UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Kampung Nelayan.


__ADS_3

Di pinggir pantai terlihat pria bertubuh gagah sedang mendorong perahu di bantu beberapa Nelayan berusaha menepikan perahu. Hasil tangkapannya lumayan saat ini, membuat pria paruh baya disebelahnya tersenyum lega.


"Nak Key hebat, apa sebelumnya pernah melaut Nak?" Pak Kupit menatap senang hasil tangkapannya sembari mengumpulkan ikan-ikan ke dalam wadah yang lebih besar.


"Belum pernah Pak, hanya saya sudah terbiasa menyelam" Key membersihkan jala ikan dari kotoran dan ikan kecil yang masih terjerat di jalanya.


Pria itu tersenyum mengingat kembali aksi pria disebelahnya dalam mencari ikan. Key tak segan-segan menceburkan dirinya di lautan untuk mengetahui tempat dimana banyak ikan berkumpul. Ia memberi aba-aba pada Pak Kupit untuk menebarkan jala lalu menariknya kembali.


"Bapak mau jual hasil tangkapan kita dulu ya Nak. Ini kunci rumah kalau Nak Key mau pulang duluan."


"Biar saya bantu pak bawa ikannya."


"Nggak usah Nak, pasarnya dekat kok. Lagian bapak jualnya langsung ke juragan ikan. Jadi nggak akan lama."


Pak Kupit memanggul hasil tangkapannya, menuju ke pasar yang jaraknya tak terlalu jauh dari sana.


"Yang dua ini jangan ikut ditimbang ya Juragan, Saya ingin membawanya pulang." Pak Kupit mengambil dua ekor ikan berukuran besar.


"Wah tumben Pak, biasanya juga bapak cuma bawa pulang beberapa bagian kepala ikan. Apa si Eneng pulang ke rumah Pak.


"Belum Gan, Anak saya masih kerja di kota. Tapi dirumah lagi ada tamu istimewa, masa mau saya kasih kepala Ikan aja."


Pak Kupit biasanya hanya membawa dua atau tiga ekor kepala ikan yang berukuran besar sebagai lauk makannya. Sedangkan sisanya ia jual. Ia harus sedikit berhemat agar tak membebani anaknya.


"Si Eneng hebat ya Pak bisa kuliah di kota sambil kerja bantu orang tua."


"Alhamdulillah juragan dari dulu si Eneng emang nggak pernah nyusahin bapak."


"Wah hasilnya lumayan nih Pak, 3 kali lipat dari biasanya."


"Iya Gan Alhamdulillah."


"Ini Pak Uangnya, sudah saya kurangi biaya sewa perahunya."


"Terimakasih Gan."


"Besok mau sewa perahu lagi nggak Pak?"


"Nggak Gan bapak mau libur dulu. Insyaallah hasil ini cukup buat bapak makan beberapa hari. Saya permisi dulu Gan"


Key yang mengikuti Pak Kupit tanpa sepengetahuan orang tua itu menguping percakapan mereka, dari balik tiang. Mengetahui Pak Kupit yang ingin segera pulang, Key segera berlalu kembali ke rumah terlebih dahulu.


Baru saja Pak Kupit ingin melangkahkan kakinya. Tiba-tiba dua orang pria berbadan besar datang menghadang.


"Wah banyak juga hasil bapak hari ini" Salah satu Pria berbadan besar merampas uang Pak Kupit.


"Jangan Den, tolong balikin uangnya."

__ADS_1


"Enak saja, uang ini buat bayar hutang bapak sama Bos Karjo."


"Tapi Den, bapak kan baru cicil awal bulan kemarin. Baru juga seminggu yang lalu. Tolong Den balikin atuh uang bapak. Nanti awal bulan anak saya pasti ngirimin lagi buat cicil utang."


"Sudah nggak usah bawel, minggir" dua orang preman itu mendorong Pak Kupit hingga jatuh tersungkur. mengabaikan rintihan pria tua itu."


"Dasar preman, nggak punya hati nurani. Bos sama anak buah, sama-sama kurang ajar" Maki Juragan Ikan sambil menolong Pak Kupit.


"Duduk sini dulu Pak, ini diminum dulu."


"Terimakasih ya Gan"


"Emang utangnya masih banyak Pak sama Rentenir Karjo."


"Saya juga bingung Gan, gimana hitungannya. Saya berhutang 20.000.000 buat biaya operasi dan pengobatan istri satu tahun lalu. Saya sudah cicil 5 juta hasil jual perahu, belum lagi anak saya yang tiap bulan kirim uang 3 juta juga bapak pakai nyicil utang. Kalau tidak salah sudah 8 kali anak saya kirim uang dan selalu bapak Kasih anak buah Karjo si rentenir. Tapi utang Bapak belum lunas juga."


