UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Aku menginginkan seorang Ibu


__ADS_3

"Rendra..." Reno menatap tajam pada anaknya.


"I miss my mom, Where is my mom?


Please, bring her back to me." Rendra menangis dengan keras. Reno yang terkejut dengan reaksi anaknya. Ia kemudian menarik anaknya ke dalam pelukannya.


"Why did you send my mother away? Give her back to me" ucap Rendra lagi sambil menangis sesenggukan. Reno sempat terdiam mendengar ucapan putranya


"Siapa yang mengatakan itu padamu?" tanya Reno terkejut. Rendra yang takut mendengar pertanyaan Papanya menundukkan kepalanya.


"Katakan Rendra kamu dengar kata-kata itu dari siapa" tanya Reno lagi dengan nada marah. Pasalnya selama ini Reno mengatakan pada anaknya kalau ibunya sudah meninggal dunia. Jadi ia cukup terkejut dengan pertanyaan anaknya.


"A-aku mendengarnya dari para maid, pada saat ingin mengambil minum di dapur Pa, ta-tapi aku tidak tau siapa yang berbicara ka-karena mereka membelakangiku" ucap Rendra sesenggukan.


"Kapan kau mendengar itu?"


" kurang lebih satu tahun yang lalu" ucap Rendra tertunduk.


Pembantu sialan, sepertinya aku harus mendisiplinkan mereka, batin Rendra kesal.


Rendra yang melihat wajah Papanya yang menahan marah mengecup pipi Papanya.


Cup.


"Maaf..." ucap Rendra.


"Tidak apa sayang. Dengarkan Papa, apa pun yang Papa lakukan semua adalah demi kebaikan kita. Rendra percaya Papa kan?"


Rendra menganggukkan kepalanya. Reno kemudian menghapus sisa air mata di pipi anaknya lalu mengecup keningnya.


"Pa, Kakak cantik baik ya."


"Apa kamu menyukainya?" tanya Reno.


"Sangat, ia berbeda dari para wanita yang mendekati Papa. Bisakah ia menjadi ibuku?"


"Tolong jangan berharap lebih sayang, biarkan seperti ini dulu." Reno tidak berani memberikan harapan pada anaknya. Ia merasa ragu dengan perbedaan usianya saat ini. Usia Reno saat ini 30 tahun. Reno pada saat itu menikah pada usia 24 tahun dan istrinya berusia 20 tahun.


"Tapi kenapa Pa, apa Papa tidak menyukainya?"

__ADS_1


"Bukan begitu sayang, kita baru saja mengenalnya mungkin saja dia sudah memiliki kekasih atau mungkin calon suami. Lagi pula perbedaan usia Papa dengannya sangat jauh. Apa mungkin ia mau dengan pria tua yang sudah memiliki buntut seperti Papa."


"Tapi Pa..." Rendra mencoba menyela ucapan Ayahnya.


"Kita sudahi dulu pembicaraan kita, masih ada yang ingin Papa urus. Dan sebaiknya kau rapikan mainanmu, Papa akan memanggil Tiara untuk membantumu."


Reno melangkahkan kakinya keluar ruangan, Saat ia berpapasan dengan salah seorang pelayan ia menghentikan langkah kakinya.


"Panggil semua pelayan ke ruang kerjaku, ada yang ingin aku sampaikan pada mereka." titah Reno pada salah satu pelayan.


"Baik, Tuan" pelayan itu kemudian bergegas pergi.


Reno melangkahkan kakinya menuju Ruang kerjanya. Sesampainya disana ia mendudukkan tubuhnya di kursi kebesarannya.


Ruang kerja yang di tempati Reno terlihat besar dan elegan. Bahkan ruangan ini juga merupakan ruang kedap suara. Jadi ini merupakan tempat yang cocok untuk memberi sedikit pelajaran pada para maid.


Tak lama kemudian segerombolan pelayan datang memasuki Ruangan Reno. mereka berbaris rapi di hadapannya.


"Selamat siang Tuan" ucap para pelayan serentak sambil membungkuk hormat.


"Bik Iyem, Bibik bisa kembali ke aktifitas Bibik dan kamu Tiara tolong kau bantu Rendra membereskan mainannya" Reno yang melihat ada Bik Iyem dan Tiara diantara barisan pun memintanya kembali. Karena Reno yakin bukan bik Iyem yang bergosip di dapur.


