UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Penyesalan Kakek


__ADS_3

Tak terasa tiga bulan lebih sudah berlalu semenjak hilangnya Manda. Dimas dan anak buahnya belum bisa menemukan keberadaan wanita itu hingga sekarang. Tapi walaupun begitu kehidupan Tiara dan Dimas semakin mesra baik itu di kantor maupun di rumah.


Sementara itu di sebuah ruangan rumah sakit yang terlihat mewah tampak Kakek Dimas sedang memandangi tubuh pria muda yang sudah lebih dari 9 bulan tak sadarkan diri karena kebodohan anak buahnya.


"Buat apa Tuan kemari, silahkan keluar. Kehadiran anda tidak di perlukan disini." ucap seorang pria yang merupakan asisten dari pria yang tergeletak tak berdaya di atas kasur pasien.


"Apa masih belum ada perubahan, bukankah ia ditangani oleh dokter terbaik, kenapa ia belum bangun juga sampai sekarang?" Pria tua itu mengabaikan ucapan pria yang ada di hadapannya.


"Kenapa? Bukankah ini hasil maha karya anda, Apa anda menyesal? Jika saya tidak memandang hubungan Bos saya, dengan cucu anda, saya pasti akan membuat perhitungan pada anda."


"Bersiaplah, saya akan memindahkannya ke rumah sakit khusus, dia akan diawasi selama 24 jam dengan dokter terbaik dan peralatan yang lebih canggih" ujar pria tua itu yang tak lain dan tak bukan adalah Kakek Dimas.


"Kenapa harus pindah? apa anda takut cucu anda akan menemukan keberadaannya. Saya jadi ingin tahu reaksi seperti apa yang akan cucu anda berikan jika mengetahui adiknya koma karena perbuatan anda?" Pria itu marah dan terus melampiaskan kekesalannya.


Ya, pria yang sedang terbaring itu adalah Michael, adik Dimas dari Ibu yang sama. Kakek Dimas mengusir Ibunya karena ketahuan hamil dari pria lain. Selama ini Dimas mencari keberadaan Ibu dan Adiknya tapi tak pernah berhasil karena Kakek selalu menghalanginya.


"Nanti akan ada ambulance, seorang dokter dan juga perawat yang akan menjemput kalian di siang hari" Lagi-lagi Kakeknya Dimas mengabaikan ucapan pria itu.


"Sebaiknya hentikan pura-pura perduli dengannya. dia bukan cucu kandung anda. Dia hanyalah pria yang lahir dari rahim yang sama dengan cucu anda. Bahkan anda sudah membencinya sejak ia masih di dalam kandungan. Apa anda lupa seperti apa anda mengusir Ibunya dan juga menghinanya, padahal saat itu Ibunya tengah hamil besar dan menunggu jadwal kelahirannya."


"Aku pergi dulu, jika kau membutuhkan sesuatu kau tinggal lapor dengan suster atau Dokter jaga. Mereka akan dengan senang hati melayani permintaan kalian. Tolong jangan menolak bantuanku kali ini, anggap saja ini sebagai tebusanku karena kesalahanku. Dan untuk Dimas, aku ingin mengabarinya disaat Adiknya kembali normal. Jadi tolong beri kesempatan pria tua ini untuk memperbaiki kesalahan."


"Saya hanya memberi Anda waktu 3 bulan. Jika dalam kurun waktu itu, Bosku belum sadar juga, maka saya akan mendatangi Kakaknya dan menceritakan semua perihal yang terjadi pada Bos saya. Dan anda bersiaplah menghadapi amarah dari cucu Anda sendiri."


************


Sementara itu di sebuah kamar, cahaya matahari sudah mulai memasuki kamar itu, tapi sesosok wanita masih saja tidur dengan lelapnya. Dimas yang keluar dengan hanya menggunakan balutan handuk bagian bawahnya menatap tersenyum ke arah wanita itu.


Dengan segera ia menuju ke ruang ganti pakaian untuk bersiap ke kantor, setelah terlihat rapi dan tampan ia menghampiri istrinya yang masih tertidur nyenyak.


"Yang bangun, satu jam lagi kita ada meeting" Dimas sebenarnya sudah membangunkan Tiara sejak ia belum mandi hingga ia sudah selesai bersiap, tapi istrinya belum juga bangun.


Cup, ia mengecup kening istrinya.

__ADS_1


"Ueek..." Mas pakai parfum apa sih, baunya nggak enak banget. Bangun dari tidurnya dan menjauhkan posisi tubuhnya dari Dimas.


"Ueek..." Tiara berlari ke kamar mandi.


