UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Mengasuh Angga.


__ADS_3

Sementara Dewi dan Nara berada di tempat Tiara, Mike menelpon ke rumah dan memerintahkan para pelayan untuk membersihkan kamar dekat ruang kerjanya dan memindahkan barang-barang Nara kesana.


Mulai saat ini ia tidak ingin menyembunyikan perasaannya untuk Nara. Ia juga berharap Dewi mengerti dengan pilihannya.


"Apakah kalian sudah selesai mengerjakannya" tanya Mike, ia memilih untuk segera pulang kerumah melihat persiapan pelayan.


"Kami sudah selesai Tuan, anda bisa melihat kedalam jika ada yang perlu kami rubah lagi" ucap salah seorang pelayan.


"Tidak ini sudah cukup bagus, kalian boleh pergi dan terimakasih karena sudah menyelesaikan tugas dengan baik" ucap Mike terlihat senang. Kamar ini adalah sebagai tanda permohonan maaf darinya.


Mike melihat jam tangannya, lalu masuk ke kamar. Ia harus segera mandi membersihkan diri dan menjemput Nara juga Dewi di rumah Kakek.


************


Di rumah Kakek siang ini terlihat sedikit tenang, tidak terdengar candaan Nara, Aqilla maupun Tiara. Hanya sayup-sayup terdengar suara Dewi sedang menyanyikan sebuah lagu anak untuk Angga.


Setelah mereka memberi makan Angga dan Aqilla, mereka berniat untuk mengajak main lagi. Tapi Aqilla terlihat rewel dan mengantuk. Aqilla yang tak membiarkan Nara pergi darinya terpaksa harus menemaninya tidur bersama Tiara di lantai tiga.


"Dewi, aku ajak Aqilla tidur dulu di kamarnya. Maaf Nara aku bawa bersamaku karena ia tidak mau lepas dari Nara. Kau ingin ikut bersama kami atau tetap disini?" tanya Tiara pada Dewi.


"Iya Kak nggak apa, Dewi disini aja sama Angga. Kasihan Angga nggak ada temannya" ucap Dewi sembari mengajak Angga bermain.


"Kalau kau mau kita bisa membawa Angga ke kamar Aqilla dan menidurkannya disana" ucap Tiara lagi


"Tidak usah Kak, Aku disini saja dengan Angga" tolak Dewi.


"Baiklah, kalau begitu. Kalau kau ingin beristirahat kau bisa langsung ke kamarmu yang dulu" ucap Tiara dan Dewi menganggukkan kepalanya.


Sementara itu Dewi masih menemani Angga, ia menempel terus sama Dewi dan mengabaikan Baby sister nya. Setidaknya kehadiran bayi itu mengobati rasa sakitnya. Ia bisa bercanda dan tertawa lepas dengan Angga.


"Non Dewi, ini sudah saatnya den Angga untuk tidur, takutnya dia akan rewel kalau terlambat tidur" ucap baby sister. Ia mendekati Angga dengan sebotol susu ditangannya.


Angga yang diambil oleh baby sister nya menolak dan menangis keras.


"Sudah mbak biar aku saja yang menidurkan Angga, mana susunya" pinta Dewi sembari mengambil botol susu dari tangan baby sister.


"Saya boleh ngajak Angga tidur di kamar, nggak mbak. Kamarnya ada dilantai dua" ucap Dewi meminta ijin pada baby sister. Ia merasa lebih nyaman jika tidur di kamarnya sebelumnya.


"Boleh Non, tapi saya gimana Non. Apa saya harus ikut Non atau ..."


"Mbak nggak perlu ikut dengan saya, saya akan panggil bibik untuk menemani mbak" ucap Tiara lalu memanggil salah satu pelayan.


"Bik!!" panggil Dewi pada salah satu asisten rumah tangga.

__ADS_1


"Ada apa Non?"


