UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Perang Dingin


__ADS_3

"Kenapa Kakak cantik baru datang kemari, Rendra sangat merindukan Kakak."


"Maaf sayang, Kakak tidak sempat kemari karena banyak hal yang harus Kakak kerjakan."


"Apa om jelek ini yang membuat Kakak sibuk hingga melupakanku" Rendra menunjuk Dimas dengan wajah memberengut kesal.


"Hai-hai, kau memanggil istriku dengan sebutan Kakak cantik dan aku kau panggil Om jelek. Apa maksudmu bocah kecil" protes Dimas sambil berkacak pinggang menatap Rendra tajam.


"Kak, dia memanggilmu istriku. Apakah kau sudah menikah dengannya? Kenapa kau tidak menungguku besar Kak? Aku pasti akan menikahimu kalau kau mau menungguku" ujar Rendra dengan wajah memelas.


"Rendra sayang ka..." Belum juga Tiara berkata apa-apa tiba-tiba Dimas memotong pembicaraannya.


"Kenapa istriku harus menunggu bocah ingusan sepertimu. Bahkan makan saja kau masih di suapin" ejek Dimas kepada Rendra.


"Mas kamu ini sama anak kecil masih juga suka berdebat. Jangan dengerin omongan om jelek itu ya sayang."


"Kau.."


"Sebaiknya kau jangan berdebat dengannya, ingat tujuanmu. Dia akan mempersulit mu jika kau bertingkah seperti itu" Reno memotong ucapan Dimas. Ia menyenggol tubuh Dimas dan memperingatkannya.


"Gawat, aku lupa kalau bocah kecil ini pemilik 5% saham" ucap Dimas lirih tapi masih terdengar Rendra.


"Uncle Steve!!" teriak Rendra. lalu tak lama terlihat seorang pelayan pria menghampiri mereka.


"Hari ini aku kedatangan tamu spesial, aku akan membawanya ke ruanganku. Jangan biarkan satu orangpun masuk ke kamarku tanpa ijinku. Termasuk kedua orang dewasa ini." Rendra menunjuk Reno dan Dimas dengan wajah permusuhan. Sedangkan Dimas melongo tak mengerti. Ia merasa seperti orang asing.


"Baik, Tuan Muda."


"Suruh Bibik membawa makanan dan minuman ke kamarku" pinta Rendra.


Pelayan itupun segera melaksanakan perintah Rendra. Sementara Rendra menggandeng Tiara untuk menuju ke kamarnya di lantai atas.


"Sebentar sayang, kenapa kita tidak ngobrol disini saja sama Daddy nya Rendra dan juga suami Kakak," Tiara mencoba membujuk Rendra.


"Nggak perlu Kak, mereka itu hanya dua orang dewasa yang egois. Kakak jangan deket-deket mereka. Entar ketularan egois seperti mereka lagi" ucap Rendra.


"Mona ada dimana dia? Kakak merindukannya dan sedari tadi Kakak tidak melihat keberadaannya" tanya Tiara bingung.


"Kak Mona dia..., Ayo Kak ikut Rendra. Rendra akan ceritakan semuanya sama Kakak" dengan segera Rendra mengajak Tiara ke lantai atas. Dimas yang masih bingung mencoba untuk memanggil Tiara. Baru saja ia ingin mengeluarkan suaranya. Tiba-tiba Rendra menoleh ke belakang menatap mereka berdua dengan tatapan permusuhan, membuat Dimas kembali menutup mulutnya

__ADS_1


"Astaga Reno, apa benar itu putramu.


"Sebaiknya kau diam dan jangan membuatnya kesal, kalau ingin mendapatkan dukungan saham darinya.


Tiara bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Ia bisa mengerti jika Rendra memusuhi Dimas tapi mengapa sepertinya Rendra juga memusuhi Daddy nya. Apa yang sebenarnya terjadi?" pikir Tiara.


"Ada apa dengan putramu? Kenapa sepertinya ia tidak hanya memusuhiku tapi juga memusuhimu" tanya Dimas.


"Aku membuat kesalahan besar dan dia sedang menghukumku sekarang."


"Kesalahan? memangnya apa yang kau lakukan?"


"Aku mengusir Mona."


"What? Lo gila ya Ren. Ngusir anak orang di negeri asing."


"Gue emosi Dim. Jadi gue asal ngomong aja eh nggak taunya dia pergi beneran."


"Memangnya apa yang dia lakuin Ren, sampai Lo bisa seemosi itu."


"Tau ah Dim, gue pusing. Sudah seminggu lebih gue nyariin dia dan juga nyuruh beberapa anak buah buat nyari keberadaannya. Tapi belum ketemu juga sampai sekarang."


"Cek cek cek, Lo sadis juga ya Ren. Bisa-bisanya ngusir perempuan begitu aja. Udah gitu di negeri asing lagi. Pantas saja kalau putramu memusuhimu."


"Lo masih waraskan Ren. Ngobrol sama tetangga dan bercanda kan hal yang biasa. Salahnya dimana?"


"Hampir tiap gue pulang kerja Dim, gue lihat dia itu selalu sok akrab sama tetangga sebelah. Kalau nggak dia yang kesana tuh tetangga yang kesini kan nyebelin Dim. Coba kalau Tiara deket-deket sama tetangga Lo, terus cowok lagi. Lo pasti marahkan Dim."


"Lo sakit ya Ren?" Dimas memegang kening Reno.


