
Situasi Desa tertinggal yang terkena bencana terlihat cukup mengenaskan banyak rumah hancur akibat terkena reruntuhan longsor dan bagian lainnya terlihat masih ada beberapa rumah yang tergenang air. Untunglah semenjak kedatangan Mike dan Dimas hujan tak lagi turun jadi memudahkan tim relawan untuk mencari korban hilang akibat longsor.
Dimas sudah menemukan titik koordinat, ia berputar-putar di area sekitar untuk mendaratkan helikopternya. Untunglah masih ada tempat ia untuk mendarat walaupun agak sulit karena adanya pepohonan.
Di dalam helikopter Dimas membawa 3 dokter bersamanya, sedangkan Mike bersama tim relawan lainnya menempuh dengan jalan kaki. membutuhkan waktu hampir setengah hari bagi mereka untuk sampai di karenakan Medan yang sangat sulit.
Dimas turun dari helikopter dan terdapat beberapa pemuda menghampiri mereka.
"Kami ingin ke tempat pengungsian, bisa tolong antarkan kami kesana?"
"Bisa Tuan, mari kami akan antarkan Tuan ke tempat pengungsian" ucap salah seorang pemuda.
"Ada Makanan, obat-obatan, dan pakaian untuk korban bencana alam di dalam helikopter kalian bisa membantu kami membawanya?" tanya Dimas.
"Tentu Tuan, terimakasih banyak bantuannya."
Pemuda-pemuda itu memanggil teman-temannya untuk membawa barang bawaan Dimas dan para Dokter. Mereka bahkan tak mengijinkan Dimas dan Dokter untuk membantu mengangkat barang. Mereka cukup senang karena masih ada yang mau peduli untuk membantu mereka. Kesenangan mereka bertambah saat mengetahui 3 orang lainnya adalah seorang dokter.
"Apa di pengungsian sudah ada dokter yang merawat warga yang terluka?"banyak Dimas.
"Sudah Tuan tapi hanya ada satu dokter saja, jadi beberapa warga ikut membantu menjadi tim kesehatan dadakan di pandu dokter itu" jawab seorang pemuda.
"Apa kau tahu nama dokter itu?" tanya Dimas.
"Maaf Tuan saya tidak tahu namanya, kami biasa memanggilnya Pak Dokter. Tapi usianya sekitar 50 tahun ke atas. Tapi entahlah dokter itu terlihat lebih muda dari usianya sepertinya.
Di pandu beberapa orang pemuda mereka akhirnya menuju ke tempat pengungsian.
"Di bagian depan adalah tenda pengungsian, bagian tengah Tenda untuk merawat orang sakit bagian belakang dapur dan agak jauh sedikit itu kamar mandi dan WC darurat yang di buat para warga" Pemuda itu menjelaskan satu persatu pada Dimas.
"Baiklah, saya dan tim dokter akan menuju ke tenda perawatan. Tolong kalian bawa obat-obatannya ke dalam tenda itu juga" perintah Dimas.
Berbeda dengan tempat sebelnya, jika di tempat sebelumnya Dimas datangi jumlah orang yang terluka lebih sedikit dan tim medis yang mereka miliki cukup banyak.
Tapi di tempat ini banyak korban patah tulang, diare, demam, flu, asma, penyakit kulit, gatal-gatal, dan beberapa penyakit akibat banjir dan tanah longsor.
Dimas melihat ada satu orang dokter yang terlihat sibuk dan ada sekitar enam orang yang ikut membantunya membersihkan luka pasien, mengecek tensi maupun membantu untuk menenangkan pasien terutama pasien anak-anak.
__ADS_1
"Tolong ambilkan saya perban lagi" ujar Dokter yang saat ini sedang mengganti perban pria yang kakinya terluka. Sepertinya orang itu mengalami patah tulang jika di lihat dari cara dokter itu menanganinya.
"Papa" ucap Dimas mengenali suara orang itu. Pria itupun menoleh dan terkejut mendapati putranya ada di hadapannya saat ini.
"Dimas" ucap Papa Teo, Dimas segera menghampiri dan memeluk Ayahnya yang masih terbengong akibat terkejut dengan kedatangan putranya.
"Syukurlah Papa baik-baik saja" ucap Dimas melepaskan pelukannya.
"Kalian..." Dokter Teo menatap 3 orang di belakang Dimas.
"Selamat sore senior" ucap mereka pada atasannya, Ya para dokter relawan menjuluki dokter Teo dengan nama itu.
"Baguslah kalian ada disini, cepat bantu saya menangani para pasien" ucap Papa Teo.
"Senior silahkan istirahat dulu, biar kami yang menangani pasien disini" salah satu dokter bisa melihat jelas wajah leleh dari dokter Teo. Ya selama beberapa hari ini ia berjuang bersama warga mengobati orang-orang yang berhasil di evakuasi dalam keadaan sakit ataupun terluka.
"Tidak, aku akan membantu kalian. Dimas kau juga ikut membantu, kau mengerti sedikit tentang mediskan" ucap Papa Teo tetap ingin membantu. Ia tidak ingin berpangku tangan sementara yang lainnya sibuk.
Baru saja Papa Teo ingin membuka obat-obatan yang dibawa oleh Dimas. tiba-tiba ia merasa kepalanya berputar dan akhirnya ia tumbang. Bagaimana tidak dokter Teo bahkan baru makan sekali di pagi hari, sedangkan sekarang sudah hampir sore.