"Tolong bibik temani mbak nya ya! Saya mau istirahat dikamar bersama Angga" pinta Dewi. Dewi yang sempat tinggal sebulan di rumah Dimas jadi lebih mengenal asisten rumah tangga disana.


Dewi membawa bocah kecil itu bersamanya. Angga terlihat mengantuk di pelukan Dewi dan beberapa kali menguap.


Sampai di kamar Dewi menaruhnya diatas tempat tidur, lalu ia ikut berbaring di samping Angga sembari menyusui bocah kecil itu.


*********


Sementara itu di dalam kamar Aqilla sudah tertidur nyenyak. Tiara mengajak Nara menjauh dari Aqilla karena ingin menanyakan sesuatu pada Nara.


"Bagaimana hubunganmu dengan Mike?" tanya Tiara.


"Baik Kak" jawab Nara tersipu malu.


"Apa kalian masih merahasiakan hubungan kalian dari Dewi?" tanya Tiara lagi dan di angguki oleh Nara.


"Sampai kapan?" tanya Tiara.


"Nara nggak tau Kak, Nara hanya takut Dewi nggak bisa menerima hubungan kami. Apalagi sepertinya Dewi juga tertarik dengan Kak Mike" jawab Nara. Ia belum mengetahui jika Mike sudah berbicara dengan Dewi mengenai hubungan mereka.


"Sebaiknya kalian jujur dengan Dewi semakin cepat semakin baik. Apalagi Kakak lihat Dewi berbeda dari biasanya, Ia seperti menyembunyikan sesuatu. Apa jangan-jangan ia sudah tau tentang hubungan kalian lagi" ucap Tiara. Ia memang selalu memperhatikan gerak-gerik Dewi yang terlihat berbeda dari biasanya.


************


Saat Anton memarkirkan kendaraannya ia berpapasan dengan Kakek yang juga baru pulang. Anton segera turun dari mobilnya dan mencium tangan pria tua itu.


"Bagaimana sidangnya apa lancar?" tanya Kakek pada Anton.


"Masih tahap mediasi Kek" sahut Anton.


"Apa Manda juga menghadiri persidangan itu?" tanya Kakek lagi.


"Iya Kek, bahkan pada saat pulang ia di jemput kekasih barunya" ucap Anton datar.


Kakek memperhatikan Anton dengan seksama dan sama sekali tidak melihat emosi di wajah Anton seperti sebelumnya.


"Jangan menatapku seperti itu Kek, Kakek tenang saja aku baik-baik saja. Dimas dan Tiara benar wanita itu tidak cocok untukku maupun anakku" ucap Anton tersenyum pada Kakek.


"Baguslah kalau kau sadar. Masih banyak wanita yang lebih baik darinya. Kau kaya dan sukses pasti banyak yang mengantri untuk menjadi ibu sambung putramu" ucap Kakek sementara Anton hanya tertawa kecil.


"Tapi tunggu dulu, bukannya Manda itu materialistis. Jadi mengapa ia bisa melepasmu begitu saja, apa kau mengalami kebangkrutan?" tanya Kakek penasaran. Setau Kakek Anton cukup mampu dan memiliki banyak aset.

__ADS_1


"Selama ini Manda mengira aku pengangguran Kek, belum lagi aku yang kehilangan pekerjaanku di perusahaan saat bertaruh dengan Kakek. Aku memilih menginvestasikan usahaku dan mempercayakan orang lain untuk mengelola perusahaan milikku."


"Aku ingin menemani Manda di kehamilannya hingga ia melahirkan anak kami nanti. Begitu Angga lahir, Aku yang masih tidak ingin kehilangan momen perkembangan Angga kembali memilih diam dirumah, tapi ternyata pilihanku ini disalah artikan Manda dan menganggapku pengangguran. Tadinya aku ingin memberikan kejutan padanya di acara tujuh bulanan anak kami."


