
Dewi dengan wajah kesalnya memasuki rumah, Mike dan Nara masih belum tiba karena mereka mampir terlebih dahulu ke rumah Kakek.
Dewi yang kesal karena teringat ulah Anton melempar tasnya begitu saja.
Brukkk, terdengar suara keras ketika Dewi melempar tasnya.
"Ya tuhan!!" teriak Dewi terkejut. Tugas prakarya sekolahnya yang harus ia kumpulkan besok pagi hancur lebur.
"Kapal miniaturku, akhhh..." teriak Dewi kesal. Tugas prakarya kapal miniatur yang ia buat selama dua hari bersama Nara hancur sudah.
"Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan!" Dewi menyingkirkan tasnya penyebab hancurnya tugas prakarya miliknya.
"Terpaksa harus buat yang baru, tapi apa masih sempat" gumam Dewi menatap kerumitan pembuatannya.
"Masih sempat aku hanya perlu membuat ulang bagian yang hancur saja. Bahan yang masih bisa digunakan bisa aku pakai ulang" gumam Dewi.
Ia mencari sisa-sisa bahan untuk pembuatan miniatur kapal. Kamarnya sampai terlihat seperti kapal pecah karena Dewi belum juga menemukan sisa bahan yang sebelumnya ia gunakan bersama Nara.
Oh ya sepertinya, Nara yang menyimpan sisa bahan itu. Ah Sebaiknya aku cari dikamarnya, batin Dewi. Ia menuju kamar Nara yang masih tertutup pintunya.
Tidak apa-apakan kalau aku masuk kamarnya, kalau aku menunggu Nara kapan aku bisa menyelesaikan tugasku, batin Dewi. Ia kemudian membuka pintu itu dengan ragu.
Sampai dikamar Dewi mengedarkan pandangannya. Ia mengira-ngira Dimana Nara meletakkan sisa bahan itu.
Dewi membuka laci meja belajar Nara. Ia menemukan mini atur kapal yang Nara buat, tapi belum menemukan sisa bahan.
"Dewi meletakkan miniatur kapal milik Nara agar ia lebih mudah mencari sisa bahan yang mereka pakai sebelumnya.
Baru saja ia membongkar-bongkar sebentar tiba-tiba suara Mike mengejutkannya.
"Apa yang sedang kau cari Wi?" Suara Mike terdengar nyaring Dewi yang terkejut tidak sengaja menyenggol tugas prakarya Nara yang ia letakkan diatas meja.
"Tugas prakaryaku!!" teriak Nara yang berada di belakang, ia berlari ketika melihat tugasnya hancur berkeping-keping.
"Bagaimana ini" Nara terlihat sedih melihat miniatur kapalnya yang rusak karena terjatuh dari atas meja.
"Maaf aku tidak sengaja" ucap Dewi merasa bersalah.
"Iya, aku tahu kau tidak mungkin sengaja melakukannya" Nara tersenyum kecil menyembunyikan kesedihannya.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Mike lagi.
"Aku mencari sisa bahan prakarya, kapal miniaturku tidak sengaja rusak karena aku menindihnya dengan tas" jelas Dewi.
"Kamu sedang tidak berbohongkan?" tanya Mike penuh selidik. Sementara Nara mengumpulkan puing-puing miniatur kapalnya yang berserakan.
"Apa maksud Kakak" Dewi terlihat tersinggung. Ia tidak diterima dikatakan bohong disaat dirinya benar-benar berkata jujur.
"Bukankah katamu tadi prakaryamu rusak?" tanya Mike.
"Benar" ucap Dewi sembari menganggukkan kepalanya.
"Lalu apa karena itu kau jadi ikut merusak milik Nara" ucap Mike lagi. Dewi tertawa mengejek mendengar kesimpulan Mike.
"Apa kau begitu memandang buruk diriku" Dewi berbicara dengan Nada kesal.
"Bukankah itu yang sering kau lakukan, menyakiti Nara!" ucap Mike lagi, menambah luka di hati Dewi.
"Kak Mike sudah hentikan!!" teriak Nara, ia tidak ingin perdebatan ini di lanjutkan yang akan berakibat mereka bermusuhan.
"Ya aku memang sengaja merusaknya!! karena aku membencimu, membenci Nara, aku membenci kalian semuuuaaaa!!!!" teriak Dewi kesal lalu segera keluar dari ruangan itu, ia bahkan menabrak tubuh Mike hingga membuat Mike hampir kehilangan keseimbangan.
