UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Dimas Cemburu


__ADS_3

Sementara itu Tiara di bawah alam sadarnya mengingat samar-samar kisah masa kecilnya.


"Kakak, aku ingin bermain" Tiara kecil menarik tangan seorang pria yang sedang sibuk mengerjakan tugas sekolahnya.


"Adik, Kakak lagi ada PR adik main sendiri ya."


"Nggak mau, nggak seru. Ayo Kak main sebentar saja." Tiara menarik kakaknya menuntunnya ke taman belakang rumahnya.


"Ya sudah, kita main petak umpet aja. Adik sembunyi ya Kak hitung sampai sepuluh."


"Nggak mau, Adik yang hitung. Kakak yang sembunyi."


"Adik yakin, nanti adik nangis lagi seperti kemarin karena nggak bisa nemuin Kakak."


"Kakak tenang aja kali ini aku pasti nemuin Kakak. Tapi nanti kalau adik nangis Kakak harus muncul ya, janji."


"Iya Kakak Janji."


Tiara kecil pun menutup matanya menghadap ke tembok belakang rumah, menghitung satu sampai sepuluh.


"Sudah belum kak, Kak..." Tiara membuka matanya. Ia mulai mencari Kakaknya, mengelilingi taman belakang. Ia berteriak memanggil-manggil Kakaknya.


"Kak..., Kakak dimana Adik takut."


"Kak, cepat keluar adik beneran takut." Tiara terus menangis memanggil-manggil Kakaknya.


"Kakak, kakak janji bukan kalau Tiara nangis Kakak muncul di depan Tiara. Kakak..."


Sementara itu Farih yang berada di ruang rawat Tiara merasa bingung dengan perasaannya. Ia menatap Tiara lekat. Tak sengaja ia melihat Air mata yang keluar dari sudut mata gadis itu yang masih tertutup.


Tanpa ia sadari ia mendekat ke arah Tiara, ia menghapus air mata yang mengalir disudut mata Tiara.


"Apa yang kau lakukan" Dimas terkejut dengan apa yang dilakukan Farih saat ini. Berani-beraninya ia menyentuh calon istrinya.


"Ia menangis, lihatlah aku sudah menghapus air matanya tadi. Tapi ia menangis lagi" Farih menunjuk sudut mata Tiara yang kembali mengeluarkan air mata. Melihat air mata itu ia kembali merasakan sesak di dadanya.


Perasaan apa ini sebenarnya. Kenapa terasa tidak nyaman sekali, batin Farih.


"Tunggu Sini sebentar, aku akan meminta anak buahku di luar untuk memanggil Dokter" sangking paniknya Dimas melupakan ada bel di ruangan itu yang bisa di gunakan untuk memanggil perawat.


Sementara Dimas berjalan keluar, Farih mendekat ke arah Tiara.


"Hai, ada apa denganmu kenapa kamu menangis, bangunlah" ucap Farih sambil menghapus kembali air mata Tiara.


Farih merasakan ada pergerakan kecil dari Tiara. Ia merasakan kegelisahan di wajah gadis itu. Farih mendekatkan diri pada Tiara, Ia menggenggam tangan Tiara. Farih melihat Tiara yang mengerjapkan matanya mencoba untuk membuka matanya.


"Kakak..." Tiara memanggil nama itu mengeratkan genggaman tangannya yang di genggam Farih. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali menatap heran wajah pria yang di depannya yang juga tampak kebingungan.


Ada perasaan hangat di hati Farih mendengar Tiara tanpa sadar mengucapkan kata kakak. Kehangatan yang mampu menggantikan rasa sesak di dadanya tadi.


"Hai, menjauh dari calon istriku."


Dimas melepaskan genggaman tangan Tiara dan Farih. Ia menatap tajam pada Farih. lalu Ia tiba-tiba tersenyum menatap gadis mungilnya yang sudah sadar.

__ADS_1


"Kau sudah sadar sayang, tunggu sebentar lagi dokter datang memeriksamu." Dimas mengusap lembut wajah Tiara, Ia kembali tersenyum. Sedangkan Farih merasa jengah dengan kelakuan Dimas yang tadi begitu galak padanya. Tiba-tiba menjadi begitu lembut dengan gadis kecil di hadapannya sekarang ini.


Tak lama Dokter yang memeriksa Tiara datang ditemani dokter Leo. Dokter itu memeriksa kondisi Tiara. Sedangkan Dokter Leo melaporkan kondisi Tiara pada saat di tinggal Dimas.


" Kapan datang" tanya Dokter Leo.


"Baru saja, bagaimana kondisinya?"


"Setelah menerima sekantung darah Kondisinya sudah mulai stabil sekarang, tadi ada seorang pemuda yang bernama satria ia kemari mendonorkan darah buat Tiara. Katanya atas suruhan tuan Farih."


"Dimana pria itu Dok." tanya Farih menyela ucapan Dimas dan Dokter Leo.


"Setelah melakukan donor pria itu, langsung pergi begitu saja. Sepertinya ia ada urusan lainnya. Karena terlihat sangat buru-buru."


Farih menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan Dokter Leo.


"Kondisi perkembangannya bagus saat ini, kita akan melakukan transfusi kembali besok pagi. Karena pasien baru saja menerima transfusi. Pasien mungkin akan tertidur kembali selama beberapa jam karena efek obat yang baru saja saya berikan. Tolong pasien jangan ditinggal, beritahukan kepada kami jika ada perubahan yang aneh pada tubuh pasien." jelas Dokter yang memeriksa Tiara.


"Baik Dok" jawab Dimas.