"Aku ingin membagi saham perusahaanku dengannya, juga beberapa properti milikku. Tapi rupanya ia sudah tidak sabar dan segera meninggalkanku. Padahal sekalipun aku diam dirumah, ia tak kekurangan satu apapun. Entahlah Kek, aku tidak tau lelaki seperti apa yang sebenarnya ia inginkan."


"Baguslah kau belum membagi semua dengannya" ucap Kakek, ia memang tidak menyukai tabiat Manda. Itulah alasannya ia menjauhkan Dimas dari wanita itu.


"Tapi aku tetap akan memberi dia beberapa Properti Kek, anggap saja itu hadiah dariku karena sudah melahirkan Angga untukku. Aku juga meminta hak asuh Angga darinya dan untungnya ia menyetujui itu" ujar Anton.


"Ternyata memiliki anak membuat pikiranmu bertambah dewasa. Baguslah, ini adalah pernikahanmu yang kedua kalinya gagal, mudah-mudahan untuk yang ketiga kalinya adalah yang terakhir dan membawa kebahagiaan buatmu dan anakmu" ucap Kakek tulus. Ia ingin semua keluarganya mendapatkan kebahagiaan dari pasangan hidup mereka.


Anton memang gagal di pernikahan pertamanya, karena istrinya tak bisa memiliki anak. Istri Anton juga menolak saran Anton yang ingin mengadopsi anak, akhirnya mereka bercerai karena selalu meributkan masalah Anak.


Itulah sebabnya Anton begitu bahagia ketika mengetahui Manda hamil anaknya, hingga ia rela meninggalkan pekerjaannya untuk menemani Manda melahirkan dan mengawasi perkembangan putranya. yang ternyata berakhir dengan perceraian.


"Ayo kita masuk, kau pasti tak sabar menemui putramu" ajak Kakek. Anton dan Kakek akhirnya masuk kedalam rumah.


"Dimana putraku?" tanya Anton pada salah satu asisten rumah tangga.


"Putra anda sedang tidur bersama Non Dewi Tuan" jawab pelayan itu.


"Dewi! Siapa dia? Lalu dimana pengasuh anakku?" tanya Anton terlihat cemas. Selama ini putranya hanya terbiasa dengannya dan sang pengasuh.


"Tidak perlu khawatir, anakmu aman bersama Dewi. Ia adik angkat Mike saudara tirinya Dimas" jelas Kakek.


Tak lama terdengar suara langkah kaki terburu-buru dari arah dapur.


"Maaf Tuan, Den Angga menolak ikut dengan saya. Ia menangis ingin ikut dengan Non Dewi, jadi akhirnya Non Dewi yang menidurkan den Angga di kamarnya Non Dewi dilantai dua Tuan" jawab sang pengasuh terlihat ketakutan karena Anton menatapnya dengan tajam.


"Sudahlah jangan menyalakan pengasuh itu, putramu sendiri yang memilih wanita itu. Pergilah kelantai dua kamar paling ujung. Lihatlah putramu, Ia masih kecil tapi sudah pandai memilihkanmu calon istri" canda Kakek sembari tertawa kecil.


Anton tak menanggapi candaan Kakek, ia langsung menuju ke lantai dua kamar paling ujung sesuai petunjuk Kakek.


Anton berdiri dengan bingung di depan pintu kamar itu, ia ingin mengetuk pintu tapi takut putranya terbangun. Anton tau seberapa sensitifnya pendengaran Putranya. Ia ingin langsung masuk tapi terasa canggung karena ada wanita lain di dalamnya.


Akhirnya Anton memilih membuka pintu itu diam-diam.


Anton cukup terkejut melihat pemandangan di depannya, Putranya tertidur dengan nyaman di dalam pelukan seorang wanita yang bahkan belum ia kenal. Anton tidak dapat melihat Dewi karena posisi Dewi yang membelakanginya.


Setelah memastikan putranya aman ia kembali menutup pintu itu perlahan.


"Andai saja Ibu kandungmu seperti wanita itu pasti kau akan bahagia memiliki Ibu sepertinya" gumam Anton lirih.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2