UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Rapat Pimpinan


__ADS_3

"Bagaimana apakah kau sudah membaca semua yang aku berikan padamu?"


"Sudah Kek."


"Baiklah, ini ada satu kasus yang pernah terjadi. Kakek mau tau bagaimana caramu menyelesaikannya. Ini berkas dan data-data yang ada. Pelajarilah, besok Kakek minta jawabannya."


"Baik Kek terimakasih" Tiara kembali meninggalkan ruangan itu. Kali ini ia menuju ke lantai tiga, dimana letak kamarnya berada.


Sesampainya dikamar Tiara mengambil handphone miliknya yang tergeletak di atas meja riasnya. Ia menatap handphone miliknya yang terdapat lebih dari 10 panggilan tak terjawab dari suaminya.


"Ya ampun, ada apa ini kenapa dia menelponku banyak sekali" gumam Tiara. Dengan segera ia menghubungi nomor telpon milik suaminya.


"Hallo Sayang" ucap Dimas begitu menjawab panggilan dari Tiara.


"Masku, ada apa? Maaf Tiara tadi sedang ngobrol dengan Kakek dibawah dan handphone Tiara ada dikamar, maaf ya mas" ucap Tiara.


"Tidak apa sayang, Mas cuma mau bilang mas hari ini lembur. Jadi kemungkinan mas pulang malam."


"Baiklah, tapi jangan lupa makan tepat waktu ya Mas, dan tetap jaga kesehatan" ujar Tiara.


"Baiklah sayangku Mas nanti akan makan tepat waktu."


"Ya sudah kalau gitu Tiara tutup dulu ya Mas, Tiara mau mandi dulu."


"Tunggu sayang."


"Ada apa Mas"


"Tidak bisakah kau datang ke kantorku sayang dan menemaniku."


"Tidak jika Tiara kesana Mas pasti akan mengabaikan pekerjaan Mas."


"Tapi sayang, aku merindukanmu."


"Ini baru tiga jam setengah kita berpisah Mas. Sekarang sebaiknya Mas selesaikan pekerjaan Mas jika ingin cepat bertemu Tiara."

__ADS_1


"Baiklah sayang Mas akan segera menyelesaikannya. Dan jangan lupa berikan hadiah buat Mas jika pulang nanti."


"Baiklah Masku" ujar Tiara yang malas berdebat. Ia lalu menutup telponnya segera sebelum Dimas mulia berkata ngaco lagi.


"Hah selamat aku kali ini, entah hadiah apa yang harus aku berikan padanya" gumam Tiara lirih kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


*************


Sementara itu di sebuah club tampak seorang wanita cantik sedang meneguk segelas minuman beralkohol.


Ia minum dengan santainya tak memperdulikan keadaan sekitarnya. Ia kesal dan marah karena sejak Dimas terakhir kali datang dengan Tiara, Dimas tak pernah lagi mengunjunginya. Jangankan mengunjunginya bahkan untuk menjawab telpon dari Manda pun tidak di lakukan Dimas. Hal ini membuat Manda semakin membenci Tiara.


Prannnkkk, Manda melemparkan gelas minumannya yang telah kosong.


"Aaahhh, wanita sialan, berani-beraninya merebut perhatian Dimas dariku. Lihat saja aku akan merebut hati Dimas kembali, dan aku akan mengusirmu. Hanya aku yang boleh menjadi Nyonya Dimas hanya aku. Ha ha ha..."


"Sudah cukup Manda, jangan minum lagi" cegah Bela saat Manda ingin mengambil satu botol alkohol lagi.


"Berikan padaku Bela, kau sahabatku atau musuhku" teriak Manda ketika Bela mencoba menjauhkan botol alkohol darinya.


"Hentikan kegilaanmu ini Manda. Kalau kau ingin mendapatkan Dimas, berjuanglah. Dekati Dimas dan ambil hatinya. Jangan seperti ini, kau hanya akan menghancurkan dirimu kalau seperti ini."


"Ayo pulang sekarang, besok datanglah ke kantor Dimas bukankah dia berjanji akan memberikanmu pekerjaan. Jadikan itu sebagai alasan untuk dekat dengannya. Aku pasti akan mendukungmu, kau tidak perlu khawatir. Dengan kecantikan yang kau miliki dan beberapa trik licik kau pasti bisa mengelabui Dimas dan tetap berada di sisinya."


