
Kenapa tidak kau lamar langsung saja Ren, lagi pula anakmu terlihat menyukainya." Mama Rina melihat Reno yang sedang bercanda dengan anaknya.
"Kakak cantik nggak bakalan mau oma, Daddy sudah tua. Ha ha ha ..., ampun Daddy. Ha ha ha...., ampuuunn..." Reno terus mengelitiki perut Rendra. Sementara Oma Rina hanya tersenyum memperhatikan tingkah ayah dan anak itu.
"Ayo apa katamu tadi hah..." Reno terus mengelitiki Rendra.
"Ha ha ha..., ampun Daddy, Ha ha ha..., jangan kelitiki lagi nanti Rendra ngompol.
*************
Hari ini Dimas mendapat telpon dari Kakeknya, ia di minta datang kembali ke Jepang untuk menghadiri peresmian Rumah Sakit yang baru saja selesai di buat.
"Apa tidak bisa diwakilkan saja Kek, Saya benar-benar sibuk " ujar Dimas.
"Jangan banyak alasan, apa kau pikir Kakekmu ini tidak tau apa yang kau lakukan selama ini? Sebaiknya besok pagi kau cepat berangkat ke Jepang. Kakek sudah menyiapkan jet untukmu. Kalau sampai kau tidak pergi, lihat saja apa yang bisa Kakekmu ini lakukan. Jadi jangan paksa Kakekmu ini menyingkirkan kucing kecilmu yang membuatmu jadi pemalas."
"Saya akan berangkat besok, tapi ingat Kakek tidak boleh menyentuhnya."
"Good son, selama kamu menuruti kata-kata Kakek. Kakek tidak akan menyentuhnya dan ing...."
Dimas terlihat kesal setelah menerima telpon dari Kakeknya. Ia memutuskan sambungan teleponnya begitu saja. ia kemudian menelpon Eric untuk memberitahu keberangkatannya. Ia meminta Eric menyiapkan semua berkas yang di perlukan di negeri sakura tersebut. Dimas kali ini juga mengajak Eric kesana.
Setelah urusannya dengan Eric selesai Dimas menghampiri Tiara. Saat ini Tiara sedang berada di dapur. Ia memasak makan malam untuk mereka berdua. Karena Tiara merasa kangen dengan menu rumahan. Tiara memasak sayur lodeh nangka muda, ayam goreng, tempe goreng, Ikan asin dan sambal terasi.
grep, Dimas memeluk Tiara dari belakang. ia menaruh kepalanya di bahu Tiara.
"Masku apa yang kau lakukan? lepaskan pelukanmu nanti masakanku gosong.
"Bau apa ini, kau masak apa" Dimas menghiraukan ucapan Tiara.
"Ini ikan asin, tadi pagi aku minta Bibi untuk membelikannya. Aku rindu makanan ini."
"Apa itu bisa dimakan?" Dimas mengernyitkan keningnya menatap ikan asin yang saat ini berada di penggorengan.
"Tentu saja bisa, ini salah satu menu kesukaanku. Kau harus mencicipinya. Sekarang tunggulah di meja makan. Semua sudah siap, aku tinggal menggoreng sambal terasi saja. Masku tunggu di meja makan dulu ya" ucap Tiara lembut, merayu Dimas agar tidak mengganggunya masak.
"Tidak aku ingin disini menunggumu sampai selesai memasak" Dimas masih dalam posisi memeluk Tiara dari belakang.
"Aku ingin menggoreng sambal, pasti baunya tidak akan nyaman untuk hidungmu itu."
"Tidak masalah buatku, lanjutkan saja memasakmu. Anggap saja aku tidak ada." Dimas tidak mau melepaskan pelukannya dari Tiara. ia mengikuti langkah Tiara yang mengambil bahan sambal terasi yang ingin di gorengnya. Tiara memasukkan bahan ke wajan penggorengan yang sudah di panaskan.
"Hatchin ha hatchin..., bau apa ini Tiara. Ha hatchin ha hatchin..." Dimas melepaskan pelukannya, ia menjauh dari Tiara. Ia tidak menyukai bau sambal yang di goreng.
__ADS_1
"Ha ha ha..., bukankah sudah kukatakan kau tidak akan menyukai baunya. Sudahlah tunggu di meja makan sana 5 menit lagi aku akan menyusulmu.
"Selesai dengan masakkannya, Tiara segera menghidangkan makanan yang ia masak tadi. Ia mengambilkan nasi dan semua lauk yang ia masak untuk Dimas.
"Makanlah, kau pasti belum pernah makan menu ini kan."
"Ini terlalu banyak Tiara, kau harus membantuku memakan ini semua" Dimas menyingkirkan piring Tiara sebelum Tiara mengisinya dengan lauk. Ia menggeser kursi Tiara mendekat padanya, dan meletakkan piringnya di tengah-tengah mereka. Ia meminta Tiara makan sepiring dengannya.
"Apa ini benar-benar enak" Dimas menunjuk ikan asin dan sambal buatan Tiara.
"Coba saja, kau tidak akan tau kalau tidak mencobanya."
"Ini terlalu asin Tiara, dan ini terlalu pedas aku tidak menyukainya." Dimas sedari dulu tidak menyukai pedas berbanding terbalik dengan Tiara. Tiara tidak akan bisa makan jika tidak ada sambal. Ia sangat menyukai makanan pedas.
"Kalau begitu kau makan sayur ini saja, ayam goreng dan Tempe. Bagaimana enak?."
