
Dewi memandang Nara dengan kesal, tapi ekspresi wajahnya berubah tiba-tiba ketika Mike ingin memperkenalkannya dengan Dimas.
"Oh ya Kak Dim, perkenalkan ini Dewi adiknya Almarhum Roy" ucap Mike pada Dimas. Dimas menghentikan langkahnya dan menoleh pada Dewi.
"Hallo Kak, saya Dewi" Ucap Dewi sembari mengulurkan tangannya terlebih dahulu pada Dimas. Ia tersenyum manis pada Dimas.
"Dimas, Kakaknya Mike" ucap Dimas datar. Ia benar-benar tidak tertarik dengan perkenalan ini. Ia ingin cepat-cepat pergi agar bisa membelikan pesanan istrinya.
Oh ternyata Kakaknya Kak Mike, Aku pikir pacarnya Nara. Tapi mana mungkin bocah ingusan itu bisa memiliki pacar setampan ini, batin Dewi.
"Maaf tangannya" ucap Dimas datar, Dewi masih saja menggenggam tangan Dimas dalam lamunannya.
"Eh maaf" dengan segera Dewi melepaskan jabatan tangannya dan tersenyum canggung.
"Aku duluan Mike, Ayi Ra" panggil Dimas agar bergegas ia tak suka jika istrinya sampai menunggunya lama.
"Jadi itu Kakaknya Kak Mike, yang selama ini terpisah sama Kakak!" Tanya Dewi ingin memastikannya lagi.
"Iya, jawab Mike.
"Dia lebih tampan dari pada Kakak" ucap Dewi jujur, ia terkadang memang suka blak-blakan jika berbicara dengan Mike.
"Dia sudah punya anak dan istri, nanti akan perkenalkan. Ayo masuk dulu!" Mike membawa Dewi masuk kedalam. Kamar Dewi terletak dilantai yang sama dengan Mike dan Nara. Hanya saja ia dapat posisi kamar yang paling ujung dengan Nara yang berada di tengah.
"Kita taruh barang-barangmu dulu, setelah itu kita Temui penghuni rumah ini.
Saat ini Kakek, dan Ayah Dimas ada di roof top, mereka memilih menyibukkan diri dengan menanam sejumlah bunga di dalam pot. Ini merupakan kesenangan tersendiri buat Papa Teo dan Kakek. Mengenang bagaimana dulu Papa Teo suka berkebun menanam bunga anggrek bersama Ibu dan Ayahnya.
Walaupun Kakek tidak bisa seleluasa dulu dalam melakukannya, tapi paling tidak ia masih bisa membantu menyiram tanaman.
Sedangkan Tiara bersama Aqilla di kamar Bayi.
__ADS_1
"Hallo Kak, aku bawa kenalan baru untukmu" sapa Mike melihat Tiara yang sedang bercanda dengan Aqilla.
"Hai, siapa gadis Manis ini Mike?" Tiara memperhatikan Dewi yang berjalan di belakang Mike.
"Ayo wi, sini kenalan. Ini kakak iparku Tiara" Mike meminta Dewi untuk mendekat.
"Hallo Kak Tiara saya Dewi, Kak Tiara apa kabar?" sapa Dewi tersenyum ramah.
"Alhamdulillah kabar baik, wah Nara pasti makin seneng ada kamu disini jadi ada temen sepantaran buat ngobrol dan curhat. Dedek Aqilla juga pastinya suka, ya kan dek" ucap Tiara terlihat senang.
"Aku nggak akan lama dirumah ini Kak mungkin 5 hari atau paling lama satu Minggu, aku sudah pindah Ke rumahku sendiri" ucap Mike pada Tiara.
"Dan kau membawa Nara dan Dewi bersamamu?" tanya Tiara.
"Ya Kak, mereka tanggung jawabku sekarang. Lagipula kami tinggal tidak hanya bertiga tapi masih ada beberapa asisten rumah tangga bersama kami. Jadi Kak Tiara tak perlu khawatir" jelas Mike pada Tiara.
"Kalau mau pindah sebaiknya kau minta ijin dulu sama Kakek dan juga Kakakmu Dimas. Aku nggak bisa ngomong apa-apa Mike, cuma pesen aja jaga diri kalian baik-baik dan hidup rukun. Karena semewah apapun rumah yang kalian tempati jika tidak ada kedamaian di dalamnya maka akan sia-sia, karena sudah pasti kalian juga tidak akan bahagia.
"Dewi masih kenyang Kak, tadi sudah makan di pesawat" sahut Dewi ramah.