"Kenapa Yang, kita periksa ke dokter ya!"


"Nggak apa Mas, paling masuk angin doang."


"Coba..."


"Ueek..., jangan Deket Mas, Tiara mual nyium bau parfum Mas" Tiara melarang Dimas yang berjalan menghampirinya.


"Kenapa sih Yang, dari dulu juga aku pakai parfum ini, nggak pernah komplain juga."


"Nggak tau Mas, pokoknya Tiara nggak suka. Mas jangan deket-deket."


"Ya sudah, Mas ganti baju dulu kalau begitu" Dimas melepaskan bajunya dan melemparkannya pada ember cucian, dan mengambil setelan kemeja yang baru. Selesai ganti baju Dimas kembali mendekati Tiara, tapi lagi-lagi Tiara mengalami mual.


"Apa sih yang salah Yang. Aku udah nggak pakai parfum lho."


"Kenapa Yang?"


"Nggak tau pokoknya Tiara lagi nggak pingin dekat-dekat sama Mas."


"Astaga Yang, tega banget sih. Kita periksa ke dokter ya."


"Nggak mau paling masuk angin doang. Udah deh Mas jangan lebay, berangkat gih sana!" Tiara mulai terlihat sewot.


"Ya sudah Mas berangkat dulu, nanti kalau ada apa-apa hubungi Mas ya." Dimas berlalu pergi terlihat tak rela, Berkali-kali ia menoleh ke belakang untuk memastikan keadaan istrinya, tapi lagi-lagi Tiara mengusirnya.


Setelah bersiap Tiara meminta supir untuk mengantarnya. Hari ini Tiara terlihat pucat, tidak seperti biasanya. Supir yang merasa kondisi Tiara tidak cukup bagus menyarankan untuk mampir ke rumah sakit.


Awalnya Tiara menolak, tapi supir itu kekeh membujuk Tiara akhirnya Tiara pun menyetujui untuk periksa ke rumah sakit.

__ADS_1


"Apa perlu saya telpon Bapak, Bu?" tanya supir itu.


"Nggak usah Pak, biar saya yang nanti menghubungi suami saya."


Tiara keluar dari mobil dan segera menuju ke tempat pendaftaran VIP setelah menceritakan gejala yang ia alami, petugas mengarahkannya ke Dokter Obgyn.


Setelah giliran Tiara di panggil Dokter itu terkejut, ia mengenali Tiara sebagai istri Dimas yang merupakan cucu pemilik rumah sakit tempat ia bekerja saat ini.


"Apa kabar Bu?"


"Baik Dokter."


"Silahkan berbaring Bu, saya akan segera melakukan pemeriksaaan."


Dengan bantuan seorang perawat menyikap baju Tiara agar Dokter bisa leluasa memeriksa perut Tiara. Dokter itu memberikan gel bening pada perut Tiara sebelum melakukan pemeriksaan.


Dokter itu tersenyum menatap layar lalu berkata "Selamat Bu, anda akan menjadi seorang Ibu. Ini adalah kantung bayi anda, usianya kurang lebih baru sekitar 6 mingguan."


"Benarkah Dokter? Anda tidak sedang bercandakan? Ya Tuhan, aku benaran hamil" tanya Tiara terkejut campur senang, akhirnya penantiannya selama ini terbayarkan sudah.


"Saya tidak bercanda, anda bisa lihat ini kantung janinnya, dan ini janin anda ia masih sangat kecil kira-kira sebesar biji kacang hijau. Pak Dimas pasti senang mendengar kabar ini."


"Anda mengenal suami saya Dokter."


"Tentu Bu, Seluruh dokter di rumah sakit mengenalnya karena beliau sering survey ke rumah sakit ini sebelumnya. Bayinya sehat ya Bu, Jaga kesehatan, jangan terlalu stress atau capek karena itu akan mempengaruhi bayi anda. Bulan depan anda bisa kontrol kemari lagi."


"Terimakasih Dokter." Tiara meninggalkan ruangan dokter dengan senyum bahagia Ia berjalan keluar sambil merogoh handphone yang ada dalam tasnya. Ia berniat menelpon suaminya.


Tiara memencet nomor suaminya, belum juga panggilan itu tersambung, tiba-tiba dari arah depan ada suara seorang wanita yang memanggilnya.


"Tiara!"


"Ka-kau.…" Tiara menjatuhkan handphone miliknya yang saat ini telah terhubung oleh suaminya.

__ADS_1


"Hallo Sayang, Yang..., Sayang..., Tiara jangan main-main, Kau dimana sayang, Yang..."


TBC


__ADS_2