
Di ruang kerja Tiara, Andre dan Tiara sedang membahas proyek baru untuk satu tahun ke depan. Mereka sedang memilah beberapa perusahaan suplier nakal yang mencoba bermain-main dengan mereka.
"Saya akan mencari beberapa perusahaan pengganti untuk mensuplai ke proyek kita, data-data ini bisa jadi pertimbangan kita nanti. Kita tidak akan mengandalkan satu perusahaan saja untuk mensuplai mengingat proyek ini berskala besar. Kita akan menggunakan beberapa suplier yang amanah dan berkualitas. Agar tidak menghambat kelancaran pekerjaan pembangunan nantinya. Saya akan meminta Mona menyiapkan detail kontraknya ketika semua sudah siap, kau bisa menanda tangani nya" jelas Andre pada Tiara.
"Lalu bagaimana dengan proyek pembuatan jalannya, apakah semua warga sudah bersedia pindah dan menerima ganti rugi" tanya Tiara.
"Untuk itu kau jangan khawatir mereka semua setuju menandatangani akte jual beli. Apalagi sebagian dari mereka kita libatkan dalam pekerjakan proyek itu."
"Ini undangan, Pesta ulang tahun kolega bisnis untuk Minggu depan. Luangkanlah waktumu untuk datang ke acara ini. Kau harus muncul agar orang mengenalmu sebagai pimpinan Adi Nugraha Company yang baru. Dan kau juga bisa meluaskan jaringan mitra bisnismu di pertemuan ini. Jadi acara ini cocok untukmu. Dimas dan beberapa kepala bagian juga mendapatkan undangan ini."
"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Tiara.
"Aku juga mendapatkan undangan dan akan hadir, tapi kehadiranku mewakili perusahaanku bukan sebagai asistenmu. Jangan khawatir akau akan mengajak Mona bersamaku agar kau tidak canggung nanti."
"Terimakasih banyak Kak, karena sudah mau membimbing Tiara."
"Kau tidak perlu sungkan, kau sudah Kakak anggap seperti adikku sendiri. Oh Ya Tiara, apa kau tidak ada rencana melanjutkan pendidikanmu."
"Tiara ingin Kak, bahkan sangat ingin"
"Bagus, pendidikan memang sangat penting. Kalau kau mau kau bisa daftar kuliah di kampus tempat Mona. Apalagi mengingat jabatanmu saat ini, kau dituntut untuk berpengetahuan luas. Dan jika kamu masih memiliki waktu luang sebaiknya ambil kursus beberapa bahasa asing. Ini sangat di perlukan nanti saat kau menghadapi investor asing. Jadi kau tak perlu memakai jasa penerjemah lagi untuk berbicara dengan mereka."
Tok tok tok
"Masuk" ucap Tiara.
Dimas masuk sambil membawa beberapa berkas yang harus di tandatangani Tiara. Ia melihat Tiara yang terlihat serius berbicara dengan asistennya Andre.
"Saya rasa penjelasan saya cukup untuk hari ini, saya akan kembali ke ruanganku dulu ya Tiara." ujar Andre.
"Terimakasih Kak" Tiara tersenyum pada Andre dan di balas Andre juga dengan sebuah senyuman. Dimas sebenarnya kesal melihat keakraban Tiara dan Andre, tapi ia harus bersikap profesional karena ini menyangkut pekerjaan."
"Saya duluan Dim" ucap Andre sembari menepuk pundak Dimas.
"Oke, Ndre" jawab Dimas. Dimas duduk di kursi yang sebelumnya di duduki oleh Andre.
"Bagaimana, apa ada kesulitan" tanya Dimas.
"Awalnya memang sedikit sulit, untung Kak Andre mau menjelaskan dengan sabar. Jadi aku sudah mulai terbiasa sekarang."
"Kak, kau memanggilnya Kak."
"Kak Andre adalah Kakak kandung Mona, jadi aku sudah menganggapnya seperti Kakakku sendiri. Lagipula ia mau menjadi asistenku juga karena permintaan Mona. Kalau tidak, mana mungkin orang sibuk sepertinya mau meluangkan waktu untuk mengajariku" jelas Tiara.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka ternyata Mona anak orang kaya. Dan merupakan adik dari seorang pengusaha yang cukup ternama. Bukankah Andre masih single, jadi lebih baik kau jangan terlalu dekat dengannya."
"Mas jangan khawatir, Tiara dekat hanya untuk urusan pekerjaan saja. Lagipula Kak Andre adalah orang yang profesional ia bisa membedakan urusan pribadi dengan pekerjaan, saya cukup salut dengannya."
"Jangan memuji terlalu berlebihan. Ini adalah beberapa berkas yang perlu kau tanda tangani."
"Tumben Mas sendiri yang membawanya, biasanya juga sekretaris Mas yang membawa kesini."
"Jadi maksudmu, Mas nggak boleh ke ruanganmu gitu."