"Apaan sih Lo Dim" Reno menepis tangan Dimas yang ada di keningnya.


"Denger ya Reno, kalau gue marah Tiara deket-deket pria lain itu wajar, karena gue suaminya. Nah Lo marah-marah sampai ngusir Mona. Emang Lo siapanya Mona. Pacar bukan suami bukan, Lo sadar nggak sih sama yang Lo lakuin."


Reno terdiam mendengar ucapan Dimas. Memang benar ia tidak memiliki hak untuk memarahi Mona. Tapi melihat Mona dekat dengan cowok tetangga sebelah membuatnya benar-benar kesal. Apalagi pria itu lebih muda dan tak kalah tampan darinya.


"Kalau cemburu bilang Reno, nggak usah sok-sokan marah-marah nggak jelas. Entar di salip orang tau rasa Lo."


"Siapa yang cemburu, sok tau banget Lo."

__ADS_1


"Iiih dikasih tau ngeyel. Susah ya ngomong sama Lo. Pantes aja kalau Mona ninggalin Lo. Siapa coba yang betah sama mulut bon cabe kayak Lo. Udah ah gue males bahas cinta kekanakan Lo. Sekarang bantuin Gue gimana caranya biar anak Lo mau dukung gue dengan saham 5% nya itu."


"Gue nggak bisa bantu Lo, dia lagi marah Ama gue. Gimana caranya mau ngomong liat muka gue aja dia enek."


"Bener, liat muka Lo emang bikin nek" ucap Dimas membenarkan. Sementara Reno semakin menatap kesal Dimas.


Tiba-tiba Tiara turun dengan tergesa-gesa dengan wajah marah. Ia memukuli Reno dengan bantal guling yang ia bawa dari kamar Rendra.


"Aaaww aaaww sakit Tiara. Aaaww ampun Tiara."


"Dasar Bos gila. Kenapa kamu ngusir sahabatku memang salahnya apa?" tanya Tiara sambil terus memukul Reno.


"Bukan gitu Tiara. Aku benar-benar nggak bermaksud ngusir Mona. Aku hanya emosi dan keceplosan Tiara" jelas Reno sambil berusaha menghindar dari pukulan Tiara.


"Daddy bohong Kak. Saya dengar Daddy bentak-bentak Kak Mona Sampai Kak Mona nangis. Terus Daddy bilang gini Kalau Lo suka kecentilan sama tetangga sebelah tinggal aja disana. Angkat kaki dari sini dasar wanita murahan. Kak Mona sampai nangis-nangis terus Kak Mona sudah coba jelasin sama Daddy kalau dia bukan wanita seperti itu. Tapi Daddy ninggalin Kak Mona gitu aja."


Penjelasan dari Rendra makin membuat Tiara naik darah. Ia kembali memukuli Reno bahkan kali ini ia memukuli Reno sambil menangis. Dimas yang melihat istrinya kalap sambil terus memukuli Reno dan menangis mencoba menenangkan.


"Aaaww ampun Tiara, Aaw aaaww..." Tiara terus memukuli Reno dengan emosi.


"Iya kak pukul aja terus Daddy. Tega-teganya ngusir Kak Mona" Rendra terus mengompori Tiara.


"Sudah sayang sudah, ini pasti hanya salah paham saja" Dimas memeluk Tiara dari belakang. Ia mengangkat Tiara menjauh dari Reno. Ia mencoba menenangkan amarah istrinya yang memuncak.


Tiara memberontak dari pelukan Dimas ia mencoba melepaskan tangan suaminya yang melingkar di perutnya. Dengan kesal Tiara mencubit keras pergelangan tangan suaminya hingga Dimas melepaskan pelukannya.


"Aaaww sakit sayang. Kejem banget sih istri mas ini." protes Dimas.


"Belain aja terus sahabat gila Mas itu. Selama di Singapura Tiara mau nginep disini dan tidur di kamar Rendra. Tiara nggak peduli mas mau tidur dimana. Kalau perlu mas tidur aja sama sahabat Mas, yang Mas belain itu. Ayo Rendra kita naik ke atas" Ucap Tiara mengabaikan Suaminya yang terkejut mendengar ucapan istrinya itu.


"Yang kok gitu sih, salah mas apa? Yang tunggu" Dimas mencoba mengejar Tiara.


"Uncle Steve, jangan biarkan dua orang ini naik ke atas" perintah Rendra, pelayan itu lalu menghalangi langkah Dimas.


Uncle Steve bukanlah pelayan biasa ia mengabdi pada orangtua Reno dari ia remaja. Sebelumnya ia adalah seorang Bodyguard yang sangat hebat. Tapi karena usianya yang sudah semakin tua jadi ayah Reno mengangkatnya menjadi kepala pelayan. Dan pekerjaannya hanya untuk menjaga dan melayani Rendra. Jadi ia hanya mendengarkan perintah Rendra saja membuat Reno tak bisa berkutik mendekati anaknya.


Dimas yang tidak bisa mengalahkan tenaga uncle Steve akhirnya kembali duduk di sofa bersebelahan dengan Reno.


"Apes bener gue punya temen kayak Lo. Kenapa coba Lo nggak bilang kalau lagi perang dingin Ama anak Lo. Kapok Gue berteman sama Lo."

__ADS_1


Dimas menatap Reno kesal sementara Reno membuang mukanya mengabaikan omongan Dimas.


TBC


__ADS_2