
"Kamu ini ada-ada aja. Ya udah Ayuk kita ke lapangan" ajak Dimas menyetujui permintaan Tiara.
Tiara dan Dimas menuju ke lapangan. Di lapangan saat ini sedang ramai orang bermain bola. Dimas mendatangi salah satu remaja yang sedang duduk disana.
"Dek, mau tanya ini pohon mangga punya siapa ya?" tanya Dimas.
"Nggak ada yang punya Kak, kalau mau ambil aja nggak apa kok."
"Beneran nggak ada yang punya" tanya Dimas ragu.
"Bener Kak, lapangan ini kan punya umum, jadi pohon mangganya juga lah Kak."
"Jadi kalau saya mau ambil mangganya, boleh nih?" tanya Dimas lagi.
"Boleh, Kak. Kalau nggak percaya Kakak tanya aja sama yang lain."
Dimas terdiam memikirkan kata-kata bocah remaja itu, ia sedikit ragu. Takut jika pohon mangga itu ada pemiliknya.
"Ya elah Kak, nggak percayaan benget sih orangnya. Nih dengerin biar saya tanya teman-teman kalau Kakak nggak percaya."
"Teman-teman pohon mangga ini ngak ada yang punya ya, siapapun boleh ambilkan?" ucap anak remaja itu, sambil mengedipkan mata pada teman-temannya.
"Iya." jawab mereka kompak setelah itu mereka tertawa bersama melanjutkan permainannya.
"Yang cepetan dong, pingin ini" pinta Tiara manja.
"Ini Yang, Mas takut nanti kalau di marahin yang punya gimana?" Dimas masih terlihat ragu.
"Ya elah, Kakak ini bener-bener ngak percaya ya Ama kita-kita. Tenang aja Kak, aman. Kakak naik gih, saya jagain dari bawah" ucap bocah remaja itu lagi.
"Ada galah nggak ya dik, biar saya nggak usah manjat."
"Ya nggak ada Kak, di lapangan memang siapa yang punya galah. Yang ada juga batu banyak Kak. Tapi kan bahaya kalau pakai batu, nanti kalau ketimpuk kepala orang gimana?"
"Mas cepetan" Tiara terlihat mulai cemberut karena Dimas tak segera mengabulkan keinginannya.
"Iya-iya sayang, ini juga mau naik" ucap Dimas sembari mendekati pohon mangga itu dan menaikinya.
__ADS_1
Sampai di atas Dimas berusaha memetik beberapa mangga. Ia terlihat kesulitan karena banyak angkrang atau semut besar yang mulai mengerubunginya.
"Astaghfirullah, gini amat ya nurutin istri hamil" keluh Dimas sambil berusaha menyingkirkan angkrang di badannya.
Dimas berhasil mengambil segerombolan mangga muda yang berisi 6 buah.
"Sini jatuhkan Kak, biar saya yang tangkap" ujar bocah remaja itu, di turuti Dimas.
Tiba-tiba ada segerombolan anak kecil yang mayoritas anak perempuan berusia 10 tahun berteriak.
"Mang Jana!!!! Ada yang mencuri mangga!!!" teriak bocah kecil itu bersamaan dengan keras.
"Kabuuuurrrrrr...." teriak Bocah remaja itu di ikuti teman-temannya yang bermain bola. Ia juga ikut membawa kabur mangga hasil tangkapannya yang baru saja Dimas petik.
" Hah!!" Dimas yang terkejut otomatis berusaha untuk turun tapi sayangnya karena terburu-buru pijakan kakinya meleset dan membuatnya terjatuh.
Gedebuuuuuggg!!!!
"Aaaaahhhh saaaakiiitttt" rintih Dimas sambil berusaha bangun memegangi pinggangnya.
"Ya Allah Yang, kamu nggak apakan?" teriak Tiara khawatir.
"Dia Mang, Dia yang curi mangganya" ucap anak-anak itu sembari menunjuk Dimas bersamaan. Dimas yang merasa sangat malu memalingkan wajahnya.
"Hai anak muda, dari kampung mana kau!! Berani-beraninya mencuri manggaku. Belum pernah ngerasain di ikat di pohon mangga ini semalaman ya!!! ucap pria paruh baya itu dengan lantang.