"Tidak Tuan"


"Mulai saat ini saya membuat peraturan baru untuk kalian. Dilarang berbicara atau menceritakan pada siapapun tentang yang terjadi di dalam Rumah ini. Dan aku juga tidak ingin mendengar ada yang berbicara atau bergosip tentang saya atau keluarga saya, termasuk tentang mantan istri saya. Apa kalian mengerti?"


"Mengerti Tuan." jawab mereka serentak.


"Sampai saya mendengar ada yang berbicara di belakang saya, maka saya tidak akan segan untuk memecat dan mengusir kalian dari sini tanpa uang pesangon sepeserpun apa kalian mengerti!!"


"Mengerti Tuan."


************


Jam sudah menunjukkan pukul 17.45 tapi Tiara belum juga sampai di apartemennya Dimas. Padahal Dimas sudah sampai di apartemennya sejak pukul 15.30


Dimas dengan wajah masamnya terus merutuki kebodohannya. Seharusnya ia meminta body guard nya diam-diam untuk menjaga Tiara. Jadi Ia tak perlu cemas seperti sekarang ini.


"Gadis ini benar-benar, sepertinya aku terlalu lunak padanya. Sampai-sampai ia sudah mulai berani melawan perintahku."

__ADS_1


Dimas merasa kesal karena Tiara keluar tanpa ijin terlebih dahulu darinya. Dimas yang merasa mengantuk menunggu Tiara, akhirnya melangkahkan kakinya ke dapur. Ia ingin membuat secangkir kopi untuk mengusir rasa kantuknya. Ketika langkah kakinya melewati meja makan, Dia cukup terkejut melihat meja makan di penuhi berbagai menu.


"Ternyata ia tidak melupakan kewajibannya, bagus lah. Setidaknya ini mengurangi rasa marahku padanya."


Tak lama kemudian Pintu apartemen terbuka, menampilkan sosok gadis cantik dengan wajah lelahnya. Sebenarnya ia harusnya sudah pulang sejam yang lalu, tapi karena ulah Rendra yang masih ingin bermanja-manja dengannya menyebabkan Tiara terlambat untuk pulang.


"Darimana saja kau"


"Tu-tuan" Tiara terkejut dengan kemunculan Dimas yang tiba-tiba.


"Kenapa tidak menjawab pertanyaanku?"


"Ma-maaf Tuan, saya baru saja pulang dari bekerja. saya sudah mendapatkan pekerjaan hari ini tuan."


"Siapa yang menyuruhmu Bekerja?"


"Apakah Tuan melupakan pembicaraan kita, kemarin. Bukankah Tuan yang menginginkan agar saya bisa menghasilkan setidaknya 20 jt perbulan."


Dimas melupakan fakta bahwa ia sendirilah yang menantang Tiara untuk bisa menghasilkan 20 juta perbulan.


"Sepertinya kau juga melupakan sesuatu, Aku tidak pernah memintamu menghasilkan 20 jt perbulan. Itu semua adalah pilihanmu, aku hanya memintamu menjadi Ibu dari anakku. Cukup diam disampingku dan menjadi wanitaku." Kilah Dimas, ia memang adalah orang yang egois ia tidak ingin disalahkan dengan apa yang sudah terjadi hari ini.


"Ibu dari anaknya, kenapa tidak sekalian ia katakan menjadi wanita simpanannya." lirih Tiara tapi terdengar oleh Dimas


"Apa katamu?"


"Memangnya saya bicara apa Tuan, apa ada yang salah dengan ucapan saya?"


"Entah mengapa akhir-akhir ini aku merasa kau sudah mulai berani denganku" Dimas menatap tajam ke arah Tiara. Tiara merasakan aura dingin melingkupi di sekitarnya.


"Ma-maaf Tuan" Tiara memundurkan langakah kakinya. Ia melihat kemarahan dari pancaran mata Dimas.


"Katakan, bagaimana caranya aku harus menjinakkanmu. Kira-kira hukuman seperti apa yang akan membuatmu tunduk padaku"


"Ma-maaf Tuan, maaf...," Tiara benar-benar takut kali ini. Ia tidak pernah melihat Dimas marah padanya seperti ini.


Dimas semakin mendekat ke arah Tiara, Tiara yang ketakutan dengan amarah Dimas mengambil ancang-ancang ingin lari darinya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2