UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Kepercayaan Diri Tiara.


__ADS_3

Dimas menatap mereka berdua dengan tajam, bahkan wajahnya mulai memerah menahan marah. Gerak-gerik Tiara dan Andre tidak pernah lepas sekalipun dari pandangan Dimas.


Hal yang menjadi pertanyaan bagi Dimas adalah bagaimana mereka saling mengenal. Sedangkan Dimas tau jika Andre selama ini selalu tinggal di luar negeri. Tapi dari gerak-gerik Tiara dan Andre, Dimas yakin jika mereka sudah saling kenal sebelumnya. Entah seberapa banyak yang sudah Tiara sembunyikan darinya. Memikirkan ini semua timbul kekecewaan Dimas pada Tiara.


Ternyata istrinya tidak cukup mempercayai dirinya, Bahkan ia tidak tahu apa maksud rencana istri dan Kakeknya kali ini. Karena Dimas tau istrinya bukanlah seorang wanita yang ambisius.


Dimas tidak menyukai Tiara yang kuat dan bisa diandalkan. Ia menyukai istrinya yang manja dan selalu mengandalkan dirinya. Dengan begitu ia bisa merasakan betapa pentingnya posisinya di hati Istrinya.


Tiara melirik ke arah suaminya. Ia tau suaminya marah saat ini, tapi bukan saatnya untuk merayu Dimas. Yang terpenting adalah membuktikan pada orang-orang yang meragukannya bahwa ia mampu duduk di posisi itu. Bukan karena ambisi tapi ingin membuktikan jika ia pantas berdiri di samping Dimas.


Apalagi keberadaan Amanda yang sewaktu-waktu bisa mengancam posisinya di hati Dimas. Tiara kembali menatap suaminya, ia memberikan senyuman yang termanis untuk suaminya kali ini. Dimas sempat terpaku menatap senyuman di wajah istrinya yang ditujukan untuk dirinya.


"Biar saya saja yang bicara Kak" Ujar Tiara tanpa sadar masih memegang pergelangan tangan Andre.


"Baiklah, lakukan yang terbaik. Kalau tidak ia akan marah padaku karena berpikir tidak bisa melindungimu. Kau tau bagaimana galaknya ia padaku bukan" ujar Andre mencairkan suasana, ia tersenyum ke arah Tiara.


"Astaga gunung es mencair, kau lihat Tuan. Tuan Andre tersenyum. Bukankah ia di kenal sebagai pria yang paling dingin dengan wanita. Tapi apa ini dia tersenyum dan membiarkan Nyonya menyentuh tangannya."


Erick kembali memanasi Dimas. Melihat kecemburuan Dimas kali ini entah mengapa hatinya bahagia. Hingga ia terus dan terus mengompori Bosnya itu.


Momen kali ini benar-benar dimanfaatkan oleh Erick sebagai ajang balas dendam. Karena semenjak Dimas menikah, tidak sekalipun Dimas membiarkan Erick libur. Meja kerjanya bahkan terus di penuhi dengan arsip yang menggunung, karena bosnya itu hobi melemparkan pekerjaannya yang belum tuntas pada Erick, agar dapat bermanja-manja dengan istrinya.


"Selamat siang Bapak pimpinan rapat dan juga peserta rapat yang terhormat, ijinkan saya berbicara sebentar" ucap Tiara menyela. Seketika ruang rapat menjadi hening, pandangan mereka tertuju pada seorang gadis cantik yang meminta waktu untuk berbicara


"Terimakasih atas waktu yang diberikan, Saya tidak akan berbasa-basi langsung saja ke pembahasan utama kali ini. Saya tau banyak dari kalian yang meragukan kemampuan saya dalam memimpin perusahaan, Karena menganggap saya kurang pengalaman, kurang pengetahuan dibidang bisnis, bahkan saya juga mendengar ada yang meragukan saya karena kurang kompeten."


"Baiklah saya akan menjawab keraguan kalian satu persatu. Kalau kalian mengatakan saya kurang pengalaman, itu benar saya tidak memungkirinya. Karena saya belum pernah terjun sekalipun dalam sebuah perusahaan."

__ADS_1


"Tapi kalau anda mengatakan saya kurang pengetahuan di bidang bisnis, itu belum tentu benar. Kenapa? Karena pengetahuan dibidang bisnis bisa kita dapatkan dari berbagai sumber. Kita tidak harus terjun langsung untuk mendapatkan pengetahuan itu. Sekalipun Faktanya praktek lebih mengungguli daripada sekedar sebuah Teori. Dan sekarang adalah saat yang tepat buat saya menunjukkan kemampuan saya yang sebenarnya."


"Ditangan saya ini adalah berkas proyek perusahaan yang sudah tertunda lebih dari 5 tahun yang lalu. Lahan tempat dimana proyek itu berada terjadi sengketa lahan dengan tiga Kepala keluarga. Keberadaan lahan mereka yang tepatnya berada di tengah-tengah proyek tentunya menghambat pembangunan proyek. Dan kalian semua tau berapa besar dana yang telah dikeluarkan perusahaan. Bahkan perusahaan sampai mengalami Krisis karena masalah sengketa ini."


"Berbagai cara dan juga berbagai jenis karakter orang telah diturunkan untuk menangani sengketa ini, tapi tak ada satupun yang berhasil. Lalu masalahnya dimana? Apa orang-orang itu kurang pengalaman? kurang pengetahuan? atau mungkin perusahaan tidak mengganti rugi dengan jumlah yang memuaskan? Jawabannya adalah tidak orang yang turun menangani semua ini adalah orang-orang yang berkompeten dan sangat berpengalaman dan berpengetahuan. Bahkan dana ganti rugi yang ditawarkan pun sangat-sangat memuaskan, tapi tetap saja mereka menolak.