Dokter Leo dan Dokter Wira yang memeriksa Tiara akhirnya mengundurkan diri karena masih ada hal lain yang harus mereka urus. Sedangkan Tiara ia kembali tertidur. Ini baik untuk memulihkan kondisi Tiara.


"Apa kau mengenal calon istriku?"


"Tidak tapi entah mengapa wajah ini terasa Familiar bagiku." Farih kembali menatap Tiara lekat.


"Apa sudah puas kau memandangi wajah calon istriku?"


"Jelas saja, aku adalah calon suaminya."


"Ingat janjimu padaku. Aku ingin sehari setelah Tiara keluar dari rumah sakit kau datang padaku. Aku akan menagih bayaranku."


"Jangan khawatir saya akan menepati janji, ini kartu namaku. Tolong berikan juga kartu namamu" Dimas dan Farih saling bertukar kartu nama.


"Baiklah, saya pergi dulu untuk prosedur donor darah." Farih keluar dari ruangan itu.


Belum Farih keluar dari ruangan itu, tiba-tiba datang seorang perawat menyapa mereka.


"Selamat malam Tuan" Sapa perawat muda itu


"Malam" ucap mereka berdua


"Saya ingin mengantar Tuan Farih untuk prosedur donor darah, Tuan.


Dimas menganggukkan kepalanya.


Farih keluar ruangan itu mengikuti Dokter untuk proses donor darahnya. Sementara Dimas tetap berada di ruangan itu.


*****************


Tak terasa hari hampir menjelang pagi, samar-samar Tiara mendengar suara adzan subuh berkumandang. Ia membuka matanya, menatap pria di sampingnya yang tertidur di kursi dengan kepala di rebahkan di ranjang Tiara. Tiara menatap wajah tampan itu, ia membelai lembut rambut Dimas. Membuat si empunya jadi terbangun.


Dimas mengerjapkan matanya, memperbaiki posisi duduknya.

__ADS_1


"Sudah bangun sayang, Apa ada yang sakit."


"Ti-tidak" jawab Tiara lemah.


"Kau masih sangat lemah, istirahatlah lagi. Tidak perlu banyak bicara. Kau cukup mendengar ucapanku. Kalau ada yang kau inginkan katakan saja perlahan."


Dimas melayani Tiara dengan sabar, ketika Tiara haus dan meminta minum. Atau meminta Dimas menceritakan hal yang lucu karena ia sudah merasa bosan.


Tak lama matahari sudah mulai menampakkan sinarnya. Dua orang suster masuk ke ruangan itu. Mereka ingin membersihkan tubuh Tiara dan juga memeriksa suhu tubuh dan tekanan darah Tiara. Sebelum proses transfusi kembali di lakukan.


Dimas keluar ruangan bertepatan dengan Andini yang baru datang dan ingin memasuki ruangan Tiara. Tapi di hadang Dimas, ia ingin mendengar laporan Andini selama kepergiannya.


"Selamat Pagi Tuan" sapa ketiga pengawal menunduk hormat. Begitu Dimas keluar ruangan itu. Sementara Andini hanya tersenyum menatap Dimas dan para bodyguard bergantian.


"Apa ada yang mengunjungi Tiara selain dari pasukan Reno si duda itu" Tanya Dimas pada Andini. Karena setau Dimas Tiara tidak memiliki sahabat lain selain mereka.


"Ada Tuan. Pria tampan yang aneh. Ia bahkan lama berada di ruangan Non Tiara. Saya tidak tau siapa dia, tapi pengawal Tuan sepertinya mengenalnya."


Dimas menoleh ke arah anak buahnya, seolah mengerti dengan pertanyaan yang ada di benak bosnya mereka pun langsung menjawab serentak.


"Mr. Key, Tuan"


"Oh..., Lain kali kalau dia ingin mengunjungi Tiara biarkan saja, tapi saya ingin salah satu dari kalian ikut masuk menemaninya. Saya tidak mau dia terlalu dekat dengan calon istri saya. Kalian mengerti."


"Baik Tuan"


"Siapa Mr. Key itu Tuan?" tanya Andini penasaran.


"Itu bukan nama sebenarnya, itu hanya julukannya di dunia mafia. Sebaiknya kau jangan macam-macam dengannya. Ia pria berdarah dingin jangan sekali-kali kau menyinggungnya kalau tak ingin kehilangan kepalamu.


Glek, Andini menelan saliva nya. Ia kembali mengingat dimana ia berteriak memaki pria itu. Tanpa ia sadari ia memegang lehernya, bergidik ngeri membayangkan pria itu menebas lehernya.


Dimas menahan tawanya, melihat wajah Andini pucat pasi. Ia tau pasti dari karakter Andini yang suka ceplas-ceplos pasti gadis itu sudah memaki pria yang memiliki julukan Mr. Key itu.


Dimas menjauh dari Andini dan juga anak buahnya, Ia mengambil handphone miliknya memencet nomor yang tertera disana.


"Kau tadi mengunjungi Tiara?" tanya Dimas begitu sambungan teleponnya terhubung.


"Iya Tuan."


"Kau boleh mengunjunginya kapan saja. Tapi tetap jaga batasanmu."


"Baik Tuan."


"Bagaimana kau sudah menemukan pelakunya"


"Saya sudah tau siapa pelakunya tuan, hanya saja belum tertangkap. Sekarang anak buah saya sedang menuju ke tempat pelaku berada."


"Bagus, aku tau kau bisa diandalkan. Kabarkan padaku jika kau sudah menangkap pelakunya."


"Baik Tuan"


TBC.

__ADS_1


__ADS_2