"Ya nggak gitu Mas, Tiara heran aja. Tumben banget Masku ini kesini sendiri. Tiara juga nggak keberatan kok mas sering-sering ke ruangan Tiara, selama kita tetap melaksanakan pekerjaan kita."
"Lima belas menit lagi jam makan siang, aku ingin mengajakmu makan siang di luar. Sekalian kita akan menemui investor baru setelah itu."
"Manda ikut?" tanya Tiara.
"Kenapa kau tanyakan itu"
"Tiara males ikut, kalau Mas ngajak dia. Ngerusak mood Tiara."
"Jangan khawatir, Mas nggak akan ngajak dia, kita pergi berdua aja. Kerja sekalian kita pacaran."
"Idiih, siapa coba yang bilang jangan mencampurkan masalah pribadi dan pekerjaan. Lari kemana tuh prinsip Mas."
"Tapi masih di jam kantor, Mas."
"Iya-iya kamu menang. Mas lagi pingin nyegerin pikiran aja untuk sementara. Kan jarang- jarang kita punya waktu berduaan selain di rumah."
"Bilang aja Mas setress kan sama kelakuan Manda. Tiara aja yang ngeliat eneg. Makannya pindahin aja tuh parasit ke habitatnya.
"Sok tau kamu, siapa bilang?"
"Erick sudah cerita semua kali Mas. Semua pegawai yang satu ruangan sama dia aja udah pada kesel semua. Dia kerjanya cuma merintah sana-sini sama teplak-teplok bedak, lipstikkan, ngerapiin riasan. Kalau orang model gitu sih nggak cocok Mas di jadiin pegawai, cocoknya dijadikan simpanan" kesal Tiara.
"Huss, kamu ini."
"Maaf, kelepasan. Lagian juga tugas yang mas kasih ke dia, semua Erick yang mengerjakan karena dia lebih tertarik ngurusin penampilannya daripada pekerjaannya" protes Tiara.
"Rencananya, habis akhir bulan ini Mas mau pindahkan dia ke kantor cabang. Biar Pak Didi yang mengurus kepindahannya nanti."
"Sip, Tiara dukung."
"Jadi ngambeknya udahan nih" tanya Dimas.
__ADS_1
"Siapa yang ngambek, Tiara nggak ngambek kok. Tiara cuma kesel aja."
"Iya-iya nggak ngambek, cuma kesel aja. Sangking kesalnya suaminya sehari semalam di cuekin."
"Tiara nggak gitu ya, buktinya Mas minta jatah Tiara kasih." Tiara yang merasa pembicaraan mulai kemana-mana pun refleks menutup mulutnya. Dimas tertawa melihat tingkah konyol istrinya.
"Iya kecuali yang satu itu, soalnya kamu demen kan" ejek Dimas.
"Yee, Mas juga suka kan. Udah ah, Tiara jadi ngomongin yang aneh-aneh kan."
"Ya sudah, kamu rapikan berkasmu. Kita makan siang sekarang."
"Tunggu sebentar ya Mas, Tiara hubungi Mona dulu. Soalnya tadi Mona mau ngajak Tiara makan siang."
Tiara dan Dimas saat ini berada didalam mobil, tidak ada lagi ketegangan diantara mereka. Sekalipun Dimas adalah pribadi yang keras kepala, tapi ia tidak akan tahan jika berlama-lama tidak bertegur sapa dengan istrinya. Beruntung Tiara bukanlah pribadi yang suka membalas dendam.
"Mas, Minggu besok kita ke rumah Papaku ya, Tiara kangen. Apalagi tadi Mama telpon Kak Farih juga bakalan pulang ke rumah Sabtu besok."
"Iya, terserah kamu saja, kalau kamu mau kita bisa nginep sekalian disana nanti."
"Beneran Mas, Tiara boleh nginep."
"Ya bolehlah, tapi ingat tidurnya sama Mas. Jangan tidur di kamar orang tuamu, tega banget punya suami di anggurin."
"Kan Tiara kangen Mas, apalagi Tiara sudah lama nggak pernah rasain gimana rasanya tidur sama mereka."
"Iya mas ngerti, tapi cukup sekali itu aja. Mas nggak mau tidur sendirian lagi disana."
"Yah, padahal Tiara rencananya mau tidur sama Mama."
"Ayo turun, sudah sampai" perintah Dimas.
Dimas dan Tiara memasuki Restoran Jepang dengan menggandeng tangan Tiara. Tiba-tiba penglihatan Dimas fokus ke sosok seorang gadis yang sedang di temani oleh dua orang pria.
"Aiko, mau apa dia disini?" gumam Dimas.
"Sayang, makannya kita pindah tempat lain ya. Mas lagi nggak pingin masakan Jepang."
"Ya, Terserah Mas aja."
Dengan cepat Dimas meninggalkan tempat itu sebelum Aiko dan Ayahnya melihat keberadaan mereka. Dimas tidak ingin lagi berurusan dengan wanita gila itu.
TBC.
__ADS_1