"Papa!!!" teriak Dimas menghampiri ayahnya yang sudah tergeletak di tanah.
"Tolong cek Papa saya dokter" ucap Dimas terlihat khawatir.
"Tidak apa-apa, Dokter Senior hanya kelelahan karena kurang tidur dan juga sepertinya makannya tidak teratur. Saya akan suntikan vitamin untuk penambah stamina" jelas Dokter itu.
"Terimakasih" Dimas berdiri di samping tempat tidur ayahnya. Menatap wajah pria yang ada di hadapannya lalu tersenyum.
Syukurlah kau selamat Pa, kalau terjadi sesuatu padamu aku tidak tau bagaimana harus menghadapi Kakek dan Tiara, batin Dimas lega.
************
Sementara itu Tiara dan Nara mereka sedang menemani Aqilla. Mereka menghibur bayi mungil itu dengan berbagai mainan yang menimbulkan bunyi.
"Hallo sayang, kamu pipis lagi ya" ucap Tiara melihat popok Bayinya yang basah. Tiara hanya menggunakan pampers untuk anaknya di malam hari saja.
"Halo baby Aqilla ini Kak Nara, cepat besar ya nanti Kakak belikan es krim" ucap Nara mendekati bayi itu.
__ADS_1
"Wah lihat kak, dia tertawa!" ucap Nara takjub melihat bayi mungil itu tertawa. Aqila yang tadinya tertawa tiba-tiba menangis karena terkejut dengan suara Nara yang keras.
"Oeek..., oek, oeek" tangis bayi Aqilla.
"Cup-cup sayang" Tiara mengambil anaknya dari box bayi dan menimang-nimang Aqilla.
"Kok jadi nangis sih Kak" tanya Nara pada Tiara.
"Ia terkejut dengan suaramu yang keras tadi, maklum saja dia belum terbiasa" ucap Tiara, ia lalu duduk di pinggir tempat tidur menyusui bayinya.
"Duh kalau udah mimik semangatnya minta ampun" ucap Nara sambil menusuk pelan pipi Aqilla, bayi itu menyusu dengan semangat.
"Oh ya Kak, tadi pas Kak Tiara di kamar mandi handphone Kakak bunyi. Karena Nara nggak mau Aqilla terbangun jadi Nara angkat, walaupun akhirnya Aqilla terbangun juga."
"Memang siapa yang telpon?" tanya Tiara penasaran. Ia berharap dapat kabar dari suaminya, walaupun suaminya sudah bilang padanya tentang tidak adanya sinyal di lokasi bencana. Tapi ia masih berharap adanya keajaiban.
"Rendra Kak, suaranya seperti anak-anak" ucap Nara.
"Oh Rendra, dia dulu anak yang pernah aku asuh" ucap Tiara.
"Maksudnya Rendra anak angkat Kak Tiara gitu" tanya Nara.
"Bukan, dulu Kakak pernah kerja jadi pengasuh Rendra. Ia tidak memiliki Ibu sedangkan Ayahnya harus bekerja. Jadi aku mengasuhnya dari pagi hingga sore" ucap Tiara membuat Nara bengong.
"Nggak usah masang wajah terkejut gitu dong. Masa kecil Kakak tidak seindah yang kau bayangkan. Kakak pernah diculik di usia 5 tahun, lalu kecelakaan hingga hilang ingatan. Setelah itu Kakak diangkat anak oleh orang baik, sayang umur mereka tak panjang. Setelah lulus SMA kakak merantau ke kota ini tapi siapa sangka Kakak malah di tipu dan di pekerjakan di klub malam. Untung Kakak bertemu dengan suami Kakak sekarang, ia yang mengeluarkan Kakak dari sana dengan menebus dengan jumlah uang yang tak sedikit" Tiara menceritakan masa lalunya pada Nara.
"Kakak hebat bisa melalui itu semua" ucap Nara, ia cukup terkejut dengan masa lalu Tiara.
"Untuk mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya itu membutuhkan proses, jadi jangan sedih atau terpuruk jika kau sedang susah. Jangan sombong saat kau memiliki segalanya. Karena hidup itu kadang di atas kadang di bawah. Kadang susah kadang senang kita harus berjuang jika ingin kehidupan yang lebih baik jangan patah semangat dan menganggap Tuhan itu tidak adil. Karena di butuhkan perjuangan untuk mendapatkan kebahagiaan. Bukan menyalahkan takdir dan meratapi nasib, kau mengerti maksudku kan?" tanya Tiara.
"Nara ngerti Kak, terimakasih" Nara memeluk Tiara.
Ya kehidupan memang tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana atau keinginan kita. Jadi kita harus bijak dalam melangkah dan juga tetap berjuang walaupun sakit. Akhir bahagia di dapat karena perjuangan dari berbagai terpaan. Bukan dari sekedar meratapi nasib dan mengharapkan uluran tangan seseorang.
Tiara yang tahu kesulitan Nara dari cerita Dimas, ingin agar Nara tetap semangat dan berjuang merubah nasibnya. Ia juga tidak ingin Nara hidup dengan bayang-bayang masa lalu yang membuatnya merasa bersalah dan terpuruk.
"Semangatlah Nara karena akan ada pelangi setelah hujan."
__ADS_1
TBC.