"Maaf Pak, saya tidak bermaksud mencuri. Tadi kata anak-anak yang bermain bola disini mangganya nggak ada yang punya, jadi kita boleh ambil" ujar Dimas membela diri sambil menahan sakit. Ia masih dalam posisi duduk di tanah dan Tiara mengelus punggungnya.
"Ah, kau ini alasan saja. Satu kampung ini sudah tahu kalau mangga ini kepunyaanku. Lagipula mana anak-anak yang kau bilang sedang main bola. Jangan coba-coba kau tipu aku!!!"
"Saya, nggak bohong ini Pak. Ini juga saya ambil mangga ini terpaksa, karena istri saya ngidam mangga yang ada di lapangan ini" suara Dimas sudah terdengar kesal.
"Ada apa ini?" tiba-tiba suara seorang pria dewasa memecah kerumunan.
"Kak Farih, tolongin kita Kak" ucap Tiara.
"Tiara, Dimas ngapain kalian disini?" tanya Farih heran
__ADS_1
"Eeh Dokter Farih, Dokter kenal mereka. ini Dok pemuda ini dia curi mangga aku dan tak mau mengaku" ucap pria botak itu menunjuk Dimas.
"Sudah saya bilang pak, ini salah paham. Saya tidak mencuri" Dimas masih ngotot dengan pendapatnya. Farih menatap Tiara seolah bertanya, ada apa?
"Tiara pingin mangga ini Kak" ucap Tiara memelas. Farih mengeluarkan dua lembar uang merah dari dompetnya dan memberikannya pada pria botak itu.
"Saya beli Pak, mangga mudanya beberapa. ujar Farih. Pria botak itu tersenyum senang menerima uang pemberian Farih.
"Silahkan Pak Dokter, ambil sepuasnya. Hai kau ambilkan galah di samping rumahku, berikan pada Dokter ini" ucap pria botak itu memerintah salah satu anak disana.
"Kamu nggak apa Dim" tanya Farih ketika melihat Dimas kesakitan memegang pinggangnya ketika berusaha bangun. Farih segera membantu Dimas dan menyuruhnya duduk di sebuah kursi taman tak jauh dari sana.
"Farih mengambil mangga dalam jumlah banyak, Karena beberapa orang yang ada disana juga menginginkan mangga itu.
"Udah, habisin aja Dok mangganya. Ini kesempatan" ujar salah satu bocah yang ada disana.
"Iya Dok habiskan saja buahnya, kita bagi-bagi. Mang Jana kan pelit mana pernah ia kasih mangganya ke kita-kita gratis."
"Nih kalau kalian mau ambil sendiri," Farih menyerahkan Galah pada mereka dan pergi menemui Tiara dan Dimas setelah mengambil beberapa mangga muda.
Dimas dan Tiara pulang bersama Farih menggunakan mobil Farih yang terparkir tak jauh disana. Sesampainya di rumah Dimas langsung masuk ke kamarnya di bantu oleh Farih.
"Aduh-duh sakit Yang, pelan-pelan dong" protes Dimas ketika Tiara sedang membalurkan obat salep pemberian Farih untuk salah urat.
"Ini udah pelan-pelan Mas. Maaf ya gara-gara Tiara pingin mangga muda mas jadi sakit gini."
"Nggak apa yang, hitung-hitung sebagai kenang-kenangan nanti. Jadi besok aku bisa cerita ke anakku pengorbanan Ayahnya pada saat Mommy nya ngidam" ucap Dimas sembari tertawa geli mengingat peristiwa itu.
"Emang Mas mau cerita ke anak kita kalau Ayahnya mencuri mangga terus ketangkep yang punya gitu" ucap Tiara meras aneh.
"Ya nggak gitu Yang, bagian itu jangan diceritakan." Dimas menoleh kebelakang memperhatikan istrinya yang mengolesi salep sembari memijatnya lembut. Posisi Tiara yang sedikit menunduk menampilkan dua bukit kembar miliknya. Dimas tidak bisa mengalihkan pandangannya dari pemandangan indah itu.
"Sialan kenapa pinggang ini pakai sakit segala, kalau tidak sudah ku makan habis istriku ini" gumam Dimas.
"Mas bilang apa tadi Tiara nggak denger" Ujar Tiara yang mendengar gumaman Dimas samar-samar.
"Nggak ada Yang" sahutnya lemas berusaha menahan sesuatu yang mulai terasa sesak dibawah sana.
__ADS_1
TBC