UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Menyelamatkan Tiara.


__ADS_3

Papa Teo terkejut mendengar penculik yang ingin melenyapkan Tiara. Ia harus segera bertindak cepat untuk menyelamatkan Tiara.


"Kau tunggulah disini dan tolong telpon Dimas, beritahukan keberadaan Tiara disini."


"Tidak kaulah yang harus bersembunyi disini biarkan aku pergi menemui mereka. Bagas tidak akan mungkin menyakitiku."


"Tolong ikuti perintahku kali ini. Kau boleh keluar dan pergi mencari bantuan jika terjadi sesuatu padaku."


"Tapi...."


"Tolong ikuti saja perkataanku."


"Baiklah." Nyonya Anggi kemudian menghubungi Dimas dan memberitahu lokasi keberadaan mereka. Sedangkan Papa Teo naik ke lantai dua dengan cara mengendap-endap.


Papa Teo melihat Tiara yang duduk terikat dalam keadaan pingsan, ia juga terkejut melihat Pak Adi supir pribadi Tiara yang ternyata terlibat penculikan Tiara. Para penculik itu berjumlah tiga orang pria dan salah satunya memegang pistol.


Bagas menodongkan pistol ke arah Tiara.


"Sebaiknya kita akhiri permainan ini. Maaf kehadiranmu akan menyulitkanku dan putriku jadi kau harus mati."


"Hentikan!!!"


"Siapa kau, mengapa kau ada disini."


"Tolong turunkan senjatamu, jangan bunuh dia. Aku akan memberikanmu uang berapapun yang kau minta tapi tolong jangan sakiti menantuku."


"Menantu? Oh jadi kau adalah pria yang merusak pernikahan putriku. Baguslah, aku bisa membunuhmu hari ini. Menggantikan rasa sakit putriku."


"Hentikan Bagas, kita belum memeras uangnya. Sebaiknya kita sandera dia dulu dan minta uang yang banyak." ucap Pak Adi.


"Benar, kau benar. Aku setuju, biarkan kami juga mendapatkan bagian kami" Ucap satunya lagi.


"Diam kalian, aku sudah membayar kalian, aku tidak ingin keserakahan kalian mencelakai ku dan putriku. Biar kubunuh sekalian orang ini, kalau tidak ia akan menjadi batu sandungan untukku nanti."


Bagas mengarahkan pistol ke arah Papa Teo dan menarik pelatuknya.


Door


"Anggi" Bagas terkejut karena Anggi tiba-tiba datang menghalangi, menjadikan tubuhnya tameng sasaran tembak. Peluru melesat dengan cepat mengenai dada bagian kiri Anggi. Darah mengalir deras dari bagian yang tertembak, Teo menangkap tubuh Anggi yang terjatuh di depannya.


Bagas menjatuhkan pistol yang berada di tangannya. Dengan tubuh bergetar Bagas berlari ke arah Anggi, mengambil Anggi yang berada di pelukan Papa Teo.


"Apa yang kau lakukan, mengapa kau ada disini" Bagas menangis memeluk Anggi


"Bagas tolong hentikan semua ini."


"Tapi jika kita tidak membunuh mereka. Mereka akan mencelakai anak kita."


"Saya berjanji tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi pada Anggi maupun putrimu. Selama kau mau menyerahkan diri" ujar Papa Teo.

__ADS_1


"Ba-Bagas kumohon" Anggi memuntahkan darah dari mulutnya.


"Anggi...., Baiklah aku berjanji akan menyerahkan diri tapi kau tidak boleh meninggalkanku. Kau harus tetap hidup dan menungguku.


"A-aku akan menunggumu." Anggi membelai wajah Bagas. Tapi tiba-tiba tangan Anggi jatuh terkulai lemas. Anggi pingsan tak sadarkan diri.


"Minggir, biar aku hentikan pendarahannya dulu. Kau tolong menantuku lepaskan ikatan tali yang melilit tubuhnya." Teo melepaskan baju miliknya dan merobeknya menjadi dua. Ia menekan luka Anggi untuk menghentikan pendarahan. Ia lalu melilitkan bajunya ke bagian yang luka dan mengikat dengan bagian baju yang lainnya.


"Berhenti, Siapa yang mengijinkan kalian pergi" Pak Adi menodongkan senjata api ke arah mereka.


"Apa yang kau lakukan, turunkan senjatamu."


"Apa kau pikir kami bodoh. Kau ingin kita mendekam di penjara bersamamu. Jangan mimpi, apa kau pikir kami mau di bayar olehmu hanya untuk berakhir di jeruji besi."


"Tolong hentikan, istriku terluka biarkan kami membawanya ke rumah sakit" Bagas berdiri dan berjalan mendekat.


Dor.


"Aahh" Pak Adi menembak kaki Bagas.


"Jangan mendekat, atau aku tidak segan-segan untuk membunuhmu" ujar Pak Adi.


"Cepat kau ikat mereka dan ambil semua barang yang melekat di tubuh mereka. Kita harus segera pergi dari sini." perintah Pak Adi pada temannya.


"Tolong lepaskan mereka berdua. Biarkan pria ini membawa istriku ke rumah sakit. Aku akan disini sebagai sandera untuk kalian."


