UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Shopping.


__ADS_3

Setelah pengakuan Mike yang menyukai Nara, Dewi mulai menjaga jarak dengan Mike. Sekalipun ia kesal tapi seperti apa yang dikatakan Mike cinta memang tak bisa dipaksakan.


Dewi biasanya melampiaskan kekesalannya dengan suka memerintah Nara dan berkata ketus baik pada Mike maupun Nara.


Apalagi setelah Mike memindahkan kamar Nara di lantai atas bersama Mike kekesalan Dewi memuncak. Ia yang kemarin ingin melampiaskan kekesalannya dengan shoping dan membuat bangkrut Mike gagal karena Pak Karno ada urusan, jadi terpaksa rencana Dewi ke Mall ditunda dulu, mereka memilih langsung pulang kerumah.


Mike dan Nara sepakat untuk membiarkan apa yang Dewi lakukan sampai kekesalan Dewi menghilang. Mereka tahu seperti apa Dewi, mungkin terkadang ia galak dan licik tapi sesungguhnya ia baik seandainya saja tidak ada masalah diantara mereka.


Sepulang sekolah seperti yang Dewi inginkan mereka menuju pusat perbelanjaan. Dewi mengincar tas-tas mewah dan sepatu branded limited edition. Yang dibandrol dengan harga puluhan hingga ratusan juta.


"Tolong kau bawa ini semua" Dewi meminta Nara untuk membawakannya nota pembelian barang yang sudah dipilihnya.


Nara menerima tanpa protes toh nota-nota itu juga tidak berat, pikirnya.


"Kau tidak ingin membeli sesuatu?" tanya Dewi pada Nara. Ia masih saja mengamati beberapa aksesoris yang mungkin saja membuatnya tertarik.


"Tidak Wi, pemberian dari Kak Mike dan Kak Tiara saja masih banyak yang belum terpakai" tolak Dewi.


Sebenarnya Dewi pun begitu, masih banyak baju, tas, sepatu maupun asesoris yang belum tersentuh sama sekali, karena Mike biasanya memberikan mereka beberapa barang branded keluaran terbaru milik perusahaannya.


Tapi bukan Dewi namanya jika tidak membuat Mike geleng-geleng kepala. Dewi paling suka menghambur-hamburkan uang disaat Mike membuatnya kesal. Obat paling ampuh untuk menghilangkan kekesalannya pada Mike.


Dewi dan Nara menuju ke kasir dengan tumpukan Nota ditangannya Nara.


"Kau bawa kartu yang di kasih Kak Mike?" tanya Dewi pada Nara. Nara menganggukkan kepalanya.


"Gunakan kartumu untuk membayar semua nota belanjaanku" perintah Dewi.


"Tapi Wi...."


"Jangan protes kartu itu gunanya untuk di belanjakan bukannya untuk jimat dompetmu. Cepat kasih kartunya ke kasir!" perintah Dewi lagi, dengan ragu Nara mengeluarkan kartu dari dompetnya.


"Lambat!!" Dewi segera mengambil kartu dari tangan Nara dan memberikannya pada kasir.


Nara tercengang dan menutup mulutnya melihat total belanjaan Dewi yang totalnya hampir mendekati angka empat ratus juta rupiah.


"Ya ampun Wi, banyak banget total belanjaannya" ucap Nara tercengang.

__ADS_1


"Ini belum seberapa, biasanya aku lebih dari ini" jawab Dewi kesal. Biasanya di kotanya dulu ia belanja bisa lebih karena membayari teman-temannya belanja. Sedangkan di kota yang baru hanya Nara teman sekaligus musuhnya.


"Memang ada berapa uang dikartu ini?" tanya Nara penasaran.


"Entahlah, 500 juta mungkin. Memang kau tak mengeceknya" Nara menggelengkan kepalanya.


"Aku bahkan belum pernah menggunakannya" sahut Nara.


"Kau bod*h" ucap Dewi terdengar kasar, Nara memilih untuk diam.


"Sudah nggak usah sok bawel kayak kak Mike, kalau kamu mau, kamu juga bisa pilih apa yang kamu suka. Kamu belanja nggak, kalau nggak kita pulang aja" ucap Dewi lagi, Nara menggelengkan kepalanya.


"Jadi perempuan itu jangan polos-polos amat. Memang tugas para pria itu mencari uang dan kita yang menghabiskan" ucap Dewi, tapi meskipun begitu Nara masih juga belum paham.


"Kenapa begitu?" tanya Nara polos.


"Susah ya bicara sama orang polos kayak kamu. Besok-besok kamu aku ajari deh jadi pemberontak dan sedikit nakal, biar hidupmu itu bewarna nggak gitu-gitu aja juga nggak gampang di bod*h-bod*hi" ucap Dewi asal.


Emang dasar otak Dewi somplak ia menganggap kehidupan orang polos itu nggak bewarna, flat datar dan nggak ada tantangannya.


