bayar berapapun yang anda inginkan."
Farih tersenyum miring mendengar ucapan Dimas. Sebenarnya ia tidak keberatan menolong siapapun juga tanpa imbalan sepeserpun. Ucapan Dimas yang mengatakan ingin membayarnya membuatnya kesal. Ia kesal karena pria di hadapannya ini menilai bantuannya dengan uang.
"Apa anda pikir saya membutuhkan uang anda? Apa saya terlihat semiskin itu hingga saya harus menjual darah saya pada Anda."
"Maaf, saya tidak ada maksud apapun. Saya hanya tidak ingin berhutang Budi dengan anda."
"Baiklah jika seperti itu. Saya punya permintaan untuk anda."
"Baiklah Anda katakan saja, selama saya memilikinya saya akan berikan pada anda."
"Saya hanya ingin anda berjanji satu hal pada saya. Apapun permintaan saya anda akan kabulkan tanpa bertanya. Dan tenang saja permintaan saya ini anda memilikinya. Dan yang pasti tidak akan menguras harta anda. Bagaimana?"
"Baiklah saya setuju, tapi saya ingin kita berangkat sekarang juga ke Ibukota. Karena calon istri saya tidak memiliki waktu banyak."
__ADS_1
"Anda setuju tanpa bertanya, apa yang saya inginkan. Saya harap anda tidak menyesal atau berusaha mengingkarinya."
"Tenang saja, jika saya berjanji maka saya tidak akan mengingkarinya."
"Kira-kira berapa kantong darah yang ia butuhkan."
"3 kantong. Dan jika tuan memiliki info teman yang juga memiliki jenis darah yang sama. Tolong ajak dia juga bersama kita."
" Baiklah, saya akan menghubungi sahabat saya sesampainya kita di kota. Kebetulan saya memiliki seorang sahabat yang golongan darahnya langka seperti saya.
Sebenarnya sahabat yang ia memiliki sekarang ini adalah hasil pencarian tuan Aziz. Tuan Aziz yang mengetahui kedua anaknya memiliki golongan darah langka memulai pencariannya. Ia menemukan Satria pemuda yang seusia anaknya.
Pada saat itu Satria putus sekolah selama dua tahun karena ketiadaan biaya. Ia hanya memiliki seorang Ibu yang bekerja sebagai pembantu. Sedangkan ayahnya sudah meninggal dunia. Ia terpaksa sekolah sampai menengah pertama saja. Karena Ibunya juga harus menyekolahkan kedua adiknya.
Satria yang merupakan anak pertama mengalah dan memilih bekerja sebagai kuli bangunan. Kecelakaan kerja membawanya ke rumah sakit milik tuan Aziz. Dan begitu mengetahui Satria memiliki darah langka seperti anaknya. Tuan Aziz merangkulnya, menyekolahkan hingga tamat kuliah dan mempekerjakannya di salah satu perusahaan miliknya. Dan yang terpenting adalah Farih dan Satria yang selalu saling mendukung dalam hal apapun membuat mereka sudah seperti seorang saudara kandung.
"Bisa kita berangkat sekarang juga?" tanya Dimas.
"Tentu, Mari."
Dimas, Farih dan Pak Bayu menuju ke landasan helikopter diantar oleh seorang pengawal. Farih duduk di depan kemudi helikopter, Ia menerbangkan helikopter miliknya sendiri. Di dalam helikopter itu hanya terdapat Pak Bayu, Farih dan Dimas. Di perjalanan Dimas menceritakan tentang Tiara yang kecelakaan, hingga seorang dokter yang memberitahu tentang darah langka Farih.
Setelah turun dari helikopter mereka melanjutkan perjalanan dengan pesawat komersil. Setelah hampir 2 jam akhirnya mereka sampai di kota dimana Tiara dirawat.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam pada saat mereka sampai di rumah sakit. Tapi tidak menjadi masalah, toh ini adalah rumah sakit milik Dimas. Jam berapapun tetap bisa dilakukan prosedur pengambilan darahnya segera.
Sebelum darahnya di ambil Farih meminta di pertemukan dulu dengan pasien yang membutuhkan darahnya. Entah mengapa ada rasa penasaran yang besar di hatinya.
Dimas mengantarkan Farih ke ruangan Tiara yang masih dalam kondisi koma, karena sampai saat ini ia belum juga sadarkan diri.
Dimas mendekati ranjang pasien, diikuti Farih yang berada di belakangnya.
"Aku sangat merindukanmu" Dimas mengecup kening Tiara. Ia lalu membelai wajah gadis mungil itu.
" Bangun sayang, ada yang ingin bertemu denganmu." Dimas mencium pipi Tiara, ia kemudian menggeser tubuhnya. Membiarkan Farih melihat tubuh gadis mungilnya.
Deg..., Farih merasakan rasa sakit di dadanya melihat gadis mungil terbaring tak berdaya dengan banyak perban di tubuhnya, jarum infus di tangannya, selang oksigen di hidungnya. Belum lagi alat monitor jantung. Tak terasa air matanya mengalir begitu saja.
"Ada apa denganku" Farih merasa heran dengan perasaannya saat ini. Ia memegang dadanya yang terasa sesak dan membiarkan air matanya mengalir begitu saja. Ia menatap lekat gadis mungil di depannya. Seolah-olah ada perasaan takut jika ia mengerjapkan matanya sebentar saja, maka gadis itu akan hilang dari hadapannya.
Dimas yang melihat reaksi Farih cukup terkejut. Ada rasa kesal dan cemburu di hatinya, melihat pria lain menangisi calon istrinya.
__ADS_1
Sial apa-apaan pria satu ini. Seandainya Tiara tidak membutuhkan darahmu sudah kutendang jauh-jauh kau dari sini, batin Dimas kesal
TBC.