"Kak Mike sudah kak, mungkin aja Dewi nggak sengaja" Nara menghentikan Mike yang ingin mengejar Dewi.
"Dia sudah keterlaluan Ra!" ucap Mike tak terima.
"Ada apa denganmu Kak, biasanya kau selalu bisa bersabar dalam menghadapinya. Tapi sekarang kenapa seperti ini" ucap Nara kesal.
"Maaf, sepertinya aku lelah jadi gampang marah" ucap Mike sembari memijat keningnya. Entah mengapa ia ikut terpancing emosinya saat melihat wajah Nara yang sedih melihat hasil prakarya sekolahnya hancur.
"Kakak harus minta maaf sama Dewi, Nara nggak mau kalau hanya karena apa yang terjadi hari ini membuat keluarga kita terpecah."
Nara yang kecewa dengan sikap Mike, meninggalkan Mike yang masih terdiam di kamarnya. Ia memilih turun ke bawah untuk menemui Dewi.
Sementara itu Dewi segera berlari menuju kamarnya, ia tidak bisa menahan lagi air matanya yang ingin terjatuh. Ia mengunci kamarnya, menidurkan tubuhnya di kasur. Ia menangis sembari menutup wajahnya dengan bantal agar suara tangisannya tak terdengar keluar.
"Hiks hiks hiks...,Apa kelakuanku begitu buruk sampai kak Mike tak percaya padaku lagi" ucap Dewi sedih sembari menangis. Kenapa justru di saat ia sudah mulai ingin berubah dan menerima hubungan Mike dan Nara justru Mike tidak mempercayainya.
Tok tok tok...
__ADS_1
"Dewi..., buka pintunya Wi" panggil Nara.
Tok tok tok
"Wi..., tolong buka. Aku ingin bicara denganmu. Wi...., kamu nggak apa-apa kan?" tanya Nara khawatir.
Dewi diam saja, ia tidak menjawab panggilan Nara. Saat ini ia masih sesenggukan, ia tidak ingin jika Nara sampai tahu kalau ia menangis saat ini.
Hampir satu jam Nara memanggil-manggil nama Dewi. Tapi tak ada jawaban dari dalam. Akhirnya Nara memilih untuk kembali ke kamarnya.
Malam ini di lewati dirumah Mike dengan sunyi, mereka memilih diam di dalam kamar dengan pemikirannya masing-masing.
Bahkan mereka melewatkan makan malam karena Dewi tak juga mau keluar dari kamarnya. Karena hal ini Nara jadi ikut marah dengan Mike, ia ikut mengunci diri di kamar.
Mike pun jadi tidak selera untuk makan, ia meninggalkan meja makan setelah lama menunggu kedatangan Nara dan Dewi.
Mike yang masih beranggapan jika Dewi memang bersalah, ia mengabaikan ucapan Nara yang memintanya untuk meminta maaf pada Nara.
Pagi hari Nara bersiap berangkat sekolah, ketika ingin sarapan ia mengetuk pintu Dewi. Ia ingin mengajak Dewi sarapan bersama. Apalagi tadi malam mereka sama sekali tidak makan malam.
Tok tok tok, Nara mengetuk pintu Dewi untuk kesekian kali tapi tak juga ada jawaban.
"Dewi..., Wi..." panggil Nara lagi, akhirnya ia mencoba membuka pintu kamar Dewi. Pintu itu ternyata tidak di kunci, Nara membukanya sembari memanggil nama Dewi. Ia menengokkan kepalanya kedalam melihat Dewi yang tak terlihat di kamar. Ia masuk dan membuka pintu kamar mandi yang juga terlihat kosong.
"Bik...., Bibik...." Nara memanggil asisten rumah tangga.
"Ada apa Non" seorang wanita paruh baya berlari kecil menghampiri Nara yang berjalan keluar dari kamar Dewi.
"Dewi mana Bi?" tanya Nara.
"Non Dewi sudah berangkat pagi-pagi sekali Non, ia membawa mobilnya sendiri dan menolak ketika Pak Karno mengantarnya" jelas wanita paruh baya itu.
"Apa dia tidak sarapan Bi?" tanya Nara lagi.
"Tidak Non, bahkan susu yang bibi bikinkan tidak diminum."
"Ya sudah Bi terimakasih infonya, bibi bisa kembali ke pekerjaan Bibi" ucap Nara.
Akhirnya Nara memilih keatas dan mengambil tas sekolahnya. Ia juga tak sarapan ataupun berpamitan pada Mike. Ia meminta Pak Karno untuk mengantarnya ke sekolah sekarang juga.
__ADS_1
TBC.