Dewi meminta Nara membawakan semua barang belanjaannya sedangkan ia tidak membawa satupun barang belanjaannya.


"Nara membeli semua ini, untuk apa? sedangkan baju, sepatu dan aksesorisnya saja banyak yang belum ia pakai" gumam Mike bingung, tapi setelah itu ia mengasumsikan mungkin saja Nara menggunakannya berdua Dewi hingga barang yang mereka beli banyak.


"Awas jangan bilang kak Mike kalau aku yang meminta kartumu untuk belanja" ucap Dewi memperingati Nara, saat perjalanan keluar dari mall. Nara hanya diam dan menganggukkan kepalanya. Ia semakin lama mengenal Dewi, menjadi tahu seperti apa sifat Dewi. Semakin di lawan maka Dewi akan semakin semena-mena jadi Nara memilih membiarkannya saja.


Dewi dan Nara segera menuju parkiran dimana Pak Karno menunggu mereka. Mobil itu segera menuju ke rumah setelah Nara dan Dewi memasukinya.


**************


Misi yang Dimas katakan ingin mendekatkan Nara dengan Anton segera dimulainya. Dimas merencanakan liburan keluarga di akhir pekan ini untuk mendekatkan mereka berdua.


Kebetulan Senin adalah tanggal merah karena hari libur nasional, jadi mereka bisa menginap dua hari di villa keluarga Dimas di puncak.


Dimas berhasil menghubungi Anton dan membujuk Anton untuk mengikuti acara liburan keluarga tanpa mencurigai niat Dimas sekalipun.


Setelah berhasil membujuk Anton saatnya Dimas memilih menghubungi Mike untuk melancarkan usahanya.

__ADS_1


Handphone milik Mike berbunyi di sela-sela meeting nya dengan karyawan. Setiap satu Minggu sekali perusahaannya mengadakan meeting karyawan untuk laporan perkembangan dari divisi masing-masing. Termasuk laporan rencana kerja guna menaikkan target pendapatan perusahaan.


Mike memilih menyudahi meeting nya, setelah semua anak buahnya keluar dari ruang rapat ia memilih menghubungi Dimas karena bunyi handphone nya tak lagi terdengar.


"Hallo Mike" sapa Dimas begitu mengangkat panggilan Mike.


"Ya Kak, ada apa? maaf tadi aku masih meeting jadi tidak sempat mengangkat panggilan Kakak." ucap Mike, tumben sekali Dimas menghubunginya di jam kerja tidak seperti biasanya.


"Apa kau sekarang masih sibuk, kalau masih sibuk kita bisa bicarakan nanti" ucap Dimas. Ia tahu bagaimana sibuknya seorang pebisnis jika tawaran pekerjaan mulai berdatangan.


"Tidak Kak, sekarang aku senggang. Kak Dimas bicara aja" ucap Mike.


"Akhir pekan ini, Kakek ingin kita semua liburan keluarga di villa yang ada di puncak. Insyaallah Sabtu sore kita berangkat dan Senin sore kita bisa kembali kerumah" ucap Dimas menjelaskan.


"Baiklah aku akan tanyakan pada Nara dan Dewi nanti. Aku akan menghubungimu lagi nanti malam" jawab Mike.


"Kau bujuklah mereka berdua, Kakek mengharapkan kita semua untuk ikut" jelas Dimas. Dimas menggunakan nama Kakeknya untuk mengumpulkan anggota keluarganya. Dimas tahu mereka akan segan untuk menolak permintaan Kakek.


***********


Tak terasa hari yang dinantikan Dimas tiba. Sabtu sepulang sekolah Nara dan Dewi langsung menuju ke rumah Kakek, sedangkan untuk persiapan barang-barangnya telah mereka siapkan malam sebelumnya dan menaruhnya di dalam mobil.


"Assalamualaikum Kakek" ucap Nara ketika melihat pria tua itu menyibukkan diri menyirami tanamannya.


"Wa'alaikumsalam" ucap Kakek, Nara dan Dewi menghampiri Kakek dan mencium tangannya.


"Masuklah, Tiara sudah menunggu kalian di dalam" ucap Kakek.


Begitu sampai ruang tamu sudah ada Anton yang menggendong putranya dan juga Dimas yang menggendong Aqilla.


Angga yang melihat kedatangan Dewi langsung menangis dan mengacungkan tangannya minta untuk di gendong, begitu juga Aqilla pada Nara.


"Angga nggak boleh, Kakak Dewi baru pulang sekolah. Biar Kak Dewi ganti baju dulu" ucap Anton melarang putranya, ia merasa sungkan dan canggung dengan Dewi.


"Tidak apa Pak" ucap Dewi mengambil Angga dari gendongan Anton.


Sedangkan untuk Aqilla, Nara sudah langsung mengambil bayi itu sebelum Dimas berkata apa-apa.

__ADS_1


"Pak?" Dimas menertawai panggilan Dewi untuk Anton. Sementara Anton mendengus kesal karena Dimas mengejeknya.


TBC.


__ADS_2