Dan kalian bisa lihat ini, ini adalah tiga sertifikat dari tiga kepala keluarga yang selama ini tidak bisa kalian dapatkan. Tapi saya bisa mendapatkannya. Ini membuktikan kesuksesan tidak hanya berpatok pada hal yang kalian ucapkan tadi sekalipun faktor itu juga termaksud kategori faktor yang mendukung. Tapi kalian jangan lupakan Faktor keberuntungan dan juga kesempatan yang dipergunakan dengan baik dan bertanggung jawab juga membuahkan hasil."


"Jadi saya harap kalian mau memberikan kesempatan pada saya. Karena saya rasa diruangan ini tidak ada yang lebih beruntung dari saya."


"Faktor keberuntungan, apa anda bercanda?" ujar Anton.


"Saya tidak bercanda ini adalah fakta. Baiklah saya perkenalkan di sebelah saya ini adalah Tuan Andre beliau adalah asisten saya, dan ini adalah Kakek saya yang merupakan guru dan pendukung terbesar saya, dan yang duduk disebelah kiri itu adalah suami saya dia adalah tempat keluh kesah saya. Dan kebelakangnya juga mungkin akan menjadi penasehat saya karena beliau juga merupakan orang yang sukses di dunia bisnis dan orang yang sangat penting dalam hidup saya" ujar Tiara.


Kata-kata Tiara seketika mampu meruntuhkan amarah Dimas. Ia tersenyum menatap istrinya.


Dasar bos Bucin, baru juga di puji dikit udah klepek-klepek, batin Erick sembari menatap Dimas heran.


Semua yang ada di dalam rapat tentunya tau proyek itu ada di jaman kepemimpinan Ayah Anton. Proyek yang menimbulkan sengketa hingga perusahaan mengalami mengalami krisis. Hingga Kakek mempercayakan Dimas untuk memimpin dan melewati krisis yang mengancam perusahaan. Sekalipun Dimas tidak bisa mengatasi sengketa itu tapi dia berhasil membawa perusahaan melewati krisis.


"Saya memiliki dukungan, pengetahuan dan kepercayaan diri bahwa saya mampu memimpin perusahaan ini. Saya tanya pada anda Tuan Anton, tidakkah saya termaksud orang yang beruntung? Sebuah bangunan tidak akan kokoh begitu saja sekalipun anda menggunakan barang yang berkelas tapi Pondasi yang kokoh juga merupakan kunci dari sebuah kekuatan.


"Saya saat ini mungkin bukan orang yang pantas di mata kalian tapi saya memiliki pondasi yang kuat karena orang-orang yang mendukung saya dan bekerja bersama saya, termaksud kalian semua yang ada disini adalah bagian penting dari kesuksesan perusahaan."


"Dan bukti bahwa saya bisa menyelesaikan kasus yang tertunda selama 5 tahun adalah bukti bahwa saya pantas untuk duduk di kursi kepemimpinan. Sebuah kasus yang bahkan kalian semua tidak bisa menyelesaikannya bertahun-tahun. Sekian, terimakasih waktunya."


Tiara mengakhiri ucapannya dengan senyuman dan kepala terangkat menatap semua peserta rapat.

__ADS_1


Tepukan meriah dari segala sudut membuktikan jika mereka sudah menerima Tiara. Sebuah kasus yang tertunda selama bertahun-tahun, membuka karir Tiara untuk terus maju.


Kakek menyalami Tiara sebagai tanda selamat, disusul oleh Andre dan peserta rapat lainnya. Tiara sebenarnya ingin menghampiri suaminya. Tapi ia tidak bisa mengabaikan orang-orang yang mengucapkan selamat padanya.


Ruang rapat mulai terlihat senggang karena ditinggalkan satu persatu. Tiara mengedarkan pandangannya tapi tak juga menemukan sosok yang ia cari. Kakek dapat menatap wajah khawatir Tiara.


"Jangan khawatir, ia tidak marah padamu. Biar nanti Kakek yang menjelaskan padanya" ucap Kakek menenangkan Tiara.


"Terimakasih Kek."


"Tiara, aku duluan ya. Sampai jumpa besok di kantor" ucap Andre.


"Ya kak, terimakasih banyak. Jangan lupa sampaikan salamku untuknya."


"Tentu."


Rapat telah selesai dan Tiara sudah sampai dirumah Kakek. Ya Kakek masih meminta Tiara untuk tinggal dengannya agar bisa membimbing Tiara. Tiara melihat mobil Dimas yang sudah terparkir di garasi.


Dengan cepat ia melangkahkan kakinya masuk menuju kamar. Sampai di depan pintu kamar yang tertutup Tiara menghentikan langkahnya.


Tiara ingin masuk tapi jika mengingat tatapan tajam Dimas di sela-sela rapat, nyalinya pun seketika menciut.


Tiara menghantupkan keningnya pelan bekali-kali ke tembok.


"Apa yang harus aku katakan, astaga..., akankah ia marah dan menghukumku" ucap Tiara sambil menghantupkan keningnya ke tembok berkali-kali, hingga tanpa Tiara sadari sebuah tangan kokoh menghalangi jidatnya untuk bertemu dengan tembok.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Dimas.

__ADS_1


"A-Aku..."


TBC.


__ADS_2