"Wah berarti bapak sudah kasih mereka 29 juta Pak. Itu sudah melebihi hutang Bapak."


"Tapi mereka bilang itu baru bunga Gan, saya masih harus nyicil 10 kali lagi biar lunas."


"Astaghfirullah emang dasar ya si tua Bangka Karjo lintah darat."


"Sekarang Bapak bingung, nggak ada uang dirumah karena uang kiriman anak bapak kemarin bapak pakai nyicil utang semua. Oh ya Gan, ini Ikannya saya jual lagi satu ya. saya bawa ke rumah satu saja. Dan perahunya saya sewa lagi untuk besok ya Gan."


"Iya Pak tenang saja. Ini uangnya saya kasih lebih tambahan buat bapak"


"Alhamdulillah Gan, terimakasih banyak Ya" Pak Kupit menerima selembar uang merah dari Juragan dengan perasaan senang. Ia lalu segera pergi ke warung terdekat untuk membeli beras dan beberapa keperluan rumah lainnya."


"Assalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam, wah borong nih Pak. Banyak sekali belanjaannya."


Key membantu Pak Kupit membawa belanjaan ke dapur. Key tidak mengetahui kalau uang hasil tangkapan ikan sudah di rebut anak buah rentenir, karena ia pulang terlebih dahulu.


************


Sementara itu Dimas yang sudah merasa jenuh dengan tumpukan berkas di mejanya bergegas pergi meninggalkan ruangan kerja.


"Maaf Bos mau kemana? 10 menit lagi kita ada meeting" Yesi mencegat Bosnya yang melewati mejanya.


"Saya mau pulang, kamu undur semua jadwalku hari ini. Besok pagi saya baru kembali ke kantor."


"Tapi Pak..."


Dimas berlalu pergi, menghiraukan ucapan sekretarisnya. Yesi hanya bisa menatap pasrah kepergian bosnya.


Sesampainya di rumah Dimas mencari-cari keberadaan Tiara, tapi tak juga menemukannya.

__ADS_1


"Dimana Nyonya." tanya Dimas pada salah satu pelayan.


"Ma...maaf Tuan, Nyo-Nyonya ada di dapur tuan" ucap pelayan terbata-bata sedikit takut.


"Siapa yang berani menyuruh istriku bekerja di dapur, kalian semua mau saya pecat."


"Ma-maaf tuan Nyonya memaksa. Kami sudah memperingati tapi..."


Dimas tak lagi mendengarkan alasan art nya, dengan wajah marah dan langkah tergesa-gesa ia menuju ke dapur. Dimas menghentikan langkahnya, wajahnya yang tadinya muram berubah tersenyum. Melihat wanita yang ia cintai sedang memasak di dapur sambil bernyanyi riang.


"Yo mbo ben due bojo sing galak, Yo mbo ben seng omongane sengak..."


"Lagu apa itu sayang." tiba-tiba Dimas melingkarkan tangannya di punggung Tiara. mencium pipi wanita itu sekilas.


La-lagu Jawa mas. Astaga dia tau nggak ya arti lagu tadi, mati aku kalau dia sampai ngamuk, batin Tiara.


"Apa artinya sayang, kelihatannya kamu senang sekali menyanyikannya."


"I-itu artinya saya senang mas punya suami yang baik dan tampan." Aduh mati aku, jangan sampai ketahuan kalau aku bohong, batin Tiara.


"Terus kamu masak apa nih."


"Masak ikan rica-rica Mas. Tiara lagi pingin masakan ini."


"Tapi kamu kan bisa minta tolong pelayan sayang."


"Tiara, bosan mas nggak ngapa-ngapain. Selesai." Tiara mematikan kompornya.


"uwaaa...Mas..." Tiara terkejut tiba-tiba badannya melayang di angkat Dimas.


"Mas turunin, Tiara malu dilihat pelayan. Masakan Tiara juga belum Tiara pindahin ke piring."


"Bik...., tolong sajikan masakan Nyonya di Meja. Satu jam lagi saya turun untuk makan sama nyonya. Jangan biarkan ada satu orang pun yang naik ke atas."


"Baik Tuan."


Dimas melangkahkan kakinya menuju lantai atas, mengabaikan protes Tiara.


Sesampainya di kamar Dimas tidak menurunkan Tiara. Ia membawa Tiara ke kamar mandi, menaruh Tiara ke dalam bathtub.


"Mas, kok Tiara di taruh disini sih."


"Kita mandi bareng Yang."


Dimas melepaskan bajunya, ia pura-pura tidak tahu dengan protes Tiara.


"Bajunya mau Mas bukain apa buka sendiri.'

__ADS_1


TBC


Mohon maaf karena beberapa hari tidak bisa up karena kesibukan. Terimakasih buat yang sudah like, vote dan komentar 🙏


__ADS_2