UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Hasrat


__ADS_3

Sesampainya di bandara, Dimas sudah di sambut oleh Erick dan 5 orang bodyguard.


"Tuan" Sapa Erick dan kelima bodyguard.


"Dua orang ikut denganku, Dan kalian bertiga kembali ke tempat kakek." Dimas memberikan kuncinya kepada ketiga orang tersebut.


Sementara Aiko permisi ke kamar kecil. Sebenarnya Aiko bukanlah ke kamar kecil, tapi ia menghampiri anak buahnya yang sudah menunggunya.


"Ini barangnya Nona." Pria itu memberikan bungkusan kecil pada Aiko.


"Ya sudah cepat pergi sana. Ingat jangan bilang siapapun" Aiko menyodorkan seamplop uang


"Terimakasih Nona, dan untuk Dosis pemakaian..."


"Berisik, Sudah cepat pergi sana." Aiko memotong pembicaraan orang itu lalu pergi begitu saja.


"Sayakan hanya ingin memberitahu dosis pemakaian cukup setengah bungkus saja. Ah biarlah yang penting aku sudah mendapatkan komisi" gumam pria itu lalu pergi begitu saja.


Dimas, Erick, Aiko dan dua orang bodyguard menuju ke pesawat jet milik keluarga Dimas. Sebelum pesawat take off, Dimas menyempatkan menelpon Tiara. memberitahu kedatangannya. Tapi sampai berkali-kali tak ada jawaban dari Tiara.


"Apa sih yang dilakukannya, sampai berani-beraninya mengabaikan panggilanku."


"Telpon siapa sih Dim?" tanya Aiko.


"Bukan urusanmu." jawab Dimas sewot.


Akhirnya Dimas memutuskan untuk menghubungi Andini.


"Hallo"


"Dini ini Dimas, Kamu lagi sama Tiara nggak Sekarang."


"Oh Kak Dimas, Andini lagi diluar Kak. Ada apa?"


"Tolong kamu kasih tau Tiara saat ini saya sudah di pesawat, sebentar lagi pesawat saya take off. Saya ingin Tiara standby di apartemen. Jangan sampai ketika saya sampai dia tidak ada. Sampaikan juga padanya bersiap-siaplah menerima hukuman dariku karena tak patuh."


"Hah...," sahut Andini bingung.


"Sampaikan saja seperti kataku tadi."


"Baik kak Dim, akan saya sampaikan."


Dimas menutup panggilan teleponnya. Aiko yang berada di sebelahnya memberengut kesal.


Heran sudah di apain aja sih sama Tiara, yang dipikiri wanita itu terus. Awas kau Tiara, batin Aiko.


Tak lama pesawat pun take off. Perjalanan akan di tempuh selama 7 jam 20 menit. untuk sampai ke tempat yang mereka tuju. Terbang dengan ketinggian 45.000 kaki dengan kecepatan 450 mil perjam. Jika pesawat komersil hanya mampu terbang sampai ketinggian 35.000 kaki. Jenis pesawat jet milik keluarga Dimas adalah Boeing Bussiness jet 747-8


Dimas yang merasa lelah beberapa hari ini selalu lembur dan terus bekerja berpacu dengan waktu. Akhirnya merasa lega karena sebentar lagi ia bisa melihat Tiara lagi.


"Aku ingin tidur sebentar, jangan menggangguku." Dimas memasuki kamar. Pesawat jetnya juga di lengkapi dengan kamar tidur.



"Rick urus Dia, jangan biarkan dia mendekati kamarku."

__ADS_1


"Tolong kembali ke tempat anda sebelumnya Nona!" Erick dan dua bodyguard menghadang Aiko yang berusaha mengikuti Dimas.


"Dimas biarkan aku masuk, Dimas..., Dim..." Aiko terus berteriak-teriak memanggil Dimas. Tapi di abaikan oleh Dimas. Dengan terpaksa Aiko kembali ke tempatnya, ia berjalan sambil menghentakkan kakinya kesal.


