UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Kenyataan yang menyakitkan.


__ADS_3

Mike terdiam membeku ia tidak menyangka apa yang ia lakukan pada Dewi bisa sampai mempengaruhi mentalnya.


"Kenapa jadi begini?" Mike terlihat linglung, ia yang tadinya berdiri jadi jatuh terduduk. Seketika rasa bersalah memenuhi pikirannya.


"Kenapa kau bertanya padaku! Seharusnya aku yang bertanya padamu. Kenapa kau membuatnya menjadi seperti itu? Apa salahnya ia padamu?" teriak Anton. Ia merasa kesal, marah dan tak terima. Ia bahkan hampir melayangkan bogem mentah andai saja Dimas tak menghalanginya.


"Anton!" panggil Dimas mencoba meredakan amarah Anton. Anton seketika menghentikan pergerakan tangannya yang ingin menghantam wajah Mike.


"Maafkan aku, aku sama sekali tidak bisa mengontrol kemarahanku saat itu" ucap Mike sembari menunduk dan menutupi kedua wajahnya dengan telapak tangannya. Ia merasa gagal dengan amanah yang Roy berikan padanya.


"Apa kau sudah memeriksakan kondisinya ke dokter?" tanya Dimas sembari menatap Mike dan Anton bergantian.


"Sudah! Ia mengalami depresi berat saat itu. Hanya keberadaan Angga yang bisa menenangkannya. Ia bahkan tidak akan mengijinkan orang lain untuk menyentuh Angga sedikitpun. Ia seperti takut ditinggalkan ataupun diabaikan oleh Angga. Dokter memintaku untuk menjauhkan dia dari pemicu depresinya. Kalian pasti taukan siapa pemicu yang dimaksud!!" Anton melirik Mike dengan wajah kesalnya, membuat Mike bertambah rasa bersalahnya. Andai saja pria itu tidak memiliki hubungan saudara dengan Dimas ia pasti tidak akan segan membuat Mike babak belur.


"Apa aku benar-benar tidak bisa menemuinya? Aku ingin minta maaf padanya!" Mike masih saja berharap Dewi mau menemui dirinya. Anton menatapnya dengan sinis.


"Bibik!!" Anton memanggil wanita paruh baya yang bekerja dirumahnya, ia membisikkan sesuatu ditelinga wanita itu. Wanita itu mengangguk kemudian pergi dari situ.


Anton mengambil remote TV yang sebelumnya menampilkan rekaman CCTV semalam. Ia memencet tombol remote itu dan tampak Dewi yang sedang bermain dengan Angga tersenyum bahagia. Tidak terlihat jejak kesedihan maupun depresi disitu. Mike tersenyum lega melihatnya setidaknya beban rasa bersalah yang menghampiri dadanya terasa sedikit longgar.


"Lihat, dia baik-baik saja sekarang! Alasan apa lagi yang akan kau gunakan, agar aku tidak bisa menemuinya. Aku akan membawanya pulang sekarang juga!!" Mike bangun dari duduknya dan mencoba untuk pergi dari situ dan mencoba menuju ke kamar dimana Dewi berada.


"Tunggu!! lihatlah ini!" teriak Anton sembari menunjuk layar monitor melalui gerakan wajahnya.

__ADS_1


Terlihat wanita paruh baya yang tadi Anton panggil masuk kedalam kamar Angga. Dewi yang tadinya tenang dan tampak bahagia tiba-tiba histeris.


"Pergi, keluar kamu!!" teriak Dewi tiba-tiba, Ia mendekap Angga erat ke dalam pelukannya membuat bocah itu menangis ketakutan. Sepertinya Dewi takut dengan kehadiran wanita paruh baya itu, ia takut jika wanita itu akan membawa Angga jauh darinya.


"Keluar kamu!! Apa yang ingin kau lakukan disini?!!" teriaknya lagi marah dan lagi-lagi membuat Angga terkejut dan menangis keras. Wanita itu tak juga keluar membuat Dewi berlari ke arah kamar mandi dan mengunci dirinya di dalam dengan Angga yang berada dalam gendongannya.


Mike seketika membeku, ia seperti melihat orang lain dalam diri Dewi. Ia tidak pernah melihat gadis itu histeris seperti itu bahkan wajahnya terlihat pucat pasi.