"Kau bisa minta pelayan di dapur untuk memasakkan apapun menu kesukaanmu nanti. Anggap saja seperti tinggal di rumah sendiri, kau tidak perlu sungkan atau ragu jika membutuhkan sesuatu" ucap Tiara ramah. Ia ingin mereka semua bisa tinggal dengan rukun.
"Oh ya Kak Tiara, aku tinggal dulu ya. Mau aku kenalkan sama Papa dan Kakek" ucap Mike.
"Da da dedek Aqilla" Mike dan Dewi melambaikan tangannya berpamitan pada Aqilla.
Di roof top Kakek dan Papa Teo sedang beristirahat, mereka sudah selesai menanam bunga. Mereka menikmati pemandangan dari atas dengan ditemani secangkir kopi dan juga roti isi.
"Apa rencanamu setelah ini Teo? Papa harap kau tak jadi relawan lagi. Kau harus mulai ambil tanggung jawab rumah sakit milik keluarga kita."
"Papa bisa mengandalkan Dimas, aku masih ingin mengabdikan diri pada masyarakat kalangan bawah yang kurang beruntung" ucap Papa Teo, masih dengan keinginannya.
__ADS_1
"Dimas di sibukkan dengan urusan perusahaan, jangan lagi kau tambah pekerjaannya dengan mengurus rumah sakit. Kau tak kasihan pada cucumu, jika Dimas terlalu sibuk bekerja dan akhirnya anak istrinya terabaikan. Apa kau ingin keluarganya hancur sepertimu" Ucap Kakek menasehati.
"Tapi Pa..."
"Tidak ada tapi-tapi, kalau kau ingin mengabdikan diri, kau bisa melakukannya di rumah sakit kita. Aku tak masalah jika kau mengambil sebagian keuntungan rumah sakit untuk pelayanan dan pengobatan warga kurang mampu. Asal tidak kau buat bangkrut saja rumah sakitku karena akan ada ratusan orang yang akan kehilangan pekerjaannya jika kau sampai teledor" jelas Kakek.
"Hallo Kek, Pa," Sapa Mike sembari membawa Dewi bersamanya.
"Perkenalkan Kek, Anggota baru penghuni rumah ini. Dewi adiknya asistenku Roy."
"Selamat pagi menjelang siang Kek, Tuan" Sapa Dewi ramah.
"Kamu bisa memanggilku Ayah, itu panggilan yang Nara berikan untukku" ucap Papa Teo terlihat senang, karena hanya Nara yang memanggilnya seperti itu. Dimas dan Mike memanggilnya Papa.
"Terimakasih Kakek, Terimakasih Ayah" ucap Dewi kembali tersenyum ramah.
Selama satu Minggu ini Dewi tinggal Damai di rumah Kakek tanpa adanya perselisihan atau perkelahian dengan Nara. Dewi begitu pintar mengambil hati semua penghuni rumah, hingga Dewi menjadi anak yang disenangi oleh Kakek dan Tiara.
Senyuman dan sapaan ramah selalu terpancar dari wajah Dewi, sementara Nara lebih memilih jarang bergaul dengan Dewi, ia lebih memilih di sibukkan dengan pelajaran home schooling dan juga lesnya. Ia takut jika sering berdekatan dengan Dewi, maka akan memancing kemarahan Dewi yang tentu saja bisa berakibat buruk pada reputasi mereka berdua.
Jadi biarlah Dewi menampakkan reputasi baiknya, mudah-mudahan dengan banyak berbuat baik maka ia lupa bagaimana cara untuk berbuat jahat.
Seluruh keluarga malam ini makan bersama karena tak terasa hari ini adalah hari terakhir Nara, Mike dan Dewi tinggal di rumah besar itu.
Mereka bertiga mengucapkan banyak terimakasih karena sudah diterima dengan baik dan di ijinkan tinggal lama disana.
Sejujurnya Kakek masih ingin mereka tinggal, tapi Mike memaksa untuk pindah. Ia mana mungkin menyerahkan tanggung jawab nya akan Nara dan Dewi pada Kakek.
"Ingat, kalau ada perlu sesuatu jangan sungkan untuk meminta tolong pada Kakek. Terutama untukmu Nara dan Dewi. Kalian anak gadis jaga diri baik-baik, kalau Mike tak bisa menjagamu, datanglah pada Kakek. Kakek tidak akan kekurangan uang ataupun miskin untuk membesarkan kalian" Pesan Kakek pada mereka
"Kami pamit dulu, da da semua. Jangan lupa Minggu nanti ajak Kak Dimas, Papa dan Kakek ke rumahku Kak Tiara, kita pesta barbeque sekalian kumpul-kumpul keluarga" ucap Mike pada Tiara, sembari melambaikan tangannya pada semua orang disana.
__ADS_1
TBC