*************


Sementara itu Andini dengan tergesa-gesa menuju ke kamar rawat inap Rendra. Ia baru menyelesaikan 4 jam kuliah hari ini.


Tok tok tok...


"Masuk" Sahut Mona dari dalam, sementara Tiara saat ini sedang mengupas apel untuk Rendra.


"Tiara...," Andini masuk dengan nafas ngos-ngosan.


"Ada apa Din" Tanya Tiara heran.


"Maaf Tiara, tadi Kak Dimas menelpon ku sekitar lima jam yang lalu."


"Ada apa?" Tanya Tiara terkejut."


"Dia sedang dalam perjalanan kembali lima jam yang lalu. Maaf baru memberitahumu saat ini, aku sudah meneleponmu dari tadi tapi telponmu nggak aktif. Aku ingin kemari mengabarimu, tapi aku masih ada jam kuliah. Jadi maaf aku baru mengabarimu.


"Astaga baterai ponselku mati, aku lupa mencharger tadi."


"Oh ya Tiara, Kak Dimas memintamu standby di apartemen. Ia ingin kamu sudah berada di apartemen saat ia datang. Dan bersiaplah menerima hukumanmu, begitu katanya."


"Hah..." Tiara sedikit terkejut, lalu ketika menyadari apa maksud dari kata-kata Dimas tadi membuatnya merinding seketika. Ia meneguk Saliva nya membayangkan hukuman apa yang nantinya di berikan.


"Oh ya kira-kira jam berapa dia sampai?"


"Memangnya Dimas itu siapamu sih Ra, kok kelihatannya pembicaraan kalian heboh sekali" tanya Mona yang sedari tadi bingung mendengar pembicaraan dua orang yang ada di hadapannya. Sedangkan Rendra saat ini tertidur setelah meminum obat rutinnya.


"Pacar..., Teman..." Andini dan Tiara menjawab secara bersamaan dengan jawaban yang berbeda.


"Oh..." Mona hanya meng oh kan jawaban Tiara dan Andini. Ia tidak ingin bertanya lebih jauh lagi, karena itu merupakan privasi Tiara.


Sementara Tiara dan Andini tersenyum kikuk.


"Mona bisa aku meminta bantuanmu."


"Tentu Tiara, katakan saja."


"Begini, saya harus pulang sekarang juga. Ada hal penting yang harus saya lakukan. Dan besok juga aku nggak tau bisa kesini atau tidak. Tolong jaga Rendra dengan baik ya. Katakan saja aku ada urusan keluarga yang sangat penting, jika Rendra atau Tuan Reno mencariku. Tapi jika Rendra ngotot ingin bertemu denganku kau bisa menghubungiku"


"Iya Tiara kamu tidak perlu khawatir. Mumpung Rendra belum bangun, pergilah kau selesaikan masalahmu. Jika ia sudah terbangun pasti akan sulit untuk meninggalkannya."


"Terimakasih ya Mona, kalau gitu saya pergi dulu. Assalamualaikum..."


"Wa'alaikumsalam"


Tiara dan Andini pun meninggalkan ruangan itu dengan tergesa-gesa."


"Kali ini kau harus memikirkan cara, agar Kak Dimas tidak menghukummu. Aku merasa nada suaranya seperti menahan amarah pada saat menghubungiku"


"Iya, aku mengerti Ayo..."

__ADS_1


**********************""


Sementara itu di pesawat Dimas masih berada di kamarnya. Padahal sudah 6 jam 35 menit waktu perjalanan yang sudah di tempuh. Tapi Dimas tak juga keluar dari kamarnya. Bahkan Dimas melewatkan jam makan malamnya.


Aiko yang sedari tadi mencari alasan agar bisa memasuki kamar Dimas pun selalu di gagalkan oleh Erick dan kedua bodyguard nya.


Kali ini sepertinya Aiko harus mengambil langkah nekat, Ia tak rela jika dirinya harus kehilangan kesempatan kali ini. Ia akan mempergunakan waktu yang tersisa hanya beberapa menit ini dengan baik.