Anton yang menyadari situasinya tidak lagi baik-baik saja berlari ke lantai dua menuju kamar Angga. Dimas dan Mike mengikutinya dari belakang.


"Bibik bisa keluar sekarang!" perintah Anton lalu menuju pintu kamar mandi.


Tok tok tok


"Dewi...., Dewi..., tolong buka pintunya Wi" pinta Anton dengan suara lembut. Ia tidak ingin Dewi takut padanya dan membuat anaknya malah semakin ketakutan.


"Tidak!! Kalian pasti ingin membawanya jauh dariku!!" tolak Dewi. Mike dan Dimas yang baru tiba masuk diruangan itu, tapi Anton memintanya keluar.


"Sebaiknya kalian keluar dari sini, aku tidak ingin Dewi melihat kalian dan membuatnya bertambah histeris" pinta Anton. Ia tidak ingin keberadaan Mika dan Dimas membuat Dewi makin takut dan terancam dengan orang-orang sekitarnya. Mike dan Dimas akhirnya keluar dan memilih berdiri diam di depan pintu masuk.


"Tidak, aku janji tidak akan menjauhkanmu dari Angga. Sekarang kau bisa kan membawanya keluar, kasihan Angga ia pasti menangis karena kehausan" ucap Anton mengiba masih dengan suara lembutnya.


"Kau janji tidak akan membawanya dariku!!" ucap Dewi sembari menahan tangisnya.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak akan menjauhkannya darimu. Kau bisa menghukumku sesukamu jika aku melanggar ucapanku" Anton berusaha meyakinkan Dewi.


"Baiklah, aku percaya padamu. Jika kau melanggar ucapanmu, aku akan membawa Angga jauh darimu" ucap Dewi.


"Aku setuju, semua terserah padamu" ucap Anton membuat Dewi lega.


Dewi membuka pintu itu perlahan. Mike dan Dimas yang berdiri di depan pintu seketika menyembunyikan dirinya di balik tembok. Anton menyambut Dewi dengan tersenyum lega, ia merangkul Dewi menuju tempat tidur. Dan meminta Dewi duduk disana.


"Ia pasti merindukan Ayahnya. Boleh aku menggendongnya sebentar" pinta Anton dengan lembut. Dewi menatap mata Anton dan tidak melihat ancaman disana, hingga akhirnya ia mengangguk dan memberikan Angga pada Anton. Anton menerima Angga dari tangan Dewi hati-hati.


"Cup, cup, tidak apa-apa ya sayang" Anton mengelus lembut punggung putranya yang sesenggukan karena habis menangis tadi. Dewi menatapnya dengan rasa bersalah.


"Bunda bisa buatkan susu, putramu sepertinya kehausan" ucap Anton membuat Dewi tersenyum. Dewi lalu segera menuju meja tak jauh dari sana dan membuatkan susu yang diminta Anton. Dimas dan Mike mengintip kejadian itu dari balik tembok.


"Ia sepertinya membutuhkan sebuah keluarga yang bisa mendukung dan menyayanginya" ucap Dimas berbisik membuat hati Mike tersentil. Ia merasa gagal melindungi Dewi seperti janjinya pada Roy.


"Aku akan kembali kerumah sakit melihat Nara" ucap Mike akhirnya. Ia tahu Dewi tidak lagi membutuhkan kehadirannya yang hanya akan memicu depresi Dewi. Ia menghapus air matanya yang terjatuh. Kenyataan yang terpampang nyata dihadapannya kali ini benar-benar menyakitinya.


Ya, sesungguhnya Mike pergi dari situ karena tidak ingin Dimas melihatnya menangis. Menangisi kegagalannya hingga membuat adik dari sahabat terbaiknya jatuh dalam kondisi depresi. Ia juga tidak tahu apa yang akan ia hadapi jika Nara sampai tau dan kecewa karena sikapnya itu. Nara yang rela membiarkan tubuhnya terjatuh untuk menyelamatkan Dewi, tapi malah ia sendiri yang membuat Dewi yang terjatuh dalam kondisi seperti ini.


Dimas menghembuskan nafas kasarnya, ia bisa melihat ekspresi wajah sedih yang coba Mike tutupi. Melihat Mike melangkah gontai dengan pandangan linglung membuatnya tak tega tapi sepertinya Mike sekarang memang butuh sendiri.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2