"Enak, lumayan, lidahku bisa menerima ini. Lain kali jika memasak untukku, kau harus ingat aku tidak menyukai makanan asin dan pedas"
"Oke Masku"
Dimas dan Tiara menikmati makan malamnya dengan tenang. Selesai makan malam Dimas mengajak Tiara ke ruang tengah. Ia menyetel kartun kesukaan Tiara. Sembari menunggu Tiara membereskan mejanya dan mencuci peralatan makannya.
Selesai dengan pekerjaannya, Dimas meminta Tiara untuk duduk disebelahnya.
"Hem" Pandangan Tiara masih pada acara kartun di tv.
"Besok pagi aku akan pergi ke Jepang. Untuk Urusan pekerjaan, aku akan ada disana kurang lebih satu Minggu. Aku harap kau tetap menungguku di apartemen. Jangan pergi kemanapun tanpa persetujuanku. Aku akan meminta adik dari sahabatku untuk tinggal disini menemanimu. Jika kau bosan kau bisa keluar dengannya." ucap Dimas panjang lebar kepada Tiara.
"Selama seminggu kau pergi bolehkah aku ke rumah Rendra, aku merindukannya." Tanya Tiara penuh harap dengan puppy eyes nya. Dimas yang melihat reaksi Tiara yang begitu menggemaskan menahan senyumnya.
"Kau boleh kesana satu hari saja tapi hanya untuk bertemu Rendra dan jangan lupa kasih tau mereka kalau kau resign. Jangan deket-deket sama duda itu. Kau harus menjaga jarak dengannya."
"Tapi bagaimana aku meyakinkan Rendra kalau cuma satu hari saja. Lagipula kau berada disana seminggu. Bagaimana kalau biarkan aku bekerja di sana 5 hari lagi. Ya ya ya...," Tiara bergelayut manja di lengan Dimas.
"Tidak, satu hari saja cukup."
Tolonglah Masku, lagipula setelah itu kau yang akan memiliki semua waktuku."
"Tiga hari, tidak ada penawaran lagi."
"Terimakasih, kalau begitu setelah kau berangkat ke bandara aku akan langsung menemui Rendra."
"Ingat pesanku jangan deket-deket sama duda itu ataupun pria yang lain, Kau mengerti. Kalau sampai kau melanggar perintahku, Aku akan menghukummu. Dan jika ada apa-apa jangan lupa menghubungiku.
__ADS_1
"Iya-iya Masku."
***************
Hari sudah menjelang pagi dan saatnya keberangkatan Dimas ke Jepang. Semalam Tiara sudah mengepak baju Dimas dan keperluan lainnya ke dalam koper.
"Kau ingat pesanku bukan."
"Jangan khawatir, aku mengingat semuanya. Kau bisa bekerja dengan tenang."
"Ingat, jangan pergi tanpa seijinku, jangan lakukan kebodohan yang akan menyulitkan dirimu sendiri, jangan dekat-dekat dengan duda itu atau pria lainnya dan jangan lupa kau harus mengangkat telpon dariku kapanpun dan dimanapun, Kau mengerti."
"Iya-iya aku akan mengingat semua pesanmu itu. Pergilah atau kau akan terlambat."
"Apa kau tidak ingin memberi salam perpisahan untukku." ucap Dimas manja mengerucutkan bibirnya.
"Hati-hati di jalan Masku dan jangan lupa jaga kesehatan" Tiara meraih tangan Dimas dan mengecup punggung tangannya.
"Sudah, sekarang berangkat sana" Ucap Tiara.
"Kau dari tadi mengusirku, apa kau tidak senang dekat denganku."
Hah, aku merasa tercekik setiap dekat dengan bayi besar ini, batin Tiara.
"Tiaraaa..." panggil Dimas membuyarkan lamunannya.
"Bu-bukan begitu aku hanya takut kau akan ketinggalan pesawat nanti. Lagipula bukankah Tuan Eric sudah menunggumu di bawah.
"Alasan..., beri aku energi untuk seminggu ke depan"
"Energi maks.... eemmmmp..." Dimas ******* bibir Tiara, Tiara yang terkejut terdiam tidak membalas ciuman Dimas. Ia lalu menggigit bibir Tiara untuk mendapatkan akses lebih dalam lagi.
"Bernapas sayang, balas cium*nku." Dimas kembali mencium Tiara. Tiara yang masih Diam saja tak membalas ciuman Dimas membuat Dimas gemas. Satu tangannya ia gunakan untuk merengkuh Tiara. Dan satunya tangannya lagi menjelajah ke dalam baju Tiara. Ia mencari benda favoritnya lalu mer*masnya, membuat Tiara tidak sengaja mengeluarkan Desahannya.
Tiara memukul-mukul dada Dimas, mencoba lepas dari Dimas. Setelah dirasa cukup, Dimas melepaskan ciumannya. ia menempelkan keningnya pada Tiara. Napas Tiara ngos-ngosan akibat ulah Dimas.
"Aku akan merindukanmu" ucap Dimas.
Cup, Dimas mengecup kening Tiara. Setelah itu ia berlalu pergi meninggalkan Apartemennya. Ia berangkat ke bandara bersama Eric dan supir yang dikirim dari kantor.
"Yeeey..... aku bebaaaaaassssss!!!!" teriak Tiara. sangking senangnya Tiara tanpa sadar melompat-lompat kegirangan.
"Rendrraaaa I'm coming"
__ADS_1
TBC.