Manda yang dalam kondisi setengah sadar akhirnya menurut. Ia mengikuti Bela untuk kembali ke apartemennya. Tapi ia terus berteriak memanggil-manggil nama Dimas. Hal ini sukses membuat Manda semakin kesal, karena mereka menjadi tontonan orang banyak saat ini.


"Dimas! Dimas!! Dimas oh sayangku dimana dirimu!!. Kekasih hatimu ada disini, Dimas!!!" teriak Manda yang saat ini tengah di papah oleh Bela menuju keluar.


"Diamlah Manda, atau aku akan meninggalkanmu disini. Kau membuatku malu saja. Baru jam segini kau sudah minum-minuman keras seperti orang gila saja." Bela yang kesal membungkam mulut Manda, Ia juga memanggil salah satu pelayan untuk membantunya memapah Manda ke dalam mobilnya.


******************"


Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu telah tiba.


Jam menunjukkan pukul 7 pagi, Tiara berusaha membangunkan suaminya. Sebenarnya ia tidak tega membangunkan suaminya mengingat pukul 3 malam suaminya baru tertidur.

__ADS_1


Semalam Dimas pulang jam sembilan malam, tapi ia membawa beberapa berkas yang belum selesai di kerjakan ke rumah. Jadi ia kembali lembur untuk menyelesaikan pekerjaannya. Tiara yang tak tega melihat begitu nyenyak tidur suaminya terpaksa membangunkannya, Karena dia tahu hari ini adalah penentuan masa depan perusahaan dan juga masa depan Suaminya.


"Masku, ayo bangun" Tiara menggoyang-goyangkan tubuh suaminya.


"Hemmm" sahut Dimas dan kembali tertidur. Ia bahkan merasa malas untuk sekedar membuka matanya.


"Masku, Suamiku, Sayangku Ayo bangun" Ucap Tiara berbisik di telinga suaminya.


"Hmmm Sayang, aku ngantuk. Temani aku tidur" Dimas menarik Tiara ke dalam pelukannya.


"Aaww, Mas. Ayo bangun bukankah Mas ada rapat jam sepuluh nanti."


"Sebentar sayang, biarkan seperti ini dulu. Mas butuh energi yang banyak untuk rapat nanti" Dimas mengeratkan pelukannya, menyembunyikan wajahnya di sela-sela benda empuk favoritnya.


"Baiklah setengah jam lagi, setelah itu mas harus bangun" ujar Tiara, akhirnya ia membiarkan suaminya tertidur kembali.


Rapat akan dimulai beberapa menit lagi, Dimas saat ini sudah berada di ruangannya bersama Erick untuk persiapan rapat.


Para petinggi, Investor dan Pimpinan anak cabang perusahaan juga ikut menghadiri rapat kali ini.


Anton dengan senyum lebar melangkahkan kakinya menuju ke ruang rapat. Saham yang ia dapatkan dengan Dimas mungkin imbang tapi ia juga punya kartu as lainnya yang bisa ia gunakan untuk membuat investor dan para petinggi perusahaan mendukungnya.


"Tuan semua orang sudah berkumpul di ruang rapat. Tinggal anda dan Kakek anda yang belum hadir" ujar sekretaris Dimas.


"Baiklah kita kesana sekarang" ujar Dimas.


Dimas melangkahkan kakinya dengan penuh percaya diri di ikuti oleh Erick, sekretarisnya, dan juga beberapa orang kepercayaannya yang selama ini membantunya mengatasi berbagai masalah di perusahaan.


Penjaga ruang rapat dengan segera membukakan pintu untuk Dimas begitu melihat kehadiran pria itu dan rombongannya.


Ruang rapat telah dipenuhi orang-orang penting dari perusahaan dan juga investor.


Dimas dan Anton yang merupakan tokoh utama kali ini duduk di kursi bagian depan.


Pimpinan rapat segera memulai rapat setelah melihat hampir semua orang telah hadir. Lagipula jadwal yang ditentukan untuk di mulainya rapat sudah terlewatkan setengah jam karena menunggu kehadiran Anton, Dimas dan juga Kakek.

__ADS_1


Akhirnya rapat dimulai tanpa menunggu lagi kehadiran Kakek yang merupakan salah satu pemilik saham terbesar.


TBC.


__ADS_2