Aiko berjalan menuju Pantry, Ia mengambil jus jeruk yang sudah tersedia di ruang pendingin. Ia menuangkan jus itu ke dalam gelas. Ia juga mengambil bungkusan bubuk yang diberikan anak buahnya tadi.


"Berapa banyak yang harus aku tuangkan, mengapa tidak ada aturan dosis di bungkusnya, ah sudahlah sebaiknya aku tuang semua. makin banyak makin bagus kan," Aiko menuangkan seluruh bubuk perangsang itu kedalam jus. Ia juga mengambil satu kotak nasi yang sudah di siapkan kru pesawat untuk makan malam Dimas.


Aiko melangkahkan kakinya dengan penuh percaya diri menuju kamar Dimas.


"Maaf Nona, Anda tidak boleh masuk" cegah Erick.


"Saya hanya ingin mengantarkan makanan dan minuman untuk bosmu. Saya janji tidak akan berbuat hal yang tidak di inginkan Dimas. Tapi kalau bosmu menginginkan lebih tidak masalah juga sih" goda Aiko mengedipkan matanya.


"Kemarikan Nona, biar saya mengantarnya."


"Tidak, biar saya saja."


"Biarkan dia masuk Rick" Suara Dimas dari dalam mengijinkan. Karena ia puding mendengarkan perdebatan kedua orang itu sedari tadi.


Aiko membawa masuk makanannya, sambil mengamati ruangan itu. Ia kemudian menaruh makanan itu di meja yang ada disana.


Sementara Dimas memakan makanannya, Aiko mengamati ruangan itu. ia pura-pura berjalan-jalan mengagumi ruangan itu. Padahal ia sedang menaruh kamera kecil yang nantinya bisa merekam adegan panasnya di ranjang berdua Dimas.


Dimas mengabaikan tingkah Aiko, Ia yang memang benar-benar lapar menghabiskan makanannya, lalu meneguk minumannya.


Setelah lima menit meneguk minumannya, ia merasakan gerah di tubuhnya. Ia juga merasakan gejolak dalam dirinya, hingga membangunkan sesuatu di bawah sana. Aiko yang mengetahui bahwa obat sudah mulai bereaksi mendekati Dimas.


"Dim..." Aiko membelai wajah Dimas.


"Menjauhlah Aiko" Dimas menepis tangan Aiko ia lalu mendorong tubuh Aiko. Walaupun tak terjatuh tapi membuatnya mundur beberapa langkah ke belakang.


Aiko tidak mengindahkan ucapan Dimas. Ia kembali mendekati Dimas, bahkan kini ia membuka semua kancing bajunya.


"Jangan mendekat Aiko."


Dimas mulai keringat dingin saat ini, ia benar-benar tidak bisa menahannya. Kejantanannya sudah memberontak di bawah sana.


Aiko Duduk di pangkuan Dimas, ia mengalungkan kedua tangannya ke leher Dimas. Menyodorkan bukit kembarnya ke wajah Dimas, menggesekkan miliknya dengan milik Dimas yang sudah mulai memberontak


"Aahh...Aiko, menjauhlah"


"Saat ini pikiran dan perbuatan Dimas sudah benar-benar berbeda. Bibirnya meminta Aiko menjauh, tapi hasratnya menolaknya.


Aiko melepaskan bajunya yang sudah sedari tadi terbuka kancingnya, Ia membebaskan dua bukit kembarnya dari penutupnya. Hingga tampak pemandangan indah tepat di wajah Dimas.


"Kau menginginkannya bukan, aku milikmu sekarang."


Aiko menelusup kan tangannya di balik kemeja Dimas, Ia membelai Dadanya.


Dimas yang seperti merasakan hasratnya sudah mau meledak, benar-benar sulit menolaknya. Ia membiarkan Aiko melepas bajunya, Membelainya dan menciumi setiap inci tubuhnya. Ah sial, Dimas benar-benar menikmatinya.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2