"Jangan bergerak. Tiba-tiba segerombolan pria bersenjata masuk bersama Dimas dan ada juga beberapa Tim medis yang sengaja dibawa oleh Dimas. Dimas menghampiri Tiara yang masih belum sadarkan diri terikat diatas kursi.


Papa Teo meminta tim medis untuk menangani Anggi dan juga Bagas.


"Tiara.., Tiara bangun sayang" Setelah berhasil membuka ikatan Tiara. Dimas membawa Tiara kedalam pelukannya. Ia menepuk pipi Tiara lembut mencoba untuk membangunkannya.


"Apa yang kalian berikan pada istriku. Kenapa dia belum sadar juga. Beri pelajaran pada para penculik itu biar mereka tahu sedang berhadapan dengan siapa. Berani-beraninya menyakiti istriku."


"Tuan biarkan kami memeriksa Nyonya" ujar seorang dokter Tim medis.


"Apa yang kau lakukan? Siapa yang mengijinkanmu menyentuhnya."


"Maaf tuan bagaimana bisa saya memeriksa Nyonya jika tidak menyentuhnya ."


"Jangan sentuh lama-lama. Dan jaga pandanganmu itu. Jangan memandangnya lebih dari 10 detik. Atau kucongkel matamu itu"


"I-iya tuan" Wajah Dokter muda itu menjadi pucat pasi mendengar ancaman Dimas. Dengan segera ia memeriksa Tiara lalu mengalihkan pandangannya.


"Sepertinya mereka memberi Nyonya, obat bius dalam kadar berlebih Tuan. Jadi sampai sekarang beliau belum sadar dan sebaiknya Nyonya dibawa ke rumah sakit. Agar kami bisa melakukan pemeriksaan lebih teliti lagi."


"Daritadi juga aku ingin membawanya ke rumah sakit" ujar Dimas sewot.


Dokter itu memanggil timnya yang membawa tandu untuk mengangkat Tiara.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan. Siapa yang menyuruhmu mengangkat istriku. Turunkan dan minggir kalian semua."


Dimas mengusir mereka menjauh lalu mengangkat Tiara ala bridal style. Sementara tim medis yang lainnya hanya bengong menatapnya.


Nggak nyangka ternyata Tuan Dimas yang terkenal dingin bisa sesayang itu dengan istrinya, batin dokter itu dalam hati.


"Kenapa bengong, Ayo cepat ke rumah sakit!!" teriak Dimas membuyarkan lamunan mereka.


*************


Key saat ini berada di kampung nelayan. Ia mendatangi rumah rentenir yang menganiaya Pak Kupit sebelumnya. Ia menghajar mereka semua hingga babak belur dan menyeret mereka semua keluar dari markasnya.


Key membakar markas mereka yang merupakan rumah dari bos rentenir. Key memberi waktu mereka dalam waktu 24 jam untuk pergi menjauh dari kampung nelayan. Jika mereka sampai berani kembali maka Key tidak akan segan lagi untuk membunuh mereka.


Setelah puas memberikan mereka semua pelajaran. Key segera tancap gas menuju rumah sakit.


Saat ini Yessi dan juragan ikan berada di dalam ruang perawatan. Tak lama datanglah seorang dokter diikuti oleh dua orang perawat di belakangnya.


Dokter itu tersenyum dan menyapa Yessi dan juragan ikan. Ia lalu memeriksa pasien.


"Bagaimana kondisi Ayah saya dokter" tanya Yessi khawatir.


"Kondisinya saat ini sedang kritis, kami akan berusaha untuk menyelamatkannya. Tapi anda juga harus bersiap jika kemungkinan terburuk terjadi. Tetaplah berdoa dan dukung pasien untuk terus semangat berjuang melawan sakitnya. Pasien saat ini tidak hanya membutuhkan kami tapi juga doa dan dukungan keluarga."


"Tolong sembuhkan Ayah saya Dokter hanya dia yang saya miliki" tangis Yessi.


"Dokter, lihat tangan pasien bergerak. Sepertinya pasien mulai sadarkan diri" ucap seorang suster yang melihat jari Pak Kupit bergerak


Dokter mendekat kearah pasien dan kembali memeriksanya. Pak Kupit berusaha melepas oksigen yang ia kenakan tapi dokter menghalanginya. Yessi berjalan mendekat kearah Ayahnya.


"Ayah.…, Cepat sembuh ya Yah Yessi ada disini" Yessi menahan tangisannya tapi air matanya tetap saja menetes.


"Jangan biarkan pasien terlalu banyak bicara. Biarkan pasien beristirahat terlebih dahulu. Kami permisi dulu Nona" Dokter itu keluar setelah memeriksa pasien.


"Key... Panggilkan Key..."


"Key? Siapa itu Pak?" tanya Yessi pada juragan ikan.


" Key dia tamu istimewa ayahmu dan juga yang membawanya kemari. Tapi Tuan Key belum kembali dari kampung nelayan. Biar saya telpon agar kemari." ujar juragan ikan.


"Saya sudah disini." Key berjalan mendekat kearah Pak Kupit. Ia menggenggam tangan lemah pria itu.


"Tuan Aryo." ujar Yessi terkejut.


"A-aku tidak bisa bertahan lagi. To-tolong jaga pu-triku. Nika-hilah dia, ku-mo-hon."


"Ayah..."


TBC.

__ADS_1


__ADS_2