
Mike terdiam cukup lama mendengarkan penjelasan pengawal itu, hingga akhirnya panggilan pengawal itu kembali menyadarkannya.
"Tuan! tolong anda putuskan saya harus bagaimana ?" tanyanya bingung, karena semakin dikerasi Dewi semakin memberontak Dan didiamkan pun tak ada perubahannya sama sekali, Dewi benar-benar membuat orang disekitarnya bingung.
Setelah memikirkan matang-matang akhirnya Mike memutuskan untuk melakukan persiapan sebelum kedatangan Dewi.
"Katakan padanya, untuk kemari dua Minggu lagi" ucap Mike, ia ingin mempersiapkan sebuah rumah dulu untuk mereka tinggali. Ia merasa tidak enak jika harus membawa Dewi tinggal di rumah Kakek.
"Tapi Tuan, Non Dewi mengancam jika ia tak boleh menyusul Tuan besok, maka ia kan membuat ulah. Ini sudah ke lima kalinya saya dipanggil oleh kepala sekolah karena non Dewi terus membuat ulah" ucap pengawal itu
Pengawal Dewi yang di percaya Mike untuk menjadi wali Dewi merasa pusing harus menghadapi pemberontakan Dewi. Bukan hanya ia mendapat teguran dari kepala sekolah, ia juga dapat cacian dari emak-emak yang anaknya dilukai oleh Dewi.
"Katakan padanya untuk bersabar sebentar dan tidak membuat ulah di sekolah. Kalau Tidak aku akan mengirimnya ke asrama sekolah" ancam Mike, ia merasakan kepalanya pusing tiap kali mendapatkan laporan kenakalan Dewi.
"Kalau ia tak terima pengaturan ku, suruh ia untuk menghubungiku" Mike memilih untuk mengakhiri panggilan telponnya.
Awalnya Dewi bukanlah anak yang nakal tapi semenjak kematian Roy dan semenjak Muke membawa Nara ke kehidupannya sisi jelek Dewi muncul. Ia selalu mencari gara-gara agar Mike mau memperhatikannya. Ia seolah tidak rela jika Nara berada diantara mereka.
"Ada apa Kak?" tanya Nara lagi melihat perubahan di wajah Mike.
"Dewi kemungkinan akan menyusul kemari, paling lambat 2 Minggu ini. Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Mike sedikit bingung antara memikirkan perasaan Nara dan juga tanggung jawabnya terhadap Dewi.
"Nara nggak apa Kak, Dewi kan memang tanggung jawab Kakak. Nara nggak mungkin menyuruh Kakak mengabaikannya, kasihan Dewi karena hanya Kakak orang yang dia punya sekarang" Nara memberikan senyuman pada Mike, sekalipun itu terlihat canggung.
walaupun raut wajah Nara berubah tidak senang karena mendengar berita kedatangan Dewi, tapi tetap saja ia tidak boleh egois. Mungkin saja kenakalan Dewi muncul karena hatinya yang merasa terluka dan terabaikan.
__ADS_1
"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan sebelum kedatangan Dewi ke kota ini. Maaf kalau selama ini aku belum pernah mengajakmu keluar untuk bersenang-senang. Maklum saja pekerjaanku menumpuk, hingga aku mengabaikanmu" ucap Mike mengacak rambut Nara.
"Nara nggak apa kok Kak, Nara lebih suka dirumah sama Kakek sama Kak Tiara mereka orangnya ramah, baik dan seru aja ngobrol bareng mereka" Wajah Nara berubah ceria mengingat Kakek dan Tiara yang perduli padanya.
" Siapkan dirimu besok malam, aku akan mengajakmu ke tempat yang lebih seru di bandingkan sekedar diam dan ngobrol dirumah" ucap Mike.
Akhirnya kedua orang berbeda usia dan jenis kelamin itu tertawa bersama.
"Asyik banget ya kalian berdua, ngobrol sampai nggak sadar aku manggil -manggil kalian" Dimas menyenderkan tubuhnya di depan pintu ia melipat kedua tangannya.
"Maaf Kak nggak denger" Mike menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Mike kamu tolong ambilkan baju gantiku dan Tiara. Aku letakkan di jok belakang mobil, di dalam tas hitam. Setelah itu kalian berdua pulanglah istirahat, ini sudah malam. Aku akan menginap disini menemani Tiara" Dimas melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Tidak perlu, Erick sebentar lagi datang membawakan itu semua. Pergilah sekarang juga, kasihan Nara besok pagi bukannya ia harus mulai home schooling." ucap Dimas memotong pembicaraan Mike.
Akhirnya Nara dan Mike pulang kerumah setelah mengambil tas yang berisi baju ganti untuk Dimas dan Tiara.
Di tengah perjalanan Mike mengajak Nara mampir ke restoran untuk mengisi perut mereka yang kosong.
Pilihan Mike jatuh pada restoran Jepang, ia berpikir mungkin saja Nara kangen dengan masakan khas Negara kelahirannya.
"Ayo" Mike memberanikan diri untuk menggandeng tangan Nara, sekalipun Nara terkejut awalnya, tapi ia sama sekali tak menolak. Senyum kebahagiaan terpancar dari wajah keduanya.
Mike dan Nara telah sampai di kediaman Kakek, kondisi rumah itu terasa sepi tanpa hadirnya Dimas dan Tiara. Biasanya malam-malam begini mereka di hebohkan dengan suara teriakan Tiara dan juga Nara karena menonton film horor. Kedua wanita yang aneh menurut Mike dan Dimas. Mereka takut dengan hantu tapi masih saja suka menonton film hantu.
__ADS_1
Mike mengantar Nara sampai dikamarnya, masih ada hal yang terlupakan yang ingin Mike sampaikan.
Mike menyuruh Nara duduk di pinggiran sofa tempat tidur, Ia meraih tangan Nara dan menatapnya.
"Aku tahu jika Dewi memang tak menyukaimu, tapi tolong bersabarlah menghadapinya. Sebenarnya ia bukan gadis yang nakal, aku berharap kesabaranmu dan kebaikanmu dapat merubah sifatnya menjadi baik. Apa kau mau mengabulkan peemintaanku?" tanya Mike menatap Nara.
Nara terlihat gugup di pandang Mike seperti itu bahkan jarak wajahnya dan Mike yang begitu dekat membuat jantungnya berdetak semakin cepat. Nara memalingkan wajahnya yang merona merah.
"Nara kau mendengarkan ku kan?" tanya Mike meraih wajah Nara untuk kembali menatapnya.
Mike menatap Nara semakin dekat, penglihatannya tiba-tiba turun ke bibir ranum milik Nara. Tanpa sadar ia ******* bibir itu, Nara terkejut dan memelototkan matanya.
Mike menahan tengkuk belakang Nara dan terus menikmati bibir ranum itu. Ia menggigit bibir Nara pelan agar Nara mau membuka mulutnya. Menjelajah ke dalam mengabsen gigi Nara satu persatu, Ciuman Mike semakin ganas. Nara terdiam tanpa melakukan penolakan, jantungnya pun semakin berdetak kencang, hingga akhirnya Ia tersadar dan berusaha melawan. Mike yang terhipnotis oleh bibir Nara seolah lupa bahwa status mereka yang masih bukan siapa-siapa.
"Kak" Akhirnya Nara berhasil melepaskan diri dari ciuman Mike, dengan mendorong dada Mike. Nara mengambil nafas dalam-dalam. Ia sedikit terengah-engah karena ciuman Mike yang begitu liar, ini pasti bukan pertama kalinya Mike berciuman.
"Nara, aku..." Mike yang tersadar jadi bingung ingin berkata apa.
"Sebaiknya Kakak kembali ke kamar Kakak, Nara lelah dan ingin beristirahat" Nara memotong pembicaraan Mike. Ia belum siap dengan kejujuran Mike tentang perasaannya, karena Nara sendiri bingung mengartikan perasaannya sendiri.
Mike yang merasa aura di sekitarnya berubah menjadi canggung akhirnya memilih untuk keluar dari kamar itu. Ia melangkah keluar dengan ragu dan sesekali menoleh menatap Nara yang mengalihkan wajahnya.
Nara bukannya tak suka, tapi bisa dikatakan ia sangat Malu. Bisa-bisanya ia membiarkan Mike untuk menciumnya, padahal diantara mereka belum ada komitmen yang jelas.
TBC.
__ADS_1